Cerita ini saya ambil dari
http://boyzforum.com/discussion/16721346/pelangi-dilangit-bangka-kisah-rio/p1
#1 AWAL PERKENALAN
1994
“Kue..... Kue....”
aku berteriak dengan lantang di pagi hari agar orang orang yang sedang berkumpul bersama keluarga sebelum memulai aktifitas di hari yang baru dapat mendengar suaraku.
Setiap pagi aku berkeliling kampung menjual kue buatan emak Bersama dengan kedua kakak perempuanku. kami berkeliling pada rute yang berbeda.
Semenjak ayah meninggal tiga tahun lalu, otomatis emak yang jadi tulang punggung keluarga. Sebagai ibu rumah tangga yang berpendidikan cuma sebatas sekolah dasar, emak tak punya keahlian apa apa selain masak dan mengurus rumah tangga.
Jadi untuk penyambung hidup, agar dapur kami tetap mengepulkan asap, terpaksa emak membuat kue untuk dijual. Sebetulnya emak tak menyuruh aku ikut jualan, Tapi aku yang memaksa emak.
Aku ingin ikut andil membantu. Aku tahu, sekolahku membutuhkan dana yang tidak sedikit, sedangkan emak hanya punya penghasilan dari membuat kue basahTentu saja untungnya cuma pas pasan saja. Kadang kadang aku sedih juga kalau kue yang aku jual tidak habis apalagi kalau tanggal tua, Sedangkan aku harus menabung agar bisa membeli buku buku pelajaran.
Oh ya Aku hampir lupa..., Namaku Rio, umurku 15 tahun Masih smp kelas 3, Kakakku yang sulung bernama yanti kelas 2 smu, yang kedua tina kelas 1 smu.Aku anak bungsu laki laki satu-satunya dirumah. Emak sangat sayang padaku Meskipun tak kurang sayangnya pada kedua kakak perempuanku. Biasalah, sebagai anak bungsu memang paling di manja. Walaupun emak tak bisa terlalu memanjakanku seperti kebanyakan orang orang yang mampu, Tapi aku bisa merasakan dengan jelas.
Aku mengayunkan langkah walaupun terasa lelah, Kue yang aku bawa diatas kepalaku ini belum habis. Pesan Emak, kalau sudah jam setengah tujuh habis atau tidak aku harus pulang Karena aku harus sekolah.
“kue!”
terdengar suara memanggilku, Aku berputar mencari darimana asal suara itu. ternyata seorang perempuan sebaya dengan emak, tapi penampilannya lebih muda. Aku hampiri ibu itu, Sudah tiga hari ini ia selalu membeli kue dariku. Rumahnya cukup bagus, setahuku rumah itu sudah lama kosong. sudah sejak seminggu yang lalu keluarga ibu itu pindah ke rumah ini.
Aku turunkan nampan dari atas kepalaku, Kemudian aku letakkan diatas lantai teras, sementara Ibu itu masuk kedalam, kemudian kembali dengan sebuah piring ditangan. Aku buka serbet bersih penutup kue. Ibu itu memilih milih dan membeli cukup banyak 15 potong.
“berapa semua nak?”
“seribu limaratus rupiah bu”
jawabku.
Ibu itu merogoh saku daster yang ia pakai, mencari uangnya
“wah uangnya ketinggalan di dalam, sebentar ya nak..., RIAN.....!”
ibu itu memanggil mungkin anaknya, Tak lama seorang pemuda jangkung seumuran denganku keluar. Ia mengenakan seragam smp, Kulitnya putih bersih rambutnya lurus. Aku jadi minder sendiri, karena penampilanku sendiri jauh beda. Aku lusuh, baju yang aku pakai walaupun bersih tapi sangat kusam.
“ada apa ma?”
tanya pemuda itu.
“tolong ambil dompet mama di kamar ya”
“sebentar ma!”
pemuda itu kembali masuk ke dalam, kemudian kembali dengan membawa dompet mamanya, Aku pura pura sibuk menutup nampan kue.
“ini nak, seribu limaratus kan?”
ibu itu mengulurkan uang pas padaku.
“terimakasih bu”
Aku mengangkat kembali nampan keatas kepala, Sembunyi-sembunyi melirik anak ibu itu, astaga Ia sedang melihatku juga. Aku jadi malu, tatapan matanya seperti heran atau tatapan menyelidik, entahlah...!.
Cepat cepat aku berbalik dan kembali ke jalan, Meninggalkan rumah besar itu.
Aku baru tahu ternyata orang di rumah baru itu punya anak sepantaran denganku. Sekolah di mana ya dia, Bajunya begitu rapi dan bersih bagaikan seragam baru, Terlihat keren membuatku jadi agak iri, Coba ayah masih hidup, mungkin aku pun bisa punya seragam yang baru. Ah.... tapi untuk apa menyesali nasib, hidup ini tak perlu diratapi, Masih banyak hal yang bisa di kerjakan, Tak boleh larut dalam angan muluk, Terima keadaan. Semua orang pasti ingin hidup senang, tapi semua sudah ada garisnya. Kalau aku ditakdirkan hidup bersahaja, itu adalah kehendak yang diatas.
Di jalan aku berpapasan dengan beberapa teman sekelasku, mereka sudah memakai seragam sekolah. Beberapa dari mereka menyapaku, Aku tersenyum. Ada juga diantara mereka pura pura tak melihatku, Entah karena mereka malu atau mereka tak mau membuatku merasa malu Aku tak tahu. Bagiku menjual kue sebelum sekolah bukan satu hal yang memalukan. Sudah jam setengah tujuh, aku harus bergegas pulang. Walaupun kue belum habis aku tak mau terlambat ke sekolah. Aku jera, Pernah kejadian aku terlambat. Guru bahasa indonesia di kelasku menghukumku, sambil menjewer telingaku ia berkata dengan keras di muka kelas.
“makanya jangan jualan kue, Sekolah ya sekolah... Jangan cari uang..!!.”
Hampir seisi kelas tertawa, Mukaku panas sekali, ingin menangis rasanya. Aku kembali ke tempat duduk dengan wajah tertunduk, Aku merasa begitu kecil. Kemiskinanku menjadi bahan lelucon dan canda bagi guru yang pilih kasih terhadap murid yang kurang mampu ini. Semenjak itulah aku bertekad.
Aku harus belajar keras untuk merubah nasib. Tak mau dihina lagi, Aku tak jera berjualan kue. Lagipula guru yang memarahi dan menghinaku itu tak memberi keluargaku makan. Sebagai guru seharusnya ia tak mengatakan hal itu,Tapi tak semua guru itu patut di tiru bukan?. Menjadi guru bisa saja karena butuh pekerjaan, dari pada menganggur. Seperti juga seorang perampok Belum tentu jahat, Bisa saja ia merampok karena terpaksa untuk bertahan hidup demi keluarganya. Tapi kata kata guru itu akan selalu ku ingat!.
*********
“Habis nak kuenya...?”
Tanya Emak sambil membantu menurunkan nampan dari atas kepalaku.
“Masih ada mak, tapi nggak banyak..... masih ada tujuh potong, ini uangnya mak!”.
Aku berikan uang dari dalam kantong krese hitam.
“Ya sudah nggak apa apa Buruan ganti baju..! nanti keburu siang”.
Emak mengingatkanku.
“Iya mak”
Bergegas aku ganti dengan pakaian sekolah, aku sambar tas dari gantungan di dinding kamar.
“mak, Rio berangkat dulu”.
“nih duit jajan kamu”.
emak menyelipkan uang seratus rupiah di tanganku. Aku pamit dan mencium tangan emak, kemudian pergi ke sekolah dengan langkah cepat, aku harus mengejar waktu. sekarang sudah jam 7 kurang lima menit. Sekolahku tak begitu jauh, jalan kaki paling cuma lima menit.
Bertepatan aku tiba di gerbang sekolah, terdengar bell tanda masuk berbunyi, Setengah berlari aku menuju ke kelas. Untung saja tidak telat lagi, kalau tidak bisa berabe.
Aku duduk dibangku paling belakang, teman sebangku ku bernama Erwan, anaknya agak kurus rambutnya ikal kulit sawo matang. Erwan agak pendiam, tapi denganku dia tidak begitu, walaupun Erwan termasuk keluarga yang mampu ia tak risih bergaul denganku. Erwan baik, sering ia membayarku makan dikantin.
“habis tadi kuenya?”.
tanya erwan tanpa ada maksud apa apa.
“nggak Makanya aku agak kesiangan”.
“kok nggak lewat depan rumahku?”.
“nggak keburu lagi, tadi ada yang beli kue Ngajak ngobrol, kalo nggak aku hentikan, bisa bisa sampai sore baru selesai ngobrolnya”.
jawabku sambil membuka tas mengeluarkan buku PPKN. Pelajaran pertama hari ini PPKN Gurunya bu sukma. aku paling favorit dengan guru satu ini, logat jawanya kental, ia juga baik hati. Sudah hampir lima menit aku duduk dalam kelas sejak bell berbunyi, tapi bu sukma belum juga masuk ke dalam kelas. Seperti biasa, setiap guru belum masuk, murid murid pasti ribut. cewek cewek pada bergosip, sedangkan cowok cowok sibuk bercerita tentang film yang mereka tonton. aku heran, Sama sama menonton kok berceritanya heboh banget, masing-masing saling berebut menceritakan lebih dulu.Dasar...!.
Terdengar suara pintu di ketuk, serempak teman temanku kembali duduk ke tempatnya masing masing dengan panik, suasana yang tadinya mirip pasar, drastis senyap seakan akan semua murid dikelas ini anak anak yang patuh, disiplin, dan jinak. Satu kepala melongok dari pintu, celingak celinguk melihat ke dalam kelas kemudian cengengesan. ternyata si roni teman sekelasku yang agak nakal, Rupanya ia terlambat.
“eh bu sukma belum masuk kelas ya....? hehehe...”.
Tanyanya dengan tampang inosen. Terdengar sorakan seisi kelas yang sekejab kembali hingar bingar.
“dasarrr....!”.
“anjriit....!”.
“sialan...!”.
“kampret....!”.
“kunyuk...!”.
“setan....!”.
Disertai lemparan lemparan gumpalan kertas ke arah roni, Suasana semakin ribut, Roni cengar cengir tanpa merasa bersalah sudah membuat teman teman panik.tertawa sambil menghindari serangan yang diarahkan padanya.
“dasar lo ron, kirain bu sukma!”.
seloroh ema, cewek tomboi berambut pendek sebatas dagu.
“loh Emangnya bu sukma nggak masuk, ia sakit ya, Oh tuhan engkau maha baik... Doaku di tengah jalan tadi engkau kabulkan terima kasih tuhan...”
ujar roni kocak dengan suara keras sambil memasang gaya mirip orang sedang berdoa
“TERIMA KASIH KEMBALI....!”.
Suara yang sangat aku kenal, dengan logat jawa yang khas menjawab dari depan kelas Serempak seisi kelas terdiam. Wajah roni berubah pucat seketika.
“selamat pagi anak anak”
sapa bu sukma sambil berjalan dengan cepat ke mejanya, Wajahnya agak masam tak seperti biasa. lalu menghenyakkan pantatnya yang super lebar dikursi kayu meja guru.
“roni maju ke depan..!”.
perintahnya dengan suara sangar. Dengan wajah tertunduk takut roni berdiri, kemudian berjalan menghampiri bu sukma. Ia berhenti di depan meja bu sukma, masih tetap menunduk seolah-olah maling ketangkap basah ngutil di swalayan.
“bisa kamu ulangi lagi doa kamu tadi?”
tanya bu sukma sambil menatap roni dengan tajam. Kelas jadi hening, semua murid murid terdiam, menunggu hukuman yang akan diberikan bu sukma terhadap roni. Aku sempat menangkap suara cekikikan tertahan dari beberapa teman-temanku.
“ayo Kenapa jadi diam Tadi suara kamu yang paling keras!”
tikam bu sukma ketus. Roni semakin tertunduk, terlihat sekali ia sangat gemetaran antara malu dan takut. Walaupun roni murid yang bandel, namun terhadap bu sukma ia segan juga. Hampir semua murid-murid disekolah ini menghormati perempuan gemuk usia paruh baya yang menjadi wali kelas 3b ini.
“jadi selama ini pelajaran moral yang ibu tanamkan sejak kamu bersekolah disini, yang kamu dapat cuma ini Menyumpahi biar guru sakit?”
Kembali bu sukma bertanya, wajahnya yang bundar terlihat agak kesal, sementara roni bungkam seribu bahasa tak menjawab walau sepatah kata. Semua murid diam menyimak insiden tersebut. namun demi melihat roni yang sudah pucat pasi sepertinya bu sukma menjadi tak tega juga. wajah bu sukma sedikit melunak.
“ibu tak akan memukul kamu, karena kamu sudah dewasa, ibu tak mau membuat kamu malu, dan itu juga tidak efektif, tapi kamu juga tak lepas dari sanksi... pertemuan selanjutnya ibu tak mau tahu, kamu harus hafal Undang undang dasar dari pasal 14 hingga pasal 26 Kamu mengerti...?”.
“iya bu, saya mengerti”.
Akhirnya terdengar juga suara dari mulut roni, wzalaupun agak menggeletar seprti orang sedang kedinginan, wajahnya merah menahan malu.
“bagus Sekarang kamu boleh duduk..!”.
Perintah bu sukma dengan wajah tenang. Roni beringsut mundur, kemudian berbalik dengan gontai kembali ke tempat duduknya. Bu sukma memang guru yang bijak, ia tak mempermalukan murid yang bersalah, tapi dengan sanksi yang lebih berguna demi kemajuan murid muridnya. Aku makin merasa bangga dengan bu sukma.
“ini kertas kertas berhamburan begini Siapa yang piket tadi?”.
Tanya bu sukma sambil menatap ke lantai melihat kertas kertas berserakan, yang tadi di lempar oleh teman teman ke roni. Beberapa orang teman-temanku menunjukkan tangan ke atas.
“ibu tidak mau mengajar kalau kelas kotor, seperti kapal pecah, kalian bersihkan dulu!”
Perintah bu sukma dengan muka masam sambil berjalan keluar kelas. Beberapa teman sekelasku yang perempuan cepat cepat mengambil sapu lalu menyapu semua kertas kertas itu. Setelah lantai bersih, bu sukma kembali masuk ke dalam kelas.
“baiklah kita lanjutkan pelajaran hari ini, buka bab 14 Kesetiakawanan
Keluarkan buku catatan kalian!”
perintah bu sukma sambil mengambil buku cetak yang ada diatas mejanya, kemudian berjalan ke depan kelas. Semua murid murid hampir serempak mengeluarkan buku pelajaran PPKN dari tas masing masing. Aku membalik lembaran demi lembaran buku, mencari halaman yang menulis bab tentang kesetiakawanan.
“rio, pulpenku macet, pinjam pulpen kamu dong”.
Bisik erwan pelan di sampingku.
“sebentar, aku lihat dulu, bawa pulpen lagi nggak”
Aku balas berbisik sambil merogoh tas, mencari pulpen yang satunya lagi, Ku ubek ubek isi tas kain bergambar andi lau punyaku yang sudah kusam, biasanya aku selalu membawa pulpen cadangan, persiapan kalau pulpen yang satunya habis. Akhirnya ketemu juga terselip diantara buku
tulisku.
“nih.”
Aku meletakkan pulpen diatas meja.
“pinjam dulu ya, ntar istirahat aku beli pulpen di koperasi..”
Erwan mengambil pulpen yang aku taruh tadi
"udah, nggak apa apa pake aja".
TOK....TOK....TOK....
Terdengar suara pintu di ketuk, aku langsung melihat ke arah pintu, siapa lagi yang datang terlambat nih, Pikirku dalam hati. Bu sukma menghampiri pintu, ternyata pak hasan kepala sekolah sedang berdiri bersama seorang bapak-bapak yang memakai baju kemeja rapi berwarna putih garis garis, seorang anak laki-laki seusiaku berdiri ditengah tengah mereka dengan wajah agak canggung.
Betapa kagetnya aku setelah mengenali anak itu. Anak yang tadi pagi disuruh ibunya mengambil uang untuk membayar kue yang di beli dariku. Aku masih ingat namanya rian, tadi ibunya memanggilnya dengan nama itu. Bu sukma berbicara dengan kepala sekolah, aku tak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.Tak lama kemudian bapak kepala sekolah pergi bersama bapak yang ada disampingnya. Aku menebak pasti itu bapaknya rian.
“silahkan masuk....! “
Kata bu sukma memasang senyum manis kepada rian. Rian berjalan mengikuti bu sukma ke dalam kelas. Aku tak bergeming sedikitpun melihat ke depan kelas. Bu sukma memperkenalkan rian, anak itu tersenyum menatap kami.
“anak anak Kenalkan ini anggota baru dikelas ini, mulai sekarang Ia duduk dikelas ini bersama kalian Perkenalkan dirimu nak..!”
Bu sukma mempersilahkan rian berbicara. Tampak rian agak malu-malu memandang seputar ruangan, saat melihatku ia sempat mengerutkan kening seperti mengingat ingat. aku langsung menoleh kearah jendela pura pura melihat pohon akasia yang tumbuh diluar. Kelas semakin hening, sepertinya teman temanku pada penasaran semua. Apalagi murid perempuan, biasalah, kalau ada murid baru pasti mereka senang, apalagi yang tampan seperti rian.
“nama saya ferdi Syahrian Saya berasal dari pekanbaru, pindah ke pangkalpinang karena orangtua saya pindah dinas.”
Rian memperkenalkan diri dengan malu malu, Bu sukma mengangguk angguk. Teman teman sekelasku menatap rian dengan keingintahuan yang sangat kentara. Memang rian terlihat agak beda, pakaiannya terlalu rapih tak ada kusut sedikitpun, nampak sekali berasal dari keluarga yang berada.
Kulitnya putih bersih, aku rasa tak ada teman teman sekelasku walaupun perempuan, yang kulitnya seperti rian. Rambutnya yang lurus pendek disisir model cepak, mode yang lagi in. Penampilannya Memancarkan aura yang beda, Aku tak bisa disejajarkan dengan dia Sangat jauh. Beberapa teman temanku berbisik bisik, Aku yakin mereka pasti senang mendapat teman sekelas baru yang seperti rian. Aku bisa menebak tak sulit bagi rian untuk mendapatkan simpati dari teman-teman.
“baiklah, selamat bergabung di sekolah ini, semoga kamu betah dan bisa mengikuti pelajaran disini”.
Ujar bu sukma tersenyum manis pada rian, Kemudian ia melihat ke arah kami. Bu sukma sepertinya sedang melihat posisi mana yang bagus untuk tempat duduk rian.
“anto, tolong kamu pindah ke belakang, duduk dengan iwan!”
Perintah bu sukma sambil menunjuk ke arah anto yang duduk di deretan kursi nomor dua tepat didepan meja guru. tanpa membantah walaupun terlihat agak keberatan, Anto membereskan buku dan alat alat tulisnya diatas meja, kemudian berjalan ke deretan paling belakang ke meja iwan yang selama ini duduk sendiri. Setelah bangku anto sudah kosong, bu sukma dengan ramah mempersilahkan rian duduk di bangku itu.
“silahkan kamu duduk disitu, teman sebangku mu namanya vendi”
Jelas bu sukma masih dengan nada ramah kepada rian. Rian mengangguk sopan, kemudian berjalan menuju bangku yang ditunjuk bu sukma tadi. Aku memandang rian dari tempatku duduk. meja rian berbatasan satu meja disampingku, tapi aku duduk di barisan empat dari belakang. Biarlah, dengan begitu aku bisa melihatnya dari belakang tanpa harus repot repot sering sering menoleh andaikata bu sukma tadi menempatkan ia duduk dengan iwan.
Aku sempat mendengar suara bisik bisik dibelakangku. dari suaranya Pasti ratna dengan nila, mereka berdua kan cewek yang paling centil di sekolah. Bisa dipastikan nila akan melakukan apa saja untuk mendapat perhatian dari murid baru itu. Aku pura pura sibuk membalik balik lembaran buku pelajaran padahal aku mencuri curi pandang melihat rian.
Punggungnya lebar, baju yang ia pakai masih baru, kaus singlet yang ia pakai tercetak jelas, terlihat bajunya terbuat dari katun bagus. Tidak seperti bajuku warnanya sudah agak kusam, soalnya dari kelas satu aku memakai baju ini. Celana biru sebatas lututnya sangat pas ia pakai Pasti dijahit dengan ukuran pinggangnya, Tak seperti celanaku yang beli jadi. Ah.... Kenapa lagi aku ini, Membanding-bandingkan orang lain dengan diriku, Biasanya aku tak begitu perduli dengan apapun yang dipakai ataupun dikenakan oleh teman teman sekolahku.
Tiba tiba rian menoleh ke belakang, melihat ke arahku Bertepatan aku sedang mencuri curi memandangnya. Saat mata kami berpapasan, aku sangat malu sekali ketahuan sedang melihatnya. Aku cepat cepat melihat buku. Rian tersenyum, kemudian kembali melihat ke depan. Bu sukma sedang menulis di buku absen, mungkin menambah nama rian di daftar absensi. Sejenak kemudian bu sukma berdiri mengambil kapur, lalu berjalan menuju ke papan tulis.
“baiklah Kita lanjutkan kembali pembahasan kita, mengenai kesetiakawanan Siapkan catatan kalian...!”
Bu sukma mencatat ringkasan bab dipapan tulis. Aku berpura pura sibuk mencatat, walaupun pikiranku sama sekali tidak konsentrasi sedikitpun, entah kenapa Naluri dalam hatiku selalu ingin melihat kearah rian. Bukan cuma aku yang seperti ini, Aku lihat beberapa teman lain pun menatap rian secara sembunyi sembunyi.
coba tadi bu sukma mengatur aku duduk bersama dengannya. Kenapa ia tadi tidak menyuruh erwan saja yang pindah duduk ke belakang. Lagi lagi aku berpikir yang aneh.
Hingga bunyi bell tanda pergantian pelajaran, aku tak bisa menyimak apa yang bu sukma terangkan tadi. Sebelum meninggalkan kelas, bu sukma masih sempat memberikan tugas pekerjaan rumah, menulis sepuluh hal yang menunjukkan kesetiakawanan dan sepuluh hal yang menujukkan ketidaksetiakawanan.
Selama satu jam pelajaran berikutnya diisi oleh pak pardede guru kesenian. Kami disuruh maju ke depan kelas satu persatu untuk memainkan keyboard mini dengan not not yang kami hapal di luar kepala. Aku memainkan lagu “padamu negeri”. Beberapa kali aku memencet not yang keliru, padahal biasanya aku hapal sekali jika memainkannya dengan soprano.
Aku kembali duduk ke bangku. Setelah beberapa anak disuruh maju Tibalah giliran rian. Dengan percaya diri ia melangkah ke depan kelas, kemudian memegang keyboard mini itu lalu memainkannya dengan kedua tangannya sekaligus.
Semua murid murid terdiam saat alunan lagu hymne guru melantun dengan mulus lewat olahan tangannya yang lincah, jarinya yang ramping, menari nari diatas tuts tanpa canggung. Bahkan ia memainkan chordnya sekaligus. Aku cuma bisa terpana melihatnya. Ternyata rian piawai bermain alat musik. dirumahnya pasti ada keyboard pribadi. Aku merasa rian semakin tak terjangkau untuk menjadi temanku, Bagaikan seorang pangeran dengan rakyat jelata.
jam istirahat yang datang aku cuma duduk saja di dalam kelas, mau ke kantin rasanya malas Perutku belum lapar. Teman-teman sekelasku sudah pada berhamburan keluar sejak bell berbunyi. Tadi erwan sudah mengajak aku ke kantin tapi aku tolak dengan halus Aku bilang sudah sarapan tadi sebelum ke sekolah. Aku sempat melihat sebelum semua teman teman keluar, rian bersama vendi dengan teman teman satu geng dengan vendi yang semua terdiri dari anak anak orang berada, mereka anak anak gaul, pakaian bagus, sepatu selalu baru, tas pun bermerek.
Aku tahu, tak salah lagi pasti rian akan bergabung dengan geng anak yang satu level. Sejak dari kelas satu dulu, di sekolah ini sudah ada pengelompokan pergaulan, Anak anak yang berasal dari keluarga mampu lumrah bergaul dengan sesama anak anak mampu. Walau mungkin terjadi tanpa disengaja Tak urung aku merasa minder juga.
Aku tak berani untuk bergabung walaupun dalam kelas mereka juga menegurku, tapi untuk bersahabat lebih dekat sepertinya tak mungkin. Yang aku tahu ada sekitar belasan anak anak dari kelas 3 a sampai 3d yang setiap hari selalu nongkrong sama-sama, Ke kantin bersama-sama. Bahasan mereka tak jauh dari komik, film, dan mobil tamiya. bahkan ada beberapa dari mereka yang sudah punya motor sendiri walaupun sekolah ini melarang anak anak muridnya membawa motor ke sekolah. Itu tak menyurutkan mereka.
Masih saja ada yang membawa motor ke sekolah walaupun motor itu di titipkan dirumah teman yang ada di depan sekolah kami. Disekolah ini aku cuma berteman akrab dengan erwan dan beberapa murid kelas lain yang aku merasa nyaman dan tidak merasa kecil bila bergaul dengan mereka. Aku lebih senang berteman dengan yang keadaanya tak jauh berbeda dari keluargaku.
Aku mengambil sebuah buku tipis yang sengaja aku beli untuk aku gambar. Aku suka sekali menggambar, kadang aku bikin komik yang aku baca sendiri. aku sering membaca komik bergambar. Dalam benakku selalu tertuang id- ide yang aku salurkan diatas buku ini. Satu satunya yang aku beri untuk membacanya cuma erwan. Ia selalu memberikan support padaku, memuji dan mengkritik kekurangan dan kelebihan dari setiap goresan goresan pensil di buku ini. Aku memegang pensil 2b yang biasa aku pakai, Kemudian menggores sketsa sebuah wajah yang ada di benakku saat ini.
“rio Ke perpus yuk!”
Teriak erwan yang entah sejak kapan sudah berdiri di depan kelas. ia berjalan menghampiriku,
Cepat cepat aku tutup buku gambarku kemudian ku sembunyikan didalam laci.
“tumben ke perpus, memangnya kamu mau nyari buku apa wan..?”.
Tanyaku sambil berdiri, erwan duduk diatas meja, di tangannya memegang dua bungkus keripik singkong pedas.
“nih..! keripik satu untuk kamu tadi aku beli di kantin bu norma..”
Erwan meletakkan sebungkus keripik diatas meja tepat didepanku.
“makasih wan”
Aku mengambil keripik itu membuka bungkusnya dengan mulutku, kemudian aku ambil sepotong.
“enak ya Pedasnya pas”
Erwan mengunyah keripik pedas didalam mulutnya.
“iya Berapa satu bungkusnya wan?”
Tanyaku sambil mengunyah keripik pedas ini.
“cuma limapuluh rupiah”.
“Eh sebentar lagi bell bunyi, sepertinya kita belum bisa ke perpus sekarang Gimana kalau istirahat kedua aja ya”
Usulku pada erwan sambil melirik jam tangan yang ia pakai di pergelangan kirinya.
“terserah Tapi nanti kamu ingatkan aku ya Aku mau pinjam buku tentang MAMALIA, buku ensiklopedia bergambar itu Kemarin aku sempat lihat, bagus bagus gambarnya Kayak tiga dimensi gitu”.
Erwan menerangkan padaku. Aku cuma mengangguk sementara mataku menangkap dari balik jendela satu sosok jangkung sedang berjalan menuju kelas Bersama dengan vendi, faisal dan tedi. Rian Ia sedang tertawa tawa bercanda dengan teman teman barunya, Nampaknya mereka sudah akrab.
Memang murid cowok cepat akrab dan mencari teman. Rian memasuki kelas, aku pura pura sibuk bicara dengan erwan. Sesekali aku melirik kearahnya. Aku lihat ia sudah duduk di bangkunya. Ditangannya juga memegang sebungkus keripik pedas, sama seperti yang aku pegang. Ia seperti tidak menyadari ada aku dan erwan di dalam kelas bersama mereka. Rian sibuk bercanda dengan vendi.
Bell tanda masuk berbunyi, Teman teman kembalimasuk kedalam kelas Satu persatu sehingga semua bangku kembali terisi. Sepanjang pelajaran sejarah aku mencoba untuk fokus pada penjelasan pak herman Tentang revolusi perancis dan penyerangan benteng penjara bastilles.
Rian tampak begitu serius, wajahnya sedikit berkerut saat mendengar istilah-istilah dalam bahasa perancis seperti “coup de etat” “guillotine” dan “l’etat ces’t moi”. Aku menahan dorongan untuk meniru gayanya mengerutkan alis. Senang sekali melihatnya.
**********
pulang ke rumah aku langsung cuci muka dengan sabun mandi, Dinginnya air dari gayung membuat wajahku yang tadi panas terkena sinar matahari menjadi segar. Waktu aku keluar dari kamar mandi, emak sedang berada di dapur, mengadon tepung beras untuk membuat kue apem.
“makan dulu rio tadi emak masak sayur asem dan goreng cumi, baju sekolahnya ganti dulu!”
Emak menghentikan sejenak mengadon kue, melihatku yang sedang mengeringkan muka dengan handuk.
“iya mak... Yuk yanti mana mak Belum pulang sekolah ya?”
Tanyaku sambil menggantung handuk di gantungan tali plastik di bagian luar kamar mandi.
“belum nak, katanya ada les tambahan, mungkin pulangnya agak sore”.
“kalau gitu nanti rio bisa ngambil kue di warung, takutnya yuk yanti pulangnya terlalu sore”.
“iya Tapi makan dulu... emak sengaja beli cumi cuma buat kamu, Habisnya mau beli banyak tadi uangnya nggak cukup. Cepatlah makan, nanti yuk tina keburu pulang kalau ia lihat kamu makan cumi dan dia tidak, bisa bisa dia marah sama emak”.
Tukas emak kembali melanjutkan mengadon kue. Aku jadi terharu, emak selalu lebih perhatian padaku walaupun harus membagi uang yang benar benar pas pasan. emak selalu berusaha untuk menyenangkan aku. Terkadang aku sudah melarang emak namun percuma saja.
Aku kasihan sekali melihat emak harus bercucuran keringat membuat kue untuk dijual, emak kurang istirahat. Pagi pagi buta ia sudah bangun menggoreng pisang, talas, dan onde onde. Kalau Siang emak membuat kue apem dan mengukusnya. Malam merebus ketan lalu membungkusnya dengan daun pisang untuk dijadikan kue lemper.
Belum lagi harus berbelanja dan memasak. Aku sering tidak tega melihat emak terlalu memforsir tenaganya. Aku harus belajar keras, harus pintar agar nantinya aku bisa merubah kehidupan kami. Aku ingin sekali bisa membuat emak bahagia. aku ingin membelikan emak kain sutera, perhiasan yang bagus, memperbaiki rumah yang terbuat dari papan ini, yang mana atap seng nya sudah banyak yang bocor,
Terkadang aku harus memanjat untuk menambalnya dengan styrofoam yang dituang bensin hingga menjadi lumat. Pernah aku bertanya pada emak, kenapa anting saja ia tak punya, Emak cuma tersenyum sambil membelai kepalaku.
“emak sudah tua, tak perlu lagi pakai perhiasan, Kan emak sudah punya perhiasan yang lebih berharga.... yaitu kalian anak anak emak. Kebutuhan kalian masih banyak kalian harus sekolah. Emak tak mau kalau emak pakai perhiasan tapi anak anak emak jadi terbengkalai, Itu sama saja emak tak amanah Tak bisa menjaga anak anak emak”.
Begitu jawab emakku sambil tersenyum, kemudian melanjutkan nasehatnya....
“perhiasan di dunia ini hanya akan membuat kita menjadi orang orang yang tamak, manusia tak ada puasnya nak..... yang penting perbanyak amal ibadah, insya Allah kita akan mendapatkan perhiasan yang lebih indah di akhirat nanti Itu yang paling penting, Dunia ini cuma sementara yang kekal itu yang harus kita kejar”.
Selalu demikian nasehatnya padaku. Emak memang luar biasa, ia tak pernah mengeluh, Walaupun kesulitan tak pernah ia tunjukkan kepada kami. Cuma kami bisa merasakan kalau hati emak sedang susah, Aku selalu berusaha jangan sampai membuat emak sedih. Selama ini emak selalu bangga dengan nilai nilai yang aku dapat di sekolah, Ia selalu mengatakan kalau aku akan menjadi orang yang berhasil. Emak selalu memberikan semangat kepadaku agar tak mudah menyerah ataupun menyesali keadaan kami yang terlalu bersahaja.
********
Selesai makan aku langsung ke toko Memakai sepeda mini milik yuk tina, Aku mengambil kue kue yang kami titipkan di beberapa toko yang ada di daerah tempat tinggalku.
Aku berkeliling dengan kantong plastik berisi wadah tempat kue yang sudah kosong tergantung di kiri kanan setang sepeda. melewati depan rumah rian. Pintu rumahnya tertutup, mungkin ia sedang tidur siang. Dalam kamusku tak ada istilah tidur siang, Sayang rasanya waktu yang seharusnya aku pergunakan untuk melakukan kegiatan yang bermanfaat, dihabiskan dengan tidur siang.
Aku lebih memilih membuat pekerjaan rumah atau membaca buku, soalnya kalau malam, bersama kedua kakak perempuanku dan emak, kami menyusun kue kue basah ke wadah untuk besok diantar lagi ke toko.
Aku perlambat mengayuh sepeda, Aku pandangi rumah rian, rumah sebesar itu pasti banyak sekali alat alat yang bagus bagus. Di depan rumahnya ada tiang basket Aku senang main basket, tapi aku tidak terpilih jadi tim basket sekolah karena aku tak mampu membeli sepatu dan baju basket yang mahal itu.
Tapi tak jadi persoalan, Aku juga tak punya cita cita untuk jadi pemain basket. Masih banyak hal yang berharga yang bisa aku lakukan. Lagian basket tidak mengubah dunia menjadi lebih baik. Itu cuma sekedar hiburan saja, Aku masih bisa mencari olahraga lain yang lebih murah dan terjangkau yang sama-sama menghibur tapi tak mesti keluar uang.
Karena mataku tidak terfokus di jalan, tanpa sengaja aku menabrak seekor anak kucing. Aku kaget sekali, sepedaku langsung oleng. cepat cepat kujaga keseimbangan, Aku tekan rem kemudian berhenti. Aku turun dari sepeda dengan gemetar, melihat kucing yang terkapar dijalan membuat aku ketakutan dan merasa bersalah.
Aku berjongkok mengamati anak kucing yang masih kecil itu, nafasnya tersengal sengal menahan sakit. dengan cepat aku pungut lalu masukkan ke dalam keranjang sepeda yang ada di depan. Aku kayuh sepeda kencang kencang menuju ke rumah. Sepanjang jalan aku berdoa jangan sampai anak kucing ini mati,
Aku takut sekali. Aku menyesal telah ceroboh hingga menyebabkan anak kucing ini kesakitan. sampai dirumah aku langsung menaruh sepeda di halaman belakang, lalu aku angkat kucing kecil itu dari dalam keranjang. Bergegas aku masuk ke dalam rumah lalu menuang air minum kedalam tatakan gelas, Kemudian aku teteskan ke dalam mulut anak kucing. Tak ada reaksi, nafasnya pun sudah mulai lemah.
Aku tak menyerah, sambil membuka mulutnya pelan pelan dengan jari, aku teteskan lagi air minum hangat sedikit demi sedikit. kutunggu hingga tertelan oleh anak kucing ini. Setelah habis dalam mulutnya aku teteskan kembali. Demikian berulang ulang hingga aku rasakan kucing ini sudah mulai melemah. Aku baringkan lagi anak kucing ini, kemudian mengambil kain baju yang sudah tak terpakai, Aku masukkan ke dalam kotak bekas sepatu.
Lalu aku tidurkan kucing kedalamnya. Kucing ini sebenarnya bagus, bulunya lebat warna oranye seperti kulit jeruk satsuma, ekornya panjang melebihi panjang tubuhnya. Cuma sayang agak kurus dan kurang terawat. Aku yakin kucing ini tak ada pemiliknya.
Bulunya juga agak kusam karena debu. Untunglah waktu aku tabrak tadi tidak luka. Aku terus mengamati hingga akhirnya kucing itu tertidur. Aku angkat kotaknya, aku bawa kekamar dan aku masukan ke kolong tempat tidur. Aku pergi ke dapur menemui emak sambil membawa plastik plastik berisi tempat kue yang sudah kosong.
“mak Semua kue sudah aku ambil dari toko, semuanya sudah habis”.
Emak menaruh kue apem dari loyang ke dalam kukusan diatas kompor Lalu menghampiriku.
“alhamdulillah Beberapa hari ini selalu habis Kalau begini terus, kita bisa menabung untuk membelikan sepatu baru buat kamu”.
“sepatu rio kan belum robek mak”.
Jawabku sambil memberikan uang kue itu.
“iya, tapi kamu butuh sepatu cadangan, supaya kalau robek tidak kelabakan Kalau ada dua kan kamu bisa ganti ganti, jadi lebih awet”.
Tukas emak sambil duduk di kursi makan kayu peninggalan almarhum ayah, Kursi dan meja makan itu dulu ayah membuatnya sendiri. Emak menghitung uang yang aku berikan tadi Wajahnya berbinar binar.
“mak ada nyimpan ikan asin nggak?”.
Tanyaku takut takut.
Emak menatapku sedikit heran.
“untuk apa nak Kamu lagi pengen makan ikan asin ya? Ada sih..., tapi belum di goreng Nanti kalau sudah selesai bikin kue, emak goreng buat kamu...!”.
“terimakasih ya mak Ikannya di mana biar rio goreng sendiri, Rio kan lagi santai juga”.
“bener nih mau goreng sendiri, nggak takut keciprat minyak goreng panas?”.
Tanya emak kurang yakin.
“ya iyalah mak Masak rio nggak bisa goreng ikan asin, Mak ini ada ada saja... Mana ikan asin nya mak?”.
Aku tertawa mendengar kata kata emak. Sebenarnya aku mau memberi makan kucing malang yang baru aku tabrak tadi, Aku tak tega melihat tubuhnya yang kurus.
“tuh di gantung di dinding, dalam plastik krese warna hitam yang ada di rak bumbu...!”.
Tunjuk emak ke arah dinding yang ia maksudkan. Aku menyalakan kompor yang satunya lagi, kemudian memanaskan minyak goreng dalam wajan berukuran sedang. aku ambil ikan asin dalam plastik yang digantung di dinding, aku masukkan ke dalam minyak goreng panas. bau harum ikan asin langsung memenuhi dapur yang sempit ini. setelah matang aku angkat.
Emak sedang ke halaman belakang, mengambil daun pisang yang sengaja ditanam disana. Sambil melihat lihat keluar, aku mengambil mangkuk kecil tempat air kobokan, aku isi dengan nasi sedikit lalu aku campur dengan ikan asin hingga rata. Aku bawa kekamar. Aku berjongkok mengambil kotak dalam kolong ranjang, ternyata kucing kecil itu masih tidur, aku letakkan mangkuk ke dalam kotak kemudian aku taruh lagi kotak itu dibawah kolong.
Kemudian kembali ke dapur untuk mencuci tangan. Emak sedang meraut daun pisang untuk membuang tulangnya yang keras.
“sudah selesai makannya nak, kok cepat sekali?”
Tanya emak dengan heran, aku tak menjawab cuma tersenyum lirih, aku tak tega membohongi emak apalagi hanya masalah kucing, emak paling marah dengan kebohongan, lebih baik diam.
“mak, rio mau main dulu ya Nggak lama kok, cuma cari angin sebentar”.
Aku minta ijin sama emak.
“main saja rio, kalau ketemu yuk tina dijalan, kamu suruh pulang, bilang emak minta tolong piring piring kotor yang dibelakang belum dicuci, nanti keburu ayam ayam tetangga yang mencucinya”.
Kata emak sambil membakar daun pisang diatas bara, supaya layu Jadi kalau digulung tidak bakalan pecah.
“ih Emak bisa aja Masak ayam bisa cuci piring sih”
Aku tertawa geli mendengar kata kata emak tadi.
“tuh Dengar aja bunyinya Prang Prong Dibelakang itu, pasti ayam ayam sedang cuci piring, cuma kalau ayam yang nyuci dijamin bakalan banyak yang pecah nggak karuan Sudah sana buruan kamu susul dulu yuk tina Sebelum piring piring itu pecah diserbu ayam”.
“oke mak Rio cabut dulu”.
Teriakku sambil berlari keluar.
Biasanya yuk tina nggak jauh jauh, paling cuma kerumah sari teman sekolahnya, Rumah sari nggak jauh dari rumahku paling cuma berjarak delapan rumah. Benar dugaanku, yuk tina memang berada dirumah sari, ia sedang main biji saga.
“yuk....! Ayuk tina Dipanggil emak disuruh pulang cuci piring tuh....!”.
Teriakku dari depan rumah sari, Yuk tina yang sedang asik main saga langsung menoleh melihatku, matanya agak melotot mungkin ia malu.
“iya... iya...nggak usah teriak teriak napa..?”.
Jawabnya sedikit kesal. Aku nyengir lalu berlalu dari rumah sari sambil menahan ketawa,
Biarin aja dia malu sama teman temannya, kebiasaan...... tugas belum selesai udah kelayapan. aku berjalan kaki menuju ke rumah dodi, teman sekolahku waktu aku masih sekolah dasar dulu. Biasanya jam segini dodi sibuk dengan ayam-ayam peliharaannya. Aku memasuki pekarangan rumahnya yang dipagari tanaman bonsai, yang buahnya seperti setangkai anggur tapi berwarna kuning. Aku langsung saja berjalan melewati samping rumahnya, menuju ke halaman belakang, dimana kandang ayam dodi berada. Benar saja dugaanku dodi sedang berdiri menaburkan jagung ke tanah. Aku hampiri dia pelan pelan.....
“DORR”
“eh...... Monyot ........monyot eh.... monyot....!”
“ha..ha..ha..ha..ha..ha”
Aku tertawa ngakak melihat dodi yang latah karena kaget
“sialan lo rio Bikin jantung gue mau lepas aja”
“kayak nenek nenek jaman dulu aja pake latah segala”
Kataku sambil mengambil segenggam jagung lalu aku taburkan ke tanah, Ayam ayam langsung mematuknya. dodi menggantung plastik berisi jagung ke dinding kandang ayam Kemudian mengajak aku berteduh dibawah pohon jambu. Ada bangku panjang tanpa sandaran dari kayu, Aku mengikuti dodi duduk dibangku itu.
“kamu mau ngopi nggak?”.
Tanya dodi.
“boleh Kalau nggak ngerepotin”.
“oke tunggu sebentar”.
“jangan lama lama Ntar aku pulang”.
“iya Sabar sedikit”.
dodi cemberut.
“buruan...!”.
aku sengaja menggoda dodi, soalnya anak ini sangat lucu, mudah kaget, sedikit agak kecewek cewekan. Tapi anaknya sangat kocak dan membuat aku terhibur. dia rajin, Suka membantu ibunya membereskan rumah. dodi juga sering jualan tapi bukan kue, ia jual jambu yang ditusuk dengan lidi kelapa, nangka, kadang kadang jual buah rumbia, aku merasa cocok berteman dengannya.
Aku tak mengerti kenapa teman teman yang lain seperti menjaga jarak dengan dodi. Sering mereka mengata ngatai dodi dengan sebutan yang menyakitkan hati “bencong”. bagaimanapun dodi, apapun keadaan dia aku tak pernah ikut-ikutan mengatai dia bencong.
Sambil menunggu dodi membuat kopi, aku memanjat pohon jambu air yang lagi berbuah lebat, jambu berwarna merah ranum membuat air liurku terbit. Aku memanjat dan meniti dari dahan ke dahan. Jambu jambu yang bergelantungan aku petik satu persatu lalu aku masukkan ke dalam bajuku hingga perutku terlihat lebih gendut. Setelah terasa berat aku turun. Sampai di tanah, aku mengeluarkan jambu jambu dari dalam bajuku. dodi kembali dengan membawa dua gelas kopi, ia letakkan diatas bangku Kemudian menghampiriku
“eh maling ya....?”.
Celetuk dodi sambil nyengir Kemudian jongkok mengambil sebuah jambu yang agak besar lalu memakannya.
“hehehe sori, aku minta jambunya ya Boleh kan...?”.
“huh sama aja bohong, udah dipetik baru minta Emangnya boleh gitu..!”.
ya boleh dong, kan dirumah kamu juga...!”.
“dasar...!!”. Ujar dodi sambil melempar pipiku dengan biji jambu.
“aduh sialan....! Pelit amat sih, Baru minta jambu aja udah sewot!”
“siapa juga yang sewot Kamu ambil semua juga aku kasih..hehe”
“kalau kasih kenapa ngelempar aku tadi”
Aku mengusap pipiku yang basah kena biji jambu air, agak basah karena bekas ludah dodi.
“kan cuma becanda”
Balas dodi sambil berdiri lalu duduk ke bangku. Aku meletakan semua jambu keatas bangku
Lalu aku duduk disamping dodi.
“eh dod, tadi aku nabrak anak kucing”
“gila lo rio Mati nggak kucingnya?”.
“belum tau, tadi aku sembunyiin dibawah kolong Aku takut kalau sampai anak kucing itu mati”.
“awas loh kalau sampai mati, ntar kamu kena sial”.
“itulah yang aku takutkan”.
“waktu kamu tinggal tadi gimana keadaannya?”.
dodi kelihatan ingin tahu.
“kucing itu sedang tidur Aku sudah kasih minum banyak banyak Aku juga udah ninggalin semangkuk nasi dengan ikan asin didekatnya”.
Aku menjelaskan.
“ayo kerumahmu Kita lihat kucing itu Jangan jangan sekarang ia sudah mati”
Kata kata Dodi membuat aku jadi gemetar, Aku tak berani membayangkan kucing kecil itu mati gara-gara aku. Aku berdiri kemudian meminum kopi yang tadi dibikin Dodi dengan terburu buru.
“ayo kerumahku sekarang Cepetan!!”
Aku menarik tangan dodi, rasanya
aku benar benar cemas sekarang, dodi berdiri lalu meminum kopinya sampai habis.
“ayo Makin cepat makin baik. Eh, Jambu jambu ini gimana Sayang kalau nggak dimakan nanti aku dimarahi emak”.
Kata dodi sambil memandangi tumpukan buah jambu diatas bangku.
“kamu punya kantong plastik nggak...? Aku bawa pulang aja..!”
“ada Tunggu sebentar ya...”
Kata dodi sambil berlari masuk ke dalam rumahnya. Tak lama kemudian ia keluar dengan membawa kantong plastik kosong. aku langsung meraup jambu-jambu itu kemudian memasukkan kedalam kantong plastik. Dodi membantuku, Setelah itu bersama kami berjalan tergesa-gesa menuju kerumahku.
“masuk dod Langsung aja ke kamarku...”
Aku membuka pintu kamar, kemudian masuk kedalam dengan dodi mengikutiku dari belakang.
“tutup pintunya Nanti ketahuan sama emakku..!”.
Dodi menuruti perintahku langsung menutup pintu kamar. Aku merunduk ke bawah kolong tempat tidur menarik kontak sepatu berisi anak kucing. Tapi kok ringan sekali tidak seperti tadi. Ketika kotak sudah aku pegang, Aku hanya bisa menatap isinya dengan terpana. Kucing itu sudah tidak ada lagi.
“loh Mana kucingnya rio?”.
Dodi agak heran.
“tadi masih di kotak Dod.... Kemana perginya kucing itu, berarti tidak mati dong, Lihat aja, nasinya yang aku taruh disini sudah habis...!!”.
Ujarku senang sambil berdiri dengan semangat.
"kemana ya anak kucing itu Kok bisa lari dari kotak ini?”.
"nggak jauh rio, masih disekitar sekitar sini, kalau menurut aku sih”.
“tolong aku bantu cari Takutnya anak kucing itu kabur, kasihan kalau dijalan bisa bisa kena tabrak lagi, kucing itu kan belum sehat betul”.
Aku mendesah prihatin takut dengan kemungkinan kalau kucing itu mati dimakan induk kucing jantan yang terkenal suka makan anak kucing. Aku memeriksa lemari, kolong tempat tidur, dibawah lemari, namun tidak ada, nihil. Entah kemana anak kucing itu. Dodi ikut mencari, bahkan ia sempat sempatnya mengangkat kasur mencari kucing itu disana.
“hei....! jangan gila Mana mungkin lah kucing itu sembunyi disitu, emangnya duit bisa dibawah kasur...!”
Aku agak kesal melihat Dodi yang sibuk tapi tak membantu sama sekali.
“kali aja ada disini Hehehe”
Ia menyeringai menyebalkan.
“aduh rio kamar kamu kok berantakan sekali sih Lihat ini celana dalam bekas pakai kok ada di bawah kasur Dasar cowok!!”
Dodi mengangkat celana dalam hijau muda milikku dengan ujung jari jempol dan telunjuknya, satu tangannya lagi memencet hidungnya seolah olah celana itu mengeluarkan bau amis. Cepat cepat aku rampas celana dalam itu dari tangannya.
sini Kemarikan, Emangnya bangkai tikus pake tutup hidung segala...!”
Umpatku agak kesal lalu melemparkan celana itu ke tumpukan baju kotor disamping lemari kayu
“kamar kamu berantakan banget rio Sana ambil sapu biar aku bersihkan..!”.
Perintah Dodi sambil memasang tampang seolah olah tak percaya dengan apa yang ia lihat.
“sudah biarin, nanti bisa aku bereskan sendiri”
“huh paling paling juga kalau aku pulang, kamu lupa membereskannya”
memaksa, sementara itu tangannya sudah bekerja merapikan seprei tempat tidurku. Terpaksa aku keluar kamar mengambil sapu lantai dibelakang pintu ruang tamu. setelah itu aku berikan pada Dodi. Dengan gesit ia membereskan kamarku, bahkan ia menyapu hingga ke bawah kolong tempat tidur. Sambil tangannya bekerja mulutnya pun ikut-ikutan sibuk.
“ya ampun Amit-amit jabang bayi Kalau aku disuruh tidur dikamar berantakan seperti ini, bisa-bisa tiap malam dapat mimpi buruk”.
“mimpi buruk apaan Hantu aja kalau nggak karena terpaksa nggak bakalan mau ketemu sama kamu”.
Balasku sedikit kesal, namun aku senang juga kamarku menjadi rapi sekarang. buku-buku pelajaran yang ada dimeja sudah ia rapikan, tempat tidur, baju baju kotor yang bergeletakan ia bereskan. Bukannya aku tak mau membereskan kamar, kadang sudah tak sempat. Pagi pagi aku bangun langsung mengantar kue ke warung.
Setelah itu aku juga berkeliling kampung untuk berjualan. Setelah selesai membereskan kamarku, Dodi memberikan sapu padaku Langsung aku kembalikan ke tempat dimana aku mengambilnya tadi. Dodi duduk di kursi belajarku sambil mengipas ngipas wajahnya dengan majalah bobo.
Majalah itu di beli emak dipasar. bukan majalah baru sih, Majalah majalah bekas yang dikilo pemiliknya ke toko bumbu. saat emak melihatnya, ia langsung teringat padaku. Ada puluhan macam majalah yang ia beli, kata emak semuanya ada lima kilo Ditebusnya dengan harga seribu limaratus rupiah.
Aku benar benar senang waktu mendapatkan majalah majalah itu, maklum Untuk membeli majalah baru mana mungkin, harga majalah baru mahal!. Bagaikan harta yang berharga aku menjaga majalah majalah itu. Disaat senggang aku menghabiskan waktu membaca. Walau bekas tapi keadaannya masih lumayan.
“makasih ya Dod sudah mau repot repot membersihkan kamarku”
“biasa aja rio, aku juga senang kok beres beres, entah kenapa kalau lihat yang berantakan, kepalaku langsung pusing, pengennya langsung diberesin”.
"Tunggu sebentar ya jangan pulang dulu”. Kataku sambil keluar kamar, kemudian aku menuju ke dapur, Pasti kue apem sudah masak. Emak dan kedua kakak perempuanku sedang memotong motong kue, tepat dugaanku.
“mak Ada teman rio, minta kuenya ya dikit”.
Emak berhenti mengiris, lalu memandangku sambil tersenyum.
ambil piringnya nak”
Aku mengambil piring di rak, kemudian aku berikan pada emak, Langsung saja emak menaruh beberapa potong kue kedalam piring itu.
“ini, siapa temanmu itu, banyak ya?. Tanya emak sambil mengulurkan piring berisi kue padaku.
enggak mak, cuma satu Itu si Dodi”
oh Dodi, Eh jangan lupa bikin teh manis untuknya Nggak enak makan kue tanpa minum yang hangat dan manis”.
Emak mengingatkanku penuh pengertian.
“ow Rio hampir lupa....!”.
Aku menepuk kening, kemudian meletakkan piring keatas meja, lalu membuat teh manis. Setelah selesai, aku bawa kue dan teh manis ke dalam kamar.
“nih kue Dimakan mumpung masih hangat”.
“wah Itu kan kue untuk dijual Apa nanti emakmu nggak rugi?”
Dodi merasa agak tak enak hati.
“ya nggak lah Gila amat kalau sampai rugi, hanya karena sepiring ini, udah makan saja!”
Aku mengambil sepotong dan memakannya, biar Dodi tak merasa sungkan. Kami ngobrol sambil minum teh dan makan kue, Lagi asik asiknya tiba tiba......
“Awww!!!”
Dodi menjerit langsung meloncat turun dari ranjang. Aku jadi kaget rupanya anak kucing yang aku tabrak entah sejak kapan sudah ada dibawah lantai, menggaruk garuk kaki Dodi. Cepat cepat aku ambil anak kucing itu, ia meronta ronta mengibaskan ekornya.
“darimana saja kamu Kok ngilang gitu aja”
Aku membelai tengkuknya, lalu meletakannya diatas pangkuanku. Kucing itu langsung menjadi jinak, tak meronta lagi, bahkan ia langsung menjilat ujung jari telunjukku.
“wah Bagus sekali kucingnya Bulunya coba lihat Tebal banget”
Dodi menatap kucing itu dengan terpesona. Aku cuma tersenyum Tanpa berhenti aku belai terus hingga ke punggungnya.
“iya Dod, kucing ini lucu banget, lihat matanya Benar benar bulat Besok aku mandiin aja, biar lebih bersih”.
“sini aku pegang Untukku saja ya”
“jangan Dod Aku juga sayang sama kucing ini Kan aku yang nabrak, jadi aku harus bertanggung jawab”.
“miara kucing itu harus dengan kasih sayang, jadi ia merasa nyaman Jangan sampai lupa kasih makannya....!”.
“iya aku juga tau Nggak mungkin lah nggak aku kasih makan...!”.
Kucing itu duduk diatas pangkuanku sambil menggoyang goyangkan ekornya yang panjang, sesekali ia menjilat punggung tanganku. Dodi mencabik sedikit kue apem, lalu diberikan pada kucing, langsung dimakan oleh anak kucing dengan cepat.
“kasian Ia masih lapar” Dodi mengulurkan lagi kue dengan potongan yang lebih besar dari yang tadi, Dalam waktu singkat habis dimakan anak kucing ini.
“untung saja masih hidup ya Tadi aku udah kuatir banget”
“makanya lain kali kalau dijalan itu hati hati”
Nasehat Dodi sok bijak.
“iya Dod Aku sudah jera Nggak mau lagi lah sampai nabrak binatang lagi, kasian Pasti mereka kesakitan banget”
Dodi melihat ke luar jendela, langit sudah mulai gelap. Ia berdiri kemudian mengambil gelas dan meminum isinya sampai habis.
“udah hampir maghrib rio, aku mau pulang dulu ya”
"makasih ya dod Udah mau maen kesini, dan bantu cari kucing ini, Buat jambunya juga”
Aku berdiri, meletakkan kucing diatas tempat tidur, lalu mengantar dodi hingga ke pintu depan. Setelah Dodi menghilang dari pandangan, aku menutup pintu kembali kekamar. Kucing itu sudah kembali masuk kotak sepatu, tidur disana. kuambil handuk, bersiap siap mandi dan sholat magrib.
*******
Suasana pagi ini agak mendung, beberapa teman sekelasku bahkan ada yang memakai jaket karena dingin. Untung saja waktu aku jualan tadi pagi tak turun hujan, Jadi aku bisa menjual habis semua kue kue yang aku bawa.
Waktu aku tiba disekolah, gerimis rintik rintik mulai turun Sekarang sudah mulai jadi hujan yang agak deras. Guru agama tidak masuk, karena lagi ada urusan di palembang, kami hanya diberi catatan yang harus ditulis, beberapa ayat ayat al quran dengan terjemahan. Rini, sekretaris dikelas 3b berdiri didepan papan tulis sibuk mencatat.
Beberapa murid tidak ikut mencatat, ada yang sibuk ngobrol dengan suara pelan, ada yang berkeliaran ke bangku temannya. Aku lihat rian tak kemana mana, ia duduk dibangkunya Serius mencatat. Sempat aku lihat vendi mengajaknya ke wc tapi ia tolak, Sepertinya rian anak yang rajin. Ia tak terpengaruh dengan keadaan.
Aku juga menulis di catatanku, huruf arab menggunakan pensil terjemahan memakai pena.
Suasana yang dingin seperti ini membuat teman teman sekelasku jadi malas keluar bahkan ke kantin, Mana diluar hujan yang lebat disertai petir dan guntur sambung menyambung. Terkadang halilintar berbunyi memekakkan telinga membuat murid perempuan berteriak karena kaget.
Aku juga sempat terlonjak kaget, aku jadi ingat emak dirumah lagi sendirian dalam keadaan hujan badai begini. Mana dapur bagian belakang bocor belum sempat aku tambal, pasti emak kelabakan mengambil ember untuk menampung air yang merembes dari atas atap, supaya lantai dapur tidak banjir. Sampai aku selesai mencatat, tak ada tanda tanda hujan mau berhenti malah semakin lebat.
Aku menutup buku, kemudian memasukkan kedalam tas, rasanya jadi pengen kencing. Aku berdiri melemaskan badanku yang pegal karena dari tadi duduk dan menulis. Kemudian aku keluar kelas, berjalan menuju ke wc, Ada beberapa anak murid dari kelas lain yang berada di wc, jadi aku memilih kencing agak dipojok. Aku berdiri membuka resleting celana sekolah, kemudian sambil memejamkan mata, aku kencing di toilet, mengeluarkan seluruh air seni yang dari tadi sudah sesak Rasanya lega sekali.
“hujan hujan begini memang bawaannya pengen kencing terus ya”
Suara disampingku membuat aku tersentak, aku membuka mata dan menoleh, ternyata rian yang entah sejak kapan sudah berdiri disampingku. Ia juga sedang kencing dengan santainya. Jarak kami begitu dekat hingga aku bisa mendengar kecipak air kencingnya yang jatuh di lantai toilet. Cepat cepat aku siram bekas kencing aku sampai bersih, Menutup resleting, bersiap pergi
“tunggu aku dong!”
aku menghentikan langkah, berbalik, berdiri dipinggir pintu wc, menunggu rian yang sedang menyiram toilet, Tiba tiba vendi datang, ia berjalan melewatiku tanpa menoleh, seakan akan aku tak terlihat.
“bro Disini rupanya Eh Temani aku ke kantin yuk”.
Vendi berjalan masuk ke wc Menghampiri rian, Aku memandang rian menunggu kepastian, mau kembali kekelas bersamaku, atau ikut vendi ke kantin.
“kamu duluan aja ke kelas Aku mau ke kantin dulu siapa nama kamu?”.
Ujar rian padaku sambil berjalan dengan vendi, Aku diam saja tak menjawab, langsung berbalik kembali kekelas Vendi cuma melemparkan senyum basa basi padaku Aku membalasnya dengan hambar Semangat yang tadi sempat muncul kembali padam. Kenapa sih harus datang si vendi, padahal aku ingin sekali bisa sedikit lebih dekat dengan rian, Sepertinya ia bukan anak yang sombong Terbukti tadi ia menegur ku waktu di wc. Sampai di dalam kelas aku duduk kembali dibangku, Erwan menoleh melihatku.
“kamu kencing apa berak?”
“memangnya kenapa?”
“kok lama?”
“Ya kencing lah!”
“ke kantin yuk Lima belas menit lagi bell bunyi Lumayan kita bisa lebih santai, jangan kuatir aku yang traktir”.
Tawar erwan.
“kamu sendiri aja lah Aku lagi malas Pengen ke perpus aja”.
Aku menolak, entah kenapa aku jadi kecewa pada rian tadi hingga masih terbawa bawa sampai sekarang. Andai aku ke kantin, pasti akan bertemu dengan rian, aku tak suka melihat dia akrab dengan rombongan vendi.
“ya udah kalau kamu nggak mau Aku ke kantin dulu ya”.
Erwan berdiri kemudian meninggalkan kelas.
Beberapa teman sekelasku masih berada dalam kelas Tapi sebagian besar sudah keluar. Kenapa sih aku ini, Padahal rian kan bukan teman akrabku, tapi mengapa aku bisa sentimentil begini. Belum pernah aku menginginkan akrab dengan seseorang seperti saat ini yang aku rasakan terhadap rian. Aku cenderung kuper kalau dikelas. Sekolah di smp yang kebanyakan teman teman berasal dari kalangan orang mampu, membuat aku tidak percaya diri untuk berteman dengan mereka.
Kelas sudah kosong sekarang, tinggal aku sendirian didalam Daripada bengong sendirian lebih baik aku ke perpus saja, membaca buku mungkin bisa mengalihkan pikiranku yang sedang kusut. Dilorong antara kantin dengan laboratorium fisika, aku melihat rombongan vendi bersama rian sedang berdiri sambil bercerita dengan seru, mereka tertawa terbahak bahak, entah apa yang mereka ceritakan namun aku melihat rian begitu senang.
Beberapa cewek juga ikut ngumpul bersama mereka Diantaranya ada dewi, septi, irma dan ema. Cewek cewek yang terkenal gaul di sekolah. Aku mempercepat langkah menuju ke perpus.
“rio Tunggu”.
Erwan setengah berlari menghampiriku, Aku berhenti menunggu erwan.
“loh Sudah selesai makannya?”.
Tanyaku agak heran, biasanya erwan kalau sudah ke kantin pasti lama, minimal kembali ke kelas, lima menit sebelum bell bunyi.
“sudah, cuma makan tekwan saja kok”.
Erwan berjalan mengiringiku menuju ke perpustakaan.
“rio, nanti sore aku mau renang, kamu mau ikut nggak?”
“renang, dimana?”.
Tanyaku sambil terus berjalan.
“di hotel menumbing dekat pasar, kalau mau nanti aku jemput sekitar jam tiga sore”
“berapa bayar masuk kesana”. Aku ingin tahu, soalnya kalau mahal aku tak punya uang.
“tenang saja aku bisa bayar kok!”
“nggak ah Aku nggak enak kalau kamu yang bayarin”
“nggak apa apa kok Kan aku yang ngajak”.
Desak erwan setengah memaksa. Aku diam sejenak menimbang nimbang.
“oke Nanti kamu jemput aku ya”
“sip lah Kamu tunggu aja di rumah Aku pasti jemput Jangan lupa siap siap, handuk dan celana pendek untuk renang!”.
Erwan mengingatkanku, Aku cuma mengangguk. Kami sudah sampai di depan perpustakaan, aku masuk ke dalam mengisi buku kunjungan. Kemudian berjalan menuju rak rak buku, mencari buku yang menarik untuk di baca. Setelah itu memilih duduk di pojok yang paling sepi. Erwan ikut mengambil buku cerita, kemudian duduk disampingku. Sebentar kemudian aku sudah tenggelam dengan keasyikan membaca.
BERSAMBUNG..........
Jumat, 19 Juni 2015
Kamis, 28 Mei 2015
Cerita Secangkir Kopi Chapter Lanjutan 66 (end)
Sofi Ardan : kamu belum jawab Sofi Ardan : kamu baik2 aja kan? Sofi Ardan : saya jadi khawatir *****
silumba_lumba : gandeng sia loba omong!! (berisik lo ah banyak omong banget jadi orang!) *****4
b]Sofi Ardan :[/b] saya teh beneran khawatir sama kamu! silumba_lumba : aing teu paduli! (gw ngga peduli!) Sofi Ardan : ?????
silumba_lumba : kalo maneh peduli silumba_lumba : maneh ga akan ninggalin aing!!! *****
CAPRICORN Love to bust. Nice. intelligent. Sexy. Grouchy at times and annoying to some. LAZY AND LOVE TO TAKE IT EASY. But when they find a job or something they like to do they put their all into it. Proud, understanding and SWEET. Loves being in long relationships. Cool. Loves to win against other signs especially Gemini’s in sports.Extremely fun. Loves to joke. SMART. *****
saya sendiri sebenernya masih belum bisa percaya dengan keputusan yang sudah diambil. masalahnya, saya diberikan peringatan dan sebuah kesempatan dalam waktu yang bersamaan. saya juga diberi pilihan yang amat sangat sulit, memilih membahagiakan orang yang sudah tiada atau harus pergi jauh dari orang yang kalau saya pergi jauh darinya pasti saya sulit untuk bisa bahagia? dan sewaktu kesempatan itu datang di depan mata, maka pilhannya hanya ada dua, take it or leave it. otak dan logika saya berseru untuk mengambilnya dan menggunakan kesempatan itu sebaik mungkin, sebagai balasan dari kasih sayang seseorang yang luar biasa sangat saya hormati. tapi bagian tubuh saya yang lain, hati saya, sudah pasti berteriak menolak. ketika di luar sana ada banyak orang berjuang mati-matian mendapatkan orang terbaik untuk berada di sisinya, yang saya lakukan justru meninggalkan orang tersebut. It’s not easy to decide. I wanna go, but I wanna stay. Gusti, memutuskannya saja sudah sesulit ini apalagi nanti sewaktu menjalaninya? saya lalu teringat perkataan abah, manusia itu hanya menjalani dua hal dalam hidupnya, yaitu sedih dan senang. sesudah sedih pasti akan datang senang, dan begitu juga sebaliknya kejadian susah dan senang itu berlangsung seterusnya, bergantian, berulang-ulang. *****
waktu aing mulai benci sama maneh, itu artinya ga akan lagi ada kata maaf. kenapa? karena aing bukan Tuhan yang Maha Pemaaf atau sebenernya aing masih belum kuat untuk bisa jadi sepemaaf itu. aing ga akan pernah mau maafin maneh. aing maunya maneh ada di sini SEKARANG JUGA. ngerti??
*****
Gi, inget ngga sama jaman dulu? duluuuu banget. waktu kita masih punya banyak waktu, kita ketawa bareng, nangis juga bareng. sekarang, bahkan keadaan kamu pun saya ngga tau kaya gimana. mau nanya juga rasanya canggung. saya iri. iri sama mereka yang masih bisa ketawa bareng pacarnya. saya iri mereka masih punya telinga orang lain, seseorang yang selalu siap dengerin segala keluh kesah dan cerita bahagia. saya iri karena mereka masih bisa menghabiskan waktu bersama, walaupun saya tau waktu mereka juga ngga banyak. dan saya sedih karena kita terlalu egois. sadar ngga, saya dan kamu sama-sama egois? mungkin kamu pikir saya sekarang menjauh karena nggga sayang sama kamu. gi, saya juga ngga mau jadi gini. saya pengen tetep sama kamu, ketawa lagi, nangis lagi, makan lagi. tapi sesuatu yang ada di atas saya terpaksa bikin semuanya jadi seperti sekarang. saya sadar kalau saya orangnya egois. semakin mengasihani diri sendiri. semakin keras kepala. semakin menyedihkan. Inget ga, dulu kamu pernah bilang, hubungan kita berdua teh udah seperti keluarga, tapi kita juga bisa ‘putus’ kalau ngga menjalaninya dengan dewasa. ya, sekarang kita udah dewasa, bukan lagi saatnya nyari orang yang fungsinya buat having fun aja atau cuma sekedar teman ngobrol biasa. kita bukan anak sma lagi. tapi saya yakin kok kalau kita bisa ngejaga ikatan itu sampai kapanpun. amin. saya mah berharap, bahwa waktu kita yang terbuang saat ini, ga akan sia-sia di masa depan. bahwa kita masih bisa ‘bareng-bareng’ lagi tanpa ada sesuatu yang janggal seperti sekarang. saya sayang kamu. kemarin dan besok. *****
aing bener-bener kecewa sama maneh. aing belum pernah ngerasa se-kecewa ini sama maneh. aing marah. bener-bener marah. aing juga kesel sekesel-sekeselnya sama maneh. tapi aing kangen sama maneh. kangen pisan pisan pisan. *****
aku mencarimu. dalam setiap senja yang berlalu. aku menunggu, untuk usaikan asa yang merindu. dengarkan sapuan angin yang berhembus, telah kubisikkan gairah yang telah lama terbius. rasakan deburan ombak yang berderu, maka kutitipkan secercah asa yang pilu. rasakan saja semua perasaan itu, maka akan ada satu kisah tentang seseorang yang tak lekang oleh waktu. itu kamu. dan aku pun merindu. *****
it sucks when you miss that person so much that you look through old photos, old text messages, even old notes. and it brings a smile to your face. but then the hurts comes back and you know you shouldn’t be looking back, but you can’t help it because they really meant something to you and you thought it would of lasted. hey, i miss you. miss the old of us. the way we laugh. the way we chat. I really miss you. your messiness. your bad habit and everything about you. I’m just missing you……so much. *****
Offline message : Sofi Ardan : thanks to you sir for those ‘less-than-five-minutes’ chat. you always know how to make me feel alright. bener kan, ternyata sejauh apapun saya dari kamu, saya tetep butuh kamu. jadi, jangan bilang kalau saya akan ngelupain kamu. *****
silumba_lumba : maneh harus kuat ya disana silumba_lumba : tinggal dimana pun pasti selalu ada aja masalahnya silumba_lumba : kalau maneh punya masalah berat, cerita aja sama aing Sofi Ardan : tapi saya lama-lama jadi cewe benget gi Sofi Ardan : kalo ga kuat ngehadepin masalah kadang malah pengen nangis Sodi Ardan : life is not easy at all…. silumba_lumba : hey, if you wanna cry, then cry silumba_lumba : if you wanna shout, just shout silumba_lumba : if you mad, do crazy silumba_lumba : if you wanna talk, just talk silumba_lumba : coz I’ll be there for you silumba_lumba : i maybe not able to help, i maybe just listen
Sofi Ardan : huhuhu silumba_lumba : you can do anything you want silumba_lumba : but please….. silumba_lumba : don’t ever leave me silumba_lumba : because silumba_lumba : if there is one thing that I can’t handle, is losing you Sofi Ardan : GOMBAL Sofi Ardan : RACUN! silumba_lumba : ahahahahaha
“mah…itu rambutnya mamah udah mulai huisan ih.” ucap gw iseng kepada mamah sewaktu sedang menemaninya membaca majalah. (huisan : beruban) “aduh mamah teh seminggu ini lagi sibuk-sibuknya. sampai lupa mau ke salon, nge-cat rambut.” jawabnya kalem sambil membuka-buka halaman majalah. “sok atuh kapan mamah mau ke salon? nanti argi temenin. eh, ari umur mamah teh tahun ini udah berapa gitu?” tanya gw sembari memijit-mijit kakinya di atas sofa. “masa kamu forget umur mamah berapa? Alhamdulillah masih cukup, kasep.” balas mamah. “cukup? maksudnya cukup?” gw menghentikan pijatan di kakinya, kemudian menatap mamah dengan penuh tanda tanya. “Alhamdulillah umur mamah nanti masih cukup buat nganter teteh kamu nikah, ditambah nganter kamu sama aom diwisuda.” jawabnya sambil tersenyum. “…………………………………………………………………………”
*****
silumba_lumba : sedih euy Sofi Ardan : sedih kenapa gi? silumba_lumba : sedih belum bisa wisuda tahun ini Sofi Ardan : cik atuh semangat! silumba_lumba : iya Sofi Ardan : tahun depan pasti bisa! silumba_lumba : amin silumba_lumba : tapi aing takut Sofi Ardan : takut sama apa? silumba_lumba : takut nanti setelah wisudanya silumba_lumba : harus nyari kerja silumba_lumba : kan wisuda teh wilujeng susah damel Sofi Ardan : huhuhuhu Sofi Ardan : dasar ucing! mikirnya kejauhan silumba_lumba : rasanya gimana sop? Sofi Ardan : apanya? silumba_lumba : diwisuda Sofi Ardan : hmm Sofi Ardan : kaget silumba_lumba : kaget?
silumba_lumba : udah cuma itu aja? Sofi Ardan : iya kaget silumba_lumba : teu rame ah Sofi Ardan : huhuhu Sofi Ardan : iya saya beneran kaget ngeliat reaksi ibu waktu saya diwisuda Sofi Ardan : jadi wisudanya sendiri biasa aja Sofi Ardan : tapi liat ekspresi bahagia orang tua saya yang bikin wisuda jadi luar biasa silumba_lumba : envy parah sama maneh silumba_lumba : aing jd pengen geura-geura diwisuda Sofi Ardan : usaha usaha usaha Sofi Ardan : semangat semangat semangat silumba_lumba : iya iya iya Sofi Ardan : kamu bisa kamu bisa kamu bisa silumba_lumba : pasti pasti pasti *****
Sofi Ardan : hey silumba_lumba : oi silumba_lumba : ada angin apa yeuh? Sofi Ardan : maksudnya? silumba_lumba : kamu say hi duluan silumba_lumba : biasanya kamu susah dihubungin Sofi Ardan : huhuhu
silumba_lumba : lagi apa sop? Sofi Ardan : belajar silumba_lumba : oh silumba_lumba : belajar tapi yman Sofi Ardan : ngga boleh? Sofi Ardan : ya udah saya off silumba_lumba : eh jangan atuh jangan silumba_lumba : atulah Sofi Ardan : kenapa? silumba_lumba : jangan off Sofi Ardan : kan mau belajar silumba_lumba : udah jangan belajar terus ah silumba_lumba : sing karunya ka aing Sofi Ardan : kamu lg apa? silumba_lumba : lagi nonton Sofi Ardan : nonton apa? silumba_lumba : film Sofi Ardan : dimana? silumba_lumba : bisokop Sofi Ardan : sama siapa? silumba_lumba : temen Sofi Ardan : temen?
silumba_lumba : hmm silumba_lumba : aku lg pdkt sama dia Sofi Ardan : oh Sofi Ardan : cowo? silumba_lumba : bukan Sofi Ardan : setengah cowo setengah cewe? silumba_lumba : masyaalloh woy! Sofi Ardan : ya siapa tau silumba_lumba : sama cewe sop silumba_lumba : yang kemarin-kemarin aku ceritain Sofi Ardan : anak du? silumba_lumba : iya yang itu Sofi Ardan : oh Sofi Ardan : yg eplok cendol itu ya? (eplok cendol : bohay / semok) silumba_lumba : hahahahhh silumba_lumba : tah eta pisan Sofi Ardan : pasti nggeus beak atuh ya ku kamu? (udah ‘habis’ atuh ya sama kamu?) silumba_lumba : astagfirullah silumba_lumba : can diasaan euy (belom sempet dicobain euy.) silumba_lumba : hahayyy
Sofi Ardan : dasar ucing bangor silumba_lumba : atuda belum diapa-apain ai kamu Sofi Ardan : tapi kan udah ada niat? silumba_lumba : tapi kan iman aku masih kuat sop Sofi Ardan : iman kosasih? silumba_lumba : saha eta teh? Sofi Ardan : duka teuing saha (ngga tau deh siapa) silumba_lumba : hahahaha silumba_lumba : kangen kamu lah Sofi Ardan : awas nanti yang di sebelah kamu marah silumba_lumba : ku aing dicarekan deui (nanti sama aku dimarahin balik) Sofi Ardan : parahh silumba_lumba : dilarang mengganggu aing sama maneh Sofi Ardan : kamu pacaran teh yang bener ah silumba_lumba : aku mah cuma bisa bener sama kamu Sofi Ardan : alesan silumba_lumba : sing deminya ini mah Sofi Ardan : ngga cape pacaran model teh celup? silumba_lumba : naon eta teh? Sofi Ardan : ya pacaran ala teh celup gi Sofi Ardan : cuma secelup dua celup habis itu buang
silumba_lumba : gusti silumba_lumba : itu kosakata darimana ya tuhan silumba_lumba : sopi udah gede ya sekarang? Sofi Ardan : gandeng! (berisik!) silumba_lumba : hahahahahaha Sofi Ardan : kalakuan maneh tah! silumba_lumba : maenya? (masa?) silumba_lumba : ceuk saha? Sofi Ardan : udah atuh kamu teh pacaran yang bener silumba_lumba : kumaha engke eta mah (itu mah gimana nanti) Sofi Ardan : terus ngapain kamu pdkt tapi niatnya ga bener? silumba_lumba : buat temen jalan silumba_lumba : kamu tau sendiri kan silumba_lumba : kamu ga ada semuanya jadi serba beda silumba_lumba : aku cuma butuh temen jalan silumba_lumba : belum butuh pacar silumba_lumba : pacar aku ya kamu Sofi Ardan : move on atuh gi silumba_lumba : daripada aku move on sama orang ga jelas silumba_lumba : jauh lebih baik kaya gini
silumba_lumba : mikirin kamu silumba_lumba : kangen sama kamu silumba_lumba : sayang sama kamu Sofi Ardan : ya sudah cari orang yang jelas silumba_lumba : belum ketemu silumba_lumba : ga segampang itu juga sop silumba_lumba : ini sanjungan buat kamu silumba_lumba : nyari pengganti kamu itu susah silumba_lumba : demina hese pisan (sumpah susah banget) Sofi Ardan : saya doain yang terbaik buat kamu silumba_lumba : so far, kamu masih yang terbaik buat aku *****
Sofi Ardan : kamu kenapa? Sofi Ardan : sakit? silumba_lumba : iya Sofi Ardan : sakit apa gi? Sofi Ardan : udah ke dokter? Sofi Ardan : udah minum obat? silumba_lumba : kebanyakan minum silumba_lumba : udah silumba_lumba : ini lagi istirahat di rumah
Sofi Ardan : kebanyakan minum? silumba_lumba : iya silumba_lumba : maaf Sofi Ardan : emang kamu minum apa? Sofi Ardan : kembung gitu maksudnya? silumba_lumba : minum minuman Sofi Ardan : minuman? Sofi Ardan : maksudnya? silumba_lumba : maaf Sofi Ardan : ARI SIA TEH ABOK-ABOKAN????? (kamu habis mabok-mabokan?????) silumba_lumba : maaf Sofi Ardan : KOP TAH!!! (rasain sendiri akibatnya!!!) silumba_lumba : maaf silumba_lumba : maaf silumba_lumba : maaf silumba_lumba : atulah silumba_lumba : aku minta maaf sop silumba_lumba : aku janji ga akan gitu lagi solumba_lumba: maaf Sofi Ardan : JANJI???? silumba_lumba : iya
Sofi Ardan : BENERAN JANJI???? silumba_lumba : deminya sop silumba_lumba : moal sakali-kali deui (ngga lagi lagi) silumba_lumba : aing kapok Sofi Ardan : awas kalo kamu masih kaya gitu! silumba_lumba : ngga sop ngga Sofi Ardan : saya ngga suka kamu kaya gitu!!! Sofi Ardan : ngerti??? silumba_lumba : iya sop iya silumba_lumba : maaf Sofi Ardan : beuki teu baleg wae sia teh! (hidup kamu jadi makin ngga bener aja!) silumba_lumba : maaf silumba_lumba : maaf Sofi Ardan : keuheul aing mah nyaan!!! (sunpah aku kesel banget!!!) silumba_lumba : udah atuh udah silumba_lumba : kan udah janji ga akan gitu lagi silumba_lumba : deminya ini mah silumba_lumba : sok kamu maunya apa silumba_lumba : aku nurut silumba_lumba : sop
silumba_lumba : jangan diem aja atuh silumba_lumba : aku minta maaf silumba : aku janji ga akan gitu lagi Sofi Ardan : saya pegang janji kamu silumba_lumba : iya sop iya Sofi Ardan : kondisi kamu sekarang gimana? silumba_lumba : pusing sop silumba_lumba : pusing pisan Sofi Ardan : kata dokter gimana? silumba_lumba : suruh istirahat silumba_lumba : banyak minum air putih Sofi Ardan : ya udah sana istirahat silumba_lumba : kangen kamu da Sofi Ardan : iya udah sana istirahat silumba_lumba : kangen kamu Sofi Ardan : kangen kamu juga Sofi Ardan : pacar kamu kemana? silumba_lumba : ga tau lagi pergi sama temennya Sofi Ardan : pergi kemana? Sofi Ardan : dia tau kamu lagi sakit? silumba_lumba : iya Sofi Ardan : dasar awewe teu baleg!
silumba_lumba : nanti juga mau kesini sop silumba_lumba : cuma lagi pergi dulu sama temennya Sofi Ardan : pergi kemana??? silumba_lumba : ngga tau silumba_lumba : nganter temennya beli kado apa gitu lah silumba_lumba : aing ge teu ngarti Sofi Ardan : apa-apaan tuh orang kaya gitu Sofi Ardan : pacarnya sakit bukannya langsung ditengok Sofi Ardan : harusnya dia nemenin kamu bukannya malah pergi ga jelas kemana! silumba_lumba : iya udah nanti juga dia kesini Sofi Ardan : kamu teh cari pacar yang bener atuh!! silumba_lumba : jadi yang sekarang teh menurut kamu ga bener? Sofi Ardan : ngga silumba_lumba : ya udah nanti aing putusin silumba_lumba : gampang kan? Sofi Ardan : cik atuh cari pacar teh yang bener silumba_lumba : kan kamu yang nyuruh aing cepet-cepet punya pacar silumba_lumba : ya udah weh yang ada silumba_lumba : udahlah sekarang kamu silumba_lumba : ga usah ngerasa bersalah apa gimana silumba_lumba : ga usah maksa aing punya pacar
silumba_lumba : hidup aing masih baik-baik aja sop silumba_lumba : aing ga punya pacar juga kan ga kenapa-kenapa silumba_lumba : yang penting masih punya kamu Sofi Ardan : udah kamu istirahat Sofi Ardan : kalo ada apa-apa buzz aja silumba_lumba : kangen kamu Sofi Ardan : iya, sama Sofi Ardan : cepet sembuh gi *****
Amanjiwo Resort, Magelang “hai……” sapa sebuah suara yang terdengar lirih. “bona??? itu kamu???” tanya suara yang lain lagi. kali ini suara itu terdengar seperti orang yang sedang tercekat. ia seperti orang yang tiba-tiba saja terbangun dari tidur panjangnya di musim dingin. “hai boni….” jawab suara yang lirih tadi. “bona???” tanya suara yang satunya lagi seolah masih belum percaya. “iya. kamu masih inget aku kan?” suara lirih itu berubah menjadi sedikit riang. ada perasaan rindu yang terbersit dalam pertanyaan yang dia ungkapkan. tak beberapa lama kemudian, terdengar suara tangisan yang amat memilukan. ada perasaan haru, sedih, bahagia, gembira, kecewa dan marah. semua emosi itu hanya dapat diungkapkan dalam bentuk tangisan. perkenalkan, nama aku boni. aku adalah sesuatu yang menurut kebanyakan orang jarang digunakan oleh seorang lelaki. menurut mereka, lelaki lebih sering berpikir menggunakan logika. bukan dengan hati. argi, seperti kebanyakan lelaki lain lebih banyak bertindak, berpikir, serta membuat keputusan berdasarkan logikanya. sementara aku, hati, baru dipakai ketika segala tindakan, buah pikiran serta keputusan yang diambil berdasarkan logika itu ternyata tidaklah selalu berbuah benar. tiap kali logika berbuat salah, maka akulah yang harus menanggung semua akibatnya itu. entah sudah berapa ribu kali aku mengingatkan logika agar mempertimbangkan segala sesuatunya dengan benar sebelum akhirnya memutuskan sesuatu. logika dan egois adalah sepasang sahabat, terlebih bagi seorang lelaki. mereka berdua selalu bertindak semena-mena, sehingga akhirnya akulah yang harus menanggung semua rasa sakit itu. aku berteman akrab dengan bona. kami berdua sering sekali bercerita tentang rasa sakit yang sama. terkadang, aku sering merasa iba melihat bona ketika ia sedang kesakitan. aku ingin sekali menolongnya, menghilangkan rasa sakitnya itu. tapi apa daya, jarang sekali aku mampu mempengaruhi logika dan sifat egois seorang argi. suaraku terlalu pelan untuk bisa didengar olehnya. begitupun halnya bona, sekeras apapun ia berteriak, sekencang apapun ia menangis tapi tetap saja, sofi acapkali mengacuhkan semua hal itu. ketika kami berdua merasa kesakitan, usaha paling maksimal yang bisa kami lakukan agar di dengar oleh argi dan sofi hanyalah mengirimkan sinyal kepada otak untuk meneruskannnya kepada mata agar ia menangis. itulah senjata terampuh kami. kami menyayat-nyayat bagian tubuh kami, melukai diri sendiri hingga akhirnya otak pun merasa kasihan dan memaksa mata untuk mengeluarkan tangisnya. sadarkah engkau, wahai kalian berdua? bahwasanya, luka dari sayatan itu sendiri sesungguhnya tidak akan pernah mengering? entah sudah berapa juta luka goresan yang kami buat. kesemua luka itu tidak ada yang tidak meninggalkan bekas. kami rela membuat parut di wajah kami sendiri. itu semua dilakukan hanya untuk membuat kalian sadar. memang, tuhan menciptakan tubuh manusia menjadi beberapa bagian. beberapa organ. kemudian memasukkan semua sifat, naluri, logika, akal serta keegoisan yang terkadang menghancurkan diri mereka sendiri. bahkan mampu menghancurkan segala sesuatu yang ada di muka bumi ini. manusia adalah sungguh makhluk yang amat sangat egois. menyadari hal tersebut, maka tuhan lalu menciptakan kami. tuhan menciptakan hati. aku dan bona diciptakan sebagai penyeimbang. tapi nyatanya, kalian berdua tidak mempergunakan kami sebagaimana mestinya. kalian hanya menjadikan kami sebagai tempat pelarian. saat kalian berdua merasakan jatuh cinta, mata lah yang merekam bagaimana kalian begitu mengagumi sosok masing-masing. ketika kalian bersama, kontak mata yang begitu intim pun terjalin. lalu siapa lagikah yang beruntung? dia adalah tangan. betapa bahagianya menjadi tangan. ia seringkali menceritakan betapa lembutnya pipi kalian, betapa halusnya tiap helai rambut yang ia belai, betapa erat ia mencengkram tangan seseorang yang sangat teramat ia sayangi. aku turut berbahagia mendengar ceritanya. tiap kali tangan bercerita hal romantis yang baru saja dilakukannya, aku langsung tersipu malu membayangkan semua bayangan indah itu. aku tidak merasakannya langsung. tapi entah kenapa aku bahagia. tahukah kalian berdua, siapa yang paling membuatku merasa iri? dia adalah bibir. aku iri sekali olehnya. dia pernah berteriak kencang kepada semuanya ketika akhirnya bisa mencium bibir pasangannya. dia merasa bangga. karena menurutnya, ciuman yang ia berikan mampu membuat sang empunya merasakan hidup layaknya di surga. bibir lalu membuat tandanya sendiri. ciuman di bibir, tandanya sayang. ciuman di pipi, tandanya bahagia. lalu ciuman di kening, tandanya cinta. aku iri. aku tidak pernah dapat bersentuhan dengan bona secara langsung. padahal aku ingin sekali. aku belum pernah menginginkan sesuatu sekuat ini. rasanya, aku rela menukar apapun yang aku punya asalkan bisa duduk berdampingan dengan bona. tapi sejauh ini, seriuh apapun hal yang diceritakan oleh mata, tangan dan bibir, aku dan bona hanya bisa iri. kami berdua hanya bisa berbicara. dari hati ke hati. dan tahukah kalian, disaat kalian berdua harus mengakhiri segalanya, bahkan mata, tangan, bibir dan otak sekalipun tidak ada yang mau bertanggung jawab??? mereka melimpahkan semua rasa sakit itu kepada kami. kepada aku dan bona. kenapa hampir semua manusia menyimpan rasa sakitnya di dalam hati??? kenapa kami yang harus menanggung semuanya??? bukankah sebelumnya kami sudah sering berteriak??? kami sudah sering mengingatkan agar kalian tidak berbuat kesalahan yang fatal. tapi kalian justru mengacuhkannya. berpikir berdasarkan logika itu sebuah keharusan. tapi tolong, libatkan kami, libatkan hati ketika kalian akan bertindak. karena untuk itulah kami diciptakan. sebagai penyeimbang. “boni? kamu kenapa?” tanya bona kepada boni yang masih terisak. “boni?” bona meninggikan suaranya ketika tubuh sofi dan argi sedang berdekatan. lalu tangisan boni pun tiba-tiba terhenti. “hangat….” ucap boni sambil tersenyum penuh arti. “hangat?” kali ini bona benar-benar dibuat bingung oleh boni. bona tidak tahu kalau saat ini, argi sedang memeluk sofi dengan sangat erat. bibirnya, berulang kali mendaratkan kecupan di kening orang yang sangat ia cintai tersebut. pertemuan kembali setelah waktu yang cukup lama ini tak pelak membuat argi merasakan rasa bahagia yang tiada tara. “selama ini aku kedinginan.” boni bercerita. “kedinginan? barusan tadi kamu bilang hangat, kan?” bona masih belum mampu menangkap maksud perkataan boni. “kamu yang membuatku kembali merasakan rasa hangat ini lagi…. perasaan hangat yang teramat sangat aku rindukan.” boni berusaha untuk tersenyum.
“aku……” “aku……..” “aku juga rindu perasaan ini.” ucap bona lirih. “se-se-lama ini aku juga kedinginan.” bona tertunduk lesu. “kenapa kamu tidak pernah bercerita sedikitpun kalau kamu merasakan dingin yang sama sepertiku? kenapa selama ini kamu diam saja???” boni pun merajuk. selama puluhan minggu lamanya, bona hanya mendengar kabar menyedihkan yang diceritakan oleh teman-temannya yang lain, tangan, bibir dan mata. “a-a-aku ngga berani. aku takut. a-a-aku malu.” suara bona semakin tenggelam oleh rasa malunya sendiri. “kamu tahu, selama ini aku selalu menunggu kabar dari kamu!! aku sering sekali menitipkan salam rindu kepadamu. tangan bilang, sudah ribuan kali ia mengetikkan perasaaan itu melalui papan keyboard. bahkan, mata pun berani bersaksi kalau ia melihat semua kata-kata rindu yang diketik oleh tangan!!!” boni meninggikan suaranya. ia terdengar marah. “lalu mana balasanmu?????” hardik boni. kali ini, giliran bona yang merasa sedih. sangat teramat sedih. hanya ia yang tahu. hanya ia yang menyimpan semua perasaan itu. semua rahasia itu. rahasia yang tidak pernah ia beritahukan kepada boni. otak, tempat dimana boni menyimpan semua memorinya itu merasa iba. otak mengetahui segalanya. semua ingatan. termasuk ingatan sedih boni. ingatan akan sebuah alasan. alasan mengapa ia rela menyanyat-nyayat luka baru karena harus meninggalkan boni. otak meminta izin kepada bona untuk membuat bibir menceritakan segala sesuatunya dengan jelas kepada argi, kepada boni. tapi bona lalu menolak. baginya, meninggalkan seseorang yang amat sangat ia cintai sudah jelas merupakan sebuah kesalahan fatal. dan bona tidak mau menerima pengampunan dari boni. baginya sudah jelas siapa pihak yang menyakiti dan tersakiti. otak akhirnya terpaksa menuruti kehendak bona. tapi karena rasa empatinya begitu besar, otak lalu mengeluarkan sinyal kepada mata untuk menangis.” menangislah!” teriak otak dengan kencang kepada mata. “menangislah agar argi tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi!!!” teriak otak lagi. ***
Bertahun-tahun kemudian….
“dulu geuleuh ngga sih, waktu liat di majalah teh bibir kamu pake lipbalm?” tanya sofi saat kami sedang berjalan-jalan di sekitar jalan bali begitu sesampainya di bandung setelah selesai melaksanakan serangkaian acara pernikahan teh dea. “eh itu mah disuruh sama tukang potonya lah. maneh tah yang nurustunjung ngabolokerkeun eta aib aing make lipengloss.” biasanya kan, kadang, supaya bibirnya ngga keliatan pecah-pecah teh suka dikasih lipgloss sama tukang mek ap nya. (kamu tuh yang nyebelin nyebarin aib aku pake lipbalm) “atuda resep ngaheureuyan kamu teh.” (habisnya aku paling seneng ngebecandain kamu.) “eh dulu motor kamu pernah jatuh disini inget ngga sop?” gw menunjuk ke depan pagar sebuah kos-kosan yang letaknya bersebelahan dengan sekolah. “oh… gara-gara mau ngikutin kamu tea nya gi?” “iya. da kamu mah sukanya ngikutin aing terus. aing pergi kemana aja pasti ngikut da. dasar anak bringka.” “anak bringka?” “bringkaditu, bringkadieu. nu penting mah ngilu ramena hungkul.” (kesana, kemari. yang penting mah ikut ngeramein.) “saya laper gi. makan dulu yu bentar?” “mau makan apa?” “sotbal aja gi yang rada deukeut.” “hayu lah. leumpang atawa kumaha?” (hayu lah. mau jalan atau gimana?)
“heu euh. sekalian kesangan. disana saya jarang olahraga.” ucap sofi sambil melangkahkan kaki melintasi lapbal, lapangan bali, menuju ke arah sotbal, soto bali, yang ada di bagian ujung jalan bali dekat ke jalan jawa. (kesangan : keringetan) “maneh leumpangna tong gancang-gancang teuing atuh bray. aing geus kolot yeuh….” gw menyuruh sofi agar memperlambat langkah kakinya. (kamu jalannya jangan cepet-cepet atuh sop. aku udah tambah tua nih…) “kamu mah, dari dulu sampai sekarang tetep aja jalannya lama. saya udah pelan juga tetep aja saya yang ada di depan kamu. kamu mah selalu ketinggalan…” balas sofi sambil tetap berjalan cepat seperti biasa. *****
as you walk in front of me, doesn’t mean I am left behind. i just want to watch you walk away and wonder…….. whenever you are missing something, will you look back? *****
“kemarin kayanya kamu baru aja dateng. dan sekarang, aku harus liat kamu berangkat lagi. pergi lagi. ninggalin aku, lagi.” gw membantunya mengemasi beberapa pakaian ke dalam koper. sofi pun hanya bisa tersenyum simpul. “pernah ngga, kamu tiba-tiba ngerasa ragu menjalankan sesuatu saat udah sampai ditengah jalan?” tiba-tiba sofi menatap tajam ke arah gw. “ragunya teh karena apa dulu? cobaan atau godaan?” balas gw. “hmm…. terkadang yang namanya godaan itu akhirnya akan jadi sebuah cobaan.” “dan kalau mau lulus dengan nilai bagus, artinya harus bisa menyingkirkan semua godaan yang jadi cobaan itu, kan?” sofi kemudian tertawa kecil sambil menatap kearah gw.
“kata-kata barusan, keluar dari mulut kamu apa hati kamu?” goda sofi. “…………………………………………………………………………………….” gw hanya bisa terdiam. andai hati bisa berkata, mungkin bibir ini sudah pasti akan dicap sebagai pembohong besar. “kamu kuliahnya harus bener ya gi. cepetan lulus. kalau ada perlu bantuan apapun, email saya atau gimanapun lah caranya. walau sesibuk apapun, saya akan sangat mau sekali bantuin kamu.” “iya sop. doain aku ya supaya cepet selesai urusan kuliahnya. asa banyak pisan hambatan.” “ok. tapi saya mah cuma bisa sebatas ngedoain kamu. nantinya cuma Allah yang akan, selalu dan pasti nolongin kamu. makanya kamu jangan pernah ninggalin shalat.” “iya sop. eh sop, dulu teh kamu suka sama aku karena apanya?” tiba-tiba gw melemparkan pertanyaan yang sebenarnya gw sendiri sudah tahu jawabannya. “ngga tau…..” jawabnya singkat. kemudian ia kembali menlanjutkan kegiatan beres-beresnya. *****
i like you because I don’t know why, but… everything that happens is nicer with you i can’t remember when I didn’t like you it must have been lonesome then i like you because because because i forget why I like you but i do… ***** hey sipo-sipo, promise me ya, you gonna take a good care of yourself there. stop being spontaneous and avoid every act that lead you to problems. stay focus, stay calm, stay gorgeous, jangan dikeluarin hoblohnya nanti bisa malu-maluin nama negara. kalo ada yang gangguin kamu disana bilang aja nanti aing pasti langsung sewa pembunuh bayaran. hahahaha. jangan lupa solat siah sop. soalnya kalo maneh ngga solat nanti ngga akan ada yang doain aing. *****
hahaha… yes, sir. I will take care of myself and I won’t do stupid things that will lead me to problems. I promise you that I will be fine there. *****
TAMAT
silumba_lumba : gandeng sia loba omong!! (berisik lo ah banyak omong banget jadi orang!) *****4
b]Sofi Ardan :[/b] saya teh beneran khawatir sama kamu! silumba_lumba : aing teu paduli! (gw ngga peduli!) Sofi Ardan : ?????
silumba_lumba : kalo maneh peduli silumba_lumba : maneh ga akan ninggalin aing!!! *****
CAPRICORN Love to bust. Nice. intelligent. Sexy. Grouchy at times and annoying to some. LAZY AND LOVE TO TAKE IT EASY. But when they find a job or something they like to do they put their all into it. Proud, understanding and SWEET. Loves being in long relationships. Cool. Loves to win against other signs especially Gemini’s in sports.Extremely fun. Loves to joke. SMART. *****
saya sendiri sebenernya masih belum bisa percaya dengan keputusan yang sudah diambil. masalahnya, saya diberikan peringatan dan sebuah kesempatan dalam waktu yang bersamaan. saya juga diberi pilihan yang amat sangat sulit, memilih membahagiakan orang yang sudah tiada atau harus pergi jauh dari orang yang kalau saya pergi jauh darinya pasti saya sulit untuk bisa bahagia? dan sewaktu kesempatan itu datang di depan mata, maka pilhannya hanya ada dua, take it or leave it. otak dan logika saya berseru untuk mengambilnya dan menggunakan kesempatan itu sebaik mungkin, sebagai balasan dari kasih sayang seseorang yang luar biasa sangat saya hormati. tapi bagian tubuh saya yang lain, hati saya, sudah pasti berteriak menolak. ketika di luar sana ada banyak orang berjuang mati-matian mendapatkan orang terbaik untuk berada di sisinya, yang saya lakukan justru meninggalkan orang tersebut. It’s not easy to decide. I wanna go, but I wanna stay. Gusti, memutuskannya saja sudah sesulit ini apalagi nanti sewaktu menjalaninya? saya lalu teringat perkataan abah, manusia itu hanya menjalani dua hal dalam hidupnya, yaitu sedih dan senang. sesudah sedih pasti akan datang senang, dan begitu juga sebaliknya kejadian susah dan senang itu berlangsung seterusnya, bergantian, berulang-ulang. *****
waktu aing mulai benci sama maneh, itu artinya ga akan lagi ada kata maaf. kenapa? karena aing bukan Tuhan yang Maha Pemaaf atau sebenernya aing masih belum kuat untuk bisa jadi sepemaaf itu. aing ga akan pernah mau maafin maneh. aing maunya maneh ada di sini SEKARANG JUGA. ngerti??
*****
Gi, inget ngga sama jaman dulu? duluuuu banget. waktu kita masih punya banyak waktu, kita ketawa bareng, nangis juga bareng. sekarang, bahkan keadaan kamu pun saya ngga tau kaya gimana. mau nanya juga rasanya canggung. saya iri. iri sama mereka yang masih bisa ketawa bareng pacarnya. saya iri mereka masih punya telinga orang lain, seseorang yang selalu siap dengerin segala keluh kesah dan cerita bahagia. saya iri karena mereka masih bisa menghabiskan waktu bersama, walaupun saya tau waktu mereka juga ngga banyak. dan saya sedih karena kita terlalu egois. sadar ngga, saya dan kamu sama-sama egois? mungkin kamu pikir saya sekarang menjauh karena nggga sayang sama kamu. gi, saya juga ngga mau jadi gini. saya pengen tetep sama kamu, ketawa lagi, nangis lagi, makan lagi. tapi sesuatu yang ada di atas saya terpaksa bikin semuanya jadi seperti sekarang. saya sadar kalau saya orangnya egois. semakin mengasihani diri sendiri. semakin keras kepala. semakin menyedihkan. Inget ga, dulu kamu pernah bilang, hubungan kita berdua teh udah seperti keluarga, tapi kita juga bisa ‘putus’ kalau ngga menjalaninya dengan dewasa. ya, sekarang kita udah dewasa, bukan lagi saatnya nyari orang yang fungsinya buat having fun aja atau cuma sekedar teman ngobrol biasa. kita bukan anak sma lagi. tapi saya yakin kok kalau kita bisa ngejaga ikatan itu sampai kapanpun. amin. saya mah berharap, bahwa waktu kita yang terbuang saat ini, ga akan sia-sia di masa depan. bahwa kita masih bisa ‘bareng-bareng’ lagi tanpa ada sesuatu yang janggal seperti sekarang. saya sayang kamu. kemarin dan besok. *****
aing bener-bener kecewa sama maneh. aing belum pernah ngerasa se-kecewa ini sama maneh. aing marah. bener-bener marah. aing juga kesel sekesel-sekeselnya sama maneh. tapi aing kangen sama maneh. kangen pisan pisan pisan. *****
aku mencarimu. dalam setiap senja yang berlalu. aku menunggu, untuk usaikan asa yang merindu. dengarkan sapuan angin yang berhembus, telah kubisikkan gairah yang telah lama terbius. rasakan deburan ombak yang berderu, maka kutitipkan secercah asa yang pilu. rasakan saja semua perasaan itu, maka akan ada satu kisah tentang seseorang yang tak lekang oleh waktu. itu kamu. dan aku pun merindu. *****
it sucks when you miss that person so much that you look through old photos, old text messages, even old notes. and it brings a smile to your face. but then the hurts comes back and you know you shouldn’t be looking back, but you can’t help it because they really meant something to you and you thought it would of lasted. hey, i miss you. miss the old of us. the way we laugh. the way we chat. I really miss you. your messiness. your bad habit and everything about you. I’m just missing you……so much. *****
Offline message : Sofi Ardan : thanks to you sir for those ‘less-than-five-minutes’ chat. you always know how to make me feel alright. bener kan, ternyata sejauh apapun saya dari kamu, saya tetep butuh kamu. jadi, jangan bilang kalau saya akan ngelupain kamu. *****
silumba_lumba : maneh harus kuat ya disana silumba_lumba : tinggal dimana pun pasti selalu ada aja masalahnya silumba_lumba : kalau maneh punya masalah berat, cerita aja sama aing Sofi Ardan : tapi saya lama-lama jadi cewe benget gi Sofi Ardan : kalo ga kuat ngehadepin masalah kadang malah pengen nangis Sodi Ardan : life is not easy at all…. silumba_lumba : hey, if you wanna cry, then cry silumba_lumba : if you wanna shout, just shout silumba_lumba : if you mad, do crazy silumba_lumba : if you wanna talk, just talk silumba_lumba : coz I’ll be there for you silumba_lumba : i maybe not able to help, i maybe just listen
Sofi Ardan : huhuhu silumba_lumba : you can do anything you want silumba_lumba : but please….. silumba_lumba : don’t ever leave me silumba_lumba : because silumba_lumba : if there is one thing that I can’t handle, is losing you Sofi Ardan : GOMBAL Sofi Ardan : RACUN! silumba_lumba : ahahahahaha
“mah…itu rambutnya mamah udah mulai huisan ih.” ucap gw iseng kepada mamah sewaktu sedang menemaninya membaca majalah. (huisan : beruban) “aduh mamah teh seminggu ini lagi sibuk-sibuknya. sampai lupa mau ke salon, nge-cat rambut.” jawabnya kalem sambil membuka-buka halaman majalah. “sok atuh kapan mamah mau ke salon? nanti argi temenin. eh, ari umur mamah teh tahun ini udah berapa gitu?” tanya gw sembari memijit-mijit kakinya di atas sofa. “masa kamu forget umur mamah berapa? Alhamdulillah masih cukup, kasep.” balas mamah. “cukup? maksudnya cukup?” gw menghentikan pijatan di kakinya, kemudian menatap mamah dengan penuh tanda tanya. “Alhamdulillah umur mamah nanti masih cukup buat nganter teteh kamu nikah, ditambah nganter kamu sama aom diwisuda.” jawabnya sambil tersenyum. “…………………………………………………………………………”
*****
silumba_lumba : sedih euy Sofi Ardan : sedih kenapa gi? silumba_lumba : sedih belum bisa wisuda tahun ini Sofi Ardan : cik atuh semangat! silumba_lumba : iya Sofi Ardan : tahun depan pasti bisa! silumba_lumba : amin silumba_lumba : tapi aing takut Sofi Ardan : takut sama apa? silumba_lumba : takut nanti setelah wisudanya silumba_lumba : harus nyari kerja silumba_lumba : kan wisuda teh wilujeng susah damel Sofi Ardan : huhuhuhu Sofi Ardan : dasar ucing! mikirnya kejauhan silumba_lumba : rasanya gimana sop? Sofi Ardan : apanya? silumba_lumba : diwisuda Sofi Ardan : hmm Sofi Ardan : kaget silumba_lumba : kaget?
silumba_lumba : udah cuma itu aja? Sofi Ardan : iya kaget silumba_lumba : teu rame ah Sofi Ardan : huhuhu Sofi Ardan : iya saya beneran kaget ngeliat reaksi ibu waktu saya diwisuda Sofi Ardan : jadi wisudanya sendiri biasa aja Sofi Ardan : tapi liat ekspresi bahagia orang tua saya yang bikin wisuda jadi luar biasa silumba_lumba : envy parah sama maneh silumba_lumba : aing jd pengen geura-geura diwisuda Sofi Ardan : usaha usaha usaha Sofi Ardan : semangat semangat semangat silumba_lumba : iya iya iya Sofi Ardan : kamu bisa kamu bisa kamu bisa silumba_lumba : pasti pasti pasti *****
Sofi Ardan : hey silumba_lumba : oi silumba_lumba : ada angin apa yeuh? Sofi Ardan : maksudnya? silumba_lumba : kamu say hi duluan silumba_lumba : biasanya kamu susah dihubungin Sofi Ardan : huhuhu
silumba_lumba : lagi apa sop? Sofi Ardan : belajar silumba_lumba : oh silumba_lumba : belajar tapi yman Sofi Ardan : ngga boleh? Sofi Ardan : ya udah saya off silumba_lumba : eh jangan atuh jangan silumba_lumba : atulah Sofi Ardan : kenapa? silumba_lumba : jangan off Sofi Ardan : kan mau belajar silumba_lumba : udah jangan belajar terus ah silumba_lumba : sing karunya ka aing Sofi Ardan : kamu lg apa? silumba_lumba : lagi nonton Sofi Ardan : nonton apa? silumba_lumba : film Sofi Ardan : dimana? silumba_lumba : bisokop Sofi Ardan : sama siapa? silumba_lumba : temen Sofi Ardan : temen?
silumba_lumba : hmm silumba_lumba : aku lg pdkt sama dia Sofi Ardan : oh Sofi Ardan : cowo? silumba_lumba : bukan Sofi Ardan : setengah cowo setengah cewe? silumba_lumba : masyaalloh woy! Sofi Ardan : ya siapa tau silumba_lumba : sama cewe sop silumba_lumba : yang kemarin-kemarin aku ceritain Sofi Ardan : anak du? silumba_lumba : iya yang itu Sofi Ardan : oh Sofi Ardan : yg eplok cendol itu ya? (eplok cendol : bohay / semok) silumba_lumba : hahahahhh silumba_lumba : tah eta pisan Sofi Ardan : pasti nggeus beak atuh ya ku kamu? (udah ‘habis’ atuh ya sama kamu?) silumba_lumba : astagfirullah silumba_lumba : can diasaan euy (belom sempet dicobain euy.) silumba_lumba : hahayyy
Sofi Ardan : dasar ucing bangor silumba_lumba : atuda belum diapa-apain ai kamu Sofi Ardan : tapi kan udah ada niat? silumba_lumba : tapi kan iman aku masih kuat sop Sofi Ardan : iman kosasih? silumba_lumba : saha eta teh? Sofi Ardan : duka teuing saha (ngga tau deh siapa) silumba_lumba : hahahaha silumba_lumba : kangen kamu lah Sofi Ardan : awas nanti yang di sebelah kamu marah silumba_lumba : ku aing dicarekan deui (nanti sama aku dimarahin balik) Sofi Ardan : parahh silumba_lumba : dilarang mengganggu aing sama maneh Sofi Ardan : kamu pacaran teh yang bener ah silumba_lumba : aku mah cuma bisa bener sama kamu Sofi Ardan : alesan silumba_lumba : sing deminya ini mah Sofi Ardan : ngga cape pacaran model teh celup? silumba_lumba : naon eta teh? Sofi Ardan : ya pacaran ala teh celup gi Sofi Ardan : cuma secelup dua celup habis itu buang
silumba_lumba : gusti silumba_lumba : itu kosakata darimana ya tuhan silumba_lumba : sopi udah gede ya sekarang? Sofi Ardan : gandeng! (berisik!) silumba_lumba : hahahahahaha Sofi Ardan : kalakuan maneh tah! silumba_lumba : maenya? (masa?) silumba_lumba : ceuk saha? Sofi Ardan : udah atuh kamu teh pacaran yang bener silumba_lumba : kumaha engke eta mah (itu mah gimana nanti) Sofi Ardan : terus ngapain kamu pdkt tapi niatnya ga bener? silumba_lumba : buat temen jalan silumba_lumba : kamu tau sendiri kan silumba_lumba : kamu ga ada semuanya jadi serba beda silumba_lumba : aku cuma butuh temen jalan silumba_lumba : belum butuh pacar silumba_lumba : pacar aku ya kamu Sofi Ardan : move on atuh gi silumba_lumba : daripada aku move on sama orang ga jelas silumba_lumba : jauh lebih baik kaya gini
silumba_lumba : mikirin kamu silumba_lumba : kangen sama kamu silumba_lumba : sayang sama kamu Sofi Ardan : ya sudah cari orang yang jelas silumba_lumba : belum ketemu silumba_lumba : ga segampang itu juga sop silumba_lumba : ini sanjungan buat kamu silumba_lumba : nyari pengganti kamu itu susah silumba_lumba : demina hese pisan (sumpah susah banget) Sofi Ardan : saya doain yang terbaik buat kamu silumba_lumba : so far, kamu masih yang terbaik buat aku *****
Sofi Ardan : kamu kenapa? Sofi Ardan : sakit? silumba_lumba : iya Sofi Ardan : sakit apa gi? Sofi Ardan : udah ke dokter? Sofi Ardan : udah minum obat? silumba_lumba : kebanyakan minum silumba_lumba : udah silumba_lumba : ini lagi istirahat di rumah
Sofi Ardan : kebanyakan minum? silumba_lumba : iya silumba_lumba : maaf Sofi Ardan : emang kamu minum apa? Sofi Ardan : kembung gitu maksudnya? silumba_lumba : minum minuman Sofi Ardan : minuman? Sofi Ardan : maksudnya? silumba_lumba : maaf Sofi Ardan : ARI SIA TEH ABOK-ABOKAN????? (kamu habis mabok-mabokan?????) silumba_lumba : maaf Sofi Ardan : KOP TAH!!! (rasain sendiri akibatnya!!!) silumba_lumba : maaf silumba_lumba : maaf silumba_lumba : maaf silumba_lumba : atulah silumba_lumba : aku minta maaf sop silumba_lumba : aku janji ga akan gitu lagi solumba_lumba: maaf Sofi Ardan : JANJI???? silumba_lumba : iya
Sofi Ardan : BENERAN JANJI???? silumba_lumba : deminya sop silumba_lumba : moal sakali-kali deui (ngga lagi lagi) silumba_lumba : aing kapok Sofi Ardan : awas kalo kamu masih kaya gitu! silumba_lumba : ngga sop ngga Sofi Ardan : saya ngga suka kamu kaya gitu!!! Sofi Ardan : ngerti??? silumba_lumba : iya sop iya silumba_lumba : maaf Sofi Ardan : beuki teu baleg wae sia teh! (hidup kamu jadi makin ngga bener aja!) silumba_lumba : maaf silumba_lumba : maaf Sofi Ardan : keuheul aing mah nyaan!!! (sunpah aku kesel banget!!!) silumba_lumba : udah atuh udah silumba_lumba : kan udah janji ga akan gitu lagi silumba_lumba : deminya ini mah silumba_lumba : sok kamu maunya apa silumba_lumba : aku nurut silumba_lumba : sop
silumba_lumba : jangan diem aja atuh silumba_lumba : aku minta maaf silumba : aku janji ga akan gitu lagi Sofi Ardan : saya pegang janji kamu silumba_lumba : iya sop iya Sofi Ardan : kondisi kamu sekarang gimana? silumba_lumba : pusing sop silumba_lumba : pusing pisan Sofi Ardan : kata dokter gimana? silumba_lumba : suruh istirahat silumba_lumba : banyak minum air putih Sofi Ardan : ya udah sana istirahat silumba_lumba : kangen kamu da Sofi Ardan : iya udah sana istirahat silumba_lumba : kangen kamu Sofi Ardan : kangen kamu juga Sofi Ardan : pacar kamu kemana? silumba_lumba : ga tau lagi pergi sama temennya Sofi Ardan : pergi kemana? Sofi Ardan : dia tau kamu lagi sakit? silumba_lumba : iya Sofi Ardan : dasar awewe teu baleg!
silumba_lumba : nanti juga mau kesini sop silumba_lumba : cuma lagi pergi dulu sama temennya Sofi Ardan : pergi kemana??? silumba_lumba : ngga tau silumba_lumba : nganter temennya beli kado apa gitu lah silumba_lumba : aing ge teu ngarti Sofi Ardan : apa-apaan tuh orang kaya gitu Sofi Ardan : pacarnya sakit bukannya langsung ditengok Sofi Ardan : harusnya dia nemenin kamu bukannya malah pergi ga jelas kemana! silumba_lumba : iya udah nanti juga dia kesini Sofi Ardan : kamu teh cari pacar yang bener atuh!! silumba_lumba : jadi yang sekarang teh menurut kamu ga bener? Sofi Ardan : ngga silumba_lumba : ya udah nanti aing putusin silumba_lumba : gampang kan? Sofi Ardan : cik atuh cari pacar teh yang bener silumba_lumba : kan kamu yang nyuruh aing cepet-cepet punya pacar silumba_lumba : ya udah weh yang ada silumba_lumba : udahlah sekarang kamu silumba_lumba : ga usah ngerasa bersalah apa gimana silumba_lumba : ga usah maksa aing punya pacar
silumba_lumba : hidup aing masih baik-baik aja sop silumba_lumba : aing ga punya pacar juga kan ga kenapa-kenapa silumba_lumba : yang penting masih punya kamu Sofi Ardan : udah kamu istirahat Sofi Ardan : kalo ada apa-apa buzz aja silumba_lumba : kangen kamu Sofi Ardan : iya, sama Sofi Ardan : cepet sembuh gi *****
Amanjiwo Resort, Magelang “hai……” sapa sebuah suara yang terdengar lirih. “bona??? itu kamu???” tanya suara yang lain lagi. kali ini suara itu terdengar seperti orang yang sedang tercekat. ia seperti orang yang tiba-tiba saja terbangun dari tidur panjangnya di musim dingin. “hai boni….” jawab suara yang lirih tadi. “bona???” tanya suara yang satunya lagi seolah masih belum percaya. “iya. kamu masih inget aku kan?” suara lirih itu berubah menjadi sedikit riang. ada perasaan rindu yang terbersit dalam pertanyaan yang dia ungkapkan. tak beberapa lama kemudian, terdengar suara tangisan yang amat memilukan. ada perasaan haru, sedih, bahagia, gembira, kecewa dan marah. semua emosi itu hanya dapat diungkapkan dalam bentuk tangisan. perkenalkan, nama aku boni. aku adalah sesuatu yang menurut kebanyakan orang jarang digunakan oleh seorang lelaki. menurut mereka, lelaki lebih sering berpikir menggunakan logika. bukan dengan hati. argi, seperti kebanyakan lelaki lain lebih banyak bertindak, berpikir, serta membuat keputusan berdasarkan logikanya. sementara aku, hati, baru dipakai ketika segala tindakan, buah pikiran serta keputusan yang diambil berdasarkan logika itu ternyata tidaklah selalu berbuah benar. tiap kali logika berbuat salah, maka akulah yang harus menanggung semua akibatnya itu. entah sudah berapa ribu kali aku mengingatkan logika agar mempertimbangkan segala sesuatunya dengan benar sebelum akhirnya memutuskan sesuatu. logika dan egois adalah sepasang sahabat, terlebih bagi seorang lelaki. mereka berdua selalu bertindak semena-mena, sehingga akhirnya akulah yang harus menanggung semua rasa sakit itu. aku berteman akrab dengan bona. kami berdua sering sekali bercerita tentang rasa sakit yang sama. terkadang, aku sering merasa iba melihat bona ketika ia sedang kesakitan. aku ingin sekali menolongnya, menghilangkan rasa sakitnya itu. tapi apa daya, jarang sekali aku mampu mempengaruhi logika dan sifat egois seorang argi. suaraku terlalu pelan untuk bisa didengar olehnya. begitupun halnya bona, sekeras apapun ia berteriak, sekencang apapun ia menangis tapi tetap saja, sofi acapkali mengacuhkan semua hal itu. ketika kami berdua merasa kesakitan, usaha paling maksimal yang bisa kami lakukan agar di dengar oleh argi dan sofi hanyalah mengirimkan sinyal kepada otak untuk meneruskannnya kepada mata agar ia menangis. itulah senjata terampuh kami. kami menyayat-nyayat bagian tubuh kami, melukai diri sendiri hingga akhirnya otak pun merasa kasihan dan memaksa mata untuk mengeluarkan tangisnya. sadarkah engkau, wahai kalian berdua? bahwasanya, luka dari sayatan itu sendiri sesungguhnya tidak akan pernah mengering? entah sudah berapa juta luka goresan yang kami buat. kesemua luka itu tidak ada yang tidak meninggalkan bekas. kami rela membuat parut di wajah kami sendiri. itu semua dilakukan hanya untuk membuat kalian sadar. memang, tuhan menciptakan tubuh manusia menjadi beberapa bagian. beberapa organ. kemudian memasukkan semua sifat, naluri, logika, akal serta keegoisan yang terkadang menghancurkan diri mereka sendiri. bahkan mampu menghancurkan segala sesuatu yang ada di muka bumi ini. manusia adalah sungguh makhluk yang amat sangat egois. menyadari hal tersebut, maka tuhan lalu menciptakan kami. tuhan menciptakan hati. aku dan bona diciptakan sebagai penyeimbang. tapi nyatanya, kalian berdua tidak mempergunakan kami sebagaimana mestinya. kalian hanya menjadikan kami sebagai tempat pelarian. saat kalian berdua merasakan jatuh cinta, mata lah yang merekam bagaimana kalian begitu mengagumi sosok masing-masing. ketika kalian bersama, kontak mata yang begitu intim pun terjalin. lalu siapa lagikah yang beruntung? dia adalah tangan. betapa bahagianya menjadi tangan. ia seringkali menceritakan betapa lembutnya pipi kalian, betapa halusnya tiap helai rambut yang ia belai, betapa erat ia mencengkram tangan seseorang yang sangat teramat ia sayangi. aku turut berbahagia mendengar ceritanya. tiap kali tangan bercerita hal romantis yang baru saja dilakukannya, aku langsung tersipu malu membayangkan semua bayangan indah itu. aku tidak merasakannya langsung. tapi entah kenapa aku bahagia. tahukah kalian berdua, siapa yang paling membuatku merasa iri? dia adalah bibir. aku iri sekali olehnya. dia pernah berteriak kencang kepada semuanya ketika akhirnya bisa mencium bibir pasangannya. dia merasa bangga. karena menurutnya, ciuman yang ia berikan mampu membuat sang empunya merasakan hidup layaknya di surga. bibir lalu membuat tandanya sendiri. ciuman di bibir, tandanya sayang. ciuman di pipi, tandanya bahagia. lalu ciuman di kening, tandanya cinta. aku iri. aku tidak pernah dapat bersentuhan dengan bona secara langsung. padahal aku ingin sekali. aku belum pernah menginginkan sesuatu sekuat ini. rasanya, aku rela menukar apapun yang aku punya asalkan bisa duduk berdampingan dengan bona. tapi sejauh ini, seriuh apapun hal yang diceritakan oleh mata, tangan dan bibir, aku dan bona hanya bisa iri. kami berdua hanya bisa berbicara. dari hati ke hati. dan tahukah kalian, disaat kalian berdua harus mengakhiri segalanya, bahkan mata, tangan, bibir dan otak sekalipun tidak ada yang mau bertanggung jawab??? mereka melimpahkan semua rasa sakit itu kepada kami. kepada aku dan bona. kenapa hampir semua manusia menyimpan rasa sakitnya di dalam hati??? kenapa kami yang harus menanggung semuanya??? bukankah sebelumnya kami sudah sering berteriak??? kami sudah sering mengingatkan agar kalian tidak berbuat kesalahan yang fatal. tapi kalian justru mengacuhkannya. berpikir berdasarkan logika itu sebuah keharusan. tapi tolong, libatkan kami, libatkan hati ketika kalian akan bertindak. karena untuk itulah kami diciptakan. sebagai penyeimbang. “boni? kamu kenapa?” tanya bona kepada boni yang masih terisak. “boni?” bona meninggikan suaranya ketika tubuh sofi dan argi sedang berdekatan. lalu tangisan boni pun tiba-tiba terhenti. “hangat….” ucap boni sambil tersenyum penuh arti. “hangat?” kali ini bona benar-benar dibuat bingung oleh boni. bona tidak tahu kalau saat ini, argi sedang memeluk sofi dengan sangat erat. bibirnya, berulang kali mendaratkan kecupan di kening orang yang sangat ia cintai tersebut. pertemuan kembali setelah waktu yang cukup lama ini tak pelak membuat argi merasakan rasa bahagia yang tiada tara. “selama ini aku kedinginan.” boni bercerita. “kedinginan? barusan tadi kamu bilang hangat, kan?” bona masih belum mampu menangkap maksud perkataan boni. “kamu yang membuatku kembali merasakan rasa hangat ini lagi…. perasaan hangat yang teramat sangat aku rindukan.” boni berusaha untuk tersenyum.
“aku……” “aku……..” “aku juga rindu perasaan ini.” ucap bona lirih. “se-se-lama ini aku juga kedinginan.” bona tertunduk lesu. “kenapa kamu tidak pernah bercerita sedikitpun kalau kamu merasakan dingin yang sama sepertiku? kenapa selama ini kamu diam saja???” boni pun merajuk. selama puluhan minggu lamanya, bona hanya mendengar kabar menyedihkan yang diceritakan oleh teman-temannya yang lain, tangan, bibir dan mata. “a-a-aku ngga berani. aku takut. a-a-aku malu.” suara bona semakin tenggelam oleh rasa malunya sendiri. “kamu tahu, selama ini aku selalu menunggu kabar dari kamu!! aku sering sekali menitipkan salam rindu kepadamu. tangan bilang, sudah ribuan kali ia mengetikkan perasaaan itu melalui papan keyboard. bahkan, mata pun berani bersaksi kalau ia melihat semua kata-kata rindu yang diketik oleh tangan!!!” boni meninggikan suaranya. ia terdengar marah. “lalu mana balasanmu?????” hardik boni. kali ini, giliran bona yang merasa sedih. sangat teramat sedih. hanya ia yang tahu. hanya ia yang menyimpan semua perasaan itu. semua rahasia itu. rahasia yang tidak pernah ia beritahukan kepada boni. otak, tempat dimana boni menyimpan semua memorinya itu merasa iba. otak mengetahui segalanya. semua ingatan. termasuk ingatan sedih boni. ingatan akan sebuah alasan. alasan mengapa ia rela menyanyat-nyayat luka baru karena harus meninggalkan boni. otak meminta izin kepada bona untuk membuat bibir menceritakan segala sesuatunya dengan jelas kepada argi, kepada boni. tapi bona lalu menolak. baginya, meninggalkan seseorang yang amat sangat ia cintai sudah jelas merupakan sebuah kesalahan fatal. dan bona tidak mau menerima pengampunan dari boni. baginya sudah jelas siapa pihak yang menyakiti dan tersakiti. otak akhirnya terpaksa menuruti kehendak bona. tapi karena rasa empatinya begitu besar, otak lalu mengeluarkan sinyal kepada mata untuk menangis.” menangislah!” teriak otak dengan kencang kepada mata. “menangislah agar argi tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi!!!” teriak otak lagi. ***
“kamu nangis??? ya ampun sop, kamu kenapa???” argi tiba-tiba merasa panik sewaktu melihat sofi tiba-tiba menangis. padahal sebelumnya, mereka berdua sedang merasakan hangatnya sebuah pelukan. sebuah pelukan rindu. *** boni lalu mendapat kabar dari mata. katanya, mata baru saja melihat sofi tiba-tiba menangis pilu. mata tahu dengan pasti, kapan sofi menangis bahagia dan kapan pula sofi menangis dengan pilu. mata tidak akan pernah lupa dengan semua gambar yang ia tangkap selama argi dan sofi berhubungan. “bona??? bona??? kenapa kamu menangis???” teriak boni khawatir. “bona??? tolong, jangan sakiti dirimu lagi. tolong hentikan!!!” boni memaksa bona agar tidak menyayat-nyayat dirinya sendiri. mata tidak mungkin menangis dengan pilu kalau hati tidak sedang tersakiti. boni sadar, belakangan ini dia sering menggores permukaan tubuhnya sesering mungkin agar mata argi mengeluarkan tangisnya. dia berharap, sinyal rasa sakit yang dia berikan itu mampu menggerakkan argi untuk melakukan sesuatu. sesuatu yang akan membuatnya merasakan rasa bahagia. “bona??? tolong maafkan aku. please bona, jangan lukai dirimu lagi. aku tidak mau kamu merasakan sakit yang sama.” bujuk boni lagi. *** “ngga apa-apa gi. saya cuma kangen.” sofi menjawab dengan penuh kebohongan. dia akhirnya memilih untuk menutupi semuanya itu. sofi tidak memperdulikan rasa sakit yang dirasakan oleh bona. sofi mengacuhkannya. *** argi tersenyum lega. ternyata sofi baik-baik saja, pikirnya. ia lalu mempererat pelukan tangannya di pinggang sofi. *****
if a heart could tell, i feel you if a mind could forbid my feeling, i ain’t feel you when do we start? i don’t know exactly
you’re not the sun, either the moon but this far, you’ve lighted me with your view, arms and mind we’re friends, i know, and nothing ever be the best like this. *****
“kamu disana baik-baik aja kan sop?” tanya argi. “iya.” jawab sofpi sambil tersenyum. “sering kangen sama aku ngga?” tanya argi menyelidik dengan penuh harap. sopi hanya tersenyum kecut meremas jemarinya dengan erat. *** “bona?” terdengar suara boni memanggil dirinya. “hai boni!” jawab bona dengan riang. “wahhh…keliatannya kamu semangat banget?” boni turut bahagia mendengar bona sudah kembali ceria seperti sedia kala. “iya. aku seneng banget bisa ketemu kamu. ada temen berbagi, ada temen yang bisa bikin aku ketawa lagi.” “aku bosen disana. sepi.” “sepi?” tanya boni. “sangat.” jawab bona sambil menerawang jauh entah kemana. “kenapa kamu baru bilang sekarang? kamu kan bisa minta tolong sama tangan untuk kasih kabar ke aku kalo misalnya kamu kesepian.” “aku malu.”
“malu?” “iya.” “malu kenapa?” “harusnya aku bisa kuat ngehadapin semuanya. tapi kadang aku ngga bisa ngejalanin segala sesuatunya seorang diri. rasanya malu banget sama kamu, harus cerita kelemahan yang sering aku rasain selama ini.” “tapi sekarang kamu jauh lebih kuat dibanding bona yang dulu pernah aku kenal….” “oh ya?” “harusnya aku yang malu karena ngga bisa sekuat seperti kamu sekarang. kamu udah banyak berubah. sementara aku? aku masih sama seperti yang dulu. aku belum berubah sedikitpun. atau lebih tepatnya, aku ngga mau berubah. aku terlalu lemah untuk itu.” “aku suka kamu yang dulu. aku ngga mau kamu berubah.” “kamu yakin, lebih bahagia disana?” “entahlah.” “apa kamu merasa sebahagia ini sewaktu kamu ada disana?” “boni, belum pernah aku ngerasa sebahagia seperti saat aku bisa berada sedekat ini dengan kamu.“ “seharusnya kamu jangan pergi.” “seharusnya kamu juga tahu, kita selalu kalah oleh akal dan logika, kan?” ***
“kenapa kamu ngga bisa nolak waktu dapet kesempatan untuk pergi kesana?” kali ini argi seakan tak habis pikir, mengapa orang yang bahkan selalu bilang tidak pernah mau ditinggal pergi olehnya justru berlaku sebaliknya, pergi meninggalkan dia. “kamu tahu gi, saya itu hidup bukan cuma seorang diri. saya juga hidup dengan keluarga saya, dengan orang yang lainnya juga termasuk kamu.” “saya memang punya idealisme sendiri, yaitu untuk bisa terus ada di dekat kamu. tapi dalam kehidupan saya yang lain, bersama keluarga, dengan amat sangat terpaksa saya harus bisa melupakan idealisme yang ada di ubun-ubun supaya bisa bersekutu dengan realitas yang ada di depan mata.” “okay, anggep aja aku bisa nerima semua realitas yang harus kamu hadapin waktu itu. tapi sop, kita ngga harus putus juga kan?” “maaf ya gi, pada akhirnya saya harus kasih contoh yang ngga baik sama kamu. saya ternyata cuma seorang pengecut. tapi percaya deh…..” “percaya apa?” “God knows how I wanna get close to you. saya mungkin bisa bohongin kamu, tapi saya ngga pernah bisa bohongin hati saya sendiri.” “jadi intinya, kamu belum bisa kasih tau alasan sebenernya kamu mutusin aku?” “saya harus konsultasi dulu sama orang lain.” “dari tadi, omongan kita kayanya muter-muter ngga jelas ya sop?” “iya gi. padahal kita sendiri sebenernya tau mau kita apa kan?” “tah eta pisan.” *****
Sometimes, you have to be apart from people you love. But that doesn’t mean you love them any less. Sometimes it even makes you love them more. *****
“boni…….” bisik sebuah suara ditengah keheningan malam. “boni……” kembali suara bisikan itu terdengar. “boni!” kali ini suara bisikan itu beralih menjadi sebuah pekikan kecil. *** “sop?” tiba-tiba argi terbangun dari tidur pendeknya. sambil berusaha mengumpulkan segenap kesadaran, dia melihat ke arah arlojinya. 02 : 13. ini masih dini hari pikirnya. argi lalu membuka satu persatu kancing kemeja putihnya. matanya memang masih mengantuk, namun jari jemarinya itu seolah-olah bergerak sendiri. rupanya, tadi ia tertidur setelah sebelumnya cukup lama bercakap-cakap dengan sofi. acara akad di resepsi pernikahan kakaknya malam tadi benar-benar menguras hampir semua energi yang ada di tubuhnya. andaikan sofi tidak mengajaknya berdiskusi, sudah barang tentu ia akan langsung terlelap dalam buaian alam mimpi. sayang, ia tidak akan pernah mungkin mengacuhkan satupun perkataan orang yang sangat dicintai itu. orang yang sangat dia hargai melebihi ia menghargai dirinya sendiri. ketika hendak membuka kemejanya, tatapan matanya menangkap sosok seseorang sedang duduk bersila di atas lantai. hanya beralaskan sehelai sajadah tipis berwarna merah. “sop?” argi memicingkan matanya sambil menatap ke arah sofi. “kamu solat apa sop?” tanyanya lagi. sofi kemudian menghentikan sejenak rutinitasnya saat itu. bola matanya yang semula tertutup, langsung terbuka. sofi tersenyum ke arah argi. hanya sekilas. kemudian ia kembali memejamkan mata dan melanjutkan rutinitasnya yang sempat terhenti. tangannya kembali menggenggam sebuah tasbih kecil. tasbih itu terbuat dari kayu kokka berwarna coklat pucat. argi tampaknya mengenali dengan jelas tasbih yang sedang dipegang oleh sofi. itu adalah tasbih yang ia berikan untuk sofi sepulangnya dari ibadah umroh di tanah suci. argi tersenyum. kemudian, ia beranjak dari kasur. dengan perlahan, argi menyandarkan tubuhnya di punggung sofi sehingga kedua punggung mereka saling bersentuhan satu sama lain. entah apa yang sedang ia pikirkan, tapi argi kemudian turut
memejamkan kedua bola matanya. membiarkan pikirannya melayang jauh entah kemana. *** “hai bona….” sapa boni. “kamu!” pekik bona dengan lirih. “hehehe. maaf, aku ketiduran.” “pantas! aku sudah kehabisan akal untuk memanggilmu tadi.” “apa kamu senang?” tanya boni. “senang?” bona balik bertanya. “iya. memangnya kamu tidak senang kita bisa berada dalam jarak sedekat ini?” ucap boni. “hangat. sangat hangat.” jawab bona. “aku bisa mendengar suara detak jantungmu…..” bisik bona. “aku juga.” “apa biasanya memang seperti ini?” “apanya?” “entahlah. suara detak jantungmu berdegup sangat kencang. apa biasanya seperti ini?” “tidak. ini semua disebabkan olehmu.”
“olehku?” “iya. seperti yang kamu ketahui, jantung tidak pernah bisa berbohong. ia mampu beresonansi dua kali lipat, bahkan tiga kali lipat ketika bertemu dengan belahan jiwanya.” “berarti aku belahan jiwamu?” “menurutmu??” “entahlah.” “entahlah???” “entah apa aku sanggup untuk tidak pernah sekalipun merindukan malam ini…….” “boni…..” lirih bona. “apa?” “kamu mau hadiah?” “hadiah? hadiah apa?” “apapun.” “apapun?” “iya. sebutkan keinginanmu yang terbesar. harapanmu yang paling tinggi.” “lalu? apakah nanti harapan itu akan terwujud?” “aku tidak tahu.”
“tidak tahu? lalu sebenarnya hadiah apa yang mau kau berikan untukku?” “hanya sebuah doa.” “doa?” “iya. sebutkanlah apapun keinginanmu saat ini. maka lalu aku akan mendoakannya. berdoa agar keinginanmu itu tercapai.” “sehebat itukah doamu?” “entahlah…. tapi saat ini hanya itu saja yang bisa aku berikan untukmu saat ini. cepatlah boni, sebutkan permintaanmu. sekarang, sofi sedang berada di dalam kendaliku. dan itulah saat terbaik untuk mendoakanmu.” “kamu? mengendalikan sofi?” “iya. kamu tahu, di saat manusia sedang berada sebegitu dekat dengan Sang Pencipta, maka di saat itulah aku meraja. bahkan akal dan pikiran sekalipun tidak akan mampu mengalahkanku.” “karena kita tidak pernah sekalipun berbohong, kan?” “ayolah boni, cepat ucapkan permintaanmu.” “sudahlah lupakan saja.” “lupakan?? itu adalah hadiah dariku, boni. hanya itulah yang bisa aku lakukan untukmu.” “berhentilah memikirkan aku, dan simpan doa itu untuk dirimu sendiri. berdoalah akan sesuatu hal yang mampu membuatmu bahagia. karena untuk itulah aku ada, untuk melihatmu bahagia.” *****
malam ini, untuk kesekian kalinya kagumku menjadi. syukurku berlimpah, ketika kamu membahagiakanku hanya dengan sebuah petikan doa yang
cukup singkat. maaf, tak satupun doa dalam shalatku bisa kuucap hari ini. tidak pun sesuatu untukmu kubisikkan pada-Nya hari ini. namun, di setiap helaan nafasku mengucapkan harapan untukmu bahagia nanti dan selamanya. janjiku, akan selalu ada namamu dalam setiap sujudku pada-Nya, untuk kutitipkan bahagia dan cinta yang selalu berlimpah dariku dan dia, dari kami. *****
ada sesuatu hal yang baru. masuk dengan pelan namun teratur. melalui beberapa jaringan dengan fungsi yang berbeda tapi saling berkoordinasi dalam mencapai tujuan yang sama. bekerja serempak untuk mencapai penglihatan. mata. terdiri atas jaringan yang rumit. sama rumitnya seperti sesuatu hal yang baru saja masuk itu. aku memulai dengan mencoba menyingkap cahaya. pelan. hingga tepat ke pusat sistem saraf. membersihkan kerikil-kerikil halus atau bahkan debu yang mungkin saja menghalangi penglihatanku akan sesuatu hal itu. lalu beranjak menuju kelopak yang masih sangat normal gerak refleksnya, masih lima kali per-detik. berulang dan dengan sangat teliti aku terus menyusuri lingkaran yang dikelilingi oleh tujuh tulang tengkorak itu. sesekali aku memeriksa hidungku yang sederhana namun menarik, takut-takut menghalangi penglihatanku secara vertikal. lebih dalam, aku memeriksanya ke jaringan yang tersusun dari seratuh dua puluh lima juta photoreceptors. retina. aku memeriksa apakah tujuh juta sel ini benar bertanggung jawab pada penglihatan warna dan kepada seratus delapan belas juta sel lainnya yang peka terhadap rangsangan. kembali aku mengulang prosesnya. menerobos masuk ke dalam kornea, cairan mata, selaput pelangi, lensa, pembuluh darah kecil, dan beberapa lapisan saraf yang berada di paling atas retina. saking asiknya, aku tidak sadar bahwa ini adalah rantai pertama antara retina dan otak. aku hanya menyadari gambar yang diterimanya berada dalam posisi terbalik dan koroidnya telah diperbaiki. ribuan detik telah berlalu dan aku tetap membiarkan sesuatu hal itu berada disana. terjebak di jaringan komunikasi yang rumit. terletak dalam organ yang paling menakjubkan. berharap akan mengetahui sesuatu ketika aku meneliti apa yang ada dibalik thalamus. mencoba mengorek informasi sensual dalam alam sadar yang sebenarnya tidak perlu untuk diketahui. memastikan thalamus melakukan sebuah kerjasama yang baik dengan korteks visual. ketika milisekon berganti detik, detik berganti menit, dan begitu seterusnya, sesuatu hal itu sudah bukan menjadi hal yang baru. masih sulit dijelaskan. masih terlalu rumit. aku belum bisa mengetahui apa yang masuk ke mataku yang kini posisinya sudah berada di otak dan hati. sampai akhirnya, aku membuat satu kesimpulan. ini adalah sebuah perasaan. cukup rumit. melibatkan emosi yang mendalam. ada rasa sedih, bahagia, kangen, dan saling menyayangi. semuanya terasa seimbang. saat mata menangkap sesuatu hal itu sepenuhnya. melalui pantulan cahaya matahari pagi, sosoknya terlihat indah. tanpa cela. ada perasaan memiliki yang teramat sangat kuat sewaktu lenganku mendekapnya. disaksikan
sang mentari, aku pun berbisik ; “bangun atuh sop… udah pagi.” *****
April 2011 Pengky, Jalan Bali, Bandung Sengaja aku datang ke kotamu Lama nian tidak bertemu Ingin diriku mengulang kembali Berjalan jalan bagai tahun lalu Gw berjalan ke arah sebuah lapangan beralaskan paving block yang tak seberapa luas itu. suasananya tidak pernah berubah. masih sama seperti dulu. saat gw dan sofi masih sering bermain bersama dengan anak-anak yang lain. lapangan ini masih tetap rimbun. belasan pohon kecil nan rindang selalu setia meneduhkannya. bahkan sebuah pohon yang dahannya cukup besar itupun masih tetap menaungi lapangan ini. ia masih tetap terlihat kokoh. sambil mengamati keadaan sekeliling pengky, gw menghirup udara segar yang dihembuskan oleh banyak pepohonan rimbun disekitarnya. suasana ini, sejuknya hembusan udara pagi, tetesan embun yang membasahi permukaan aspal, daun-daun yang berguguran di sepangjang jalan, serta kicauan aneka serangga dan burung membuat suasana dramatis di jalan bali ini selalu dan selalu pantas untuk dirindukan. inilah bandung yang sebenar-benarnya bandung. Rasanya, baru kemarin gw masih mengenakan seragam putih abu lengkap dengan lencana berwarna hijau yang tersemat di kerah baju. biasanya, selepas pulang sekolah, anak laki-laki hampir tidak ada yang pernah absen bermain sepak bola di pengky. terasuk gw dan sofi. gedung sekolah itu, yang tetap berdiri tegak seakan tak lekang oleh waktu, menjadi saksi bisu jutaan kisah cinta yang telah terjadi disekitarnya. gw langsung mengabadikan sebuah pelat besi hijau berbentuk melengkung yang bertuliskan nama sekolah hebat itu. dengan segera, gw menguploadnya ke plixi dan dalam beberapa detik saja, foto itu telah sukses terpampang di timeline twitter. hebatnya, selama seharian penuh itu, tak henti-hentinya puluhan orang me-retweet gambar itu, mencurahkan segenap kenangan dan memori indah remajanya sewaktu masih bersekolah di sana. mereka tak ubahnya gw, sangat mencintai tulisan keramat itu, di gerbang sekolah itu. I heart you belitung timur. setelah menemukan posisi duduk yang sesuai, gw lalu membuka sebuah tas pembungkus kulit berwarna hitam. sambil merasakan suasana romantis dramatis yang ada disekeliling, jari jemari gw kemudian mulai menyentuh papan keyboard virtual yang muncul di layar. sesekali
merenung, lalu mengenang kembali kejadian-kejadian indah disana. akhirnya gw mulai merangkai kata-kata yang nantinya akan diolah menjadi sebuah kerangka cerita yang mudah-mudahan kesan indahnya tidak akan terasa jauh berbeda dengan kejadian sebenarnya yang dulu pernah gw alami. tak lupa, dua buah ear-plug langsung gw pasang di kedua telinga. sebuah lagu kenangan menemani gw bercerita sebuah kenangan di tempat yang penuh kenangan. Sepanjang jalan kenangan Kita slalu bergandeng tangan Sepanjang jalan kenangan Kau peluk diriku mesra Hujan yang rintik rintik Di awal bulan itu Menambah nikmatnya malam syahdu…. (Sepanjang Jalan Kenangan) *****
Pengky, Jalan Bali Beberapa tahun-tahun-tahun-tahun-yang lalu “maneh leumpangna tong gancang-gancang teuing atuh beul….” teriak gw kepada sopi sambil berjalan terseok-seok karena sepatu yang gw pakai terlepas. (kamu jalannya jangan cepet-cepet atuh sop….) “buru atuh ih maneh mah ngalilakeun.” balas sofi sambil terus berjalan mundur menghadap ke arah gw yang sedang memakai sepatu. setelah selesai, gw lalu langsung berlari kecil mengejarnya. (cepetan atuh ih kamu mah suka ngelamain aja.) “anjis aing lapar pisan beul. bieu geus ngadangdut tilu kaseteun!” ucap gw seraya merangkul pundak sofi. kami berdua kemudian berjalan keluar gerbang sekolah menyusuri jalan bali. (anjis aku laper banget nih. barusan habis nyanyi dangdut tiga kaset sekaligus!) “heu euh urang oge laper abis. maneh jadi difoto?” tanya sofi. kebetulan waktu itu gw pernah diajak foto-foto untuk sebuah produk kaos t-shirt di sebuah majalah remaja. (iya aku juga laper abis. kamu jadi difoto) “jadi. edek dahar naon ieu teh euy?”
(mau makan apa?) “hayam wae lah nu rada gampang. ari maneh naon?” (ayam aja lah yang gampang. kamu mau makan apa?) “teuing. tapi aing lagi ngidam bungbuahan.” (ngga tau. tapi aku lagi ngidam buah-buahan.) “buah? maneh ngidam?” “heu euh aing lagi ngidam duren tapi nu eweuh cucukan.” (iya aku lagi ngidam duren tapi yang ngga ada durinya.) “oh… sugan teh maneh ngidam cau rasa gedang.” (oh… kirain teh kamu lagi ngidam pisang rasa pepaya.) “hahahhh. eh sop, nanti katanya aing mau dipoto make kaos warna kayas lah.” (warna kayas : warna pink / merah muda) “deminya?” “iya. kaos pink garis-garis putih. meni gress pisan lah.” “homo ih bajunya. orangnya apalagi.” “ari sia naon goblog??” (lo sendiri??) “ah pan urang mah kabogohna.” (ah kan saya mah pacarnya.) “ngemeng naon sia teh.“
“terus nanti selain kaos warna kayas, maneh difoto make apalagi?” “teuing sop. kayanya mah aing nanti dipoto make calana cutbray kerlip dangdut warna hejo paul.” (hejo paul : hijau kebiru-biruan, turquoise) “cing rada diulang maneh tadi ngomong apa?” “ah maneh mah.” “kenapa ngga sekalian make kameja corak kembang-kembang?” “anjis! eta nu dicari selama penantian hidup aing, kameja corak kembang-kembang! oke beybeh!” “bu, pecel ayam masih ada ngga?” tanya sofi kepada ibu pemilik warung tenda sewaktu kami berdua telah sampai di sebuah warung tenda yang menjual pecel ayam, pecel lele, dll. “nanti ya diliat dulu ayamnya masih ada atau ngga .” jawab si ibu dengan kalem sambil tetap sibuk ngerendos sambel. (ngerendos : menggerus) “kalau ngga ada?” tanya sofi lagi. “ya ngga jadi beli juga ngga apa-apa mas.” jawab ibu itu dengan tiis. “anjis goblog ieu si ibuna pikageluteun!” bisik gw pelan kearah sopi. kemudian sopi memesan pecel ayam dua porsi untuk kami berdua. lalu, kami duduk di sebuah meja panjang di dekat tempat si ibu berdiri tadi. (anjis ini mah namanya si ibu ngajak berantem.) *****
if a heart could tell, i feel you if a mind could forbid my feeling, i ain’t feel you when do we start? i don’t know exactly
you’re not the sun, either the moon but this far, you’ve lighted me with your view, arms and mind we’re friends, i know, and nothing ever be the best like this. *****
“kamu disana baik-baik aja kan sop?” tanya argi. “iya.” jawab sofpi sambil tersenyum. “sering kangen sama aku ngga?” tanya argi menyelidik dengan penuh harap. sopi hanya tersenyum kecut meremas jemarinya dengan erat. *** “bona?” terdengar suara boni memanggil dirinya. “hai boni!” jawab bona dengan riang. “wahhh…keliatannya kamu semangat banget?” boni turut bahagia mendengar bona sudah kembali ceria seperti sedia kala. “iya. aku seneng banget bisa ketemu kamu. ada temen berbagi, ada temen yang bisa bikin aku ketawa lagi.” “aku bosen disana. sepi.” “sepi?” tanya boni. “sangat.” jawab bona sambil menerawang jauh entah kemana. “kenapa kamu baru bilang sekarang? kamu kan bisa minta tolong sama tangan untuk kasih kabar ke aku kalo misalnya kamu kesepian.” “aku malu.”
“malu?” “iya.” “malu kenapa?” “harusnya aku bisa kuat ngehadapin semuanya. tapi kadang aku ngga bisa ngejalanin segala sesuatunya seorang diri. rasanya malu banget sama kamu, harus cerita kelemahan yang sering aku rasain selama ini.” “tapi sekarang kamu jauh lebih kuat dibanding bona yang dulu pernah aku kenal….” “oh ya?” “harusnya aku yang malu karena ngga bisa sekuat seperti kamu sekarang. kamu udah banyak berubah. sementara aku? aku masih sama seperti yang dulu. aku belum berubah sedikitpun. atau lebih tepatnya, aku ngga mau berubah. aku terlalu lemah untuk itu.” “aku suka kamu yang dulu. aku ngga mau kamu berubah.” “kamu yakin, lebih bahagia disana?” “entahlah.” “apa kamu merasa sebahagia ini sewaktu kamu ada disana?” “boni, belum pernah aku ngerasa sebahagia seperti saat aku bisa berada sedekat ini dengan kamu.“ “seharusnya kamu jangan pergi.” “seharusnya kamu juga tahu, kita selalu kalah oleh akal dan logika, kan?” ***
“kenapa kamu ngga bisa nolak waktu dapet kesempatan untuk pergi kesana?” kali ini argi seakan tak habis pikir, mengapa orang yang bahkan selalu bilang tidak pernah mau ditinggal pergi olehnya justru berlaku sebaliknya, pergi meninggalkan dia. “kamu tahu gi, saya itu hidup bukan cuma seorang diri. saya juga hidup dengan keluarga saya, dengan orang yang lainnya juga termasuk kamu.” “saya memang punya idealisme sendiri, yaitu untuk bisa terus ada di dekat kamu. tapi dalam kehidupan saya yang lain, bersama keluarga, dengan amat sangat terpaksa saya harus bisa melupakan idealisme yang ada di ubun-ubun supaya bisa bersekutu dengan realitas yang ada di depan mata.” “okay, anggep aja aku bisa nerima semua realitas yang harus kamu hadapin waktu itu. tapi sop, kita ngga harus putus juga kan?” “maaf ya gi, pada akhirnya saya harus kasih contoh yang ngga baik sama kamu. saya ternyata cuma seorang pengecut. tapi percaya deh…..” “percaya apa?” “God knows how I wanna get close to you. saya mungkin bisa bohongin kamu, tapi saya ngga pernah bisa bohongin hati saya sendiri.” “jadi intinya, kamu belum bisa kasih tau alasan sebenernya kamu mutusin aku?” “saya harus konsultasi dulu sama orang lain.” “dari tadi, omongan kita kayanya muter-muter ngga jelas ya sop?” “iya gi. padahal kita sendiri sebenernya tau mau kita apa kan?” “tah eta pisan.” *****
Sometimes, you have to be apart from people you love. But that doesn’t mean you love them any less. Sometimes it even makes you love them more. *****
“boni…….” bisik sebuah suara ditengah keheningan malam. “boni……” kembali suara bisikan itu terdengar. “boni!” kali ini suara bisikan itu beralih menjadi sebuah pekikan kecil. *** “sop?” tiba-tiba argi terbangun dari tidur pendeknya. sambil berusaha mengumpulkan segenap kesadaran, dia melihat ke arah arlojinya. 02 : 13. ini masih dini hari pikirnya. argi lalu membuka satu persatu kancing kemeja putihnya. matanya memang masih mengantuk, namun jari jemarinya itu seolah-olah bergerak sendiri. rupanya, tadi ia tertidur setelah sebelumnya cukup lama bercakap-cakap dengan sofi. acara akad di resepsi pernikahan kakaknya malam tadi benar-benar menguras hampir semua energi yang ada di tubuhnya. andaikan sofi tidak mengajaknya berdiskusi, sudah barang tentu ia akan langsung terlelap dalam buaian alam mimpi. sayang, ia tidak akan pernah mungkin mengacuhkan satupun perkataan orang yang sangat dicintai itu. orang yang sangat dia hargai melebihi ia menghargai dirinya sendiri. ketika hendak membuka kemejanya, tatapan matanya menangkap sosok seseorang sedang duduk bersila di atas lantai. hanya beralaskan sehelai sajadah tipis berwarna merah. “sop?” argi memicingkan matanya sambil menatap ke arah sofi. “kamu solat apa sop?” tanyanya lagi. sofi kemudian menghentikan sejenak rutinitasnya saat itu. bola matanya yang semula tertutup, langsung terbuka. sofi tersenyum ke arah argi. hanya sekilas. kemudian ia kembali memejamkan mata dan melanjutkan rutinitasnya yang sempat terhenti. tangannya kembali menggenggam sebuah tasbih kecil. tasbih itu terbuat dari kayu kokka berwarna coklat pucat. argi tampaknya mengenali dengan jelas tasbih yang sedang dipegang oleh sofi. itu adalah tasbih yang ia berikan untuk sofi sepulangnya dari ibadah umroh di tanah suci. argi tersenyum. kemudian, ia beranjak dari kasur. dengan perlahan, argi menyandarkan tubuhnya di punggung sofi sehingga kedua punggung mereka saling bersentuhan satu sama lain. entah apa yang sedang ia pikirkan, tapi argi kemudian turut
memejamkan kedua bola matanya. membiarkan pikirannya melayang jauh entah kemana. *** “hai bona….” sapa boni. “kamu!” pekik bona dengan lirih. “hehehe. maaf, aku ketiduran.” “pantas! aku sudah kehabisan akal untuk memanggilmu tadi.” “apa kamu senang?” tanya boni. “senang?” bona balik bertanya. “iya. memangnya kamu tidak senang kita bisa berada dalam jarak sedekat ini?” ucap boni. “hangat. sangat hangat.” jawab bona. “aku bisa mendengar suara detak jantungmu…..” bisik bona. “aku juga.” “apa biasanya memang seperti ini?” “apanya?” “entahlah. suara detak jantungmu berdegup sangat kencang. apa biasanya seperti ini?” “tidak. ini semua disebabkan olehmu.”
“olehku?” “iya. seperti yang kamu ketahui, jantung tidak pernah bisa berbohong. ia mampu beresonansi dua kali lipat, bahkan tiga kali lipat ketika bertemu dengan belahan jiwanya.” “berarti aku belahan jiwamu?” “menurutmu??” “entahlah.” “entahlah???” “entah apa aku sanggup untuk tidak pernah sekalipun merindukan malam ini…….” “boni…..” lirih bona. “apa?” “kamu mau hadiah?” “hadiah? hadiah apa?” “apapun.” “apapun?” “iya. sebutkan keinginanmu yang terbesar. harapanmu yang paling tinggi.” “lalu? apakah nanti harapan itu akan terwujud?” “aku tidak tahu.”
“tidak tahu? lalu sebenarnya hadiah apa yang mau kau berikan untukku?” “hanya sebuah doa.” “doa?” “iya. sebutkanlah apapun keinginanmu saat ini. maka lalu aku akan mendoakannya. berdoa agar keinginanmu itu tercapai.” “sehebat itukah doamu?” “entahlah…. tapi saat ini hanya itu saja yang bisa aku berikan untukmu saat ini. cepatlah boni, sebutkan permintaanmu. sekarang, sofi sedang berada di dalam kendaliku. dan itulah saat terbaik untuk mendoakanmu.” “kamu? mengendalikan sofi?” “iya. kamu tahu, di saat manusia sedang berada sebegitu dekat dengan Sang Pencipta, maka di saat itulah aku meraja. bahkan akal dan pikiran sekalipun tidak akan mampu mengalahkanku.” “karena kita tidak pernah sekalipun berbohong, kan?” “ayolah boni, cepat ucapkan permintaanmu.” “sudahlah lupakan saja.” “lupakan?? itu adalah hadiah dariku, boni. hanya itulah yang bisa aku lakukan untukmu.” “berhentilah memikirkan aku, dan simpan doa itu untuk dirimu sendiri. berdoalah akan sesuatu hal yang mampu membuatmu bahagia. karena untuk itulah aku ada, untuk melihatmu bahagia.” *****
malam ini, untuk kesekian kalinya kagumku menjadi. syukurku berlimpah, ketika kamu membahagiakanku hanya dengan sebuah petikan doa yang
cukup singkat. maaf, tak satupun doa dalam shalatku bisa kuucap hari ini. tidak pun sesuatu untukmu kubisikkan pada-Nya hari ini. namun, di setiap helaan nafasku mengucapkan harapan untukmu bahagia nanti dan selamanya. janjiku, akan selalu ada namamu dalam setiap sujudku pada-Nya, untuk kutitipkan bahagia dan cinta yang selalu berlimpah dariku dan dia, dari kami. *****
ada sesuatu hal yang baru. masuk dengan pelan namun teratur. melalui beberapa jaringan dengan fungsi yang berbeda tapi saling berkoordinasi dalam mencapai tujuan yang sama. bekerja serempak untuk mencapai penglihatan. mata. terdiri atas jaringan yang rumit. sama rumitnya seperti sesuatu hal yang baru saja masuk itu. aku memulai dengan mencoba menyingkap cahaya. pelan. hingga tepat ke pusat sistem saraf. membersihkan kerikil-kerikil halus atau bahkan debu yang mungkin saja menghalangi penglihatanku akan sesuatu hal itu. lalu beranjak menuju kelopak yang masih sangat normal gerak refleksnya, masih lima kali per-detik. berulang dan dengan sangat teliti aku terus menyusuri lingkaran yang dikelilingi oleh tujuh tulang tengkorak itu. sesekali aku memeriksa hidungku yang sederhana namun menarik, takut-takut menghalangi penglihatanku secara vertikal. lebih dalam, aku memeriksanya ke jaringan yang tersusun dari seratuh dua puluh lima juta photoreceptors. retina. aku memeriksa apakah tujuh juta sel ini benar bertanggung jawab pada penglihatan warna dan kepada seratus delapan belas juta sel lainnya yang peka terhadap rangsangan. kembali aku mengulang prosesnya. menerobos masuk ke dalam kornea, cairan mata, selaput pelangi, lensa, pembuluh darah kecil, dan beberapa lapisan saraf yang berada di paling atas retina. saking asiknya, aku tidak sadar bahwa ini adalah rantai pertama antara retina dan otak. aku hanya menyadari gambar yang diterimanya berada dalam posisi terbalik dan koroidnya telah diperbaiki. ribuan detik telah berlalu dan aku tetap membiarkan sesuatu hal itu berada disana. terjebak di jaringan komunikasi yang rumit. terletak dalam organ yang paling menakjubkan. berharap akan mengetahui sesuatu ketika aku meneliti apa yang ada dibalik thalamus. mencoba mengorek informasi sensual dalam alam sadar yang sebenarnya tidak perlu untuk diketahui. memastikan thalamus melakukan sebuah kerjasama yang baik dengan korteks visual. ketika milisekon berganti detik, detik berganti menit, dan begitu seterusnya, sesuatu hal itu sudah bukan menjadi hal yang baru. masih sulit dijelaskan. masih terlalu rumit. aku belum bisa mengetahui apa yang masuk ke mataku yang kini posisinya sudah berada di otak dan hati. sampai akhirnya, aku membuat satu kesimpulan. ini adalah sebuah perasaan. cukup rumit. melibatkan emosi yang mendalam. ada rasa sedih, bahagia, kangen, dan saling menyayangi. semuanya terasa seimbang. saat mata menangkap sesuatu hal itu sepenuhnya. melalui pantulan cahaya matahari pagi, sosoknya terlihat indah. tanpa cela. ada perasaan memiliki yang teramat sangat kuat sewaktu lenganku mendekapnya. disaksikan
sang mentari, aku pun berbisik ; “bangun atuh sop… udah pagi.” *****
April 2011 Pengky, Jalan Bali, Bandung Sengaja aku datang ke kotamu Lama nian tidak bertemu Ingin diriku mengulang kembali Berjalan jalan bagai tahun lalu Gw berjalan ke arah sebuah lapangan beralaskan paving block yang tak seberapa luas itu. suasananya tidak pernah berubah. masih sama seperti dulu. saat gw dan sofi masih sering bermain bersama dengan anak-anak yang lain. lapangan ini masih tetap rimbun. belasan pohon kecil nan rindang selalu setia meneduhkannya. bahkan sebuah pohon yang dahannya cukup besar itupun masih tetap menaungi lapangan ini. ia masih tetap terlihat kokoh. sambil mengamati keadaan sekeliling pengky, gw menghirup udara segar yang dihembuskan oleh banyak pepohonan rimbun disekitarnya. suasana ini, sejuknya hembusan udara pagi, tetesan embun yang membasahi permukaan aspal, daun-daun yang berguguran di sepangjang jalan, serta kicauan aneka serangga dan burung membuat suasana dramatis di jalan bali ini selalu dan selalu pantas untuk dirindukan. inilah bandung yang sebenar-benarnya bandung. Rasanya, baru kemarin gw masih mengenakan seragam putih abu lengkap dengan lencana berwarna hijau yang tersemat di kerah baju. biasanya, selepas pulang sekolah, anak laki-laki hampir tidak ada yang pernah absen bermain sepak bola di pengky. terasuk gw dan sofi. gedung sekolah itu, yang tetap berdiri tegak seakan tak lekang oleh waktu, menjadi saksi bisu jutaan kisah cinta yang telah terjadi disekitarnya. gw langsung mengabadikan sebuah pelat besi hijau berbentuk melengkung yang bertuliskan nama sekolah hebat itu. dengan segera, gw menguploadnya ke plixi dan dalam beberapa detik saja, foto itu telah sukses terpampang di timeline twitter. hebatnya, selama seharian penuh itu, tak henti-hentinya puluhan orang me-retweet gambar itu, mencurahkan segenap kenangan dan memori indah remajanya sewaktu masih bersekolah di sana. mereka tak ubahnya gw, sangat mencintai tulisan keramat itu, di gerbang sekolah itu. I heart you belitung timur. setelah menemukan posisi duduk yang sesuai, gw lalu membuka sebuah tas pembungkus kulit berwarna hitam. sambil merasakan suasana romantis dramatis yang ada disekeliling, jari jemari gw kemudian mulai menyentuh papan keyboard virtual yang muncul di layar. sesekali
merenung, lalu mengenang kembali kejadian-kejadian indah disana. akhirnya gw mulai merangkai kata-kata yang nantinya akan diolah menjadi sebuah kerangka cerita yang mudah-mudahan kesan indahnya tidak akan terasa jauh berbeda dengan kejadian sebenarnya yang dulu pernah gw alami. tak lupa, dua buah ear-plug langsung gw pasang di kedua telinga. sebuah lagu kenangan menemani gw bercerita sebuah kenangan di tempat yang penuh kenangan. Sepanjang jalan kenangan Kita slalu bergandeng tangan Sepanjang jalan kenangan Kau peluk diriku mesra Hujan yang rintik rintik Di awal bulan itu Menambah nikmatnya malam syahdu…. (Sepanjang Jalan Kenangan) *****
Pengky, Jalan Bali Beberapa tahun-tahun-tahun-tahun-yang lalu “maneh leumpangna tong gancang-gancang teuing atuh beul….” teriak gw kepada sopi sambil berjalan terseok-seok karena sepatu yang gw pakai terlepas. (kamu jalannya jangan cepet-cepet atuh sop….) “buru atuh ih maneh mah ngalilakeun.” balas sofi sambil terus berjalan mundur menghadap ke arah gw yang sedang memakai sepatu. setelah selesai, gw lalu langsung berlari kecil mengejarnya. (cepetan atuh ih kamu mah suka ngelamain aja.) “anjis aing lapar pisan beul. bieu geus ngadangdut tilu kaseteun!” ucap gw seraya merangkul pundak sofi. kami berdua kemudian berjalan keluar gerbang sekolah menyusuri jalan bali. (anjis aku laper banget nih. barusan habis nyanyi dangdut tiga kaset sekaligus!) “heu euh urang oge laper abis. maneh jadi difoto?” tanya sofi. kebetulan waktu itu gw pernah diajak foto-foto untuk sebuah produk kaos t-shirt di sebuah majalah remaja. (iya aku juga laper abis. kamu jadi difoto) “jadi. edek dahar naon ieu teh euy?”
(mau makan apa?) “hayam wae lah nu rada gampang. ari maneh naon?” (ayam aja lah yang gampang. kamu mau makan apa?) “teuing. tapi aing lagi ngidam bungbuahan.” (ngga tau. tapi aku lagi ngidam buah-buahan.) “buah? maneh ngidam?” “heu euh aing lagi ngidam duren tapi nu eweuh cucukan.” (iya aku lagi ngidam duren tapi yang ngga ada durinya.) “oh… sugan teh maneh ngidam cau rasa gedang.” (oh… kirain teh kamu lagi ngidam pisang rasa pepaya.) “hahahhh. eh sop, nanti katanya aing mau dipoto make kaos warna kayas lah.” (warna kayas : warna pink / merah muda) “deminya?” “iya. kaos pink garis-garis putih. meni gress pisan lah.” “homo ih bajunya. orangnya apalagi.” “ari sia naon goblog??” (lo sendiri??) “ah pan urang mah kabogohna.” (ah kan saya mah pacarnya.) “ngemeng naon sia teh.“
“terus nanti selain kaos warna kayas, maneh difoto make apalagi?” “teuing sop. kayanya mah aing nanti dipoto make calana cutbray kerlip dangdut warna hejo paul.” (hejo paul : hijau kebiru-biruan, turquoise) “cing rada diulang maneh tadi ngomong apa?” “ah maneh mah.” “kenapa ngga sekalian make kameja corak kembang-kembang?” “anjis! eta nu dicari selama penantian hidup aing, kameja corak kembang-kembang! oke beybeh!” “bu, pecel ayam masih ada ngga?” tanya sofi kepada ibu pemilik warung tenda sewaktu kami berdua telah sampai di sebuah warung tenda yang menjual pecel ayam, pecel lele, dll. “nanti ya diliat dulu ayamnya masih ada atau ngga .” jawab si ibu dengan kalem sambil tetap sibuk ngerendos sambel. (ngerendos : menggerus) “kalau ngga ada?” tanya sofi lagi. “ya ngga jadi beli juga ngga apa-apa mas.” jawab ibu itu dengan tiis. “anjis goblog ieu si ibuna pikageluteun!” bisik gw pelan kearah sopi. kemudian sopi memesan pecel ayam dua porsi untuk kami berdua. lalu, kami duduk di sebuah meja panjang di dekat tempat si ibu berdiri tadi. (anjis ini mah namanya si ibu ngajak berantem.) *****
Bertahun-tahun kemudian….
“dulu geuleuh ngga sih, waktu liat di majalah teh bibir kamu pake lipbalm?” tanya sofi saat kami sedang berjalan-jalan di sekitar jalan bali begitu sesampainya di bandung setelah selesai melaksanakan serangkaian acara pernikahan teh dea. “eh itu mah disuruh sama tukang potonya lah. maneh tah yang nurustunjung ngabolokerkeun eta aib aing make lipengloss.” biasanya kan, kadang, supaya bibirnya ngga keliatan pecah-pecah teh suka dikasih lipgloss sama tukang mek ap nya. (kamu tuh yang nyebelin nyebarin aib aku pake lipbalm) “atuda resep ngaheureuyan kamu teh.” (habisnya aku paling seneng ngebecandain kamu.) “eh dulu motor kamu pernah jatuh disini inget ngga sop?” gw menunjuk ke depan pagar sebuah kos-kosan yang letaknya bersebelahan dengan sekolah. “oh… gara-gara mau ngikutin kamu tea nya gi?” “iya. da kamu mah sukanya ngikutin aing terus. aing pergi kemana aja pasti ngikut da. dasar anak bringka.” “anak bringka?” “bringkaditu, bringkadieu. nu penting mah ngilu ramena hungkul.” (kesana, kemari. yang penting mah ikut ngeramein.) “saya laper gi. makan dulu yu bentar?” “mau makan apa?” “sotbal aja gi yang rada deukeut.” “hayu lah. leumpang atawa kumaha?” (hayu lah. mau jalan atau gimana?)
“heu euh. sekalian kesangan. disana saya jarang olahraga.” ucap sofi sambil melangkahkan kaki melintasi lapbal, lapangan bali, menuju ke arah sotbal, soto bali, yang ada di bagian ujung jalan bali dekat ke jalan jawa. (kesangan : keringetan) “maneh leumpangna tong gancang-gancang teuing atuh bray. aing geus kolot yeuh….” gw menyuruh sofi agar memperlambat langkah kakinya. (kamu jalannya jangan cepet-cepet atuh sop. aku udah tambah tua nih…) “kamu mah, dari dulu sampai sekarang tetep aja jalannya lama. saya udah pelan juga tetep aja saya yang ada di depan kamu. kamu mah selalu ketinggalan…” balas sofi sambil tetap berjalan cepat seperti biasa. *****
as you walk in front of me, doesn’t mean I am left behind. i just want to watch you walk away and wonder…….. whenever you are missing something, will you look back? *****
“kemarin kayanya kamu baru aja dateng. dan sekarang, aku harus liat kamu berangkat lagi. pergi lagi. ninggalin aku, lagi.” gw membantunya mengemasi beberapa pakaian ke dalam koper. sofi pun hanya bisa tersenyum simpul. “pernah ngga, kamu tiba-tiba ngerasa ragu menjalankan sesuatu saat udah sampai ditengah jalan?” tiba-tiba sofi menatap tajam ke arah gw. “ragunya teh karena apa dulu? cobaan atau godaan?” balas gw. “hmm…. terkadang yang namanya godaan itu akhirnya akan jadi sebuah cobaan.” “dan kalau mau lulus dengan nilai bagus, artinya harus bisa menyingkirkan semua godaan yang jadi cobaan itu, kan?” sofi kemudian tertawa kecil sambil menatap kearah gw.
“kata-kata barusan, keluar dari mulut kamu apa hati kamu?” goda sofi. “…………………………………………………………………………………….” gw hanya bisa terdiam. andai hati bisa berkata, mungkin bibir ini sudah pasti akan dicap sebagai pembohong besar. “kamu kuliahnya harus bener ya gi. cepetan lulus. kalau ada perlu bantuan apapun, email saya atau gimanapun lah caranya. walau sesibuk apapun, saya akan sangat mau sekali bantuin kamu.” “iya sop. doain aku ya supaya cepet selesai urusan kuliahnya. asa banyak pisan hambatan.” “ok. tapi saya mah cuma bisa sebatas ngedoain kamu. nantinya cuma Allah yang akan, selalu dan pasti nolongin kamu. makanya kamu jangan pernah ninggalin shalat.” “iya sop. eh sop, dulu teh kamu suka sama aku karena apanya?” tiba-tiba gw melemparkan pertanyaan yang sebenarnya gw sendiri sudah tahu jawabannya. “ngga tau…..” jawabnya singkat. kemudian ia kembali menlanjutkan kegiatan beres-beresnya. *****
i like you because I don’t know why, but… everything that happens is nicer with you i can’t remember when I didn’t like you it must have been lonesome then i like you because because because i forget why I like you but i do… ***** hey sipo-sipo, promise me ya, you gonna take a good care of yourself there. stop being spontaneous and avoid every act that lead you to problems. stay focus, stay calm, stay gorgeous, jangan dikeluarin hoblohnya nanti bisa malu-maluin nama negara. kalo ada yang gangguin kamu disana bilang aja nanti aing pasti langsung sewa pembunuh bayaran. hahahaha. jangan lupa solat siah sop. soalnya kalo maneh ngga solat nanti ngga akan ada yang doain aing. *****
hahaha… yes, sir. I will take care of myself and I won’t do stupid things that will lead me to problems. I promise you that I will be fine there. *****
TAMAT
Langganan:
Postingan (Atom)