Senin, 21 Maret 2016

Memories Of Him - Part 7

~Pandu Pov~
Dia…

Aku menghela nafas jengah, sedangkan Awe malah tersenyum lebar ketika melihatku. Sedetik kemudian dia berlari ke arahku, tapi tiba-tiba…

BRRUUUKKK….

“Aaaaa….”

Mataku langsung terbelalak kaget ketika melihat Awe yang tiba-tiba saja jatuh. Awe tersungkur. Aku terdiam sejenak melihatnya tersungkur seperti itu, tapi akhirnya aku melangkahkan kakiku mendekatinya.

“Ngapain sih kamu ini? Kok bisa-bisanya jatuh. Kayak anak TK aja,” kataku sambil membantunya berdiri. Awe cuma diam saja.

Aku melihat ke dua lututnya terluka dan mengeluarkan darah. Kalau saja dia pakai celana panjang mungkin dia nggak akan berdarah seperti ini.

Aku segera berjongkok dan mengamati lukanya. Luka di lututnya cukup besar karena dia tadi jatuhnya tepat di atas jalanan yang nggak rata. Aku langsung melihat sekeliling mencari kran air. Ada.

“Sini ikut aku.”

Aku berjalan ke kran air yang ada di sisi kiri dinding depan mini market. Awe langsung mengikutiku dengan tertatih-tatih. Dia berjalan sambil meringis menahan sakit di lututnya. Persis kayak anak TK. Mendadak aku jadi ingat sama seseorang. Orang yang pernah tenggelam di kolam ikan yang dangkal. Dia juga mirip anak TK. Aku langsung tertawa ngakak nggak jelas. Awe yang sudah berdiri di sampingku cuma melihatku dengan tatapan aneh. Aku buru-buru meredam tawaku.

“Sini kakimu!” kataku sambil membuka kran air itu. Awe langsung mendekatkan kaki kanannya kearah air yang mengalir.
“Kamu bersihin dulu kakimu, aku mau beli betadine dulu di dalem,” kataku, Awe mengangguk.

Aku segera masuk ke dalam mini market.

“Selamat malam kakak,” sapa penjaga kasir.
“Malam. Mas tolong betadine dan kapasnya satu,” kataku cepat.

Aku nggak perlu masuk ke dalam buat beli betadine dan kapas, karena tempat obat ada di etalase belakang penjaga kasir ini.

Cowok penjaga kasir itu langsung mengambil betadine dan kapas yang ada di belakangnya.

“Cuma ini kak?” tanya cowok itu.
“Iya.. Ah nggak. Sebentar mas,” kataku.

Aku langsung berjalan menuju rak bagian shampo dan mengambil shampo clear yang biasa di pakai Ipang. Setelah itu aku kembali ke kasir dan menyerahkan shampo itu. Setelah membayar barang yang aku beli, aku langsung keluar dan menghampiri Awe yang sudah terduduk di anak tangga dekat pintu masuk mini market.

“Kemarikan kakimu!” kataku sambil membuka tutup betadine yang ada di tanganku.

Aku berjongkok di depan Awe dan mulai menuangkan betadine itu di kedua lututnya. Kapas yang aku beli tadi aku gunakan untuk membersihkan betadine yang mengalir ke bawah lutut.

“Udah,” desisku sambil memasukkan betadine dan kapas tadi ke dalam kantong plastic.

Tiba-tiba Awe menyodorkan notes ke arahku.

-Makasih- tulisnya.
“Ya,” kataku, “kamu naik apa ke sini?” tanyaku.
-Jalan- tulisnya.
“Kamu bisa jalan nggak sekarang?” tanyaku lagi.

Awe terdiam sejenak setelah itu dia berdiri dari duduknya dan mulai berjalan. Aku memperhatikannya dari belakang. Terlihat Awe berjalan dengan kaki yang di seret-seret. Maklum sih kalau jalannya kayak gitu. Luka di lutut emang nyusahin. Awal jatuh pasti nggak terasa apa-apa, tapi setelah beberapa menit baru deh terasa sakit. Kalau di buat jalan malah tambah berasa sakitnya.

“Rumahmu jauh nggak?” tanyaku sambil berjalan mendekatinya.
-Nggak. Dari sini terus aja lalu belok kanan, itu sudah rumahku- tulisnya.

Aku mengamati jalanan yang menuju rumahnya. Emang nggak terlalu jauh sih, tapi kalau jalan kaki dengan di seret gitu rasanya kok……..

“Ayo naik! Aku anter kamu pulang,” kataku sambil setengah berjongkok.
“…”
“…”
“…”

Nggak ada reaksi.

“Buruan!!” kataku nggak sabaran.

Akhirnya Awe mendekat ke arahku dan memegang ke dua bahuku. Aku langsung berdiri begitu memegang ke dua pahanya. Aku menggendongnya di punggung. Awe langsung memegang bahuku dengan kuat.

“Tenang aja, aku nggak akan membiarkanmu jatuh,” kataku pelan sambil mulai melangkahkan kakiku meninggalkan mini market.

Kami berdua melewati jalanan yang sedikit gelap karena jalanan yang kami lewati bukan jalan besar. Jalannya cuma bisa di lewati satu mobil aja. Kalau ada dua mobil yang lewat dari arah berlawanan, mobil satunya terpaksa harus mundur.

“Kamu kok keluar malem-malem gini?” tanyaku.
“…”
“Ehm… kalau posisinya kayak gini jadi sulit buat nulis di notes ya?! Ya udah deh nggak usah di jawab aja,” kataku akhirnya.

Aku lupa kalau dia masih aku gendong dan dia pasti kesulitan kalau mau nulis dalam posisi sekarang. Tapi aku penasaran karena ngeliat Awe keluar malem-malem gini. Rasanya bukan dia banget. Kalau aku keluar malem masih pantes tapi kalau Awe rasanya agak aneh aja.

“Karena aku cuma bisa ngerasain kehadirannya di malam hari. Makanya aku keluarnya malam-malam.”

Aku langsung menghentikan langkahku dan menengok ke kiri untuk melihat wajahnya. Terlihat Awe juga melihat ke arahku dengan tersenyum. Aku kaget karena Awe menjawab pertanyaanku. Jarang-jarang dia mengeluarkan suaranya di depan orang lain kalau nggak penting.

“Kenapa?” tanya Awe masih dengan senyumnya.
“Nggak apa-apa,” jawabku sambil melangkahkan kakiku lagi, “oh ya, maksudmu tadi gimana? Kamu dapet ngerasain kehadiran setan gitu?” tanyaku bingung, Awe tertawa pelan.
“Bukan. Tapi seseorang. Seseorang yang berharga,” jawabnya pelan.

Awe mulai melingkarkan kedua tangannya ke leherku, lalu dia meletakkan dagunya di bahu kiriku. Aku cuma terdiam membisu. Rasanya aku sudah menyinggung sesuatu yang nggak perlu. Mendadak suasana menjadi sangat aneh. Diliputi keheningan yang menyesakkan. Udara yang tadinya sudah dingin sekarang terasa lebih dingin.

“Tadi jam delapan tadi ketiduran karena capek,” kataku asal.

Aku berusaha mengganti topic agar suasana menjadi lebih ringan.

“Eh? Apa?” tanya Awe bingung.
“Jam sebelas aku kebangun gara-gara mendengar suara ah uh ah uh dari arah depan. Waktu aku liat ternyata ada party yang nggak di rencanakan.”
“Ah uh ah uh?? Party??” tanya Awe makin bingung.

Dia sampai mengangkat dagunya dari bahuku dan berusaha melihat wajahku dari samping.

“Iya. Ah uh ah uh tadi ternyata asalnya dari film bokeb dan suara desahan temen-temenku yang lagi pesta mesum. Mereka langsung protes waktu aku mematikan film bokep yang sedang mereka putar,” kataku.
“Oh pesta mesum,” desisnya, “hah?? Pesta mesum????” ulangnya lagi dengan nada kaget, sedangkan aku cuma tertawa ngeliat wajah kagetnya itu.
“Di kosku sih hal kayak gitu udah biasa. Soalnya anak-anak yang ngekos di situ semuanya bejat-bejat. Kecuali aku,” kataku ngasal, kali ini gentian Awe yang tertawa.

Aku menghela nafas lega karena bisa mencairkan suasana aneh tadi.

“Ah itu depan situ rumahku,” Awe menunjuk rumah yang memiliki pintu pagar berwarna hijau.

Aku langsung mempercepat langkahku kearah rumah yang di tunjuk Awe. Setelah sampai di depan pintu pagar yang bercat hijau itu aku langsung menurunkan Awe.

-Makasih- tiba-tiba Awe menyodorkan notesnya ke arahku.

Aku yakin itu tulisan yang sama dengan tulisan yang dia sodorkan waktu aku selesai mengobati kakinya tadi.

“Ya,” sahutku, “ya udah sana masuk!” kataku ketika ngeliat Awe belum bergerak dari tempatnya berdiri.

Akhirnya Awe mulai berjalan dengan tertatih-tatih kearah pintu masuk rumahnya.

“Eh tunggu!” seruku, Awe langsung berbalik dan menatapku, “kenapa kamu selalu ngikutin aku waktu di sekolah?” tanyaku penasaran.

Awe nggak langsung menjawab pertanyaanku. Dia kelihatan sedang berfikir. Sesekali bibirnya di maju-majuin kayak mulut ikan. Lucu sekali wajahnya.

“Emm…Aku selalu ngerasa nyaman kalau deket sama kamu. Kamu mirip sama orang yang aku sukai sih,” jawab Awe sambil tersenyum lebar, aku manggut-manggut.

Tapi aku langsung terdiam ketika menyadari ada keganjilan dalam kata-katanya.

“Se..sebentar. Kamu tadi bilang kalau aku mirip orang yang kamu sukai. Jangan-jangan orang yang kamu sukai itu cowok??” tanyaku hati-hati, Awe langsung menganggukkan kepalanya dengan mantap.

“Oh,” desisku sambil menggaruk kepalaku yang nggak gatal.

Baru kali ini aku ngeliat orang yang terang-terangan mengaku kalau dirinya gay.

“Tapi kamu nggak suka kan sama aku?” tanyaku takut-takut, Awe tertawa pelan.
“Nggak kok. Kamu emang mirip sama dia tapi kamu kan bukan dia,” jawab Awe, aku langsung bernafas lega.
“Aku masuk dulu ya,” kata Awe, aku langsung menganggukkan kepalaku, “hati-hati ya pulangnya. Daaaa….” lanjutnya lagi sambil melambaikan tangan ke arahku sebelum menutup pintu rumahnya.

Aku tersenyum geli ngeliat tingkahnya itu.

Dasar hehe…





~Rico Pov~
“Kenapa kakimu?” tanyaku pada Awe waktu ngeliat dia berjalan sedikit aneh.

Awe mulai menulis di notesnya lalu menyodorkan ke arahku.

-Kakiku sakit karena baru jatuh kemarin-
“Jatuh? Kok bisa?” aku langsung berjongkok di depannya lalu menggulung celana panjangnya untuk melihat lututnya.

Awe sedikit meringis ketika celana panjangnya aku gulung ke atas. Terlihat kain kasa menutupi kedua lututnya.

“Kayaknya agak lebar ya lukanya?! Mending jangan di tutup rapat gini, nggak bisa kering nanti,” nasehatku, “aku buka ya kasanya,” lanjutku lagi sambil mulai membuka kain kasa yang ada di lututnya tanpa menunggu persetujuannya.
“Aaaaaa…” rintihnya saat aku mulai membuka kain kasa itu sedikit demi sedikit.

Kain kasa itu sudah lengket dengan lukanya jadi sedikit susah untuk membukanya. Tangan Awe langsung mencengkeram erat tanganku yang sedang berusaha membuka kain kasanya.

“Ini harus di lepas We. Kalau nggak di lepas nanti nggak bisa kering-kering lukanya,” kataku sambil menatap Awe.

Awe menggeleng dengan cepat. Setelah itu dia menulis di notesnya lagi lalu mengulurkannya ke arahku.

-Jangan di lepas. Sakit Ric-
“Ya harus di lepas We. Kalau di biarin terus malah tambah lengket nanti dan bakal tambah sakit kalau di lepas.”

Awe langsung cemberut. Matanya menatapku dengan tatapan memohon.

“We….”
“Kalian sedang apa sih?” tiba-tiba Alvin yang tadi menunggu kami di mobil sudah ada di ambang pintu masuk rumah Awe.
“Ini lo, kaki Awe terluka tapi malah di tutup kasa,” kataku pada Alvin yang kini berjalan mendekatiku dan Awe.

Alvin ikut berjongkong di sampingku dan langsung ngeliat lutut Awe.

“Ini harus di lepas kasanya,” gumam Alvin.
“Nah kan. Ini harus di buka We,” timpalku.
“Tapi caramu salah Ric. Kalau langsung di lepas gitu pasti tambah sakit.”
“Eh masa sih??”
“Iya,” desis Alvin, “kamu punya air panas tau air hangat nggak?” tanya Alvin pada Awe, Awe mengangguk.
-Ada air panas di dapur-
“Tante Lila udah berangkat kerja belum?” tanya Alvin lagi.
-Udah-

Alvin langsung berjalan kearah dapur begitu membaca tulisan Awe. Nggak sampai
semenit dia sudah kembali lagi ke ruang tamu dengan membawa baskom kecil.

“Apa itu?” tanyaku.
“Air hangat,” jawab Alvin.

Setelah itu Alvin langsung berjongkok di depan Awe. Dia mulai membasahi lutut Awe yang masih terbalut kasa dengan air hangat yang dia bawa tadi.

“Tahan ya,” kata Alvin pada Awe.
“Nggak mau. Jangan di lepas!”

Aku dan Alvin langsung melihat Awe yang baru saja bersuara. Mukanya tampak sedikit panic.

“Nggak apa-apa We. Nggak akan sesakit tadi kok. Percaya ya sama aku,” kata Alvin sambil tersenyum.

Alvin mulai membuka kain kasa itu secara perlahan-lahan. Kalau agak sulit di buka, Alvin akan membasahi lutut Awe dengan air hangat lagi. Akhirnya ke dua kain kasa itu terlepas dari lutut Awe. Awe langsung tersenyum lega.

“Jangan di balut lagi ya lututnya. Nanti sulit lagi waktu di lepas. Lalu celanamu di gulung aja biar nggak kena lukanya,” kata Alvin, Awe mengangguk.
“Ya udah kita berangkat sekarang. Udah mepet banget ini,” ujarku sambil melihat jam dinding yang sudah menunjukkan jam enam lebih dua puluh menit.

Akhirnya aku, Alvin dan Awe langsung berangkat ke sekolah. selama di perjalanan aku sesekali melihat kearah Awe yang duduk di sebelahku. Awe masih saja melihat lututnya yang sakit itu. Aku suka sekali melihat wajahnya. Lucu, imut dan gemesin.

Tanpa sadar mobil yang kami tumpangi sudah sampai di tempat parkiran mobil sekolah. dengan tergesa-gesa kami mulai berlari menuju kelas kami masing-masing.


##############################################################################

Akhirnya jam istirahat pertama pun berbunyi. Lega rasanya karena aku sudah melewati pelajaran yang membosankan.

“Harusnya aku masuk IPS aja,” keluhku tanpa sadar.
“Kenapa emangnya? IPA kan enak,” kata Alvin.
“Nggak enak. IPA itu nggak sesantai IPS.”
“Terus kenapa kamu masuk IPA dulu?”

Aku langsung menatap Alvin sebal.

“Siapa ya yang dulu ngerengek-ngerengek agar aku mau masuk IPA?” sindirku, Alvin tertawa pelan.

Aku masih ingat betul kejadian dua tahun yang lalu. Di mana Alvin merengek-rengek padaku agar aku bisa masuk IPA. Aku sampai mati-matian belajar pelajaran yang nggak aku sukai demi mengabulkan keinginan tuan muda satu ini. Menyebalkan memang, tapi aku paling nggak bisa nolak keinginannya.

Tiba-tiba aku ngeliat Awe datang memasuki kelasku. Dia langsung berjalan ke arahku. Tapi langkahnya nggak berhenti di tempatku dan Alvin. Awe hanya melemparkan senyumannya padaku dan Alvin sedangkan kakinya terus melangkah melewati kami. Aku langsung mengerutkan keningku ketika melihat Awe berjalan mendekati meja Pandu.

“Gimana kakimu? Udah sembuh?” tanya Pandu pada Awe.

Terlihat Awe menulis sesuatu di notesnya setelah itu dia menyodorkan notesnya kea rah Pandu. Pandu langsung berjongkok dan melihat luka Awe.

“Makanya nggak usah di bungkus kasa. Sakit kan jadinya,” kata Pandu.

Pandu langsung berdiri setelah selesai mengamati luka Awe. Lalu mengusap kepala Awe.

Tunggu..tunggu..ada yang salah ini. ada yang salah. Kenapa Pandu bertanya ‘Gimana kakimu? Udah sembuh?’ pada Awe?? Apa dia tau Awe terluka?? Tapi kenapa dia bisa sampai tau?? Aku aja sama Alvin baru tau tadi pagi. Ini aneh. Terlalu aneh. Lagian Pandu yang terkenal garang dan nakutin kok bisa perhatian gitu sama Awe.

“Ini aneh. Bener kan Vin?” desisku.

Aku langsung ngeliat Alvin. Tapi aku sedikit terhenyak ketika ngeliat Alvin sedang melihat tajam ke arah Awe dan Pandu. Ekspresi yang nggak pernah aku liat darinya selama ini.

“Vin,” panggilku.

Tiba-tiba Alvin beranjak dari duduknya meninggalkanku. Dia berjalan keluar kelas dengan terburu-buru. Aku yang bingung dengan sikapnnya langsung mengejarnya.

“Vin!” panggilku sambil setengah berlari tapi Alvin nggak menggubrisku, “Vin,” panggilku lagi, kali ini aku berhasil menyusulnya.
“VIN!!” kali ini aku memegang tangannya supaya Alvin berhenti berjalan.
“Kamu kenapa sih? Sakit?” tanyaku setelah Alvin berhenti. Dia nggak menjawab.
“Vin?”
“Aku nggak suka,” desisnya sambil melepaskan cengkraman tanganku dari tangannya.
“Apa?? Nggak suka apa??” tanyaku bingung.
“Aku nggak suka kalau Awe deket-deket Pandu,” kata Alvin lirih, “kamu udah janji kan sama aku bakal jagain Awe. Tapi kenapa dia malah makin deket sama Pandu?”
“Aku juga nggak tau Vin. Tapi rasanya Pandu nggak sejelek gosipnya. Dia…”
“PANDU ITU ANAK NGGAK BAIK. DIA CUMA NIPU AWE BUAT HAL NGGAK BAIK.”
“Siapa yang kamu maksud?”

Aku dan Alvin langsung menengok ke asal suara yang menyela.

DEG

PANDU….





~Alvin Pov~
PANDU??

Mataku melebar karena kaget ketika menyadari Pandu dan Awe sudah ada di sampingku dan Rico. Tubuhku langsung melemas ketika menyadari kesalahan yang baru aku buat. Keringat dingin mulai menjalari tubuhku. Terlihat Pandu sedang menatap tajam ke arahku. Aku juga melihat Awe yang sedang berlari tertatih ke arah kami.

“Pan..Pandu ini…ini nggak seperti yang kamu kira,” kata Rico gugup. Sedangkan aku masih terdiam membisu.
“Aku nggak tuli Ric,” kata Pandu datar dan dingin sedingin es.
“Pan..ka..kamu salah paham,” akhirnya aku bisa mengeluarkan suaraku biarpun terdengar seperti bisikan.
“Aku kira kamu ini berbeda dari yang lain, tapi ternyata sama saja. Sama-sama menyebalkan.”

NYUTT

Dadaku terasa sakit waktu Pandu bilang aku menyebalkan.

“Pan kamu salah paham. Aku… aku bisa jelasin semuanya,” desisku. Rasanya suaraku seperti tertahan di dalam tenggorokanku.

Pandu mendengus kesal.

“Pan..yang aku katakan tadi nggak bener. Aku….”
“Aku nggak butuh penjelasanmu,” Pandu memotong kata-kataku dengan cepat.

Setelah itu di berbalik badan dan mulai melangkahkan kakinya meninggalkanku.

“Pandu tunggu!”

PLAAKK…

Pandu langsung menepis tanganku dengan kasar ketika aku memegang tangannya untuk menghentikan langkahnya. Sejenak Pandu menatapku dengan pandangan yang sulit aku artikan. Setelah itu dia mulai mulai melangkahkan kakinya lagi. Aku hanya terdiam terpaku melihat punggung Pandu yang mulai menjauh.

“Bikin jantungan aja. Aku kira dia bakal menghajar kita habis-habisan.”

Aku tersentak kaget ketika mendengar suara Rico. Kesadaranku seperti di tarik kealam nyata lagi. Aku melihat Rico yang sedang menghela nafas berkali-kali. Sedangkan Awe cuma terdiam dengan wajah kebingungan. Aku juga melihat beberapa anak sedang melihat ke arahku sambil berbisik-bisik. Ada juga yang cuma melihat sekilas lalu pergi dengan cueknya. Aku bener-bener lupa kalau ini masih jam istirahat.

“Vin kamu nggak apa-apa?” tanya Rico, aku menggeleng pelan.
“Aku nggak apa-apa,” desisku sambil berusaha tersenyum sebisaku.
“Udah nggak usah di pikirin. Nggak penting juga,” kata Rico sambil menepuk bahuku pelan. Lagi-lagi aku cuma tersenyum.
“Tapi aneh ya. Bukannya tadi dia sedang ngobrol sama kamu. Kok tau-tau dia di sini?” tanya Rico ke Awe.

Awe langsung mengeluarkan notesnya, menulis di notes itu lalu menyodorkannya ke arahku dan Rico.

-Tadi setelah kalian keluar kelas, Pandu juga ikut keluar kelas-

Mendadak aku jadi ingat siapa yang membuat semuanya jadi runyam. Ini gara-gara Awe. Ya ini semua gara-gara Awe. Kejadian tadi nggak akan terjadi kalau aja dia nggak dekatin Pandu.

“Semua ini gara-gara kamu. Kalau aja kamu nggak deketin Pandu kejadian ini nggak akan terjadi,” kataku sinis pada Awe.

Awe langsung tersentak kaget mendengar kata-kataku barusan. Rico malah melebarkan matanya menatapku.

“Apa-apan sih kamu Vin?! Jangan nyalahin Awe gitu dong!” seru Rico nggak terima.
“Emang kenyataannya gitu. Gara-gara dia semuanya jadi runyam kayak gini. Aku…”
“VIN!!!!” bentak Rico yang langsung membuatku terdiam, “kamu ini kenapa sih? aneh banget. Yang jelek-jelekin Pandu itu kan kamu, terus ngapain kamu jadi nyalahin Awe?! Heran deh aku,” kata Rico jengkel.
“AARRRGGHHHH… TERSERAH!!!!” teriakku emosi.

Aku langsung beranjak meninggalkan mereka. Ternyata anak-anak yang melihat kearah kami semakin banyak, tapi aku sudah nggak perduli. Aku sudah terlalu muak. Muak dengan AWE.





~Awe Pov~
“Udah nggak usah dipikirin terus. Alvin tadi masih bingung dan syock karena ketahuan jelek-jelekin Pandu, makanya dia nggak sengaja ngomong kayak gitu ke kamu,” kata Rico, aku menetapnya dengan pandangan nggak yakin.

Rico tersenyum sambil mengusap kepalaku perlahan dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya tetap di kemudi mobil. Aku cuma tersenyum masam ke arahnya.

Nggak mungkin kalau Alvin tadi ngomong gitu ke aku cuma karena bingung dan syock. Tadi Alvin bener-bener marah sama aku. Baru kali ini aku melihat dia marah. Selama ini dia sama sekali nggak pernah marah.

Setelah dia kejadian tadi siang, aku jadi nggak berani main ke kelasnya saat istirahat ke dua. Aku takut kalau Alvin marah lagi sama aku. Sekarang aja Alvin juga nggak ikut pulang bareng Rico. Alvin seperti ngindarin aku. Kenapa dia bisa semarah itu ke aku? Aku kan cuma mau berteman dengan Pandu. Alvin T-T

TEEPP…

Tiba-tiba Rico menempelkan jarinya pada bibirku.

“Mulut kok di maju-majuin gitu hehe.. jelek tuh..tuh…” goda Rico sambil terus menempelkan jarinya di bibirku.

Mendadak mukaku terasa memanas. Selain itu jantungku tiba-tiba berdetak kencang sekali.

“Aaaaaaa…” desisku panic ketika menyadari ada yang salah denganku.
“Ke..kenapa?” tanya Rico kaget sambil menjauhkan jarinya. Sesekali matanya melihat ke depan karena dia masih menyetir.

Aku menggeleng cepat sebagai jawaban ‘nggak apa-apa’.

“Bener nggak apa-apa?” tanya Rico lagi, aku mengangguk.

Setelah itu aku langsung tertunduk malu.

“Sudah samapai,” kata Rico pelan.

Aku langsung mengeluarkan notesku dan menulis di lembaran yang kosong. Setelah itu aku menyodorkan notesku ke arah Rico.

-Makasih- tulisku.

Rico tersenyum membaca tulisanku lalu mengusap kepalaku. Lagi-lagi jantungku berdetak kencang. Aku buru-buru keluar dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumah. Setelah sampai di dalam rumah aku langsung mengintip keluar lewat jendela kaca. Terlihat mobil Rico mulai melaju dengan perlahan meninggalkan rumahku. Setelah mobil Rico nggak terlihat lagi, aku mulai melangkahkan kakiku menuju sofa yang ada di sisi kiriku dan langsung duduk di sana. Aku langsung menghela nafas berkali-kali untuk menenangkan jantungku. Tapi debaran di dadaku nggak mau berhenti.

Aaaaaaa… Aku kenapa sih? Kok bisa deg-deg’an gini?

Aku mengambil bantal sofa lalu membenamkan mukaku di sana. Rasanya mukaku memanas lagi. Hhuuuffhhhh….

Dreett…Dreett…

Aku tersentak kaget ketika hp ku bergetar dalam kantong celanaku. Aku buru-buru merogah kantong celanaku dan mengambil hpku. Di layar hp terlihat ada sebuah amplop yang terbuka tutup tanda ada sms masuk.

From: {dianjurkan no. telpon lewat PM krn banyak laporan penyalahgunaan}
Pa kbar?

Aku menaikkan sebelah alisku membaca sms dari nomor baru itu. Tanpa pikir panjang aku langsung membalas smsnya.

To: {dianjurkan no. telpon lewat PM krn banyak laporan penyalahgunaan}
Baik. Sp ya?

SEND

Nggak lama kemudian hpku bergetar lagi. Waktu aku lihat ada sms dari nomor yang sama.

From: {dianjurkan no. telpon lewat PM krn banyak laporan penyalahgunaan}
Syukur deh klo kmu baik2 aja. Nanti kmu juga bakal tau siapa aku ^^

Aku tertegun membaca smsnya.

Siapa ya orang ini?? Bikin penasaran aja.





~Pandu Pov~
“PAN!!!” teriak Aan panic.

Aku langsung mendorong orang yang baru saja aku pukuli sampai jatuh.

“Gila kamu. Kamu mau bunuh orang?!” seru Aan sambil menarikku pergi dari tempat pembantaianku barusan.

Yup benar. Aku baru membantai orang yang pantas untuk di bantai. Bisa-bisanya dia memalak seoarang bocah tepat di depanku. Dasar brengsek.

“Dia emang pantas buat di hajar,” dengusku sambil menepis tangan Aan.
“Tapi kali ini kamu udah kelewatan. Bisa-bisanya kamu menghajar orang yang udah hampir sekarat. Gimana kalau dia sampai mati?”
“Dia emang pantes mati.”
“Pandu!!” seru Aan.

Aku mendengus kesal.

“Kamu kenapa sih?” tanya Aan. Kali ini suaranya melunak.
“Nggak apa-apa,” jawabku datar sambil berjalan mendahului Aan menuju tempat anak-anak berkerumun.

Aku langsung terduduk di sisi jalan di samping Ricky yang sedang asyik dengan rokoknya. Sedangkan Aan berjalan ke sisi lainnya dan bergerombol dengan anak yang lain.

“Hebat banget cara menghajarmu,” sindir Ricky, aku cuma diam, “mau?” Ricky menyodorkan kotak rokoknya padaku, aku menggeleng.


Beggin, beggin you
Put your loving hand out, baby
Beggin, beggin you
Put your loving hand out darling


Tiba-tiba hpku berbunyi menandakan ada telfon yang masuk. Lagu berjudul beggin itu terus mengalun dari hp ku sampai akhirnya berhenti sendiri. Aku nggak ada niat untuk mengangkat telfon itu karena aku tau siapa yang menelfonku. Alvin. Ya Alvin. Sejak kejadian tadi siang, Alvin berulang-ulang kali meng-sms dan menelfonku. Intinya dia meminta maaf tentang kejadian tadi siang. Dia juga mengatakan kalau semua yang aku dengar tadi nggak bener dan dia bisa ngejelasin semuanya. Tapi aku sudah nggak perduli. Smsnya sama sekali nggak aku balas dan telfon nya juga nggak aku terima. Aku sudah terlalu males dengan Alvin. Dia orang yang suka berpura-pura. Di depanku dia baik banget dan sok perhatian tapi di belakangku dia jelek-jelekin aku. Aku bener-bener kecewa banget sama dia.

“Brengsek,” umpatku sambil memukul tiang listrik yang ada di sisi kananku dengan tangan kananku.


~Alvin Pov~
Aku memandangi bangku kosong tempat Pandu biasa duduk. Hari ini Pandu nggak masuk sekolah, padahal aku mau minta maaf ke dia hari ini. Kayaknya Pandu bener-bener marah ke aku. Kemarin sudah aku sms berkali-kali tapi nggak di balas, telfonku juga nggak di angkat.

Aku menghela nafas berat. Kini pandanganku beralih ke Rico yang duduk di sebelahku. Tadi pagi Rico nggak jemput aku seperti biasanya. Nggak cuma itu saja, selama di sekolah Rico cuma diem. Lebih tepatnya aku di diemin sama dia. Rico juga marah sama aku. Ya pantas sih kalau aku kena marah sana sini. Aku sudah seenaknya marah-marah ke Rico dan Awe, padahal mereka nggak salah. Seharusnya aku minta maaf ke mereka berdua tapi aku terlalu sibuk mikirin Pandu, aku jadi melupakan mereka.

Bel tanda pelajaran telah berakhir akhirnya berbunyi. Pak Samsul yang mengajar pelajaran bahasa inggris di kelasku langsung keluar kelas.

“Ric,” panggilku ke Rico ketika melihat Rico sudah berdiri dari bangkunya dan bersiap-siap untuk pulang.

Rico menoleh ke arahku tanpa mengatakan apapun.

“So..sorry. Sorry buat yang kemarin,” kataku lirih.
“Harusnya kamu minta maaf ke Awe bukan ke aku,” sahut Rico dingin.

Setelah itu dia berjalan keluar kelas meninggalkanku sendiri. Aku langsung menghela nafas setelah kepergiannya.

Dia bener-bener marah.

“Hai Vin. Nggak pulang?” sapa Ayu yang tau-tau sudah ada di samping kiri mejaku.
“Bentar lagi,” jawabku sambil tersenyum sebisaku ke arahnya.
“Kok nggak bareng sama Rico?” tanya Ayu yang masih berdiri di sisi mejaku. Aku menggeleng pelan.
“Nggak,” jawabku lirih.
“Kalau aku liat-liat kamu lagi ada masalah ya sama Rico dan eeenggg…sama Pandu?” tanya Ayu.

Beberapa teman yang mendengar kata-kata Ayu langsung mendekat ke mejaku.

“Eh jadi bener kamu sama Rico bertengkar?” tanya Hendro.
“Nggak, Alvin nggak bertengkar sama Rico tapi dia lagi ada masalah sama Pandu,” sahut Dewi.
“Tau dari mana?” tanya Ayu pada Dewi.
“Kemarin banyak anak yang liat kalau Pandu ngancem Alvin,” timapal Yenny.
“Itu…”
“Iya bener, aku juga denger kalau Pandu bentak-bentak Awe,” Dina ikut-ikutan nimbrung dan langsung memotong kalimatku.

Aku membulatkan mataku kaget mendengar perkataan Dina.

Pandu bentak Awe? Yang ada aku yang bentak Awe. Aduh mereka salah paham.

“Bener-bener deh si Pandu itu. Apes banget sih kita sampai harus sekelas sama dia selama dua tahun,” desis Dina yang sekarang sudah duduk di bangku Rico.
“Kalian salah paham. Pandu nggak seperti yang kalian kira,” kataku berusaha menjelaskan.
“Udah deh Vin. Nggak usah terlalu baik gitu. Ngapain juga belain Pandu?!” dengus Dewi.
“Bukan gi…”
“Iya nih. Dia itu harusnya dikeluarin aja dari sekolah. Berandalan seperti di…”
“KALIAN INI SALAH PAHAM!!!” teriakku memotong ocehan Hendro dengan sangat jengkel.

Temen-temen yang lain langsung melihatku dengan pandangan tak percaya. Mungkin mereka kaget melihatku marah seperti ini.

“CK… AAAHHH….” dengusku kesal sambil berjalan meninggalkan kelas.

Selama ini aku bisa menahan emosiku, tapi kali ini aku bener-bener marah. Aku nggak rela Pandu di jelek-jelekin sama mereka. Mereka nggak tau apa-apa tentang Pandu tapi berani menjelek-jelekkannya seperti itu.

Aku terus berjalan tanpa arah. Setelah berjalan melewati kelas demi kelas akhirnya aku berhenti di depan tempat yang akhir-akhir ini sering aku kunjungi. Kebun. Ya kebun. Tanpa sadar aku malah berjalan kearah kebun sekolah. Terlihat beberapa cewek sedang mengurus bunga di dalam green house. Aku melanjutkan langkahku melewati green house menuju kolam ikan.

“Awe?!” desisku kaget ketika melihat Awe mondar-mandir di dekat kolam.

Tanpa banyak pikir akupun berjalan mendekat ke arahnya.

“Cari Pandu?” tanyaku yang sukses membuat dia tersentak kaget.

Awe masih terdiam sambil melihat horror ke arahku. Sedetik kemudian dia mengeluarkan notes dan bolpoin dari sakunya lalu menulis di notes itu dengan cepat.

-Ya- itulah tulisan yang aku baca.

“Hari ini Pandu nggak masuk, jadi dia nggak akan ke sini,” kataku pelan sambil berjalan ke pohon mangga yang ada di samping Awe.

Setelah itu kami cuma terdiam. Awe masih berdiri di sampingku sambil menundukkan kepalanya, sedangkan aku berdiri bersandar pada pohon mangga.

“Ma…maaf Vin. Maafin aku kalau aku ada salah sama kamu,” kata Awe tiba-tiba.

Aku langsung melihat ke arahnya kaget. Awe masih menundukkan kepalanya.

“Kamu nggak salah, tapi aku yang salah. Harusnya aku yang minta maaf ke kamu,” kataku pelan, “sorry ya We,” lanjutku lagi.

Awe langsung mengangkat wajahnya melihatku. Aku langsung tersenyum ke arahnya.

“Sorry ya buat yang kemarin. Aku sudah bentak-bentak kamu. Aku bener-bener nyesel. Kamu mau kan maafin aku?” tanyaku.

Awe masih melihatku dengan tatapan kagetnya, tapi sedetik kemudian dia tersenyum lebar ke arahku di sertai dengan anggukan kepalanya. Awe langsung berlari ke arahku dan memelukku. Kedua tangannya melingkar di leherku lalu wajahnya dibenamkan di bahu kiriku. Aku cuma bisa tersenyum melihat tingkahnya ini.

Aku menghela nafas berat dalam pelukannya yang makin mengencang itu.

Bisa-bisanya kemarin aku membentaknya.

“A..aku takut di benci. Aku takut kamu membenciku,” desisnya sambil terus memelukku.
“Aku nggak membencimu. Mana mungkin aku bisa membencimu,” kataku sambil mengusap kepalanya yang masih menempel di bahuku.

Perlahan-lahan Awe melepas pelukannya. Dia melihatku lalu tersenyum lebar lagi.

“Aku janji nggak akan bentak-bentak dan marah-marahin lagi ke kamu,” kataku sambil membentuk huruf ‘V’ dengan jari telunjuk dan jari tengahku. Kali ini Awe tertawa pelan melihat tingkahku.

Setelah tawanya berhenti Awe langsung duduk di bawah pahon. Akupun ikut duduk di sampingnya. Aku melempar pandanganku ke kolam ikan yang ada di depanku. Nggak tau kenapa aku sangat merindukannya. Aneh. Aku merindukan kolam ikan.

“Aku kangen Pandu.”
“Pandu?” tanya Awe yang langsung menyadarkanku.

Aku langsung menutup mulutku rapat-rapat.

Kok jadi Pandu?? Aku kan kangen sama kolam ikannya. Kok jadi kangen sama Pandu??

Tiba-tiba Awe mendekatkan wajahnya ke arahku.

“Kamu kangen Pandu?” tanyanya lagi.
“I..itu…”
“Kamu kangen Pandu??” tanyanya lagi dengan nada nggak sabaran, “apa kamu deg-deg’an kalau memikirkannya??”

Aku yang di tanya langsung seperti itu cuma terdiam. Pertama aku bingung lihat tingkah Awe dan yang ke dua aku bingung mau jawab gimana.

Awe terus menatapku meminta jawaban.

“I..iya,” jawabku akhirnya, seketika itu juga Awe tersenyum lebar, “ke…kenapa?” tanyaku bingung.

Awe langsung menulis di notesnya.

-Kamu suka Pandu-
“Su..suka?” tanyaku makin bingung setelah membaca tulisannya, “ya aku memang suka Pandu sama seperti aku suka sama kamu dan Rico,” lanjutku lagi tapi Awe langsung menggeleng cepat.
-Bukan itu Vin. Sukamu ke Pandu itu berbeda- tulisnya lagi.

Aku mengerutkan keningku.

-Kamu cinta Pandu-

Mataku langsung melebar selebar-lebarnya membaca tulisan yang baru saja di tulis Awe.

“Apa maksudmu? Cinta? Aku? Pandu?” tanyaku yang sekarang super bingung, Awe langsung mengangguk dan tersenyum lebar dengan mata berbinar-binar.

Tapi sedetik kemudian senyumnya lenyap. Dia terdiam seperti memikirkan sesuatu, setelah itu dia langsung memegang dadanya sendiri dengan wajah panic.

“Ke…kenapa?” tanyaku yang masih kebingungan.

Awe langsung melihat ke arahku dengan wajah panicnya.

-Nggak apa-apa- tulisnya.
“Bener nggak ada apa-apa?” tanyaku meyakinkan. Awe mengangguk.

Aku masih menatapnya curiga. Biarpun dia bilang nggak apa-apa, tapi wajahnya masih memancarkan kepanikan.

~Rico Pov~
Lagi-lagi aku melihat jam yang ada di hp ku. Sudah hampir setengah jam aku menunggu Awe di tempat parkir, tapi batang hidungnya sama sekali nggak kelihatan. Aku sudah sms ke hp nya tapi hp nya nggak aktif. Sebelum ke tempat parkir aku sudah mencarinya di kelasnya tapi dianya sudah nggak ada jadi aku kira kalau dia sudah ke tempat parkir lebih dulu. Ternyata….

Ck..kemana sih si Awe ini?

Akhirnya dengan malas aku pun berjalan masuk ke lingkup sekolah, berjalan menyusuri lorong-lorong kelas mencari Awe.

“Hai.. lihat Awe nggak?” tanyaku pada salah satu teman sekelas Awe yang berpapasan denganku.
“Udah pulang kayaknya,” jawabnya sambil terus berjalan.

Pulang? Masa sih?? Ck…

Tanpa banyak pikir lagi aku mulai berjalan menuju ruang-ruang yang belum aku lihat. Lab computer, Lab Biologi, Perpus sampai WC, tapi nihil. Awe tetep nggak ada.

Ah iya kebun. Kebun belakang sekolah belum aku cek. Ya biarpun kemungkinannya kecil sih dia ada di situ.

Akupun melangkahkan kakiku menuju kebun belakang sekolah. Dan ternyata apa yang aku lihat di sana cukup membuatku kaget. Awe dan Alvin duduk berdua di bawah pohon. Mereka terlihat akrab. Sepertinya mereka berdua sudah baikan.

“Hai…” panggilku ketika aku sudah ada di belakang mereka.
“WAAAAAAAAA……” teriak Awe tiba-tiba yang sukses membuatku dan Alvin tersentak kaget.

Awe melihatku dengan ekspresi kaget yang luar biasa. Dia terus melihatku seperti itu dengan tangan yang menempel di dadanya.

“Kenapa sih?” tanyaku bingung melihat tingkah Awe, tapi Awe cuma melihatku dengan tatapan horrornya.
“Kamu sakit? Dadamu nggak kenapa-kenapa kan?” tanya Alvin ke Awe, Awe langsung menggeleng cepat.
“Kalau sakit bilang!” kataku sambil mendekat kearah Awe.
“Jangan mendekat! Kalau mendekat jantungku bisa meledak,” kata awe panic.
“Hah???”

Memories Of Him - Part 6

~Rico Pov~
“Haaaaaaaaaahhhhhhhhhhhh….” aku menghela nafas panjang dan keras.

Aku menempelkan pipi kiriku ke atas meja. Aku capek.

“Kenapa kamu?” tanya Alvin yang memperhatikanku.
“Capek,” jawabku singkat.

Gimana nggak capek kalau pulang sekolah ada tambahan pelajaran untuk persiapan UAN. Tiap hari harus pulang jam tiga sampai jam empat sore. Untung aku udah nggak ikut ekskul basket. Coba kalau masih ikut, bisa tambah capek aku.

“Ya udah ayo pulang!” ajak Alvin.
“Nanti dulu, Awe kan belum ke sini,” kataku pelan.
“Ah iya juga ya,” desis Alvin.

Aku terus merebahkan kepalaku di atas meja. Terlihat anak-anak berhamburan keluar kelas. Mataku juga sempat melihat Pandu yang berjalan meninggalkan kelas. Aneh juga orang macam Pandu bisa masuk IPA. Bukannya aku mendeskriminasi, tapi biasanya orang kayak Pandu itu otaknya buntu (itu nmx diskriminasi Ric –a). Denger-denger dia juga dapet beasiswa sejak kelas sepuluh sampai sekarang.

“Aku tinggal sebentar ya,” tiba-tiba Alvin langsung berjalan keluar kelas ninggalin aku sendiri.

Hiperbola banget sih aku. Aku kan nggak sendiri di kelas ini. Masih ada beberapa temen yang belum pulang.

“Hai nggak pulang?” tanya Lena ketika berjalan melewati mejaku.
“Nunggu Awe,” jawabku.

Dreett…Dreett…

Tiba-tiba hpku bergetar, tanda ada sms masuk karena getarannya singkat. Aku buru-buru merogoh kantong celanaku, mengambil hpku, membuka dan membaca isinya.

From: Tuan Muda
Kamu sama Awe pulang aja duluan. Aku masih ada urusan.

Aku mengerutkan kening membaca sms Alvin.

Urusan?

Sedetik kemudian senyumku merekah. Kebetulan. Kalau Alvin nggak ikut pulang, aku bisa kencan sama Awe hehe. Nggak-nggak bukan kencan, tapi jalan-jalan hehe. Aku mau ajak Awe jalan-jalan ke Mall atau kemanapun yang dia suka.

Terlihat Awe memasuki kelasku dengan wajah cerianya. Aku langsung menyambar tasku dan tas nya Alvin lalu berjalan menghampiri Awe.

“Yuk,” ajakku.

Terlihat Awe yang kebingungan. Dia memandang kearah bangku ku yang sudah kosong lalu memandang tas Alvin yang aku bawa.

“Alvin nanti di jemput supir,” kataku.

Awe tersenyum lalu memutar tubuhnya dan berjalan meninggalkan kelas. Aku mengikutinya dari belakang. Setelah sampai di parkiran mobil aku dan Awe langsung masuk ke dalam mobilku. Tanpa banyak bicara aku langsung melajukan mobilku kearah Mall terdekat. Awe nggak protes karena aku nggak memulangkannya dulu ke rumah. Dia anaknya nyantai dan nggak banyak protes.

Setelah sampai ke Mall, aku dan Awe langsung menyambar es krim magnum. Kesukaanku dan Awe. Kami berjalan-jalan melihat-lihat isi Mall sambil memakan es yang kami beli tadi. Setelah es habis, Aku langsung mengajak Awe makan.

“Kamu pesen apa tadi?” tanyaku.

Sebenernya aku pengen nraktir dia makan, tapi kburu Awe bayar sendiri.

Awe langsung mengeluarkan nota yang dia dapat tadi dan menyodorkan ke arahku.

Ayam Asam Manis. Makanan ke sukaan Awe.

-Kamu?- tiba-tiba Awe menyodorkan notesnya ke arahku.
“Ayam-ayam’man,” jawabku asal. Awe tertawa pelan.

Terlihat pipi Awe sedikit memerah ketika tertawa. Lucu sekali. Aku jadi ingin memeluknya. Mencubit dan mencium pipinya. Tapi aku nggak melakukannya karena aku takut Awe akan marah lagi sama aku. Selain itu kami ada ini di tempat umum.

Setelah pesanan kami datang. Aku dan Awe langsung melahap habis semuanya. Laper berat sih. Aku tertawa ketika melihat pipi dan bibir Awe belepotan kuah saos dari makanan yang dia makan tadi. Karena nggak ada tissue aku mengulurkan tanganku kearah Awe untuk membersihkan kuahnya itu. Aku menyapu perlahan pipinya dengan punggung tanganku. Tiba-tiba mata kami berdua beradu. Aku menatap matanya dan dia juga menatap mataku. Sambil terus berpandangan, aku mulai mengusap bibirnya dengan jari-jariku. Aku mengusap bibirnya dengan sangat perlahan. Menikmati tiap inci bibirnya yang sangat lembut itu dengan jari-jariku.

“Mama buruan,” teriak anak kecil pada mamanya yang langsung menyadarkanku.

Aku buru-buru menarik jari-jariku menjauh dari bibir Awe. Awe langsung menundukkan kepalanya. Wajahnya terlihat memerah. Sedangkan aku jadi salah tingkah mengingat kelakuanku tadi.

“Ki..kita pulang aja yuk,” ajakku, Awe menganggukkan kepalanya tanpa menatapku.

Cuma itu kata-kata yang terlintas dalam otakku. Aku mau pulang. Aku nggak tau harus gimana menghadapi situasi yang canggung kayak gini. Akhirnya aku dan Awe meninggalkan Mall. Selama di dalam mobil aku dan Awe cuma terdiam membisu. Aku nggak tau harus ngomong apa ke Awe. Apalagi Awe juga terus menundukkan kepalanya. Aku cuma berharap Awe nggak marah lagi sama aku.

Setelah sampai di depan rumah Awe, Awe langsung keluar dari mobilku meninggalkan aku.

Aku menghela nafas berat.

Dia marah.

Dreett…Dreett…

Aku mengambil hpku yang aku letakkan di samping kiriku.
From: Awe cutezz

Makasih traktiran es magnum nya. Kapan-kapan gantian aku yang nraktir ^^

Aku masih terpaku membaca sms dari Awe. Sekilas nggak ada yang special sms dari Awe, tapi aku jadi tau kalau Awe nggak marah sama aku.

YES. Hahahaha… Awe nggak marah…Awe nggak marah… Oh God, aku bisa gila kalau kayak gini terus hahahaha…





~Alvin Pov~
Aku ngikutin Pandu dari belakang. Terlihat Pandu berhenti di depan ruang KepSek. Dia mengetuk pintu lalu masuk ke ruangan itu. Aku langsung mendekati ruang KepSek dan berdiri bersandar di samping pintu. Nggak lama kemudian terdengar suara pintu di buka dari dalam.

“Loh Alvin?! Ngapain kamu di sini?” tanya Pandu. “oh mau ketemu KepSek ya?”
“Ah..oh nggak. Aku..aku cuma pengen ketemu kamu.”

Aku langsung menundukkan kepalaku dalam-dalam karena malu.

Aiizz.. Ngapain juga aku bilang kayak gitu?! Tapi aku emang pengen ketemu dia sih. Aku pengen lebih akrab sama dia.

“Oh gitu. Hmm.. kamu belum di jemput ya?”
“Aku neb…eh iya aku belum di jemput,” jawabku bohong.
“Oh.. Kalau gitu kamu mau bantuin aku nggak?”
“Mau..mau.. Bantuin apa?” tanyaku semangat.
“Ngambil mangga. Ya udah ayo, keburu sore nanti,” kata Pandu sambil berjalan kearah kebun.

Aku segera mengikuti langkahnya. Sesampainya di kebun aku langsung mengambil hp dari kantong celanaku dan mengirimi Rico sms yang isinya aku masih ada urusan dan menyuruh dia untuk pulang duluan. Setelah itu aku kembali memperhatikan Pandu yang sibuk dengan kain merah yang tadi dia ambil dari gubuk peralatan.

“Kenapa mangganya di ambil Pan?” tanyaku.
“KepSek takut kalau mangga yang sudah matang jatuh dan mengotori kolam. Makanya aku di mintai tolong buat ngambil mangga-mangga yang matang itu,” jawab Pandu.
“Terus kainnya buat apaan?”
“Nanti kamu juga tau sendiri,” kata Pandu sambil tersenyum ke arahku.

DEG

Aku langsung menundukkan kepalaku ketika Pandu membuka baju seragamnya. Nggak tau kenapa aku jadi malu sendiri liat Pandu telanjang dada seperti ini. Padahal aku sering banget liat Rico telanjang dada dan aku nggak pernah malu liatnya.

“Aku mau panjat pohon, kamu di bawah aja ya,” kata Pandu, “tolong masukkan bajuku ke tas.”

Tiba-tiba pandu melempar bajunya ke arahku. Bajunya itu sukses mendarat di kepalaku. Hidungku langsung mencium aroma badan Pandu dari bajunya itu. Aromanya sungguh cowok banget. Wajahku terasa memanas dan tubuhku melemas di buatnya. Untuk beberapa detik aku masih membaui baju itu sampai aku sadar dengan kelakuan anehku. Aku buru-buru memasukkan baju itu ke dalam tasnya. Aku takut kalau Pandu melihat kelakuan anehku tadi.

“Vin tolong ambilin kain panjang itu,” kata Pandu sambil menunjuk kearah kain berwarna merah yang tergeletak nggak jauh dari tempatku berdiri.

Aku segera mengambil kain merah panjang itu.

“Ini di apain?” tanyaku bingung.
“Ehm..coba ke dua ujungnya kamu ikatkan di pohon ini lalu dua ujung yang lain kamu pegang,” perintah Pandu.

Aku langsung mengikatkan dua ujung kain yang aku pegang pada pohon mangga yang ada di depanku lalu ujungnya aku pegang.

“Gini?” tanyaku lagi sambil melihat ke arah Pandu.
“Iya. Coba kamu berjalan mundur tiga langkah,” kata Pandu lagi.

Aku langsung berjalan mundur tiga langkah menurut aba-abanya. Kain panjang itu jadi terlihat seperti jaring yang siap menangkap apapun yang terjatuh dari atas. Ya benar, aku dan Pandu sedang mengambil mangga dari pohon mangga yang nggak jauh dari kolam ikan di mana aku tenggelam dulu.

BLUUGG…

Tiba-tiba sebuah mangga jatuh tepat di atas kain panjang yang terbentang di tanganku. Sedetik kemudian mangga-mangga yang lain ikut berjatuhan. Bahkan ada dua mangga yang terpental jatuh ke tanah. Aku mengangkat wajahku dan melihat Pandu tersenyum ke arahku.

“Yang banyak Pan,” mintaku semangat.
“Beres,” kata Pandu sambil terkekeh.

Aku seneng banget hari ini. Baru pertama kali ini aku membantu mengambil mangga langsung dari pohonnya. Biasanya aku cuma makan mangga yang sudah di potong berbentuk dadu.

Terlihat Pandu memanjat lebih tinggi lagi dan mengambil mangga yang sudah matang lalu menjatuhkannya. Dengan sigap aku mengarahkan kain panjang itu mengikuti arah jatuhnya mangga-mangga itu. Aku terus mengamati Pandu dari bawah. Terlihat Pandu sedang memilih-milih mangga yang matang untuk di ambil. Tiba-tiba Pandu turun perlahan dari pohon.

“Udah habis,” katanya setelah kakinya menginjak tanah.
“Masa sih?” tanyaku sambil mengamati mangga-mangga yang bergelantungan, “tuh yang di sana masih ada,” tunjukku kearah mangga yang bergerombol.
“Nggak bisa ngambilnya. Sulit,” kata Pandu sambil menepuk-nepuk ke dua telapak tangannya.
“Ooo..lha terus ini mau di apain?” tanyaku sambil melihat mangga-mangga yang sudah terambil.
“Ya di makan. Nanti sebagian mangganya kamu bawa pulang aja,” jawab Pandu.
“Emang boleh?”
“Ya boleh lah,” kata pandu sambil tertawa pelan.

Pandu berjalan melepaskan ikatan ujang kain pada pohon mangga. Setelah itu aku dan Pandu meletakkan kain yang atasnya sudah penuh dengan mangga itu ke tanah. Pandu berjongkok lalu membagi mangga itu menjadi dua bagian. Ternyata jumlahnya pas dua puluh mangga.

“Vin tolong ambilin tas plastic dan pisau di sana,” kata Pandu sambil menunjuk kearah gubuk untuk menyimpan alat-alat berkebun.

Aku langsung berjalan dan masuk ke gubuk kecil itu untuk mengambil tas yang dia maksud tadi. Setelah itu aku kembali ke tempat Pandu lagi.

“Ini kan?” tanyaku sambil menyodorkan tas plastic kearah Pandu.
“Iya. Thanks ya,” kata Pandu sambil mengambil tas plastic itu dari tanganku.

Aku ikut berjongkok dan mengamati apa yang di lakukan Pandu. Terlihat Pandu memasukkan sepuluh mangga ke dalam tas plastic itu.

“Nih,” katanya sambil menyodorkan tas plastic yang sudah terisi mangga padaku.
“Makasih Pan,” kataku sambil menerima mangga pemberiannya itu. Pandu tersenyum.

Aku langsung menundukkan kepalaku. Melihatnya tersenyum seperti itu membuatku malu sendiri.

Kenapa aku jadi sering malu kalau bersama dengannya ya? Dadaku juga sering berdebar-debar.

“Mau makan mangga?” tanya Pandu, aku mengangguk tanpa berani menatapnya.

Dengan ujuang mataku aku dapat melihat Pandu sedang memungut dua mangga yang terjatuh tadi dan mulai mengupas kulitnya dengan pisau yang aku bawakan tadi.

“Oh ya Pan, aku boleh minta no hp mu nggak?” tanyaku.

Aku baru ingat kalau malam itu aku belum sempat menanyakan no hpnya.

“Boleh,” jawab Pandu.

Pandu berhenti mengupas mangga dan berjalan menuju tasnya. Dia mengambil bolpoin dari dalam tasnya. Setelah itu dia berjalan ke arahku. Tiba-tiba Pandu menggenggam tangan kiriku.

“Ini no hp ku,” kata pandu sambil menulis deretan angka-angka di punggung tangan kiriku.
“Hah?? Oh i..iya,” kataku kaget.

Aku kira dia tadi mau ngapain, ternyata dia nulis no hp nya. Bikin deg-deg’an aja.

Pandu mengantongi bolpoin nya lalu meneruskan mengupas kulit mangga itu. Nggak sampai semenit kulit mangga yang dia pegang sudah terkelupas semua. Pandu mulai memotong mangga itu menjadi dua bagian dan hanya menyisakan bijinya.

“Nih,” Pandu menyodorkan potongan mangga terbesar ke arahku.

Aku langsung menerimanya dan memakannya.

“Manis,” kataku.
“Enak kan?!”
“Iya,” jawabku, “oh ya, hari ini kamu nggak kerja di bengkel?” tanyaku.
“Kerja, tapi nanti jam lima sampai malam,” jawab pandu, “aku cuma kerja part time kok di sana,” lanjutnya lagi.
“E..emang gajinya cukup buat sehari-hari?” tanyaku ragu-ragu.

Aku takut kalau Pandu tersinggung dengan pertanyaanku. Tapi aku bener-bener pengen tau.

“Sebenernya nggak cukup tapi ya aku cukup-cukupin,” kata Pandu sambil memakan potongan mangga yang satunya.

Akhirnya kami makan mangga dengan mengobrol. Ternyata selain kerja di bengkel, Pandu juga kerja sebagai penjaga di tempat kosnya. Bengkel dan tempat kos itu ternyata miliknya Aan. Aan minta tolong ke Pandu buat ngawasin anak-anak yang kos di tempatnya. Selain mendapat gaji, Pandu juga tinggal gratis di tempat kos itu.

“Aan baik ya,” gumamku.
“Jangan sampai Aan dengar omonganmu barusan. Bisa Ge Er dia,” kata Pandu pelan, aku tertawa.
“Aku mau lagi dong,” kataku setelah mangga yang di beri Pandu tadi habis.

Pandu tertawa pelan melihatku ketagihan seperti ini.

“Pan, aku mau nyoba ngupas kulitnya,” kataku ketika melihat Pandu mulai mengupas kulit mangga yang satunya.

Pandu segera mengoper mangga dan pisaunya ke arahku. Aku mulai mengupas kulit mangga itu perlahan-lahan. Baru kali ini aku mengupas kulit mangga sendiri. Terlihat Pandu mencuci tangannya di kran air dekat kolam lalu berjalan kearah tasnya, mengambil bajunya lalu memakainya.

“AAUUUU…” pekikku kesakitan ketika jari telunjukku tergores pisau.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya pandu yang buru-buru menghampiriku, aku menggeleng pelan.

Terlihat darah segar mulai mengalir dari jari telunjukku dan mengenai mangga yang sedang aku pegang.

“Yaaaaaah.. mangganya kena darahku,” kataku panik.
“Biarin aja mangganya,” kata Pandu sambil mengambil mangga dan pisau dari tanganku dan meletakkannya ke kain merah tadi.

DEG

Jantungku hampir copot ketika Pandu memegang tanganku dan memasukkan telunjukku ke dalam mulutnya. Pandu menyedot telunjukku lalu meludahkan darahku. Dia melakukannya sampai tiga kali.

“Kamu cuci dulu tangan dan jarimu itu ke kran air yang di sana. Aku mau ambil handsaplas dulu,” kata Pandu sambil beranjak meninggalkanku.

Aku masih terdiam memandangi jariku yang terlihat basah. Basah karena terkena mangga dan ludah Pandu. Perlahan-lahan aku mendekatkan telunjukku itu ke bibirku. Jantungku berdebar keras saat jari telunjukku menempel pada bibirku. Aku mulai menjilat sendiri jariku itu dengan sangat perlahan. Mukaku terasa panas dan ada getaran aneh yang menjalar pada tubuhku. Sedikit demi sedikit aku mulai membuka mulutku dan memasukkan jariku. Aku memutar lidahku di jari telunjukku itu. Sesekali aku mengeluarkan sebagian telunjukku lalu memasukkannya lagi.

“Vin ngapain kamu?”

DEG

Aku kaget setengah mati ketika mendengar suara Pandu dari sisi kananku. Aku nggak menyadari kedatangannya.

“A..aku masih mengeluarkan darahnya,” kataku gugup.

Aku buru-buru beranjak dari dudukku dan mencuci tanganku. Setelah itu aku kembali ke Pandu.

“Kemarikan jarimu!”

Aku segera mendekatkan tangan kiriku ke arahnya. Pandu segera menempelkan handsaplas itu ke jariku yang terluka.

“Makasih,” kataku pelan.
“Makanya hati-hati. Untung cuma tergores sedikit,” kata Pandu, “ya udah kita pulang aja. Udah sore ini.”
“ASTAGA AKU BELUM SMS PAK UJANG BUAT JEMPUT AKU,” teriakku panic.

Aku baru sadar kalau aku belum sms Pak Ujang. Lha sekarang aku pulangnya naik apa? Naik taxi??

“Aku anter aja,” kata Pandu, aku langsung tersenyum lebar.





~Pandu Pov~
“Aaaahhh..ahh..egghhh…”

Plok..plok..plok…

“Aku..aku mau..aakkhh..ke..ke..luaaaaRRRGGGGGGHHH….”
“Aaahhhh….”
“Aku..aku juga mau keluar..eegghhh…”
“AAAAARRRGGHHHH….” (@_@a..apa ini haha)

PATZ…

“Lhoh..kok di matiin sih Pan?!” protes Yayan.
“Ck Pandu nggak seru ah,” timpal Vino.
“Pandu jahat ah,” kata Amel sambil mendorong kepala Oboy dari selangkangannya.

Aku menghela nafas sejenak lalu memandang Yayan, Vino, Ipang, Renata, Amel, Alisa, Yoga, Oboy, Merry, Hendra dan Udin (udin2 nmamu norak tp terkenal hihi…mndadak inget nm udin haha) secara bergantian. Tanpa banyak bicara aku menunjuk jam dinding yang tertempel di dinding ruang tamu.

“Yang cewek cepet pulang dan yang cowok bersihin tempat ini!” kataku jengah, nggak ada reaksi, “SEKARANG!!” bentakku jengkel.
“Iya..iya.. ah baru juga jam sebelas lebih udah di suruh pulang,” gerutu Alisa sambil membetulkan kemejanya yang berantakan.
“Iya nih. Padahal masih seru-serunya. Ah bener-bener deh,” timpal Yoga yang menutup resleting (bnr g tulisanx?) celananya.
“Kalian pikir ini tempat mesum apa?!” kataku jengkel, mereka cuma manyun-manyun nggak jelas.

Aku berjalan mendekati sofa dan menghempaskan pantatku di samping Merry yang masih membetulkan rambutnya.

“Ya sekali-kali kan boleh Pan. Ini Ultahku loh,” kata Merry genit sambil meraba-raba dadaku.
“Met Ultah deh,” kataku malas sambil menepis perlahan tangan Merry.

CUP

Tiba-tiba Merry mencium bibirku sekilas.

“Ngapain sih kamu ini?” aku segera mendorong tubuh Merry menjauh.
“Minta kado darimu,” kata Merry sambil mengedipkan sebelah matanya ke arahku. Aku cuma mendengus melihat tingkahnya itu.
“Ya udah kami pulang dulu ya,” pamit Renata sambil berjalan menuju pintu keluar.
“Sinting,” gumamku sambil tertawa ketika melihat Renata keluar sambil membawa bra nya di tangan.
“Pan aku pulang dulu ya. Oh ya, nih buat kamu,” kata Amel sambil melemparkan sesuatu ke arahku.

Aku langsung tertawa pelan ketika melihat benda yang di lempar Amel. Kondom.

Satu persatu cewek genit itu mulai meninggalkan tempat kos. Aku cuma terduduk di sofa sambil mengamati para lelaki hidung belang itu membersihkan ruang tamu. Sesekali aku melempar kondom pemberian Amel tadi ke atas lalu menangkapnya lagi.

“Bantuin bersih-bersih dong Pan!” gerutu Udin yang sedang membereskan sampah yang berserakan.
“Ogah. Aku kan nggak ikut Party,” kataku sambil mengantongi kondom tadi.

Aku mencolek krim roti tart yang ada di atas meja lalu menjilatnya. Manis.


Beggin, beggin you
Put your loving hand out, baby
Beggin, beggin you
Put your loving hand out darling


Tiba-tiba lagu beggin terdengar dari hpku. Aku buru-buru mengambil hpku dari kantong celanaku. Di layar hpku tertera no baru yang belum aku save.

“Hallo,” sapaku.
“…”
“…”
“Hallo,” sapaku lagi.
“Ha..hallo,” terdengar suara dari seberang sana.

Suara cowok.

“Ini Pandu?”
“Ya benar. Ini siapa ya?” tanyaku sambil mencolek krim di roti tart tadi dan menjilatnya.
“Aku Alvin.”
“Oh kamu Vin. Kirain siapa tadi. Ada apa?”
“Ng..ngak ada apa-apa. Aku cuma nyoba no hp yang kamu kasih tadi siang,” kata Alvin.
“Oh gitu. Aku kira tadi no hp yang aku kasih udah terhapus pas kamu cuci tangan tadi.”
“Ya emang ada yang samar sih makanya aku telfon aja buat mastiin hehe,” kata Alvin sambil tertawa pelan. Aku tersenyum.

Suara Alvin terdengar lebih lembut kalau lewat telfon.

“Pan..”
“Ya?”
“Aku..aku boleh nggak jadi temenmu?”

Aku langsung tertawa.

“Kita kan emang temenan Vin. Gimana sih kamu ini,” kataku sambil berusaha meredam tawaku.
“Ehm..gi..gitu ya hehe.. makasih ya Pan kamu udah mau jadi temenku.”
“Biasa aja kali Vin,” gumamku sambil tersenyum.
“Pan..”
“Hmm?”
“Boleh nggak aku telfon atau sms kamu tiap hari?” tanya Alvin lirih.
“Boleh aja sih. Tapi buat apa kok sampai tiap hari gitu?”
“Aku…aku pengen denger suaramu.”
“Hah??”
“Met malem. Bye..”

Tiba-tiba Alvin memutuskan telfonnya. Aku yang masih bingung cuma memandang layar hp ku yang sudah kembali normal dengan wallpaper pemandangan. Sedetik kemudian aku tersenyum mengingat kata-katanya tadi.

“Aku pengen denger suaramu,” desisku mengulang kata-kata Alvin.
“Suara siapa?”

DEG

Aku kaget ketika mendengar suara dari samping kiriku. Terlihat Vino sedang cengengesan nggak jelas ke arahku.

“Bukan siapa-siapa,” kataku ketus sambil beranjak dari dudukku.
“Alvin oh Alvin,” kata Yoga cengengesan.

Aku memandang Yoga galak. Yoga langsung menutup mulutnya rapat-rapat.

“Alvin oh Al..”
“HAI..!!” bentakku jengkel.

Yoga langsung kabur meninggalkan ruang tamu di selingi gelak tawa anak-anak yang lain. Tapi tawa mereka langsung lenyap ketika aku mengangkat bogem kananku ke udara.

Aku mendengus sebal. Dengan malas aku melangkahkan kakiku mendekati pintu keluar. Aku mau beli rokok di warung, sekalian mencari angin segar. Langkahku terhenti ketika berpapasan dengan Johan yang mau masuk ke dalam. Johan adalah penghuni tempat kos ini yang usianya paling muda. Umurnya masih 13 tahun. Tapi karena badannya tinggi dia sering di kira anak SMA.

“Dari mana?” tanyaku.
“Bali,” jawabnya singkat, jelas, padat dan jutek. (ps. Balapan liar)

Aku yakin dia baru kalah taruhan.

“Jo,” panggilku.

Johan langsung menghentikan langkahnya lalu memutar tubuhnya menghadapku. Aku langsung merogoh kantong celanaku mengambil kondom pemberian Amel tadi, setelah itu aku melemparkannya kearah Johan. Johan langsung menangkap kondom itu. Dia langsung tersenyum ketika melihat kondom itu.

“Sinting,” gumamnya sambil membuang kondom itu ke tempat sampah yang ada di dekatnya.

Aku melanjutkan langkahku sambil tertawa. Kali ini aku nggak naik sepeda motor untuk pergi, karena tempat yang akan aku tuju sangat dekat dengan tempat kosku. Sesampainya di warung kopi yang aku tuju, aku langsung membeli rokok kesukaanku.

“Meoowww…Meoowww…Meoowww..”

Tiba-tiba suara kucing terdengar dari hp ku menandakan kalau ada sms masuk. Aku langsung mengambil hpku dari kantong celanaku dan membaca sms yang masuk.

From: Ipang ketipang
Bos km kan lg kluar, skalian beliin shampo ya. Uangnya nanti aku ganti. Thx

“Pak ada shampo nggak?” tanyaku pada penjual kopi di warung ini.
“Wah nggak jual mas,” jawab bapak itu.
“Oh ya udah makasih ya Pak.”
“Ya..ya mas.”

Akhirnya aku memutuskan untuk beli di mini market. Dari warung kopi ke sana udah nggak terlalu jauh. Aku melangkahkan kakiku menuju mini market itu. Jalanan udah nampak sepi. Cuma ada beberapa kendaraan yang lewat. Nggak sampai lima belas menit kakiku sudah mendekati mini market tujuanku. Tapi langkahku langsung terhenti ketika aku melihat sesosok cowok yang aku kenal.

Dia…