Part 21 : The wedding
Setelah aku menandatangani kontrak kerja di kantor, mas Ando langsung
mengajakku menuju area kantin yang ada di sudut lain gym, hanya beberapa
langkah melewati 2 kelokan, kami melewati bagian recepsionist, dia
sempat mengenalkanku pada staff yang kebetulan sedang ada di situ. Ada 3
orang yang sedang berada di meja depan, 2 perempuan dan 1 laki-laki,
mereka memberikan senyum lebar untukku.
“ ini captain baru di kantin kita guys“ kata mas Ando
“ wah captainnya muda sekali ya pak” kata satu staff perempuan
“ yeee awas lo ya jangan di gebet, lo kan suka jelalatan kalo liat laki ganteng dikit ” sahut staff yang laki-laki
“ huu ada juga lo kale yang jelalatan..!” balas perempuan itu
“ ssst …ah berisik aja lo berdua, gw aja yg suka tetep kalem ..heboh amat sih” kata staff perempuan yang lain
“ hehe…ya walaupun masih muda tapi kalo Pak Adam udah berpengalaman kerja ..kenapa enggak ?!” potong mas Ando
“ oh ya saya ingat, bapak kan member sini juga ya ?!” tanya staff laki-laki tadi
“ iya bener , saya sempet jadi member sini..”
“ tuuu kaaan, laki cakep pasti lo inget..!” ledek yang perempuan
“ hehehe..brisik lo ah..!”
Lalu mas Ando mengajakku lagi ke bagian dalam gym, melewati ruangan
sepeda dan squash baru kami sampai di kantin, kantinnya memang bersih
dan nyaman, enak sekali kalo dipandang, dari tampilannya terlihat
seperti interior café dengan warna dinding dan furniture yang gelap tapi
lembut.
“ nah ini kantinnya Dam..!” kata mas Ando
“ iya mas, saya udah pernah ke sini kok ”
“ hehe… siapa tahu aja belum pernah kesini..”
“ mmh…. di sini ramenya itu pas malam, pas member gym pulang kerja, kita
gak Cuma nyediain minuman jus aja tapi juga minuman sehat racikan kita
sendiri dan juga makanan-makanan sehat seperti salad atau sandwich ”
“ mmh oke..”
“ayo sini saya kenalin sama anak buah kamu ”
Mas Ando menuju ke sebuah meja yang bentuknya seperti meja bar sepanjang
3 meteran berwarna hijau pastel juga, di meja bar bagian dalam ada
sebuah mesin kasir dan beberapa buku menu yang tersusun rapi
disampingnya.
Di bagian dalam meja bar kantin juga ada seorang laki-laki dan seorang perempuan yang sedang beres-beres
“ San..!” panggil mas Ando
keduanya menoleh ke arah kami
“ ya pak..!” sahut yang perempuan
“ ini Pak Adam, mulai hari ini dia akan jadi captain kalian di sini..!” kata mas Ando
Perempuan itu tersenyum , dia segera menjulurkan tangannya
“ hai pak, saya Santi !”
“ hai Santi apa kabar ?” sahutku
“ baik pak..!”
Tak lupa laki-laki di sebelah Santi juga menyalamiku
“saya Aan pak..!”
“ halo juga An..”
Ternyata Aan memiliki wajah yang masih mulus bersih, tak kulihat satu
spot hitam atau kerutanpun di kulitnya, membuatnya seperti belum pernah
dijamah oleh seorangpun. Perawakannya sama seperti anak-anak muda jaman
sekarang, kurus dan tinggi dengan massa otot tubuh yang bisa dibilang
kurang karna saking kurusnya.
“ nah kalian sudah kenalan kan, saya bisa tinggal ya, nanti kalo ada apa-apa kalian lapornya ke Pak Adam aja..” kata mas Ando
“ oke pak..!” sahut Aan
Mas Ando pergi meninggalkan kami bertiga, setelah itu aku langsung
melihat-lihat kondisi kantin dan kursi mejanya, ku cek satu persatu
keamanan dan kebersihannya agar tamu yang datang merasa senang dan
nyaman duduk di kantin ini.
“ San, dapurnya mana ?” kataku yang juga ingin mengecek kebersihan dapur kantin
“ ini pak!” dia menunjuk sebuah pintu di belakangnya
Aku berjalan mendekati pintu, kubuka dengan perlahan pintu yang bermodel
pintu koboy ini, ternyata di dalam sudah ada seseorang yang sibuk
dengan sayur-mayur di meja.
“ oh ternyata ada orang ya..!” kataku basa basi
Orang itu melihatku tapi masih bengong saja, mulutnya masih terkatup
belum membuka, mungkin dalam hatinya dia bertanya-tanya siapa aku dan
kenapa aku masuk-masuk ke wilayah dapur segala.
“ dia captain kita mas..!” kata Santi membantuku menjelaskan posisiku pada laki-laki itu
“ ooh captain..hehe saya kira siapa…kenalin pak, saya Rahmat..” katanya ramah sambil mendekatiku
“ saya Adam..!”
“ maaf pak, tadi saya gak tau, di kira siapa masuk-masuk dapur..”
“ gapapa, saya juga belum kenalin diri kok..karna memang baru masuk pagi ini ”
“ lagian biasanya karyawan sini pake kaos seragam fitness yang biru
pak..kalo gak pake itu mana saya tau bapak karyawan atau bukan..”
“ iya nih, tadi baru di kasih seragamnya sama Pak Ando, belum sempat di pake..”
“ pake lah pak, nanti baju bapak kotor lagi..”
“ iya-iya ini juga lagi cari tempat tuk ganti..”
“ ganti di sini aja lah pak, gak usah malu-malu..hehe ”
Aku tersenyum lalu mulai mengganti bajuku di pojokan dapur dengan kaos seragam biru yang kubawa-bawa dari tadi.
“ wuiih bapak, ternyata keren juga bodinya !” puji Rahmat
“ ah kamu…bisa aja..”
“ emang sih pak, kalo kerja di tempat fitness begini, mau gak mau bodi
juga harus bagus …biar pantes gitu kelihatannya..iya gak pak ?!”
“ hehehe iya lah, biar pantes ya..”
***
Beberapa saat berlalu
“ San, umur kalian berapa sih, kok kayaknya masih pada muda ya..” tanyaku
“ saya baru 19 pak, kalo Aan 20, nah mas Rahmat paling tua di sini, dia udah 25”
“ 25 ? udah kawin dia ?”
“ udah, dah punya anak 1 ”
Aku manggut-manggut, ternyata Rahmat umurnya berbeda 3 tahun denganku,
pantas wajahnya kelihatan lebih senior dibanding yang lain. Dari
rambutnya juga kelihatan sih, hampir separuh kepalanya mulai diliputi
kebotakan, mirip mantan bintang bola dunia Zinedine Zidane.
“ trus ada berapa staff kantin semuanya San?”
“ dari kita pagi ini udah 4, …nanti siang dateng lagi 3…2 laki 1 lagi perempuan”
“ trus captainnya ?”
“ captainnya ? kan bapak !”
“ Cuma saya ?”
“ iya..emangnya kenapa?”
“ enggak…saya pikir di sini ada 2 captain..”
“ Cuma 1 pak, bapak aja..!”
“ trus captain sebelumnya kemana ?”
“ di mutasi ke cabang lain yang baru buka”
“ ooh”
****
Pukul 10
Suasana kantin pagi-pagi begini masih cukup sepi karena memang member
gym belum begitu banyak yang fitness pada pagi hari khususnya di hari
kerja begini, baru ada 3 member gym yang mampir ke sini tadi membeli
minuman dan sandwich , satu laki-laki dan dua perempuan.
Saat ini Santi sedang mengurusi buah-buahan di dapur menemani Rahmat dan
Aan kelihatannya tak ada kerjaan, dia sedang menggonta ganti CD musik
tuk di setel di ruang kantin ini, sementara aku duduk sendiri di kursi
kantin dengan berbagai macam kertas kerja yang harus kupelajari satu
persatu agar aku paham akan kondisi dan situasi kantin yang ku kepalai
ini.
Aku mencoba konsentrasi pada kertas-kertas ini, tapi tak bisa, sesekali
konsentrasiku buyar dan berpencar, bayangan mas Sultan dan kejadian
semalam hadir mengusikku, sepertinya aku masih tak percaya dengan
tindakan mas Sultan semalam, karna biasanya kami akrab seperti akrabnya
sepasang kekasih, kemana-mana selalu bersama.
Sebenarnya ingin sekali aku menjelaskan padanya bahwa aku memang gay
tapi bukan gay seperti yang ada di benaknya ,yang centil dan selalu
menggoda setiap ada laki-laki yang tampan ataupun sexy lewat, akan
tetapi ketegasan dan kekerasan mas Sultan menghalangi itu semua, percuma
saja ku jelaskan kalau dia sendiri tak berfikiran jernih, mudah-mudahan
di lain waktu aku bisa mendapatkan kesempatan yang baik tuk berbicara
dengannya, karena jujur, aku tak mau jauh-jauh darinya.
Aku jadi teringat pertama kali aku melihatnya dulu, waktu itu dia masih
lebih pendiam dari sekarang, jangankan sama aku, sama orang lain saja
dia tak pernah kelihatan mengobrol. Untung saja aku bisa berdekatan dan
kenalan secara tak sengaja di lift macet waktu itu, dan walaupun sudah
terjebak di lift berduaan, perkenalan kami baru dimulai bermenit-menit
kemudian .
(huft) “ I miss u ..” batinku
Aku kangen saat-saat itu, kalau boleh memilih aku lebih baik berada di
dalam lift itu saja selamanya berdua dengannya dan akan selalu
memandangi wajahnya yang bersih nan rupawan dan penampilan tubuhnya yang
menawan walau dengan kondisi sekarat kurang minum dan kurang makan.
****
Kosan Dena
“ gimane kerjaan lo Dam?” tanya Dena sambil menyeruput teh hijau hangat
ke dalam mulutnya, hangat uapnya memburamkan kaca matanya yang tebal
“ yaaa lumayan lah…”
“ lumayan gimane?”
“ enak… anak buah gw juga welcome sama gw..”
“ tempatnye enak ? sama resto kita gimane?””
“ lebih enak lah, soalnya jauh lebih kecil dari resto, jadi gak cape mondar mandir“
“ ooh… bagus deh kalo enak…tapi gajinye berape emangnye?”
“ sama lah kayak di resto, tapi tip nya Den, lumayan..”
“ kok bisa?”
“ katanya sih member gym situ pada royal Den, maklum banyak orang tajir di situ..kalo gak tante-tante ya om om”
“ lo dapet tip donk hari ini ?”
“ beloom, baru juga kerja sehari, besok baru gw dapet bagian, soalnya dibagi rata perhari..”
“ ooh gitu, jangan lupa ye traktirannye! Hehe”
“ iya Deeen gak usah khawatir, kalo dapet langsung gw traktir deh lo..”
“ siip lah…tapi bayar dulu sono uang nginep sama ibu kost, ntar nyap-nyap lagi mulutnye loh..”
“ oh iya hampir gw lupa..”
kurogoh dompet yang berisi beberapa lembar uang puluhan ribu, ku ambil sedikit dan kuberikan ke Dena
“ nih ..!”
“ pas gak nih ?..”
“ pas donk…eh ada kamar yang kosong gak ya Den, gw mau banget tinggal di sini, deket soalnya!”
“ tinggal ngesot sih ya…hehe…ntar deh gw tanyain, tapi jangan berharap banyak dulu ye, setau gw sih dah penuh..”
“ iya dah gw tunggu jawabannya..”
“ eh Dam, besok lo dateng ke kawinannye Pak Alex kan ?”
“ gak ah..”
“ kenape ? bukannye elo sohibnye?”
“ mmh gw gak bisa Den, gw baru juga masuk kerja, masa udah harus ijin..”
“ yaa kok gitu”
“ ya mau gimana lagi, habis kantinnya rame Den”
Aku berikan berbagai macam alasan pada Dena agar aku tak datang ke
pernikahan Alex karna memang dia tak tahu hubunganku dengan Alex sedang
tidak akur, malas sekali rasanya kalo harus bertemu muka lagi dengan
Alex, walaupun dia berwajah tampan tapi tampannya itu sekarang adalah
tampan yang antagonis seperti dalam sinetron-sinetron di tv, yang
membuat muak orang yang melihatnya.
****
Keesokan hari
Pagi ini aku masuk shift pagi dan tugas dipagi hari adalah membereskan
dan menyiapkan kantin agar bersih dan nyaman, tidak boleh ada kotoran
ataupun noda-noda di area kantin, penataan furniture-furniturenya juga
tidak boleh berantakan.
Kali ini aku ditemani oleh ketiga anak buah yang kemarin juga masuk shift pagi, Aan, Santi dan Rahmat.
“ Pak, ini formnya ” kata Rahmat sambil menyerahkan kertas-kertas berisi
daftar bahan-bahan makanan, minuman dan buah-buahan yang harus segera
dipesan guna menutupi stok yang menipis.
“ oh iya..makasih..ini dah lengkap semuanya ya, gak ada yang ketinggalan ?”
“ gak ada pak..”
Aku mengecek daftarnya satu persatu dengan teliti di meja bar kecil
dekat mesin kasir, tulisan Rahmat kelihatan rapi sesuai dengan orangnya
yang juga rapi.
“ Pak, saya pesen kain pel baru donk, yang ini dah mau patah nih..!” kata Aan tiba-tiba
“ mmh dah mau patah ?, tapi sekarang masih bisa dipakai gak ?”
“ masih sih tapi takutnya patah aja waktu dipake depan tamu ...”
“ ya udah pakai itu aja dulu sekarang, nanti saya pesen ke Pak Ando..”
Anak itu berbalik badan dan melanjutkan beres-beresnya, sementara daftar
bahan-bahan makanan dari Rahmat tadi sudah selesai ku cek semua,
sekarang tinggal ke mas Ando tuk di Acc.
***
Kantor Mas Ando
“ sini masuk Dam..” suruh mas Ando setelah membuka pintu
Ruangan mas Ando biasanya kelihatan rapi tapi sekarang malah agak
berantakan, nampak beberapa spanduk gym yang teronggok di pojokan,
mungkin akan ada promo baru karna dari tulisannya sudah tertera jelas.
“ ada apa Dam ?” tanya mas Ando yang langsung sibuk lagi di mejanya
“ ini ada pesenan stok bahan-bahan keperluan kantin mas..”
Aku menyerahkan lembaran form pemesanan yang telah dibuat oleh Rahmat tadi, mas Ando pun langsung mengeceknya.
“ini dah semuanya?”
“ udah mas..”
“ oke tinggal telpon aja suppliernya..” mas Ando memberikan lagi form itu padaku
“ siap mas!” aku langsung pamit
Tapi sebelum sampai pintu, mas Ando memanggilku lagi
“ eh Dam..”
Aku menoleh
“ ikut saya yuk ntar malem..”
“ kemana ?”
“ makan-makan aja..”
“ makan-makan ? sama siapa lagi ?”
“ kita jalan berdua aja, tapi ntar di sana juga ketemu banyak orang”
“ mmmh…”
“ mang kamu ada acara malam ini?”
“ gak ada sih mas..”
“ ya udah ikut aja…ngapain di kosan aja”
“ oke deh, boleh..”
“ nah gitu donk, kita berangkat jam 7 an ya..”
“ jam 7 ? kan belum tutup gymnya mas? Nanti siapa yang jagain ”
“ ah biar aja, ada anak-anak, ditinggal juga gapapa”
“ oh gitu..”
Sebenarnya aku malas mengiyakan ajakan mas Ando tapi dia terus memaksa, mungkin dia
memang sedang tak punya teman jalan untuk pergi, biarlah sesekali aku
jalan dengannya, hitung-hitung balas budi karna dia telah memberikanku
pekerjaan di sini, karna atas budinya aku bisa survive lagi.
****
Jam sibuk
Keramaian kantin mulai terasa pada pukul 9 pagi ini, mungkin karna hari
ini hari sabtu jadinya para member gym sudah datang di pagi hari,
berbeda dengan hari biasa yang ramai di sore hari sampai malam.
Ada beberapa member yang sedang menikmati sarapan di meja-meja kantin
dan ada juga yang sedang menyeruput jus buah di bar kantin, enjoy dengan
hape smartphone di tangan.
Si Aan terlihat sibuk melayani tamu dan juga mengelap meja-meja bekas
pakai tamu kantin, si Santi sibuk memencet-mencet mesin kasir tuk
melayani orderan para tamu, sedangkan aku sendiri cukup dengan membantu
kalau kalau Aan tak sempat memegang kerjaannya di kala sibuk begini.
Rata-rata yang datang ke kantin pagi ini adalah perempuan, karena ini
adalah jam selesainya kegiatan aerobik yang dimulai jam 8 tadi.
Obrolan-obrolan perempuan penggemar aerobik ini meramaikan suasana
kantin karna memang tempat nongkrong mereka di sini.
Tapi bukan hanya perempuan-perempuan ini saja yang datang ke kantin pagi
ini, member gym laki-laki juga ada yang datang ke kantin, biasanya
mereka membeli air mineral kemasan botol atau minuman lainnya.
“ orang baru ya mas..!” kata seseorang dari luar meja bar, kebetulan aku sedang bolak-balik ke dapur mengambil pesanan.
Aku menoleh ke arah suara itu, ternyata laki-laki, dilihat dari gaya penampilannya, sepertinya laki-laki ini plu.
“ iya pak..” jawabku
“ oh I see.., so, dari kapan mulai kerjanya mas?”
“ baru kemarin pak..” sahutku sopan
“ jangan panggil bapak, panggil aja Boy..!” katanya sambil menjulurkan telapak tangannya
Kami bersalaman sambil memperkenalkan diri, “ saya Adam..”kataku sambil nyengir
“ ooh Adam..namanya bagus..sebelumnya kerja dimana Dam?”
“ di resto bawah pak..”
“ maaf pak, jus pesenan ibu kaos pink itu dah jadi blom ya ?” usik Santi tiba-tiba
“ kaos pink ? oh ya…bentar ya San saya cek ke dalem..”
Aku pergi menuju ke dapur tuk mengecek pesanan ibu berbaju pink, tapi ternyata Santi mengikutiku di belakang.
“ pak..” panggilnya
“ iya ..?!”
“ bapak jangan ngeladenin tuh si banci deh pak, dia sih gak akan bisa
mingkem kalo di ladenin terus ngobrolnya, apalagi sama orang keren kayak
bapak..makin betah aja dia di sini, menuh-menuhin tempat aja”
“ lho kok gitu, biar aja lah, dia kan juga tamu..”
“ yeee dia sih bukan tamu pak, dia instruktur aerobik di sini..”
“ oooh, panteees..”
“ pantes apa pak ?”
“ pantes langsung berasa bos di sini, pake tanya ini itu..”
Lalu aku keluar dapur lagi sambil membawa pesanan ibu kaos pink, di luar
si Boy instruktur aerobik itu ternyata masih nongkrong di bar
memperhatikanku yang membawa-bawa nampan berisi minuman, nampaknya dia
masih ingin ngobrol dan mengorek informasi tentangku yang baru kelihatan
kerja hari ini.
“ dia captain kantin yang baru mas boy..!” kata Santi saat aku kembali ke bar
“ captain ? waah di kira waiter baru..habis bajunya sama sih kayak si Aan..” sahut Boy
Tadinya niat hati ingin meneruskan pekerjaanku di dapur saja agar tak
ngobrol banyak dengan si Boy, tapi ternyata aku sudah di panggil
seseorang lagi dari luar bar
“ mas..”
“ iya…” aku menoleh dan mendapati sosok keren menatapku
“ saya minta orange juice satu..”
“ baik pak, di tunggu sebentar..”
Dengan sigap aku langsung ke dapur dan membuat sendiri jus jeruk pesanan
tamu itu tanpa menunggu Rahmat yang membuatnya karna memang dia lagi
sibuk.
“ Mat, cobain jusnya, manis gak ?” kataku meminta pendapat
Rahmat langsung mencicipinya
“ pas pak..!”
“ oke thanks..” aku langsung menuangkan ke dalam gelas dan membawanya keluar
“ silahkan pak..” aku memberikan jus itu pada tamu tadi
“ trima kasih ya mas..“ sahutnya sambil menyunggingkan senyum manis
" iih bapak, itu kan Marcell Domits.." kata Santi antusias sambil mencengkram lenganku
" Marcell Domits ? siapa?" sahutku bodoh
" Marcell Domits? gak kenal bapak ? dia itu bintang film, sinetron sama bintang iklan terkenaaal.."
" ooh artis.." jawabku kalem
" iih keren banget dia, kayaknya dia member baru di sini deeh" lanjut Santi
Huft..Kalau tiap hari harus melayani tamu laki-laki keren seperti ini
terus, lama-lama imanku akan goyah juga , ini baru satu orang, belum
yang lainnya nanti, bisa-bisa aku lepas kendali dan tak bisa menepati
janji pada mas Ando tuk kerja secara profesional.
****
Pukul 19:00
Aku dan mas Ando akhirnya jadi pergi juga ke acaranya mas Ando, dengan
menggunakan taksi kami meluncur menuju ke area senayan. Mas Ando
mengenakan batik berwarna merah marun dan aku juga berwarna sama karna
memang bajunya dari mas Ando juga, biar samaan katanya.
Sempat sih curiga padanya kenapa tuk makan-makan saja harus pakai batik
formal bagus seperti ini, tapi itu tak terlalu kuhiraukan karna kami
sedang diburu waktu.
Butuh waktu setengah jam tuk sampai ke tempat tujuan. Pelan-pelan
taxipun masuk ke sebuah halaman gedung yang ada di seberang komplek
olahraga Senayan. Dari depan halaman ini aku melihat 2 buah janur
kuning yang menghiasi pintu gerbang masuk.
“ lho mas, kita mau kondangan ya?” tanyaku penasaran
“ iya…” jawabnya santai
“ katanya mau makan-makan?”
“ ya ini kan sama.. kita mau makan-makan..”
Aku mengalah, tapi kenapa dia tak bilang dari tadi kalau dia mau pergi ke undangan pernikahan.
Kami akhirnya turun dari taxi, sesaat ku benarkan batik yang kusut
karena duduk di dalam taxi, begitu juga mas Ando yang merapikan
pakaiannya. Mas Ando nampak gagah memakai batik itu, otot besarnya
seperti ngepas di batiknya.
“ ayo Dam..”
Mas Ando sudah mengajakku ke dalam gedung tapi mataku terpana pada
sebuah bingkai foto berukuran besar yang terpajang di depan pintu masuk.
Ada dua orang mempelai yang sedang berpose dalam foto pre wedding itu
dan aku sepertinya tak asing lagi dengan orang yang ada di dalam foto
itu, karena orang yang ada di foto itu adalah jelas-jelas, Alex !
Kamis, 19 Februari 2015
Galau karena masih mencintaimu (Cerita gay) Part 20
Part 20
Suhu kamar terasa pengap, tak ada hembusan angin di dalam sini, udaranya terasa agak panas, bukan karena setelan AC yang selalu dikecilkan semenjak kedatangan Pak Luthfi, tapi karena tuduhan mas Sultan yang semena-mena terhadapku tadi yang membuatku gerah, dia menuduhku sebagai laki-laki yang suka dengan sesama.
Sebenarnya tuduhan itu memang benar adanya, tapi cara yang disampaikan mas Sultan tadi yang membuatku terkejut, dia mengungkapkannya dengan frontal dan tiba-tiba di depan seseorang yang aku kenal karena hal itu akan bisa membuatku dua kali lebih malu.
Keringat panas dingin mulai meleleh dari sela-sela kulit kepalaku, suasananya makin membuatku grogi , aku tak menyangka akan secepat ini dia tahu kenyataan yang sebenarnya,padahal aku berencana menyimpannya di dalam hati saja sampai aku pikun ataupun sampai aku mati, biar tak ada yang tahu bahwa aku mempunyai sisi lain yang berbeda dari kebanyakan laki-laki.
Sebenarnya aku takut akan dua hal jika dia tahu tentang hal ini yaitu yang pertama dia akan meledak seperti tadi dan yang kedua adalah putusnya hubungan persahabatan kami yang sudah mulai melekat beberapa minggu terakhir. Aku yakin bahwa kedua hal tersebut akan segera terjadi dalam waktu tidak lama lagi, yang pertama sudah dan yang kedua akan terlaksana dengan segera.
Pak Luthfi duduk di atas ranjang kembali, dia memandangku seolah-olah sedang berusaha membaca orientasi seksualku yang sesungguhnya, selintas aku melihat kebingungan di kedua matanya, mungkin dihatinya ada sebuah keraguan padaku, apakah aku ini benar seorang gay atau seorang yang biasa saja.
Sementara itu , mas Sultan yang super tampan itu, masih menatapku tajam, tajam sekali, seakan-akan sedang berhadapan dengan musuh besarnya yang sudah siap menyerang.
“Mas…tolong maafin gw…karna udah gak jujur selama ini..” ucap batinku seraya kepalaku menunduk
Keadaan kamar masih menegang, semuanya diam, aku, mas Salman dan Pak Luthfi masih belum ada yang memecah situasi ini, semua tutup mulut dan menjaga emosi
“ Bapak gak percaya..sama sekali ..gak percaya…!” kata Pak Luthfi tiba-tiba
Mas Sultan langsung mengalihkan pandangannya ke bapaknya itu sekaligus melepaskan tekanan dari diriku.
“ lho…gak percaya gimana sih pak? emangnya bapak tau dari mana kalo dia bukan homo ??...jangan sok tau laah..” sahut mas Sultan
“ bapak bisa baca orang nak !, bapak bisa tau kalo seseorang itu punya kecenderungan begitu atau tidak…!”
“ aah omong kosong, gimana bapak bisa tau kalo orang itu homo atau enggak..? emangnya bapak punya alat pendeteksi apa..!”
“ pengalaman nak..! bapak bisa tau dari pengalaman bapak memperhatikan orang..dan kamu ..belum bisa punya kemampuan seperti itu..jadinya kamu masih awam soal yang begini”
Mas Sultan terdiam, nampaknya omongan bapaknya itu bisa membuat sedikit ragu akan keyakinannya bahwa aku orang yang seperti dituduhkannya tadi. Aku juga masih diam saja tak banyak bicara, berusaha meminimalisir kemarahan mas Sultan terhadapku yang bisa saja meledak saat ini juga.
Mas Sultan kembali menatapku dengan sinis, tapi tak sesinis yang tadi, mungkin keyakinannya sudah mulai goyah gara-gara ucapan Pak Luthfi.
“ HEY DAM…sekarang kamu aja yang jawab dengan jujur,…. apa kamu itu HOMO ….atau BUKAN??” tanya mas Sultan tegas
Aku memandang ragu ke arahnya, jantungku berdegup dengan kencang, nafasku kembang kempis di depan mas Sultan yang sedang emosi. Pertanyaannya kali ini membuatku benar-benar bingung tuk menjawabnya, apa yang harus ku jawab , apakah aku harus jujur mengatakan yang sesungguhnya atau sedikit berbohong untuk menyelamatkan persahabatan kami, tapi dengan konsekuensi hubungan kami tidak akan sedekat dulu lagi, karna kecurigaan terlanjur tertanam di hatinya.
“HEY DAM..JAWAB..!!” pekik mas Sultan lebih keras
“ SULTAN!..apa-apaan sih kamu….kok sama temen sendiri begitu !, kamu boleh bentak bapak, boleh marahin bapak, tapi jangan lakukan itu sama orang lain, dia bukan bagian dari keluarga kita, gak pantes kamu ngebentak –bentak dia” sahut Pak Luthfi kembali berusaha membelaku
Aku menunduk malu di hadapan mereka, rasanya aku tak memiliki muka lagi di depan mas Sultan ataupun Pak Luthfi, aku merasa hina, aku merasa tak pantas berada di kamar ini, ingin rasanya aku pergi keluar dan berlari sejauh-jauhnya, berteriak sekencang-kencangnya tuk melepaskan tekanan dan menghilang seperti ditelan bumi, mungkin rasa itu yang terbaik sekarang daripada harus membeku dan membisu di depan mereka yang sedang menunggu jawabanku.
Mas Sultan diam, dia mencamkan kata-kata bapaknya barusan, tapi matanya terus mengarah padaku tak lepas tak berkedip menunggu jawaban yang pasti dari mulutku sendiri.
Aku tak berani menatap matanya berlama-lama, bukannya karna aku takut jatuh cinta tapi aku merasa matanya mengandung pisau yang teramat tajam hingga mampu menyayat hatiku yang sudah tercabik-cabik tadi.
Aku dilanda kebingungan, jawaban apa yang akan ku beri, mas Sultan terus mendesak dan menungguku tuk menjawab, sementara Pak Luthfi juga tak mencegahnya lagi tuk segera mengakhiri intimidasi ini.
“ kalau kamu gak jawab, itu berarti kamu mengiyakan..!” lanjut mas Sultan
Jantungku masih berdegup-degup , aku masih merasa tak bisa menerima kenyataan bahwa mas Sultanpun harus tahu orientasi seksualku yang sebenarnya, bukannya dengan jalan membohonginya.
Tapi mungkin, kejujuran hanya jalan satu-satunya agar hidup tidak dibayangi oleh kebohongan dan kebohongan yang terus berlanjut dan aku tak mau itu.
“ Iya mas…itu memang benar..” jawabku masih dengan menunduk
Mas Sultan diam, Pak Luthfi juga diam, tak ada suara, tak ada tanggapan, keduanya membisu. Setelah kukatakan yang sejujurnya, aku jadi merasa lebih lega, tak ada lagi beban di hati yang selama ini menggelayuti, tak ada lagi keresahan ataupun takut kalau-kalau mas Sultan tahu orientasi seksualku, semuanya plong saja, tak ada lagi rahasia yang kupendam di hati, tinggal menunggu tindakan mas Sultan selanjutnya.
“ sebenarnya saya pengen banget nonjok kamu sekarang karna udah bohongin saya selama ini…….. tapi ….berhubung saya masih punya kesabaran………… lebih baik kamu cepat pergi dari sini !, bawa semua barang-barang kamu dan jangan pernah muncul di depan muka saya lagi..!” tegasnya dengan tatapan mata kosong ke arah lain.
Aku tersentak, nafas ku kembang kempis, dadaku terasa sesak dibilang begitu, ada sedikit rasa menyesal atas kejujuranku tadi kalau jadinya begini, aku tak mengira dia akan mengusirku keluar kosan. Tapi mungkin ini jalan yang terbaik buatku dan mas Sultan sendiri agar tidak ada percekcokan ataupun perkelahian yang berkepanjangan, aku ikhlas dan aku pasrah dengan keputusannya ini, kejujuran sudah ku tanamkan, tak ada lagi masalah yang mengganjal di hati.
Aku langsung berbalik badan dan mengambil koper pakaianku di atas lemari dan mulai memasukkan satu persatu barang-barang yang kumiliki ke dalamnya. Perasaan sedih mulai muncul merasuki hati, sebenarnya ku tak ingin pergi dari sini menjauhi orang yang kukagumi selama ini, tapi apa mau dikata, ini memang jalannya, ini keputusannya dan aku harus terima.
“ Tan..!” panggil Pak Luthfi pelan
“ maaf pak,… bapak jangan ikut campur…ini udah keputusan saya,…. walaupun dia udah lama dekat dengan saya, tapi …..saya tetap gak bisa berteman dengan orang seperti itu ”
Mendengar itu, dadaku makin sesak, rasanya aku sudah tidak berharga lagi di depannya, aku seperti orang yang tidak pantas berteman dengannya.
“ tapi Tan, dia mau pergi kemana? Ini udah malam …kasihan dia , gak mungkin dia malam-malam cari kosan baru sambil bawa-bawa tas begitu..” kata Pak Luthfi iba melihatku yang akan pergi dengan 2 tas besar
" gapapa pak, saya ikhlas kok, saya memang salah, udah gak jujur dari awal.." sahutku berbesar hati
Mas Sultan terdiam, tak ada tanggapan apa-apa darinya setelah Pak Luthfi menasehatinya seperti itu. Aku bangkit dari dudukku dan mulai mengangkat satu persatu koper ke luar kamar
Sambil menundukkan pandangan, aku berkata perlahan pada mereka
“ Pak, …mas Sultan, … saya ..mohon pamit , sebelumnya ..trima kasih atas tumpangannya menginap di sini selama beberapa hari, saya bersyukur bisa stay di sini dan mudah-mudahan selama saya disini,… saya berguna buat kalian, kalo ada salah-salah kata atau perbuatan, saya mohon dibukakan pintu maaf ...”
“ kamu mau pergi kemana dek ? besok saja perginya..sekarang sudah malam..” saran Pak Luthfi
“ saya belum tahu pak, saya pasrahkan saja pada Tuhan..mudah-mudahan saya mendapatkan jalan..” kataku mengikhlaskan diri
Pak Luthfi manggut-manggut saja, sementara mas Sultan tak mau melihatku pergi, ia memilih berdiri dekat jendela dan memandang kearah luar.
Setelah pamit ke Pak Luthfi dan mas Sultan, aku membuka pintu kamar tapi kemudian mas Sultan membuka suara padaku
“ Adam…!”
Aku menoleh dan menjawab dengan lemah, “ iya mas..”
“ kamu boleh stay di sini sampe besok pagi..masukin tas kamu lagi ke dalam” suruhnya
Aku bertanya-tanya, sebenarnya apa yang dia mau dariku, tadi mengusirku sekarang malah menyuruhku stay sampai besok pagi.
Tapi aku juga bingung aku harus kemana, mau cari kosan malam-malam begini juga aku tak yakin langsung bisa dapat, mau sewa kosan Pak Gatot lagi biayanya lumayan mahal dan itupun kalo belum ada yang menyewa kamarnya, peluang bertemu dengan Alex juga lebih besar lagi, nanti takutnya tiap hari aku akan bertemu dia dan tiap hari juga akan selalu di ganggu.
“ makasih mas atas tawarannya…tapi… lebih baik saya pergi sekarang juga, biar hati mas Sultan tenang…saya gak mau mas Sultan uring-uringan nanti..” jawabku mantap, aku tak mau jadi hina malam ini, aku ingin membawa semua harga diri keluar kamar dan hidup bebas bahagia dengan orang-orang yang menghargai satu sama lain.
Setelah menjawab itu, aku menutup pintu dan menuruni tangga dengan bersusah payah membawa 2 buah tas berukuran cukup besar.
Di luar rumah, aku memutuskan tuk duduk dulu di tepian jalan dan hendak berfikir sejenak kemana aku akan melangkahkan kaki dan mencari tempat tidur tuk malam ini, jangan sampai aku menggembel di pinggiran jalan ataupun di depan kios orang seperti gelandangan.
“ mmh…apa ke kosan Dena aja kali ya, mudah-mudahan dia mau nampung gw barang semalam dua malam..” batinku
Ditengah kebimbangan , aku merasa jendela kamar atas yang ditempati mas Sultan masih saja ada siluet orang yang memperhatikanku . aku memandang ke arah jendela itu dan ku lihat ternyata mas Sultan masih berdiri mematung di baliknya gordennya.
" gak apa-apa mas, jangan kuatirin saya, saya bisa jaga diri sendiri kok, saya udah pengalaman hidup 4 tahun di Jakarta, gak akan kenapa-napa.." ucap hatiku mengikhlaskan,
" jaga diri mas sendiri ya, mudah-mudahan bisnis mas sukses, dan hidup mas juga bisa sukses, walaupun mas gak mau liat muka saya lagi, tapi saya akan tetap selalu merindukan muka mas karna tak ada orang yang lebih sempurna lagi selain mas " lanjutku
Lalu aku mengambil hape dan mencoba menelpon Dena teman restoku
/halo Den/
// ye Dam kenape, …..tumben lo telpon ,… ada apaan ?//
/ lo lagi dimana nih sekarang ?/
// gw masih di resto, tapi bentar lagi sih pulang..//
/ oh masuk malem lo?!/
// iye…//
/ eh Den, gw boleh nginep di tempat lo gak malam ini ? Yaaa barang sehari dua hari kali../
// hah nginep ? emangnya kosan lo kenape?//
/ kosan gw ?/
// iye.. kenape?//
/ gak kenapa-napa, gw mau nginep tempat lo aja malam ini…boleh gaak?? Kalo gak boleh sih gapapa../
// boooleeeeh….boleh aje, silahkan gak ada yang ngelarang, malah gw seneng di temenin tidur //
/ ya udeh, gw ke resto nih sekarang ?/
// iye cepetan, bentar lagi mau pada pulang nih//
/ oke sip, tunggu ya../
****
Malam
Kamar kosan Dena berukuran sedang, tak besar tapi juga tak terlalu kecil, cukup untuk di tempati oleh 2 orang. Barang-barang yang dimiliki Dena juga tak terlalu banyak, cukup sederhana tapi lumayan agak berantakan tata letaknya.
Dena sudah tidur ngorok sejak jam 11 tadi, sementara aku masih saja terjaga hingga pukul 1 tengah malam ini, mataku masih belum bisa terpejam, karena suara mendengkurnya Dena selalu saja membangunkanku yang sudah berhasil terlelap.
Selain itu pandanganku terus kosong, pikiranku terus menerus mengingat kata-kata mas Sultan yang menyayat hati, tak mudah bagiku tuk segera melupakan kejadian pengusiran tadi.
Walaupun benar berita tentangku tapi sebenarnya aku tak mau membuka aibku sendiri di depan orang apalagi pada mas Sultan, itu sebuah hal tabu untuk ku katakan.
Dalam hati ku tak menyalahkan mas Sultan sepenuhnya, ini adalah kesalahan orang yang menghasutku. ku juga terus menerus mengutuk orang yang telah memberitahukan tentang hal ini, aku tak tahu siapa dia tapi aku punya 2 orang yang potensial jadi tersangka, pertama adalah Siti dan yang kedua adalah Alex . Tapi kalo di pikir-pikir lagi Siti tak mungkin nekat berbuat hal seperti itu, diapun tak punya alasan membuka rahasia ini pada mas Sultan, apa untungnya juga buat dia, dia tak punya masalah denganku apalagi dengan mas Sultan.
Sangkaan terkuatku berikutnya jatuh ke Alex, aku jadi teringat pada omongan Siti yang mengatakan bahwa Alex sudah masuk kerja siang tadi dan kebetulan juga mas Sultan datang kembali ke resto untuk makan siang, tapi kupikir-pikir, kecil kemungkinan juga Alex keluar kantor dan menemui mas Sultan tuk menghasutku, wajahnya saja masih lebam sana sini, pastinya dia akan malu sekali berhadapan dengan mas Sultan yang penampilannya 2 x lebih keren dari dirinya sekarang.
Aaaah…entahlah pusing, siapapun orangnya, aku sangat mengutuk perbuatan itu, karena dengan membuka aibku pada mas Sultan, membuat hubungan kami sekarang jadi berantakan, dia yang semula menyayangiku sebagai sahabat, kini berbalik membenci karena hal ini.
****
Pagi
Pagi ini Dena sudah bangun, dia bahkan sudah membelikanku nasi uduk Mbak Arum dari depan rumah kosan. Katanya nasi uduknya ini beda banget dari tempat lain, gak ada yang bisa kalahkan rasa lezatnya nasi uduk mbak Arum.
“ aah beda apanya Den, orang rasanya biasa aja, yaaa enaknya lumayan siiih, gak hambar-hambar amat..” kataku mengomentari nasi yang sedang ku makan
“ yeee orang enak kayak gini kok di bilang lumayan…”
“ tapi kayaknya ….bukan nasinya yang beda nih..”
“ apanye emang ?”
“ yang beda yaa mbak Arumnya..iya kan ??”
“ hehehe…..iyyya…kok lo tau aje sih…”
“ heemmm ama gw sih kebaca, lo kan demen sama cewe yang montok bohai kayak mbak Arum itu..” sahutku seraya menunjuk ke arah warung mbak Arum yang kelihatan dari teras tempat kami duduk menikmati nasi uduk.
“ hehehe ….ngarti dah lo sekarang..”
Kami melanjutkan makan nasi sampai benar-benar habis, setelah itu, kami bersama-sama mencuci piring bekas makan di dapur.
“ eh Dam, emangnye kosan lo kenape sih , kok lo bisa-bisanye pindahan malem-malem begitu..”
“ gak kenapa-napa sih, gw baru sempet keluar kosan malem-malem, siangnya gw sibuk banget kemaren..”
“ trus kenape lo mau pindah kosan lagi ? “
“ gak enak Den, di sana berisik sama tetangga sebelah…soalnya campur sama kontrakan keluarga…jadinya banyak anak kecil deh yang suka nangis melulu..risih gw..berisik” jawabku sedikit berbohong
“ ooh…trus….lo mau ngekost dimane sekarang ? soalnye kata ibu kost di sini tadi, lo gak boleh nginep lagi di sini, kecuali lo bayar juga..”
“ emang sehari dua hari gak boleh juga?”
“ bolehnye Cuma sehari, hari selanjutnya lo bayar perharinye”
“iya ntar gw bayar, ..Emang di sini berapa harga sewa sebulannya sih ?”
“ gope..!”
“ hah gope??? Buset dah, mahal amat..”
“ iye makanye mahal banget kan, tapi yaa worthed lah, orang di sini tiap kamar mandinya aje di pake Cuma buat 3 kamar, keamanan juga terjamin karna selalu dijagain satpam tuh di depan, kosannye juga bersih, gak berisik, deket ke jalan raya lagi..lengkap deh..”
“ gak ah…gw gak mau, gak sanggup…lagian gw gak punya uang banyak buat bayar segede itu…”
“ nah lo kan katanye udah dapet kerjaan baru, gajinya lebih gede lagi..”
“ iyaaa..tapi itu kayaknya gak jadi…gw..gak sreg sama tempatnya…tau lah ribet..”
“ ya elaah gimana sih…kesian bener…trus lo mau kerja ape sekarang??”
“ gak tau lah Den….mungkin gw bakal pulang kampung dulu kali ya…suntuk gw di Jakarta..”
“ ya udeeh, lo jangan kuatir, ntar gw bantuin lo cari kerjaan lagi…lo pulang kampung aje, ntar kalo udeh ada lowongan gw kasih tau..okeh ?! ”
“ iya makasih Den, lo emang temen gw paaaling baek..tapi , gw nitip tas-tas gw dulu ya di kosan lo…berat gw Den bawa-bawa itu..”
“ iyee siip lah..”
****
Kalau saja kemarin tidak ada kasus pencemaran nama baikku, mungkin aku hari ini sudah berada di resto fried chicken milik mas Sultan dan Zein, rencananya memang hari ini adalah hari pertama training untuk para karyawan, mulai dari supervisor sampai ke tukang nyapu dan cuci piring.
Tapi sekali lagi, hal itu sekarang tak akan menjadi kenyataan, mas Sultan sudah menyuruhku pergi dan jangan muncul di depan mukanya lagi, rencana awal yang indah buyar sudah, gaji dan posisi yang lebih baik ternyata tak kesampaian, entah apa mas Sultan memikirkan tentang posisiku itu atau tidak, tapi yang jelas dia dan Zein kesulitan mencari orang yang mau di gaji segitu kecil untuk kerjaan besar.
Berlama-lama di dalam kamar Dena ternyata sumpek juga rasanya, ingin aku main ke resto lagi tuk menumpahkan kerinduanku pada teman-teman lama. Kata Dena, hari ini Alex ijin untuk tidak masuk karena besok sabtu akan jadi hari pernikahannya.
“ Den, gw ke resto dulu ya, lo mau ikut gak ?”
“ gak ah, lo aje gih, gw mau nyuci nyetrika ..”
“ oke deh, ….gw cabut dulu ya..”
Hanya butuh 10 langkah kaki saja untuk bisa sampai ke komplek perkantoran resto, jarak kosan Dena memang paling dekat di antara kosan teman-teman resto karena letaknya tepat berada di samping komplek perkantoran dimana resto berada.
Setelah masuk melewati pos security, aku langsung dihadapkan oleh pepohonan rindang nan menjulang yang menaungi komplek asri ini, angin yang bertiup juga sepoi-sepoi menggoyangkan setiap dahan-dahannya, belum lagi taman-taman kecil yang berada di depan gedung terlihat indah dan menyejukkan mata, hal-hal seperti inilah yang membuatku betah kerja berlama-lama di area ini, sejuk, rindang dan asri.
“ Adam!!” teriak seseorang dari arah sampingku ketika aku mau masuk ke penjagaan security yang ada di depan gedung.
Aku menoleh dan ternyata ada mas Ando yang berseragam kaus gym, aku menghentikan langkah dan menyunggingkan senyum manis ke arahnya, diapun terus mendekatiku
“ mau kemana Dam?”
“ ke resto..”
“ mau ngapain ?”
“ main aja mas..”
“ ooh ….kok kamu gak kerja ?…”
“ mmm…belum mas”
“ kenapa?”
“ ceritanya panjang mas..”
“ panjang ? sepanjang apa ..kasih liat doonk lagi pengen yang panjang-panjang nih...hehe”
“ halah…. malah ngawur…”
“ hehe…jadi kamu belum kerja nih ?”
“ belum mas..”
“ emm …kita ngobrol di gym aja yuk..”
“ nanti deh mas mau ke resto dulu..”
“ sekarang ajaaa..kalo nanti malah saya sibuk..”
“ oh gitu…ya udah yuk”
Akhirnya perjalananku menuju restopun dibajak oleh mas Ando, tak tahu dia mau bicara tentang apa tapi sepertinya dia cukup antusias melihatku berada di sekitar komplek ini.
****
Di GYM
“ oooh jadi begitu ceritanya…” kata mas Ando setelah ku ceritakan panjang lebar tentang batalnya rencanaku kerja di tempat lain, tapi yang jelas aku menyamarkan bagian cerita tentang ke-gay-an ku.
“ trus kamu sekarang lagi gak punya kerjaan ?”
“ iya mas..”
“ emmm begini Dam..saya punya kerjaan buat kamu, posisi ini mungkin gak semenarik jabatan yang batal itu, tapi gajinya gak jelek-jelek amatlah, malah kamu bisa makan sehari-hari hanya dari uang tips..gimana tertarik gak ?”
“ apa sih mas kerjaannya ?”
“ captain …di kantin sehat gym ini..mau ?”
“ wah di kantin sehat ini mas???”
“ iya …mau gak ?, nanti kamu juga malah bisa main alat fitnes dengan gratis di luar jam kerja ”
“ boleh boleh mas..boleh..saya malah seneng kalo kerja di gym kayak begini..”
Aku sangat antusias sekali mendapat penawaran dari mas Ando ini, bagiku ini adalah sebuah rezeki yang tak terduga dari Tuhan, setelah aku batal mendapatkan posisi supervisor itu aku mendapatkan kerjaan yang lebih menarik lagi dari segi tempat kerjanya, karena selain bisa kerja, aku juga bisa mencicipi alat-alat fitness secara Cuma-Cuma.
“ oke…kalau kamu mau, kamu harus mulai kerja hari ini..nanti saya siapkan kontrak kerjanya ”
“ gapapa mas…saya mau kok langsung kerja hari ini ”
“ Cuma..!”
Aku terdiam
“ Cuma apa mas?”
“ kamu… harus tahan godaan dari para member ”
“ aah jangan kuatir mas, saya bisa jaga diri kok..” sahutku sedikit sombong karna saking senangnya
“ jangan salah……kamu mungkin bisa tahan dari godaan member perempuan….taaaapiii…kamu akan kesulitan menahan ajakan-ajakan dari member laki-laki, terutama om-om yang berdompet tebal atau member yang penampilannyaa …sempurna!…bisa-bisa kamu jadi gay nanti, di sini banyak lho gay nya ” kata mas Ando menakut-nakuti
Aku terdiam sebentar, ku pikir ini adalah penawaran yang menarik tapi godaannya mungkin juga akan selalu menarik-narik birahiku nanti, aku harus bisa menahan godaan-godaan yang akan datang padaku agar aku tetap profesional dalam bekerja, tak mungkin aku menjalani profesi double dalam sekali waktu, bisa-bisa malah kedokku akan terbuka lebar ke keluargaku nanti, malu lah aku.
“ gapapa mas…saya siap…bekerja dengan profesional..” jawabku mantap
“ oke sip..bagus ! berarti kamu udah siap menerima tantangan-tantangannya ”
" iya mas..!"
Suhu kamar terasa pengap, tak ada hembusan angin di dalam sini, udaranya terasa agak panas, bukan karena setelan AC yang selalu dikecilkan semenjak kedatangan Pak Luthfi, tapi karena tuduhan mas Sultan yang semena-mena terhadapku tadi yang membuatku gerah, dia menuduhku sebagai laki-laki yang suka dengan sesama.
Sebenarnya tuduhan itu memang benar adanya, tapi cara yang disampaikan mas Sultan tadi yang membuatku terkejut, dia mengungkapkannya dengan frontal dan tiba-tiba di depan seseorang yang aku kenal karena hal itu akan bisa membuatku dua kali lebih malu.
Keringat panas dingin mulai meleleh dari sela-sela kulit kepalaku, suasananya makin membuatku grogi , aku tak menyangka akan secepat ini dia tahu kenyataan yang sebenarnya,padahal aku berencana menyimpannya di dalam hati saja sampai aku pikun ataupun sampai aku mati, biar tak ada yang tahu bahwa aku mempunyai sisi lain yang berbeda dari kebanyakan laki-laki.
Sebenarnya aku takut akan dua hal jika dia tahu tentang hal ini yaitu yang pertama dia akan meledak seperti tadi dan yang kedua adalah putusnya hubungan persahabatan kami yang sudah mulai melekat beberapa minggu terakhir. Aku yakin bahwa kedua hal tersebut akan segera terjadi dalam waktu tidak lama lagi, yang pertama sudah dan yang kedua akan terlaksana dengan segera.
Pak Luthfi duduk di atas ranjang kembali, dia memandangku seolah-olah sedang berusaha membaca orientasi seksualku yang sesungguhnya, selintas aku melihat kebingungan di kedua matanya, mungkin dihatinya ada sebuah keraguan padaku, apakah aku ini benar seorang gay atau seorang yang biasa saja.
Sementara itu , mas Sultan yang super tampan itu, masih menatapku tajam, tajam sekali, seakan-akan sedang berhadapan dengan musuh besarnya yang sudah siap menyerang.
“Mas…tolong maafin gw…karna udah gak jujur selama ini..” ucap batinku seraya kepalaku menunduk
Keadaan kamar masih menegang, semuanya diam, aku, mas Salman dan Pak Luthfi masih belum ada yang memecah situasi ini, semua tutup mulut dan menjaga emosi
“ Bapak gak percaya..sama sekali ..gak percaya…!” kata Pak Luthfi tiba-tiba
Mas Sultan langsung mengalihkan pandangannya ke bapaknya itu sekaligus melepaskan tekanan dari diriku.
“ lho…gak percaya gimana sih pak? emangnya bapak tau dari mana kalo dia bukan homo ??...jangan sok tau laah..” sahut mas Sultan
“ bapak bisa baca orang nak !, bapak bisa tau kalo seseorang itu punya kecenderungan begitu atau tidak…!”
“ aah omong kosong, gimana bapak bisa tau kalo orang itu homo atau enggak..? emangnya bapak punya alat pendeteksi apa..!”
“ pengalaman nak..! bapak bisa tau dari pengalaman bapak memperhatikan orang..dan kamu ..belum bisa punya kemampuan seperti itu..jadinya kamu masih awam soal yang begini”
Mas Sultan terdiam, nampaknya omongan bapaknya itu bisa membuat sedikit ragu akan keyakinannya bahwa aku orang yang seperti dituduhkannya tadi. Aku juga masih diam saja tak banyak bicara, berusaha meminimalisir kemarahan mas Sultan terhadapku yang bisa saja meledak saat ini juga.
Mas Sultan kembali menatapku dengan sinis, tapi tak sesinis yang tadi, mungkin keyakinannya sudah mulai goyah gara-gara ucapan Pak Luthfi.
“ HEY DAM…sekarang kamu aja yang jawab dengan jujur,…. apa kamu itu HOMO ….atau BUKAN??” tanya mas Sultan tegas
Aku memandang ragu ke arahnya, jantungku berdegup dengan kencang, nafasku kembang kempis di depan mas Sultan yang sedang emosi. Pertanyaannya kali ini membuatku benar-benar bingung tuk menjawabnya, apa yang harus ku jawab , apakah aku harus jujur mengatakan yang sesungguhnya atau sedikit berbohong untuk menyelamatkan persahabatan kami, tapi dengan konsekuensi hubungan kami tidak akan sedekat dulu lagi, karna kecurigaan terlanjur tertanam di hatinya.
“HEY DAM..JAWAB..!!” pekik mas Sultan lebih keras
“ SULTAN!..apa-apaan sih kamu….kok sama temen sendiri begitu !, kamu boleh bentak bapak, boleh marahin bapak, tapi jangan lakukan itu sama orang lain, dia bukan bagian dari keluarga kita, gak pantes kamu ngebentak –bentak dia” sahut Pak Luthfi kembali berusaha membelaku
Aku menunduk malu di hadapan mereka, rasanya aku tak memiliki muka lagi di depan mas Sultan ataupun Pak Luthfi, aku merasa hina, aku merasa tak pantas berada di kamar ini, ingin rasanya aku pergi keluar dan berlari sejauh-jauhnya, berteriak sekencang-kencangnya tuk melepaskan tekanan dan menghilang seperti ditelan bumi, mungkin rasa itu yang terbaik sekarang daripada harus membeku dan membisu di depan mereka yang sedang menunggu jawabanku.
Mas Sultan diam, dia mencamkan kata-kata bapaknya barusan, tapi matanya terus mengarah padaku tak lepas tak berkedip menunggu jawaban yang pasti dari mulutku sendiri.
Aku tak berani menatap matanya berlama-lama, bukannya karna aku takut jatuh cinta tapi aku merasa matanya mengandung pisau yang teramat tajam hingga mampu menyayat hatiku yang sudah tercabik-cabik tadi.
Aku dilanda kebingungan, jawaban apa yang akan ku beri, mas Sultan terus mendesak dan menungguku tuk menjawab, sementara Pak Luthfi juga tak mencegahnya lagi tuk segera mengakhiri intimidasi ini.
“ kalau kamu gak jawab, itu berarti kamu mengiyakan..!” lanjut mas Sultan
Jantungku masih berdegup-degup , aku masih merasa tak bisa menerima kenyataan bahwa mas Sultanpun harus tahu orientasi seksualku yang sebenarnya, bukannya dengan jalan membohonginya.
Tapi mungkin, kejujuran hanya jalan satu-satunya agar hidup tidak dibayangi oleh kebohongan dan kebohongan yang terus berlanjut dan aku tak mau itu.
“ Iya mas…itu memang benar..” jawabku masih dengan menunduk
Mas Sultan diam, Pak Luthfi juga diam, tak ada suara, tak ada tanggapan, keduanya membisu. Setelah kukatakan yang sejujurnya, aku jadi merasa lebih lega, tak ada lagi beban di hati yang selama ini menggelayuti, tak ada lagi keresahan ataupun takut kalau-kalau mas Sultan tahu orientasi seksualku, semuanya plong saja, tak ada lagi rahasia yang kupendam di hati, tinggal menunggu tindakan mas Sultan selanjutnya.
“ sebenarnya saya pengen banget nonjok kamu sekarang karna udah bohongin saya selama ini…….. tapi ….berhubung saya masih punya kesabaran………… lebih baik kamu cepat pergi dari sini !, bawa semua barang-barang kamu dan jangan pernah muncul di depan muka saya lagi..!” tegasnya dengan tatapan mata kosong ke arah lain.
Aku tersentak, nafas ku kembang kempis, dadaku terasa sesak dibilang begitu, ada sedikit rasa menyesal atas kejujuranku tadi kalau jadinya begini, aku tak mengira dia akan mengusirku keluar kosan. Tapi mungkin ini jalan yang terbaik buatku dan mas Sultan sendiri agar tidak ada percekcokan ataupun perkelahian yang berkepanjangan, aku ikhlas dan aku pasrah dengan keputusannya ini, kejujuran sudah ku tanamkan, tak ada lagi masalah yang mengganjal di hati.
Aku langsung berbalik badan dan mengambil koper pakaianku di atas lemari dan mulai memasukkan satu persatu barang-barang yang kumiliki ke dalamnya. Perasaan sedih mulai muncul merasuki hati, sebenarnya ku tak ingin pergi dari sini menjauhi orang yang kukagumi selama ini, tapi apa mau dikata, ini memang jalannya, ini keputusannya dan aku harus terima.
“ Tan..!” panggil Pak Luthfi pelan
“ maaf pak,… bapak jangan ikut campur…ini udah keputusan saya,…. walaupun dia udah lama dekat dengan saya, tapi …..saya tetap gak bisa berteman dengan orang seperti itu ”
Mendengar itu, dadaku makin sesak, rasanya aku sudah tidak berharga lagi di depannya, aku seperti orang yang tidak pantas berteman dengannya.
“ tapi Tan, dia mau pergi kemana? Ini udah malam …kasihan dia , gak mungkin dia malam-malam cari kosan baru sambil bawa-bawa tas begitu..” kata Pak Luthfi iba melihatku yang akan pergi dengan 2 tas besar
" gapapa pak, saya ikhlas kok, saya memang salah, udah gak jujur dari awal.." sahutku berbesar hati
Mas Sultan terdiam, tak ada tanggapan apa-apa darinya setelah Pak Luthfi menasehatinya seperti itu. Aku bangkit dari dudukku dan mulai mengangkat satu persatu koper ke luar kamar
Sambil menundukkan pandangan, aku berkata perlahan pada mereka
“ Pak, …mas Sultan, … saya ..mohon pamit , sebelumnya ..trima kasih atas tumpangannya menginap di sini selama beberapa hari, saya bersyukur bisa stay di sini dan mudah-mudahan selama saya disini,… saya berguna buat kalian, kalo ada salah-salah kata atau perbuatan, saya mohon dibukakan pintu maaf ...”
“ kamu mau pergi kemana dek ? besok saja perginya..sekarang sudah malam..” saran Pak Luthfi
“ saya belum tahu pak, saya pasrahkan saja pada Tuhan..mudah-mudahan saya mendapatkan jalan..” kataku mengikhlaskan diri
Pak Luthfi manggut-manggut saja, sementara mas Sultan tak mau melihatku pergi, ia memilih berdiri dekat jendela dan memandang kearah luar.
Setelah pamit ke Pak Luthfi dan mas Sultan, aku membuka pintu kamar tapi kemudian mas Sultan membuka suara padaku
“ Adam…!”
Aku menoleh dan menjawab dengan lemah, “ iya mas..”
“ kamu boleh stay di sini sampe besok pagi..masukin tas kamu lagi ke dalam” suruhnya
Aku bertanya-tanya, sebenarnya apa yang dia mau dariku, tadi mengusirku sekarang malah menyuruhku stay sampai besok pagi.
Tapi aku juga bingung aku harus kemana, mau cari kosan malam-malam begini juga aku tak yakin langsung bisa dapat, mau sewa kosan Pak Gatot lagi biayanya lumayan mahal dan itupun kalo belum ada yang menyewa kamarnya, peluang bertemu dengan Alex juga lebih besar lagi, nanti takutnya tiap hari aku akan bertemu dia dan tiap hari juga akan selalu di ganggu.
“ makasih mas atas tawarannya…tapi… lebih baik saya pergi sekarang juga, biar hati mas Sultan tenang…saya gak mau mas Sultan uring-uringan nanti..” jawabku mantap, aku tak mau jadi hina malam ini, aku ingin membawa semua harga diri keluar kamar dan hidup bebas bahagia dengan orang-orang yang menghargai satu sama lain.
Setelah menjawab itu, aku menutup pintu dan menuruni tangga dengan bersusah payah membawa 2 buah tas berukuran cukup besar.
Di luar rumah, aku memutuskan tuk duduk dulu di tepian jalan dan hendak berfikir sejenak kemana aku akan melangkahkan kaki dan mencari tempat tidur tuk malam ini, jangan sampai aku menggembel di pinggiran jalan ataupun di depan kios orang seperti gelandangan.
“ mmh…apa ke kosan Dena aja kali ya, mudah-mudahan dia mau nampung gw barang semalam dua malam..” batinku
Ditengah kebimbangan , aku merasa jendela kamar atas yang ditempati mas Sultan masih saja ada siluet orang yang memperhatikanku . aku memandang ke arah jendela itu dan ku lihat ternyata mas Sultan masih berdiri mematung di baliknya gordennya.
" gak apa-apa mas, jangan kuatirin saya, saya bisa jaga diri sendiri kok, saya udah pengalaman hidup 4 tahun di Jakarta, gak akan kenapa-napa.." ucap hatiku mengikhlaskan,
" jaga diri mas sendiri ya, mudah-mudahan bisnis mas sukses, dan hidup mas juga bisa sukses, walaupun mas gak mau liat muka saya lagi, tapi saya akan tetap selalu merindukan muka mas karna tak ada orang yang lebih sempurna lagi selain mas " lanjutku
Lalu aku mengambil hape dan mencoba menelpon Dena teman restoku
/halo Den/
// ye Dam kenape, …..tumben lo telpon ,… ada apaan ?//
/ lo lagi dimana nih sekarang ?/
// gw masih di resto, tapi bentar lagi sih pulang..//
/ oh masuk malem lo?!/
// iye…//
/ eh Den, gw boleh nginep di tempat lo gak malam ini ? Yaaa barang sehari dua hari kali../
// hah nginep ? emangnya kosan lo kenape?//
/ kosan gw ?/
// iye.. kenape?//
/ gak kenapa-napa, gw mau nginep tempat lo aja malam ini…boleh gaak?? Kalo gak boleh sih gapapa../
// boooleeeeh….boleh aje, silahkan gak ada yang ngelarang, malah gw seneng di temenin tidur //
/ ya udeh, gw ke resto nih sekarang ?/
// iye cepetan, bentar lagi mau pada pulang nih//
/ oke sip, tunggu ya../
****
Malam
Kamar kosan Dena berukuran sedang, tak besar tapi juga tak terlalu kecil, cukup untuk di tempati oleh 2 orang. Barang-barang yang dimiliki Dena juga tak terlalu banyak, cukup sederhana tapi lumayan agak berantakan tata letaknya.
Dena sudah tidur ngorok sejak jam 11 tadi, sementara aku masih saja terjaga hingga pukul 1 tengah malam ini, mataku masih belum bisa terpejam, karena suara mendengkurnya Dena selalu saja membangunkanku yang sudah berhasil terlelap.
Selain itu pandanganku terus kosong, pikiranku terus menerus mengingat kata-kata mas Sultan yang menyayat hati, tak mudah bagiku tuk segera melupakan kejadian pengusiran tadi.
Walaupun benar berita tentangku tapi sebenarnya aku tak mau membuka aibku sendiri di depan orang apalagi pada mas Sultan, itu sebuah hal tabu untuk ku katakan.
Dalam hati ku tak menyalahkan mas Sultan sepenuhnya, ini adalah kesalahan orang yang menghasutku. ku juga terus menerus mengutuk orang yang telah memberitahukan tentang hal ini, aku tak tahu siapa dia tapi aku punya 2 orang yang potensial jadi tersangka, pertama adalah Siti dan yang kedua adalah Alex . Tapi kalo di pikir-pikir lagi Siti tak mungkin nekat berbuat hal seperti itu, diapun tak punya alasan membuka rahasia ini pada mas Sultan, apa untungnya juga buat dia, dia tak punya masalah denganku apalagi dengan mas Sultan.
Sangkaan terkuatku berikutnya jatuh ke Alex, aku jadi teringat pada omongan Siti yang mengatakan bahwa Alex sudah masuk kerja siang tadi dan kebetulan juga mas Sultan datang kembali ke resto untuk makan siang, tapi kupikir-pikir, kecil kemungkinan juga Alex keluar kantor dan menemui mas Sultan tuk menghasutku, wajahnya saja masih lebam sana sini, pastinya dia akan malu sekali berhadapan dengan mas Sultan yang penampilannya 2 x lebih keren dari dirinya sekarang.
Aaaah…entahlah pusing, siapapun orangnya, aku sangat mengutuk perbuatan itu, karena dengan membuka aibku pada mas Sultan, membuat hubungan kami sekarang jadi berantakan, dia yang semula menyayangiku sebagai sahabat, kini berbalik membenci karena hal ini.
****
Pagi
Pagi ini Dena sudah bangun, dia bahkan sudah membelikanku nasi uduk Mbak Arum dari depan rumah kosan. Katanya nasi uduknya ini beda banget dari tempat lain, gak ada yang bisa kalahkan rasa lezatnya nasi uduk mbak Arum.
“ aah beda apanya Den, orang rasanya biasa aja, yaaa enaknya lumayan siiih, gak hambar-hambar amat..” kataku mengomentari nasi yang sedang ku makan
“ yeee orang enak kayak gini kok di bilang lumayan…”
“ tapi kayaknya ….bukan nasinya yang beda nih..”
“ apanye emang ?”
“ yang beda yaa mbak Arumnya..iya kan ??”
“ hehehe…..iyyya…kok lo tau aje sih…”
“ heemmm ama gw sih kebaca, lo kan demen sama cewe yang montok bohai kayak mbak Arum itu..” sahutku seraya menunjuk ke arah warung mbak Arum yang kelihatan dari teras tempat kami duduk menikmati nasi uduk.
“ hehehe ….ngarti dah lo sekarang..”
Kami melanjutkan makan nasi sampai benar-benar habis, setelah itu, kami bersama-sama mencuci piring bekas makan di dapur.
“ eh Dam, emangnye kosan lo kenape sih , kok lo bisa-bisanye pindahan malem-malem begitu..”
“ gak kenapa-napa sih, gw baru sempet keluar kosan malem-malem, siangnya gw sibuk banget kemaren..”
“ trus kenape lo mau pindah kosan lagi ? “
“ gak enak Den, di sana berisik sama tetangga sebelah…soalnya campur sama kontrakan keluarga…jadinya banyak anak kecil deh yang suka nangis melulu..risih gw..berisik” jawabku sedikit berbohong
“ ooh…trus….lo mau ngekost dimane sekarang ? soalnye kata ibu kost di sini tadi, lo gak boleh nginep lagi di sini, kecuali lo bayar juga..”
“ emang sehari dua hari gak boleh juga?”
“ bolehnye Cuma sehari, hari selanjutnya lo bayar perharinye”
“iya ntar gw bayar, ..Emang di sini berapa harga sewa sebulannya sih ?”
“ gope..!”
“ hah gope??? Buset dah, mahal amat..”
“ iye makanye mahal banget kan, tapi yaa worthed lah, orang di sini tiap kamar mandinya aje di pake Cuma buat 3 kamar, keamanan juga terjamin karna selalu dijagain satpam tuh di depan, kosannye juga bersih, gak berisik, deket ke jalan raya lagi..lengkap deh..”
“ gak ah…gw gak mau, gak sanggup…lagian gw gak punya uang banyak buat bayar segede itu…”
“ nah lo kan katanye udah dapet kerjaan baru, gajinya lebih gede lagi..”
“ iyaaa..tapi itu kayaknya gak jadi…gw..gak sreg sama tempatnya…tau lah ribet..”
“ ya elaah gimana sih…kesian bener…trus lo mau kerja ape sekarang??”
“ gak tau lah Den….mungkin gw bakal pulang kampung dulu kali ya…suntuk gw di Jakarta..”
“ ya udeeh, lo jangan kuatir, ntar gw bantuin lo cari kerjaan lagi…lo pulang kampung aje, ntar kalo udeh ada lowongan gw kasih tau..okeh ?! ”
“ iya makasih Den, lo emang temen gw paaaling baek..tapi , gw nitip tas-tas gw dulu ya di kosan lo…berat gw Den bawa-bawa itu..”
“ iyee siip lah..”
****
Kalau saja kemarin tidak ada kasus pencemaran nama baikku, mungkin aku hari ini sudah berada di resto fried chicken milik mas Sultan dan Zein, rencananya memang hari ini adalah hari pertama training untuk para karyawan, mulai dari supervisor sampai ke tukang nyapu dan cuci piring.
Tapi sekali lagi, hal itu sekarang tak akan menjadi kenyataan, mas Sultan sudah menyuruhku pergi dan jangan muncul di depan mukanya lagi, rencana awal yang indah buyar sudah, gaji dan posisi yang lebih baik ternyata tak kesampaian, entah apa mas Sultan memikirkan tentang posisiku itu atau tidak, tapi yang jelas dia dan Zein kesulitan mencari orang yang mau di gaji segitu kecil untuk kerjaan besar.
Berlama-lama di dalam kamar Dena ternyata sumpek juga rasanya, ingin aku main ke resto lagi tuk menumpahkan kerinduanku pada teman-teman lama. Kata Dena, hari ini Alex ijin untuk tidak masuk karena besok sabtu akan jadi hari pernikahannya.
“ Den, gw ke resto dulu ya, lo mau ikut gak ?”
“ gak ah, lo aje gih, gw mau nyuci nyetrika ..”
“ oke deh, ….gw cabut dulu ya..”
Hanya butuh 10 langkah kaki saja untuk bisa sampai ke komplek perkantoran resto, jarak kosan Dena memang paling dekat di antara kosan teman-teman resto karena letaknya tepat berada di samping komplek perkantoran dimana resto berada.
Setelah masuk melewati pos security, aku langsung dihadapkan oleh pepohonan rindang nan menjulang yang menaungi komplek asri ini, angin yang bertiup juga sepoi-sepoi menggoyangkan setiap dahan-dahannya, belum lagi taman-taman kecil yang berada di depan gedung terlihat indah dan menyejukkan mata, hal-hal seperti inilah yang membuatku betah kerja berlama-lama di area ini, sejuk, rindang dan asri.
“ Adam!!” teriak seseorang dari arah sampingku ketika aku mau masuk ke penjagaan security yang ada di depan gedung.
Aku menoleh dan ternyata ada mas Ando yang berseragam kaus gym, aku menghentikan langkah dan menyunggingkan senyum manis ke arahnya, diapun terus mendekatiku
“ mau kemana Dam?”
“ ke resto..”
“ mau ngapain ?”
“ main aja mas..”
“ ooh ….kok kamu gak kerja ?…”
“ mmm…belum mas”
“ kenapa?”
“ ceritanya panjang mas..”
“ panjang ? sepanjang apa ..kasih liat doonk lagi pengen yang panjang-panjang nih...hehe”
“ halah…. malah ngawur…”
“ hehe…jadi kamu belum kerja nih ?”
“ belum mas..”
“ emm …kita ngobrol di gym aja yuk..”
“ nanti deh mas mau ke resto dulu..”
“ sekarang ajaaa..kalo nanti malah saya sibuk..”
“ oh gitu…ya udah yuk”
Akhirnya perjalananku menuju restopun dibajak oleh mas Ando, tak tahu dia mau bicara tentang apa tapi sepertinya dia cukup antusias melihatku berada di sekitar komplek ini.
****
Di GYM
“ oooh jadi begitu ceritanya…” kata mas Ando setelah ku ceritakan panjang lebar tentang batalnya rencanaku kerja di tempat lain, tapi yang jelas aku menyamarkan bagian cerita tentang ke-gay-an ku.
“ trus kamu sekarang lagi gak punya kerjaan ?”
“ iya mas..”
“ emmm begini Dam..saya punya kerjaan buat kamu, posisi ini mungkin gak semenarik jabatan yang batal itu, tapi gajinya gak jelek-jelek amatlah, malah kamu bisa makan sehari-hari hanya dari uang tips..gimana tertarik gak ?”
“ apa sih mas kerjaannya ?”
“ captain …di kantin sehat gym ini..mau ?”
“ wah di kantin sehat ini mas???”
“ iya …mau gak ?, nanti kamu juga malah bisa main alat fitnes dengan gratis di luar jam kerja ”
“ boleh boleh mas..boleh..saya malah seneng kalo kerja di gym kayak begini..”
Aku sangat antusias sekali mendapat penawaran dari mas Ando ini, bagiku ini adalah sebuah rezeki yang tak terduga dari Tuhan, setelah aku batal mendapatkan posisi supervisor itu aku mendapatkan kerjaan yang lebih menarik lagi dari segi tempat kerjanya, karena selain bisa kerja, aku juga bisa mencicipi alat-alat fitness secara Cuma-Cuma.
“ oke…kalau kamu mau, kamu harus mulai kerja hari ini..nanti saya siapkan kontrak kerjanya ”
“ gapapa mas…saya mau kok langsung kerja hari ini ”
“ Cuma..!”
Aku terdiam
“ Cuma apa mas?”
“ kamu… harus tahan godaan dari para member ”
“ aah jangan kuatir mas, saya bisa jaga diri kok..” sahutku sedikit sombong karna saking senangnya
“ jangan salah……kamu mungkin bisa tahan dari godaan member perempuan….taaaapiii…kamu akan kesulitan menahan ajakan-ajakan dari member laki-laki, terutama om-om yang berdompet tebal atau member yang penampilannyaa …sempurna!…bisa-bisa kamu jadi gay nanti, di sini banyak lho gay nya ” kata mas Ando menakut-nakuti
Aku terdiam sebentar, ku pikir ini adalah penawaran yang menarik tapi godaannya mungkin juga akan selalu menarik-narik birahiku nanti, aku harus bisa menahan godaan-godaan yang akan datang padaku agar aku tetap profesional dalam bekerja, tak mungkin aku menjalani profesi double dalam sekali waktu, bisa-bisa malah kedokku akan terbuka lebar ke keluargaku nanti, malu lah aku.
“ gapapa mas…saya siap…bekerja dengan profesional..” jawabku mantap
“ oke sip..bagus ! berarti kamu udah siap menerima tantangan-tantangannya ”
" iya mas..!"
Galau karena masih mencintaimu (Cerita gay) Part 19
Part 19 : Why u do this to me ?
GYM
Siang ini adalah hari terakhirku menjadi member di gym. Tak terasa sudah 3 bulan lamanya aku menjalani hari-hari melelahkan sebagai member di gym ini, kini aku harus mengakhiri keanggotaan tersebut pada hari ini juga dan kembali menjalani hari seperti biasa lagi seperti dulu lagi, kalaupun aku masih ingin tetap bugar seperti ini aku harus mengupayakan kebugaran itu di luar gym, karna sudah pasti aku tak akan mampu membayar keanggotaan di gym yang mahal ini.
Terima kasih sekali kutujukan pada Alex yang telah memaksaku tuk ikut mendaftarkan diri meski uang membernya dia yang menanggung. Akan tetapi ucapan terima kasih ini hanya bergaung di dalam hati saja karna tak mungkin aku mendatangi Alex lagi tuk mengucapkan hal itu. Aku sudah cukup kapok dengan tindak tanduknya yang diluar perkiraan, dia bisa berbuat apa saja tanpa bisa ku tebak.
Seperti yang baru saja dia lakukan 2 hari yang lalu, saat aku menjenguknya di rumah sakit,secara tak terduga dia mulai bertindak gila dan aneh dengan memegangi pergelangan tanganku dengan kuat dan tak mau melepaskan tanganku tuk pergi.
Selain itu aku juga tak mengira sama sekali karna dengan mudahnya dia membuka rahasia hubungan kami berdua pada Siti si ratu nyablak, padahal itu adalah hal yang sesungguhnya sangat rahasia buat kami, aku selalu berusaha menjaganya agar tak boleh ada orang yang tahu tentang ini apalagi Siti.
Huft ..ada-ada saja, andai saja Alex tak aneh seperti itu aku masih mau memaafkannya dan aku masih mau jadi sahabatnya meski dalam perjalanan hubungan kami sebelumnya sudah diwarnai dengan banyak percekcokan, perselisihan dan kesalahpahaman.
“ Dam, kamu mau latihan atau bengong aja??” kata mas Ando yang masih berdiri mematung di dekatku.
“ hehehe maaf mas, saya belum on..” sahutku
“ belum on ?... kamu treadmill dulu sana, biar semangat..”
“ tadi udah mas, tapi masih belum semangat juga nih, mungkin di guyur air dulu baru bisa semangat kali ya mas ?!”
“ ya terserah kamu lah, kan kamu yang tau gimana caranya biar bisa semangat, soalnya sayang lho ..kan hari ini hari terakhir kamu jadi member, lebih baik kamu manfaatin bener-bener ”
“ oke deh, saya mau ke loker dulu, barangkali dengan mandi bisa lebih semangat ya”
“ mandi aja ya, jangan yang lain..hehe”
“ yee emangnya mau ngapain ?!”
Aku bangkit dari bangku kecil dan menuju ruang loker yang tempatnya tak jauh dari hall utama latihan. Setibanya di pintu masuk, ada tiga member yang sedang berbincang-bincang di tengah jalan, nampaknya obrolan mereka serius, sampe-sampe mereka tak sadar bahwa jalanan tertutup oleh mereka, susah buat orang tuk melewati mereka.
“ maaf mas permisi!” kataku
“ oh ya..silahkan silahkan..” sahut salah seorang di antaranya yang badannya lumayan berotot dan berwajah lumayan manis
Aku melewati mereka dengan mengucapkan kata permisi dan agak membungkukkan diri , akan tetapi setelah itu aku merasa bahwa mata laki-laki si penyahut masih mengikutiku sampai ke depan lokerku.
Aku menoleh dengan cepat ke arahnya dan benar saja dia memang tertangkap basah sedang memperhatikanku, dia pun seperti kelimpungan karna malu dan langsung manggut sekali sambil dibarengi dengan senyuman manis.
“ aah ada ada aja..” batinku
Aku mulai melepaskan baju dan celana olahragaku dan menaruhnya di dalam loker dengan baik, kemudian aku mengambil sebuah handuk dari dalam loker dan segera kulilitkan ke pinggangku. Si penyahut tadi ternyata masih mencoba melirik ke arahku tapi aku tak mau menanggapinya, aku mau langsung mandi.
Setelah masuk ke bilik shower, aku mulai mengucurkan air dan mandi seadanya, hanya memakai sabun tapi tak pakai shampoo, karna aku hanya ingin menaikkan semangatku saja yang tak juga terbakar sedari tadi.
Brrrrr…ternyata dingin juga airnya, kalo begitu kuputar saja kran air panasnya agar nanti tercampur menjadi air yang hangat.
Ku oleskan shower gel murah meriah yang ku beli di swalayan ke badanku yang sudah lumayan jadi. Otot dada, bicep dan trisep terlihat lebih besar 2 x lipat dibanding dengan keadaan ototku sebelum aku mendaftar di gym, apalagi otot bahuku yang terlihat sudah 3 x lebih naik dibanding dengan ototku yang dulu.
Lalu ku oleskan shower gel ke bagian perutku yang sudah mulai rata tapi belum kentara packs nya, buncit yang dulu kupunya sudah pergi menghilang entah kemana, bulu-bulu halus dekat pusar masih menjadikan tubuhku terlihat sexy, kulitku juga makin sehat karna terlihat lebih terang dan lebih bersih dari sebelumnya.
Kubasuh semua gel yang menempel di tubuh dengan air hangat dan kuselesaikan aktifitas mandiku dengan segera. Ku ambil handuk dan ku keringkan semua bagian tubuhku yang basah. Setelah beberapa saat menikmati mandi di bawah shower, badanku jadi lumayan terasa segar dari sebelumnya dan kini aku semakin semangat dan bergairah kembali tuk latihan di hari terakhir ini.Ku lilitkan handuk dipinggangku dan bersiap keluar bilik.
Setelah diluar bilik, ternyata 3 orang tadi sudah bubar, hanya si penyahut tadi saja yang masih duduk di bangku panjang depan kaca besar, dia sedang merogoh-rogoh tas fitness berwarna kuning sambil bertelanjang dada.
Aku menuju lokerku, ku buka kuncinya, dan segera ku ambil pakaian gymku kembali, aku mau segera memakainya tapi laki-laki itu terus saja menatapku melalui kaca besar, aku jadi merasa risih diperlakukan seperti itu.
Buru-buru saja kupakai lagi pakaianku sambil tetap menjaga agar daerah vitalku tak tersingkap sedikitpun.
“ badannya bagus banget mas, udah latihan berapa lama?” katanya tiba-tiba mengagetkanku
Aku menoleh ke arahnya ternyata memang dia sedang berbicara padaku
“ hah bagus ??? enggaklah…badan mas yang bagus tuh..” sahutku dengan jujur
Badan laki-laki itu memang lebih bagus dariku, ototnya sudah terpahat semua dan kalo orang-orang gym bilang, ototnya sudah kering banget, mungkin persentase lemak ditubuhnya sudah sedikit banget.
“ haha…masa..kok malah jadi mas muji saya..”
Aku tersenyum sambil terus memakai celana olahragaku kembali.
“ udah member berapa lama di sini mas ?” tanyanya lagi
“ mmh dah 3 bulan..”
“ ooh..”
“ kalo mas udah berapa lama ?” tanyaku basa basi
“ saya sudah hampir 2 minggu di sini..sebelumnya saya lama di Fitness First”
Dia berdiri dan berjalan mendekatiku, matanya tak lepas dari menatap tubuhku, tangannya direntangkannya padaku dan mulai memegangi otot lenganku
“ nah ini bagus lho, bisepnya dah mantap, trisepnya dikit lagi juga jadi” katanya basa basi
“ ah mas bisa aja..”
“beneran lho…malahan saya kepengen kayak begini..” dia terus menekan-nekan lenganku
Menyadari situasi sudah mulai tidak enak, aku jadi berfikir tuk segera keluar dari sini…
“ ooh gitu…oke deh mas, saya mau latihan dulu..” kataku sambil pamit membungkukkan diri
“ lho..mau latihan lagi? Bukannya tadi udah mandi ?”
“ tadi mandi biar seger aja kok mas, latihannya sih belum..”
“ ooh gitu…”
“ permisi mas..”
Aku meninggalkannya di belakangku, dia masih saja menatapku walaupun sudah mau menuju pintu keluar.
***
Pukul 14:30
Setelah 2 jam latihan di gym, aku sudah merasa lelah sekali, berbagai macam alat kupakai dengan cukup intensif, hari terakhir ini kupakai untuk memantapkan otot dada dan bahu, ditambah dengan sedikit memainkan dumbell untuk menguatkan pondasi otot lenganku, semuanya ku gunakan sampai tenagaku terkuras semuanya, aku merasa puas sekali bisa all out di hari terakhir ini, mudah-mudahan otot yang sudah terbentuk pada hari ini akan bertahan setidaknya 4-5 hari ke depan.
Jam di hape masih menunjukkan pukul 2: 30 siang, aku masih malas tuk pulang langsung ke kosan, aku ingin menengok teman-teman di resto dulu tuk melepas kangen yang sudah menggelayuti sedari kemarin.
Resto
Kulihat di depan pintu masuk resto, ada Farah, Siti dan Nia yang sedang ngobrol serius dan tak menyadari bahwa aku sedang mendekat ke arah mereka, lalu si Siti tiba-tiba menoleh ke arahku, dan dia histeris kegirangan…
“ Aarrgghh..Adaam…! ” buru-buru Siti mendekati dan mau menerjangku, aku mencoba menghindarinya tapi dia mengikuti kemanapun arahku
“ ya elaah Adam lo belagu amat sih sama gw” katanya berpura-pura ngambeg
“ abisnya lo mau main serang aja ..” sahutku
“ hehehe gw kangeeeen tauuuk..” katanya sambil mencubiti pipiku dengan kedua tangannya
“ Aaargh …sakiiiit…,rese lu ya…. malu tau diliatin orang…” kataku sambil memijit-mijit pipi
“ iye..iye..eh masuk nyok, kite ngobrol di dalem, pak Alex kan udeh masuk lagi ...”
“ hah…dah masuk ? cepet amat sembuhnya”
“ iye..tapi die sih masih di dalem kantor aje, gak mau keluar, malu sama mukanye yang bonyok katanye..”
“ ooh..”
“ dah yuk temuin die!” tangan Siti menarik-narikku
“ ah enggak ah…di sini aja..” aku mempertahankan posisi berdiriku dari tarikannya
“ nape seh??”
“ nape..nape…lo tau sendiri deh alasannya ...”
Siti diam sebentar , dia mungkin sedang menggali memorinya tentang kejadian dulu di rumah sakit.
“ ooh itu…iye iye..gw ngerti ..aah itu sih cuekin aje deeh..yang penting lo masuk aje nyok…”
“ kagak..!!” tegasku sambil memelototinya
Lalu aku melihat Farah dan Nia sang pelayan lainnya masih saja sibuk ngobrol, kesannya mereka tak begitu peduli dengan kedatanganku.
“ itu si Farah lagi ngobrol apa sih sama Nia? Serius amat..” tanyaku
“ ah biasaa..ngobrolin tamu ganteng yang biasa langganan di kite..”
“ tamu ganteng ? yang mana ?” tanyaku penasaran
“ yang mane lagi…yang biasa lo orderin laaah..”
“ ooh ituuu..Pak Sultan namanya..”
“ nah lo tau tuh namanye..jangan-jangan lo dah kenalan yeee…dah tuker nomor hapenye lom? Hah hah hah…? ” selidiknya
“ udah doonk, gw dah tau namanya, gw tau nomor hapenya, en gw tau dimana dia tinggal..keren kaan??!!” candaku
“ Aaarrgh yang bener lo?? Asik asik. ..eh tapi…kok lo sampe minta-minta gitu sih…jangan..jangaaan lo juga suka yeee sama die …ayooo ngaku…! ” ledeknya
“sialan lo ....lo kira gw homo akut apa….sembarangan aja ngomong…kedengeran yang laen awas lo ya..” balasku dengan sedikit mengacak-acak rambutnya
“ aduuh …sial lu…KDRT banget seh…” katanya sambil merapikan kembali rambutnya
“ biarin…biar tambah jelek deh tuh rambut…”
“ yeee sirik aje sama orang cantique..”
“alaaah cantik dari alam baka…..ya udah deh Sit…gw balik dulu ya…gak enak lama-lama di sini..ntar Alex keluar lagi..”
“ yee biar aje..masa lo gak kangen sama bf elo..xixixi” ledeknya lagi
Aku memelototinya dalam-dalam agar dia tahu bahwa dia harus berhenti menggodaku, karna aku takut jika dia tidak berhenti maka yang lain akan mendengar ocehannya.
“ hehehe iye iye Daam, gw ngerti, gak usah melotot gitu juga kale…ntar copot lho mata lo…dah sono pegi..pegi yang jauuuh..”
“ sial lu…”
****
Kosan sore hari.
Pada pukul 3 sore, aku akhirnya telah kembali ke kosan, hanya saja aku belum masuk ke dalamnya, aku keburu dengar suara pak Luthfi yang sedang berteleponan serius di dalam kamar. kedengerannya Pak Luthfi sedang ngobrol dengan seseorang yang sepertinya mas Sultan. Mereka nampaknya sedang beradu argumen dengan sengit sekali, tapi apa topik pembicaraan mereka aku tak tau pasti, suaranya kadang keras kadang kurang jelas.
“ itu udah lama naak, bapak pun dah minta maaf sama kamu, tapi kalo permintaan kamu seperti itu, bapak gak bisa lakuin, kan kasian …., …. udah sama-sama…., lagi masa-………….”
Begitulah sedikit penggalan ucapan Pak Luthfi yang terdengar, beberapa memang kurang jelas ku dengar karna terhalang daun pintu yang lumayan tebal.
TOK TOK TOK
Aku memutuskan tuk mengetuk pintunya saja, ku merasa tasku ini sudah keberatan ku panggul di punggung belakang.
Pak Luthfi lantas membuka pintunya, dia masih menempelkan hape di telinganya lalu memberiku kode tuk segera masuk saja dan menutup pintu.
Setelah masuk, aku langsung mengeluarkan baju-baju basah dari dalam tas dan berniat menaruhnya di keranjang kotoran bekas pakai. Tapi selama itu pula, aku mendengar Pak Luthfi masih beradu mulut dengan penelpon yang ternyata memang benar itu adalah mas Sultan.
“ Aaah dasar anaaak..anaaak…udah gede malah makin ngelawan ..dari kecil di sayang-sayang eeh sudah besar malah begitu…” gumam Pak Luthfi setelah telponnya terputus
Aku memperhatikannya, dia membaringkan diri di atas ranjang sambil mengurut-urut kepalanya yang mungkin sedang pusing.
“ yaaa sabar aja pak, mungkin dia lagi ada masalah di kantor, makanya uring-uringan..” sahutku berusaha menenangkannya
“ mungkin saja…lagian biasanya kalo telponan sama bapak, dia santun dan gak berapi-api begitu kok”
Aku manggut-manggut saja, aku tak ingin menanggapi lebih jauh atau bahkan menanyai perihal apa dia dan mas Sultan beradu mulut tadi, aku tak ingin mencampuri urusan mereka, aku sadar aku bukan bagian dari keluarga, biar mereka saja yang menyelesaikannya sendiri.
Pak Luthfi duduk termenung di atas ranjang, matanya mengarah ke lantai yang tak berobjek, jelas sekali dia sedang melamun memikirkan sesuatu hal. Sementara aku masih membereskan tas fitnesku dengan baik ke lemari, hari ini adalah hari terakhirnya bertugas menemaniku pergi ke gym.
“ ini sebenarnya memang salah bapak sih, bapak gak bisa jadi bapak yang baik buat dia..bapak udah kecewain dia ” katanya lesu
“ emangnya bapak dah ngelakuin apa sih kok sampe nyalahin diri sendiri gitu?”
“ lho...kamu emang belum tahu cerita tentang bapak?”
“ tau apa sih pak ?” dahiku mengkerut
Mata Pak Luthfi terpaku padaku, “ bener.. kamu gak tau tentang bapak ?” lanjutnya
“ enggak…”
“ si Sultan gak cerita ?”
“ enggak”
“ ato si Zein mungkin ?”
“ mmh enggak, dia sih waktu itu Cuma cerita sedikit tentang mas Sultan, tapi gak banyak, ada beberapa yang saya gak boleh tau katanya..biar si mas Sultan aja yang cerita”
“ oh..gitu ….”
Aku jadi penasaran dengan Pak Luhtfi sebenarnya, ada hal rahasia apa hingga dia dan mas Sultan terkesan misterius begini
“ emang bapak itu gimana orangnya ?” tanyaku
“ emmm…bapak itu yaaa orang biasa aja, sama kayak orang lain..”
“ ooh…”
“ Cuma…. ada hal lain tentang bapak yang tidak lazim dipunyai setiap laki-laki…tapiii, biar itu si Sultan saja yang cerita, bapak gak mau dia marah-marah kalo bapak akhirnya buka mulut ke kamu..”
“ lho kok gitu…..dikirain bapak mau ceritain ke saya langsung”
“ enggaaak…bapak gak berani, nanti si Sultan malah marah besar lagi”
Aku bengong saja mendengar penjelasannya, bagiku jawaban Pak Luthfi hanya membuatku jadi bertambah penasaran saja, penasaran apa yang dimiliki pak Luthfi saat ini, padahal tadinya aku sama sekali tak ingin tahu menahu tentang dirinya.
****
Pukul 18: 10
Setelah selesai menunaikan ibadah sholat maghrib bersama Pak Luthfi sebagai imamnya, aku merapikan kembali sajadah-sajadah dan sarung yang kami gunakan. Bagiku ini adalah hari kesekian kali aku menunaikan sholat bersama Pak Luthfi, ternyata bacaan surat-suratnya indah juga terdengarnya di telingaku.
“ kok Si Sultan belum pulang juga ya dek?” tanya Pak Luthfi
“ masih sibuk ngerjain tugasnya di kantor kali pak..”
“ mungkin aja ya..!”
“ iyalah…..emangnya kenapa pak, Bapak lapar ya? Mau makan apa, biar saya yang beliin nanti..”
“ iya dek, dari tadi perut bapak udah kosong hehe..” katanya sambil memegangi perut
“ bapak mau beli nasi goreng ?, kan lumayan deket tuh jualannya, di depan situ kok”
“ ya udah boleh..apa aja yang penting perut bapak di isi..”
“ oke bentar ya pak, saya beliin dulu..tapi kalo bapak udah gak tahan, buka aja roti yang ada dikulkas ”
“ roti punya siapa?”
“ saya yang beli kemarin ..”
Aku pergi keluar kosan tuk mencari gerobak nasi goreng yang biasa mangkal di dekat kosan, tak jauh jaraknya, hanya sekitar 10 meter saja dari kosan.
Sesampainya di tukang nasi goreng, gerobaknya ternyata sudah di kerumuni oleh 3 orang pembeli, dan aku harus menunggu sampai 6 pesanan selesai di buat.
“ bang pesen nasi goreng 3 ya, semuanya jangan pedes-pedes banget..” kataku pada tukangnya
“ oke mas, duduk aja dulu di kursi..”
Aku kemudian duduk di kursi plastik yang disediakannya, sambil menunggu pesananku jadi, aku mengutak-atik hape TV chinaku.
***
“ ini mas , 3 nasi goreng gak terlalu pedes semuanya..” kata tukang nasi goreng beberapa saat kemudian
“ berapa mas?”
“ semuanya jadi 24 ribu”
Aku merogoh uang di saku celanaku, kudapati uang 25 ribuan lalu ku serahkan padanya dan dia mengembalikan kembaliannya secepat kilat.
“ ini mas kembaliannya..”
“ wiss ….cepet amat mas..”
“ hehe di kejar pelanggan mas..makasih ya”
“ sama-sama”
Kemudian aku kembali lagi menuju kosan, sepertinya mas Sultan sudah tiba di rumah karna saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 18:40.
TOK TOK TOK
Pintu di buka dari dalam, Pak Luthfi lagi yang membukanya
“ mas Sultan udah balik pak ?”
“ udah, tapi dia lagi mandi sekarang.”
“ ooh,…. nih pak nasi gorengnya..”
“ iya makasih ya dek..”
Pak Luthfi dengan sigapnya langsung mengambil piring 3 untuk kami, kemudian dia membuka satu bungkus buat dia..
“ ayo di makan bareng-bareng dek..mumpung masih anget”
“ iya pak, nanti saya tunggu mas Sultan aja..”
“ eh iya, ini pake duitnya siapa ?”
“ pake uang saya pak..emangnya kenapa?”
“ duh jadi gak enak, nanti saya ganti deh dek..”
“ gak usah pak, biar aja..”
“ udaah gapapa, kamu kan juga masih butuh uang tuk biaya hidup di sini..”
“ hehe gapapa lah pak, biar saya beramal dikit..”
KREK
Tiba-tiba pintu di buka dari luar, mas Sultan muncul dari baliknya, dia ternyata sudah mengenakan baju dengan lengkap dan menaruh handuknya di bahu. Aneh, biasanya kalau sehabis mandi dia masuk kamar dengan melilitkan handuk di bagian pinggangnya tanpa mengenakan baju sehelaipun.
Sekarangpun mukanya ditekuk, bibirnya tertutup dan matanya terlihat tak bersahabat, sesaat dia menatapku tadi dengan tajam dan aku sempat mencium sesuatu yang tidak menyenangkan dari caranya memandangku.
“ eh mas Sultan, dah mandi ya? Makan dulu nih, tadi saya beliin nasi goreng di depan..” kataku basa basi
Tapi bibirnya tetap saja tertutup, dia tak merespon ucapanku yang jelas-jelas lumayan terdengar keras . Dia malah sibuk membereskan baju kotornya dan melihat-lihat lemari yang nyata-nyata sudah rapi.
“ nyari apa sih mas?” tanyaku lagi
Kemudian tiba-tiba dia berpaling menatap Pak Luthfi
“ gimana pak, udah buat keputusan ?” tanyanya
“ keputusan apa sih naak?? “
“ ya tentang itu laaah, mana ada lagi hal lain..dari dulu juga itu permasalahannya..gak selesai-selesai juga”
“ Bapak kan udah jelaskan tadi, …bapak gak akan tinggalkan dia, kami sudah sama-sama tua …kasian dia kalo bapak tiba-tiba pergi meninggalkan dia karna memang kami sudah sangat sehati, lagipula pasti suatu saat salah satu dari kami akan butuh pertolongan.. butuh sesuatu !” jawab pak Luthfi sambil menghentikan makannya
“ Ya udah….kalo bapak gak mau ikutin apa kata-kata saya…bapak gak perlu ke sini lagi …saya gak mau ketemu sama bapak lagi !!” tegas mas Sultan
“ lho…kok begitu sih nak…kamu tega berbuat seperti itu sama bapak… Bapak kan gak punya keluarga lagi selain dia dan kamu…!”
“ TERSERAH !! Cuma itu pilihannya, bapak tinggalin dia atau bapak tinggalin saya..saya udah capek , saya udah muak sama ini semua!!” tegas mas Sultan lagi
Aku yang berada di tengah kemelut mereka jadi serba salah, mau menghindar tapi ragu tuk bergerak, mau bergerak takut jadi salah, jadinya aku merasa seperti batu di tengah deras arus sungai, hanya bisa menyaksikan percekcokan mereka dengan diam membisu.
“ Bapak gak nyangka kamu jadi keras seperti ini..keluarga kita gak ada yang kayak begini , semuanya lembut dan penuh kasih sayang..” kata Pak Luthfi
Lalu mas Sultan tiba-tiba jadi agak emosi, nada suaranya meninggi seketika..
“ Sebenarnya bapak tau gak sih isi hati saya..hah ???!...bapak jangan nurutin ego bapak aja doonk…apa bapak gak malu kalo lagi kumpul-kumpul sama keluarga besar…bapak selalu diomongin yang jelek-jelek…malu pak maluuu…”
“ biar saja…bapak gak peduli…toh bapak gak merugikan mereka …lagipula…memang imej bapak selalu jelek di hadapan mereka kok..”
“ ya itu karna bapak udah pilih jalan yang salaaah…jalan yang gak biasa…”
“ emangnya apa yang salah dengan jalan yang bapak ambil sih ??? ini pilihan hidup bapak, gak ada orang lain yang berhak ngatur-ngatur hidup bapak..termasuk keluarga besar sekalipun!, bapak yang jalani , bapak yang ngerasain..” kata Pak Luthfi dengan mata yang mulai berubah merah karena emosi.
“ AARGH..bapak ini…kalo dibilangin soal masalah ini ada aja alasannya…CAPEK SAYA..!!” kata mas Sultan sambil membanting pintu lemari
Suasana makin menegang saja setelah mas Sultan naik emosinya, aku yang berada di tengah-tengah mereka jadi ikutan gerah dan panass, nampaknya angin api neraka sedang melewati kamar ini.
Aku memperhatikan mas Sultan yang sedang emosi, wajahnya kelihatan tegang sekali nampaknya dia pusing dengan masalah yang dihadapinya, rambutnya di jambakinya dengan kuat.
“ NAK..!, kamu jangan terlalu memikirkan apa-apa yang dikatakan orang lah, itu hanya memperkeruh suasana hati kamu saja..lebih baik kita jalani hidup kita sendiri biar lebih terasa tenang ” kata Pak Luthfi
“ iya maas, lebih baik kita mikirin hidup kita sendiri aja…” kataku mulai ikut campur
“ DIAM KAMU DAM, !! JANGAN IKUT CAMPUR URUSAN KELUARGA SAYA, KAMU JUGA TERNYATA SAMA AJA KAYAK BAPAK SAYA..! GAK BEDA… SAMA-SAMA MENJIJIKKAN..!!!”
DEG….!! !
“ Hah…! Mas Sultan.. ..kok jadi tega gitu..salah gw apa..” batinku
Aku shock, detak jantungku berhenti, tubuhku terasa lemas mendengar dia membentakku , tak kusangka dia tega menghinaku dengan kata-kata sekeras itu.
“Astaghfirullaah…!! SULTAN..! mulut kamu kok jadi sadis begitu…!! tega kamu ya bilang gitu sama teman kamu sendiri..” pekik pak Luthfi sambil melotot
“ KENAPA?? SALAH…KALO SAYA BILANG DIA MENJIJIKKAN?? BERSEMBUNYI DI BALIK TOPENG , PADAHAL WAJAHNYA LEBIH BURUK DARI ITU…”
“ lho emangnya kenapa dengan si Adam siih?? apa salah dia…?” Pak Luthfi terus menerus membelaku
Aku masih tak berkata-kata, aku masih tak mampu merespon omongan pedas mas Sultan, aku shock dan sedih karna kata-katanya sudah menyakiti hatiku.
“ DIA ITU ……………..” mas Sultan mengambil nafas dan memperhatikanku dulu, jari telunjuknya mengarah kepadaku, nampaknya dia sudah siap menembakkan peluru tajam ke arahku
“ DIA ITU….HOMO!!”
" APA...!!!" pekik hatiku
Mataku membelalak terkejut atas tudingannya, kali ini nafasku yang terhenti mendengarnya , sesak rasanya ketika orang yang slama ini kusuka tiba-tiba menudingku dengan kasar, ada perasaan tak terima dengan perkataannya tapi ada juga perasaan pasrah karna hal ini memang benar adanya.
GYM
Siang ini adalah hari terakhirku menjadi member di gym. Tak terasa sudah 3 bulan lamanya aku menjalani hari-hari melelahkan sebagai member di gym ini, kini aku harus mengakhiri keanggotaan tersebut pada hari ini juga dan kembali menjalani hari seperti biasa lagi seperti dulu lagi, kalaupun aku masih ingin tetap bugar seperti ini aku harus mengupayakan kebugaran itu di luar gym, karna sudah pasti aku tak akan mampu membayar keanggotaan di gym yang mahal ini.
Terima kasih sekali kutujukan pada Alex yang telah memaksaku tuk ikut mendaftarkan diri meski uang membernya dia yang menanggung. Akan tetapi ucapan terima kasih ini hanya bergaung di dalam hati saja karna tak mungkin aku mendatangi Alex lagi tuk mengucapkan hal itu. Aku sudah cukup kapok dengan tindak tanduknya yang diluar perkiraan, dia bisa berbuat apa saja tanpa bisa ku tebak.
Seperti yang baru saja dia lakukan 2 hari yang lalu, saat aku menjenguknya di rumah sakit,secara tak terduga dia mulai bertindak gila dan aneh dengan memegangi pergelangan tanganku dengan kuat dan tak mau melepaskan tanganku tuk pergi.
Selain itu aku juga tak mengira sama sekali karna dengan mudahnya dia membuka rahasia hubungan kami berdua pada Siti si ratu nyablak, padahal itu adalah hal yang sesungguhnya sangat rahasia buat kami, aku selalu berusaha menjaganya agar tak boleh ada orang yang tahu tentang ini apalagi Siti.
Huft ..ada-ada saja, andai saja Alex tak aneh seperti itu aku masih mau memaafkannya dan aku masih mau jadi sahabatnya meski dalam perjalanan hubungan kami sebelumnya sudah diwarnai dengan banyak percekcokan, perselisihan dan kesalahpahaman.
“ Dam, kamu mau latihan atau bengong aja??” kata mas Ando yang masih berdiri mematung di dekatku.
“ hehehe maaf mas, saya belum on..” sahutku
“ belum on ?... kamu treadmill dulu sana, biar semangat..”
“ tadi udah mas, tapi masih belum semangat juga nih, mungkin di guyur air dulu baru bisa semangat kali ya mas ?!”
“ ya terserah kamu lah, kan kamu yang tau gimana caranya biar bisa semangat, soalnya sayang lho ..kan hari ini hari terakhir kamu jadi member, lebih baik kamu manfaatin bener-bener ”
“ oke deh, saya mau ke loker dulu, barangkali dengan mandi bisa lebih semangat ya”
“ mandi aja ya, jangan yang lain..hehe”
“ yee emangnya mau ngapain ?!”
Aku bangkit dari bangku kecil dan menuju ruang loker yang tempatnya tak jauh dari hall utama latihan. Setibanya di pintu masuk, ada tiga member yang sedang berbincang-bincang di tengah jalan, nampaknya obrolan mereka serius, sampe-sampe mereka tak sadar bahwa jalanan tertutup oleh mereka, susah buat orang tuk melewati mereka.
“ maaf mas permisi!” kataku
“ oh ya..silahkan silahkan..” sahut salah seorang di antaranya yang badannya lumayan berotot dan berwajah lumayan manis
Aku melewati mereka dengan mengucapkan kata permisi dan agak membungkukkan diri , akan tetapi setelah itu aku merasa bahwa mata laki-laki si penyahut masih mengikutiku sampai ke depan lokerku.
Aku menoleh dengan cepat ke arahnya dan benar saja dia memang tertangkap basah sedang memperhatikanku, dia pun seperti kelimpungan karna malu dan langsung manggut sekali sambil dibarengi dengan senyuman manis.
“ aah ada ada aja..” batinku
Aku mulai melepaskan baju dan celana olahragaku dan menaruhnya di dalam loker dengan baik, kemudian aku mengambil sebuah handuk dari dalam loker dan segera kulilitkan ke pinggangku. Si penyahut tadi ternyata masih mencoba melirik ke arahku tapi aku tak mau menanggapinya, aku mau langsung mandi.
Setelah masuk ke bilik shower, aku mulai mengucurkan air dan mandi seadanya, hanya memakai sabun tapi tak pakai shampoo, karna aku hanya ingin menaikkan semangatku saja yang tak juga terbakar sedari tadi.
Brrrrr…ternyata dingin juga airnya, kalo begitu kuputar saja kran air panasnya agar nanti tercampur menjadi air yang hangat.
Ku oleskan shower gel murah meriah yang ku beli di swalayan ke badanku yang sudah lumayan jadi. Otot dada, bicep dan trisep terlihat lebih besar 2 x lipat dibanding dengan keadaan ototku sebelum aku mendaftar di gym, apalagi otot bahuku yang terlihat sudah 3 x lebih naik dibanding dengan ototku yang dulu.
Lalu ku oleskan shower gel ke bagian perutku yang sudah mulai rata tapi belum kentara packs nya, buncit yang dulu kupunya sudah pergi menghilang entah kemana, bulu-bulu halus dekat pusar masih menjadikan tubuhku terlihat sexy, kulitku juga makin sehat karna terlihat lebih terang dan lebih bersih dari sebelumnya.
Kubasuh semua gel yang menempel di tubuh dengan air hangat dan kuselesaikan aktifitas mandiku dengan segera. Ku ambil handuk dan ku keringkan semua bagian tubuhku yang basah. Setelah beberapa saat menikmati mandi di bawah shower, badanku jadi lumayan terasa segar dari sebelumnya dan kini aku semakin semangat dan bergairah kembali tuk latihan di hari terakhir ini.Ku lilitkan handuk dipinggangku dan bersiap keluar bilik.
Setelah diluar bilik, ternyata 3 orang tadi sudah bubar, hanya si penyahut tadi saja yang masih duduk di bangku panjang depan kaca besar, dia sedang merogoh-rogoh tas fitness berwarna kuning sambil bertelanjang dada.
Aku menuju lokerku, ku buka kuncinya, dan segera ku ambil pakaian gymku kembali, aku mau segera memakainya tapi laki-laki itu terus saja menatapku melalui kaca besar, aku jadi merasa risih diperlakukan seperti itu.
Buru-buru saja kupakai lagi pakaianku sambil tetap menjaga agar daerah vitalku tak tersingkap sedikitpun.
“ badannya bagus banget mas, udah latihan berapa lama?” katanya tiba-tiba mengagetkanku
Aku menoleh ke arahnya ternyata memang dia sedang berbicara padaku
“ hah bagus ??? enggaklah…badan mas yang bagus tuh..” sahutku dengan jujur
Badan laki-laki itu memang lebih bagus dariku, ototnya sudah terpahat semua dan kalo orang-orang gym bilang, ototnya sudah kering banget, mungkin persentase lemak ditubuhnya sudah sedikit banget.
“ haha…masa..kok malah jadi mas muji saya..”
Aku tersenyum sambil terus memakai celana olahragaku kembali.
“ udah member berapa lama di sini mas ?” tanyanya lagi
“ mmh dah 3 bulan..”
“ ooh..”
“ kalo mas udah berapa lama ?” tanyaku basa basi
“ saya sudah hampir 2 minggu di sini..sebelumnya saya lama di Fitness First”
Dia berdiri dan berjalan mendekatiku, matanya tak lepas dari menatap tubuhku, tangannya direntangkannya padaku dan mulai memegangi otot lenganku
“ nah ini bagus lho, bisepnya dah mantap, trisepnya dikit lagi juga jadi” katanya basa basi
“ ah mas bisa aja..”
“beneran lho…malahan saya kepengen kayak begini..” dia terus menekan-nekan lenganku
Menyadari situasi sudah mulai tidak enak, aku jadi berfikir tuk segera keluar dari sini…
“ ooh gitu…oke deh mas, saya mau latihan dulu..” kataku sambil pamit membungkukkan diri
“ lho..mau latihan lagi? Bukannya tadi udah mandi ?”
“ tadi mandi biar seger aja kok mas, latihannya sih belum..”
“ ooh gitu…”
“ permisi mas..”
Aku meninggalkannya di belakangku, dia masih saja menatapku walaupun sudah mau menuju pintu keluar.
***
Pukul 14:30
Setelah 2 jam latihan di gym, aku sudah merasa lelah sekali, berbagai macam alat kupakai dengan cukup intensif, hari terakhir ini kupakai untuk memantapkan otot dada dan bahu, ditambah dengan sedikit memainkan dumbell untuk menguatkan pondasi otot lenganku, semuanya ku gunakan sampai tenagaku terkuras semuanya, aku merasa puas sekali bisa all out di hari terakhir ini, mudah-mudahan otot yang sudah terbentuk pada hari ini akan bertahan setidaknya 4-5 hari ke depan.
Jam di hape masih menunjukkan pukul 2: 30 siang, aku masih malas tuk pulang langsung ke kosan, aku ingin menengok teman-teman di resto dulu tuk melepas kangen yang sudah menggelayuti sedari kemarin.
Resto
Kulihat di depan pintu masuk resto, ada Farah, Siti dan Nia yang sedang ngobrol serius dan tak menyadari bahwa aku sedang mendekat ke arah mereka, lalu si Siti tiba-tiba menoleh ke arahku, dan dia histeris kegirangan…
“ Aarrgghh..Adaam…! ” buru-buru Siti mendekati dan mau menerjangku, aku mencoba menghindarinya tapi dia mengikuti kemanapun arahku
“ ya elaah Adam lo belagu amat sih sama gw” katanya berpura-pura ngambeg
“ abisnya lo mau main serang aja ..” sahutku
“ hehehe gw kangeeeen tauuuk..” katanya sambil mencubiti pipiku dengan kedua tangannya
“ Aaargh …sakiiiit…,rese lu ya…. malu tau diliatin orang…” kataku sambil memijit-mijit pipi
“ iye..iye..eh masuk nyok, kite ngobrol di dalem, pak Alex kan udeh masuk lagi ...”
“ hah…dah masuk ? cepet amat sembuhnya”
“ iye..tapi die sih masih di dalem kantor aje, gak mau keluar, malu sama mukanye yang bonyok katanye..”
“ ooh..”
“ dah yuk temuin die!” tangan Siti menarik-narikku
“ ah enggak ah…di sini aja..” aku mempertahankan posisi berdiriku dari tarikannya
“ nape seh??”
“ nape..nape…lo tau sendiri deh alasannya ...”
Siti diam sebentar , dia mungkin sedang menggali memorinya tentang kejadian dulu di rumah sakit.
“ ooh itu…iye iye..gw ngerti ..aah itu sih cuekin aje deeh..yang penting lo masuk aje nyok…”
“ kagak..!!” tegasku sambil memelototinya
Lalu aku melihat Farah dan Nia sang pelayan lainnya masih saja sibuk ngobrol, kesannya mereka tak begitu peduli dengan kedatanganku.
“ itu si Farah lagi ngobrol apa sih sama Nia? Serius amat..” tanyaku
“ ah biasaa..ngobrolin tamu ganteng yang biasa langganan di kite..”
“ tamu ganteng ? yang mana ?” tanyaku penasaran
“ yang mane lagi…yang biasa lo orderin laaah..”
“ ooh ituuu..Pak Sultan namanya..”
“ nah lo tau tuh namanye..jangan-jangan lo dah kenalan yeee…dah tuker nomor hapenye lom? Hah hah hah…? ” selidiknya
“ udah doonk, gw dah tau namanya, gw tau nomor hapenya, en gw tau dimana dia tinggal..keren kaan??!!” candaku
“ Aaarrgh yang bener lo?? Asik asik. ..eh tapi…kok lo sampe minta-minta gitu sih…jangan..jangaaan lo juga suka yeee sama die …ayooo ngaku…! ” ledeknya
“sialan lo ....lo kira gw homo akut apa….sembarangan aja ngomong…kedengeran yang laen awas lo ya..” balasku dengan sedikit mengacak-acak rambutnya
“ aduuh …sial lu…KDRT banget seh…” katanya sambil merapikan kembali rambutnya
“ biarin…biar tambah jelek deh tuh rambut…”
“ yeee sirik aje sama orang cantique..”
“alaaah cantik dari alam baka…..ya udah deh Sit…gw balik dulu ya…gak enak lama-lama di sini..ntar Alex keluar lagi..”
“ yee biar aje..masa lo gak kangen sama bf elo..xixixi” ledeknya lagi
Aku memelototinya dalam-dalam agar dia tahu bahwa dia harus berhenti menggodaku, karna aku takut jika dia tidak berhenti maka yang lain akan mendengar ocehannya.
“ hehehe iye iye Daam, gw ngerti, gak usah melotot gitu juga kale…ntar copot lho mata lo…dah sono pegi..pegi yang jauuuh..”
“ sial lu…”
****
Kosan sore hari.
Pada pukul 3 sore, aku akhirnya telah kembali ke kosan, hanya saja aku belum masuk ke dalamnya, aku keburu dengar suara pak Luthfi yang sedang berteleponan serius di dalam kamar. kedengerannya Pak Luthfi sedang ngobrol dengan seseorang yang sepertinya mas Sultan. Mereka nampaknya sedang beradu argumen dengan sengit sekali, tapi apa topik pembicaraan mereka aku tak tau pasti, suaranya kadang keras kadang kurang jelas.
“ itu udah lama naak, bapak pun dah minta maaf sama kamu, tapi kalo permintaan kamu seperti itu, bapak gak bisa lakuin, kan kasian …., …. udah sama-sama…., lagi masa-………….”
Begitulah sedikit penggalan ucapan Pak Luthfi yang terdengar, beberapa memang kurang jelas ku dengar karna terhalang daun pintu yang lumayan tebal.
TOK TOK TOK
Aku memutuskan tuk mengetuk pintunya saja, ku merasa tasku ini sudah keberatan ku panggul di punggung belakang.
Pak Luthfi lantas membuka pintunya, dia masih menempelkan hape di telinganya lalu memberiku kode tuk segera masuk saja dan menutup pintu.
Setelah masuk, aku langsung mengeluarkan baju-baju basah dari dalam tas dan berniat menaruhnya di keranjang kotoran bekas pakai. Tapi selama itu pula, aku mendengar Pak Luthfi masih beradu mulut dengan penelpon yang ternyata memang benar itu adalah mas Sultan.
“ Aaah dasar anaaak..anaaak…udah gede malah makin ngelawan ..dari kecil di sayang-sayang eeh sudah besar malah begitu…” gumam Pak Luthfi setelah telponnya terputus
Aku memperhatikannya, dia membaringkan diri di atas ranjang sambil mengurut-urut kepalanya yang mungkin sedang pusing.
“ yaaa sabar aja pak, mungkin dia lagi ada masalah di kantor, makanya uring-uringan..” sahutku berusaha menenangkannya
“ mungkin saja…lagian biasanya kalo telponan sama bapak, dia santun dan gak berapi-api begitu kok”
Aku manggut-manggut saja, aku tak ingin menanggapi lebih jauh atau bahkan menanyai perihal apa dia dan mas Sultan beradu mulut tadi, aku tak ingin mencampuri urusan mereka, aku sadar aku bukan bagian dari keluarga, biar mereka saja yang menyelesaikannya sendiri.
Pak Luthfi duduk termenung di atas ranjang, matanya mengarah ke lantai yang tak berobjek, jelas sekali dia sedang melamun memikirkan sesuatu hal. Sementara aku masih membereskan tas fitnesku dengan baik ke lemari, hari ini adalah hari terakhirnya bertugas menemaniku pergi ke gym.
“ ini sebenarnya memang salah bapak sih, bapak gak bisa jadi bapak yang baik buat dia..bapak udah kecewain dia ” katanya lesu
“ emangnya bapak dah ngelakuin apa sih kok sampe nyalahin diri sendiri gitu?”
“ lho...kamu emang belum tahu cerita tentang bapak?”
“ tau apa sih pak ?” dahiku mengkerut
Mata Pak Luthfi terpaku padaku, “ bener.. kamu gak tau tentang bapak ?” lanjutnya
“ enggak…”
“ si Sultan gak cerita ?”
“ enggak”
“ ato si Zein mungkin ?”
“ mmh enggak, dia sih waktu itu Cuma cerita sedikit tentang mas Sultan, tapi gak banyak, ada beberapa yang saya gak boleh tau katanya..biar si mas Sultan aja yang cerita”
“ oh..gitu ….”
Aku jadi penasaran dengan Pak Luhtfi sebenarnya, ada hal rahasia apa hingga dia dan mas Sultan terkesan misterius begini
“ emang bapak itu gimana orangnya ?” tanyaku
“ emmm…bapak itu yaaa orang biasa aja, sama kayak orang lain..”
“ ooh…”
“ Cuma…. ada hal lain tentang bapak yang tidak lazim dipunyai setiap laki-laki…tapiii, biar itu si Sultan saja yang cerita, bapak gak mau dia marah-marah kalo bapak akhirnya buka mulut ke kamu..”
“ lho kok gitu…..dikirain bapak mau ceritain ke saya langsung”
“ enggaaak…bapak gak berani, nanti si Sultan malah marah besar lagi”
Aku bengong saja mendengar penjelasannya, bagiku jawaban Pak Luthfi hanya membuatku jadi bertambah penasaran saja, penasaran apa yang dimiliki pak Luthfi saat ini, padahal tadinya aku sama sekali tak ingin tahu menahu tentang dirinya.
****
Pukul 18: 10
Setelah selesai menunaikan ibadah sholat maghrib bersama Pak Luthfi sebagai imamnya, aku merapikan kembali sajadah-sajadah dan sarung yang kami gunakan. Bagiku ini adalah hari kesekian kali aku menunaikan sholat bersama Pak Luthfi, ternyata bacaan surat-suratnya indah juga terdengarnya di telingaku.
“ kok Si Sultan belum pulang juga ya dek?” tanya Pak Luthfi
“ masih sibuk ngerjain tugasnya di kantor kali pak..”
“ mungkin aja ya..!”
“ iyalah…..emangnya kenapa pak, Bapak lapar ya? Mau makan apa, biar saya yang beliin nanti..”
“ iya dek, dari tadi perut bapak udah kosong hehe..” katanya sambil memegangi perut
“ bapak mau beli nasi goreng ?, kan lumayan deket tuh jualannya, di depan situ kok”
“ ya udah boleh..apa aja yang penting perut bapak di isi..”
“ oke bentar ya pak, saya beliin dulu..tapi kalo bapak udah gak tahan, buka aja roti yang ada dikulkas ”
“ roti punya siapa?”
“ saya yang beli kemarin ..”
Aku pergi keluar kosan tuk mencari gerobak nasi goreng yang biasa mangkal di dekat kosan, tak jauh jaraknya, hanya sekitar 10 meter saja dari kosan.
Sesampainya di tukang nasi goreng, gerobaknya ternyata sudah di kerumuni oleh 3 orang pembeli, dan aku harus menunggu sampai 6 pesanan selesai di buat.
“ bang pesen nasi goreng 3 ya, semuanya jangan pedes-pedes banget..” kataku pada tukangnya
“ oke mas, duduk aja dulu di kursi..”
Aku kemudian duduk di kursi plastik yang disediakannya, sambil menunggu pesananku jadi, aku mengutak-atik hape TV chinaku.
***
“ ini mas , 3 nasi goreng gak terlalu pedes semuanya..” kata tukang nasi goreng beberapa saat kemudian
“ berapa mas?”
“ semuanya jadi 24 ribu”
Aku merogoh uang di saku celanaku, kudapati uang 25 ribuan lalu ku serahkan padanya dan dia mengembalikan kembaliannya secepat kilat.
“ ini mas kembaliannya..”
“ wiss ….cepet amat mas..”
“ hehe di kejar pelanggan mas..makasih ya”
“ sama-sama”
Kemudian aku kembali lagi menuju kosan, sepertinya mas Sultan sudah tiba di rumah karna saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 18:40.
TOK TOK TOK
Pintu di buka dari dalam, Pak Luthfi lagi yang membukanya
“ mas Sultan udah balik pak ?”
“ udah, tapi dia lagi mandi sekarang.”
“ ooh,…. nih pak nasi gorengnya..”
“ iya makasih ya dek..”
Pak Luthfi dengan sigapnya langsung mengambil piring 3 untuk kami, kemudian dia membuka satu bungkus buat dia..
“ ayo di makan bareng-bareng dek..mumpung masih anget”
“ iya pak, nanti saya tunggu mas Sultan aja..”
“ eh iya, ini pake duitnya siapa ?”
“ pake uang saya pak..emangnya kenapa?”
“ duh jadi gak enak, nanti saya ganti deh dek..”
“ gak usah pak, biar aja..”
“ udaah gapapa, kamu kan juga masih butuh uang tuk biaya hidup di sini..”
“ hehe gapapa lah pak, biar saya beramal dikit..”
KREK
Tiba-tiba pintu di buka dari luar, mas Sultan muncul dari baliknya, dia ternyata sudah mengenakan baju dengan lengkap dan menaruh handuknya di bahu. Aneh, biasanya kalau sehabis mandi dia masuk kamar dengan melilitkan handuk di bagian pinggangnya tanpa mengenakan baju sehelaipun.
Sekarangpun mukanya ditekuk, bibirnya tertutup dan matanya terlihat tak bersahabat, sesaat dia menatapku tadi dengan tajam dan aku sempat mencium sesuatu yang tidak menyenangkan dari caranya memandangku.
“ eh mas Sultan, dah mandi ya? Makan dulu nih, tadi saya beliin nasi goreng di depan..” kataku basa basi
Tapi bibirnya tetap saja tertutup, dia tak merespon ucapanku yang jelas-jelas lumayan terdengar keras . Dia malah sibuk membereskan baju kotornya dan melihat-lihat lemari yang nyata-nyata sudah rapi.
“ nyari apa sih mas?” tanyaku lagi
Kemudian tiba-tiba dia berpaling menatap Pak Luthfi
“ gimana pak, udah buat keputusan ?” tanyanya
“ keputusan apa sih naak?? “
“ ya tentang itu laaah, mana ada lagi hal lain..dari dulu juga itu permasalahannya..gak selesai-selesai juga”
“ Bapak kan udah jelaskan tadi, …bapak gak akan tinggalkan dia, kami sudah sama-sama tua …kasian dia kalo bapak tiba-tiba pergi meninggalkan dia karna memang kami sudah sangat sehati, lagipula pasti suatu saat salah satu dari kami akan butuh pertolongan.. butuh sesuatu !” jawab pak Luthfi sambil menghentikan makannya
“ Ya udah….kalo bapak gak mau ikutin apa kata-kata saya…bapak gak perlu ke sini lagi …saya gak mau ketemu sama bapak lagi !!” tegas mas Sultan
“ lho…kok begitu sih nak…kamu tega berbuat seperti itu sama bapak… Bapak kan gak punya keluarga lagi selain dia dan kamu…!”
“ TERSERAH !! Cuma itu pilihannya, bapak tinggalin dia atau bapak tinggalin saya..saya udah capek , saya udah muak sama ini semua!!” tegas mas Sultan lagi
Aku yang berada di tengah kemelut mereka jadi serba salah, mau menghindar tapi ragu tuk bergerak, mau bergerak takut jadi salah, jadinya aku merasa seperti batu di tengah deras arus sungai, hanya bisa menyaksikan percekcokan mereka dengan diam membisu.
“ Bapak gak nyangka kamu jadi keras seperti ini..keluarga kita gak ada yang kayak begini , semuanya lembut dan penuh kasih sayang..” kata Pak Luthfi
Lalu mas Sultan tiba-tiba jadi agak emosi, nada suaranya meninggi seketika..
“ Sebenarnya bapak tau gak sih isi hati saya..hah ???!...bapak jangan nurutin ego bapak aja doonk…apa bapak gak malu kalo lagi kumpul-kumpul sama keluarga besar…bapak selalu diomongin yang jelek-jelek…malu pak maluuu…”
“ biar saja…bapak gak peduli…toh bapak gak merugikan mereka …lagipula…memang imej bapak selalu jelek di hadapan mereka kok..”
“ ya itu karna bapak udah pilih jalan yang salaaah…jalan yang gak biasa…”
“ emangnya apa yang salah dengan jalan yang bapak ambil sih ??? ini pilihan hidup bapak, gak ada orang lain yang berhak ngatur-ngatur hidup bapak..termasuk keluarga besar sekalipun!, bapak yang jalani , bapak yang ngerasain..” kata Pak Luthfi dengan mata yang mulai berubah merah karena emosi.
“ AARGH..bapak ini…kalo dibilangin soal masalah ini ada aja alasannya…CAPEK SAYA..!!” kata mas Sultan sambil membanting pintu lemari
Suasana makin menegang saja setelah mas Sultan naik emosinya, aku yang berada di tengah-tengah mereka jadi ikutan gerah dan panass, nampaknya angin api neraka sedang melewati kamar ini.
Aku memperhatikan mas Sultan yang sedang emosi, wajahnya kelihatan tegang sekali nampaknya dia pusing dengan masalah yang dihadapinya, rambutnya di jambakinya dengan kuat.
“ NAK..!, kamu jangan terlalu memikirkan apa-apa yang dikatakan orang lah, itu hanya memperkeruh suasana hati kamu saja..lebih baik kita jalani hidup kita sendiri biar lebih terasa tenang ” kata Pak Luthfi
“ iya maas, lebih baik kita mikirin hidup kita sendiri aja…” kataku mulai ikut campur
“ DIAM KAMU DAM, !! JANGAN IKUT CAMPUR URUSAN KELUARGA SAYA, KAMU JUGA TERNYATA SAMA AJA KAYAK BAPAK SAYA..! GAK BEDA… SAMA-SAMA MENJIJIKKAN..!!!”
DEG….!! !
“ Hah…! Mas Sultan.. ..kok jadi tega gitu..salah gw apa..” batinku
Aku shock, detak jantungku berhenti, tubuhku terasa lemas mendengar dia membentakku , tak kusangka dia tega menghinaku dengan kata-kata sekeras itu.
“Astaghfirullaah…!! SULTAN..! mulut kamu kok jadi sadis begitu…!! tega kamu ya bilang gitu sama teman kamu sendiri..” pekik pak Luthfi sambil melotot
“ KENAPA?? SALAH…KALO SAYA BILANG DIA MENJIJIKKAN?? BERSEMBUNYI DI BALIK TOPENG , PADAHAL WAJAHNYA LEBIH BURUK DARI ITU…”
“ lho emangnya kenapa dengan si Adam siih?? apa salah dia…?” Pak Luthfi terus menerus membelaku
Aku masih tak berkata-kata, aku masih tak mampu merespon omongan pedas mas Sultan, aku shock dan sedih karna kata-katanya sudah menyakiti hatiku.
“ DIA ITU ……………..” mas Sultan mengambil nafas dan memperhatikanku dulu, jari telunjuknya mengarah kepadaku, nampaknya dia sudah siap menembakkan peluru tajam ke arahku
“ DIA ITU….HOMO!!”
" APA...!!!" pekik hatiku
Mataku membelalak terkejut atas tudingannya, kali ini nafasku yang terhenti mendengarnya , sesak rasanya ketika orang yang slama ini kusuka tiba-tiba menudingku dengan kasar, ada perasaan tak terima dengan perkataannya tapi ada juga perasaan pasrah karna hal ini memang benar adanya.
Galau karena masih mencintaimu (Cerita gay) Part 18 (1&2)
Part 18 Kapok sama Alex !
Tuuut tuuut tuut …ringtone hape terus menerus berdering, sedari tadi mungkin sudah ada 5 x telepon dari teman-teman restoku, mereka adalah orang-orang yang belum sempat ku sambangi tuk pamit meninggalkan resto , mereka rata-rata adalah karyawan yang tidak masuk shift pagi kemarin.
Namun dari 5 penelpon itu, tak satupun yang berasal dari Alex, ia seperti hilang di telan bumi, tak ada kabar beritanya. Menurut teman-temanku yang masuk kemarin, dia juga tak masuk kerja, padahal kemarin itu jadwalnya dia masuk siang.
Beberapa teman-temanku sempat mengira Alex sedang pergi bersamaku kemarin karna menghilangnya bersamaan, akan tetapi karyawan yang masuk pagi sudah menjelaskan dengan detail perihal ketidakberadaanku dan mereka terkejut dengan resignnya aku dengan tiba-tiba.
Aku sekarang jadi bertanya-tanya tentang Alex, ada apa sebenarnya dengan dia, kenapa dia seperti orang yang kacau begitu, padahal beberapa hari lagi perkawinannya akan berlangsung dan dia di tuntut untuk fokus seratus persen agar pelaksanaannya bisa berjalan lancar.
Tuuut Tuut Tuuut
dering hapenya tak juga berhenti, kulihat pada layar, nomornya juga tak ku kenal, tak ada di daftar phonebookku, aku jadi takut kalau kalau Alex yang menelponku dan mengintimidasiku lagi.
“ah lebih baik ku angkat aja, aku tak mau bunyinya berisik karna pak Luthfi sedang tidur di atas ranjang ” pikirku
KLIK
/ya hallo../
// Adam?!//
/ iya, siapa nie??/
//gw Siti, masa sama suara merdu begini lo gak kenal?!//
/ merdu dari hongkong…ada apa lo telpon, pake nomor siapa lagi lo ?!/
// gw pake telpon adek gw…gw Cuma mo kasih tau kalo Pak Alex masuk rumah sakit..//
/ Hah..Pak Alex masuk rumah sakit ? yang bener lo, kemarin-maren dia sehat-sehat aja../
// enggak, die ternyata kemarin gak masuk karna masuk rumah sakit, gw aje kata calon bininye..die dateng ke resto tadi..//
/ emang sakit apaan ?/
// gak tau belum jelas, kata bininya sih dia bonyok gitu, kayak habis di tonjokin orang//
“ waduh, gawat kalo begitu, ternyata pukulan mas Sultan bener-bener menyebabkan bonyok” pikirku
/ emang siapa yang tonjokin dia?/ kupura-pura tak tau
// mmh kata bininya sih enggak tau, Pak Alex mingkem aje dari kemarin, gak mau bilang siapa pelakunya, Pak Alex Cuma minta kita-kita pada dateng ke rumah sakit tuk jenguk die, terutama elo katanye!//
/ hah kok gw ?! emangnya kenapa ?/
Aku pura-pura innocent, padahal sudah pasti aku yang salah dalam hal ini dan setidaknya harus bertanggung jawab
// ya gak tau lah alesannye ape, ….udeh sih, ayo kita ke rumah sakit bareng-bareng .. entar sore kita berangkat, waktu jam bezuk di buka//
/ yaa Sit, gw gak bisa…gw ada kerjaan/
Aku terpaksa harus berbohong karna aku benar-benar tak ingin menemui Alex lagi
// kerjaan apaan sih, Cuma bentar doank nengok atasan kok gak mau, ntar-ntar kalo lo sakit mau gak di gituin ??!// kata Siti sewot
/ yaaa Sit…gw ../
//udah pokoknya lo harus ikut, kita tunggu lo di resto jam 6 an, gak ada kata gak ikut, lo harus dateng..titik !//
Klik…
Belum sempat aku melanjutkan omonganku, dia sudah memutuskan sambungan secara sepihak
“ kurang asem nih Siti..gak sopan banget..!” gumamku
Aku menoleh ke arah ranjang, ternyata Pak Luthfi sudah bangun, mungkin dia bising mendengar suaraku yang keras hingga akhirnya terbangun.
“ eh bapak, dah bangun pak, di kira masih tidur..” kataku
Dia diam sebentar, lalu dengan dua kakinya menjuntai ke lantai, dia mulai bicara
“ siapa yang sakit dek?” tanyanya dengan suara berat
“ atasan saya pak..”
“ trus kamu di ajak jenguk ?”
“ iya pak, tapi saya jawab gak bisa”
“ kenapa ?”
“ yaaa karna malas aja pak” jawabku sekenanya
“males? Kok males, dia kan atasanmu ,… kan kasian kalo gak di jenguk”
“ yaaa gak enak juga sih pak, saya kemarin-marin pernah ada masalah sama dia..takutnya dia gak mau terima saya di rumah sakit nanti” jawabku sambil nyengir
Pak Luthfi menarik nafas sebentar, dia seperti menyiapkan diri tuk memberiku wejangan
“ begini lho dek, pernah ada masalah atau gak ada masalah, kamu harusnya datang ke sana, siapa tau dengan kedatanganmu, hubungan kalian jadi akrab lagi…karna dia akan melihat betapa besar jiwa kamu karna mau menjenguknya dikala sakit begini…”
Aku mendengarkannya baik baik sembari memberikan anggukan tanda bahwa aku mendengarkannya.
“ mau atasan atau bawahan, kalo kita yang memulai duluan tuk berbuat baik pada musuh kita, pasti kita akan mendapatkan balasan yang baik, kita gak boleh dan gak bisa menjauhkan diri dari musuh, malahan,… harusnya kita terus-menerus berusaha dekat dengan mereka agar hubungan kita sama mereka jadi lebih baik, ….kan enak kalo hidup banyak teman? Iya kan ?!”
“ iya pak…bener..!”
“ jadi…sekarang kamu lebih baik pergi jenguk atasan kamu…jangan di tunda-tunda lagi, siapa tau dia mau minta maaf sama kamu..”
“ ntar aja pak deh pak, bareng-bareng sama temen kerja saya..”
“ oh gitu..ya sudah yang penting kamu jenguk dia yah”
“ iya pak..”
****
Rumah Sakit
Kamar tempat Alex di rawat rupanya berada di kelas 1, sekamar hanya ada dua pasien di dalamnya, tapi saat ini, kamar Alex hanya di tempati sendiri karna di sebelahnya belum ada pasien lain yang menempati.
Akhirnya aku datang ke sini karna bujukan Pak Luthfi yang memberiku wejangan-wejangan khas orang tua. Rasanya aku malu tuk berada di dalam kamar saja karna pak Luthfi sudah memaksaku tuk datang menjenguk Alex walaupun cukup berat kakiku melangkahnya.
Teman-teman yang lainnya tadi sebagian sudah masuk ke dalam kamar, sementara sebagian lain masih menunggu di luar seperti aku. Jumlah penjenguknya cukup banyak, bagi yang belum masuk, hanya bisa melihat kondisi Alex dulu dari jendela kaca yang ada di pintu masuk kamar.
Dari jendela itu, aku bisa melihat dengan jelas kondisi Alex yang nampaknya sudah lebih baik dari terakhir kali ku melihatnya. Beberapa bagian wajahnya ada tempelan perban yang cukup besar dan memar-memar di sekitar perban itu.
Tak berapa lama, akhirnya rombongan pertama bersiap keluar kamar, aku memundurkan badan agar bisa memberikan ruang jalan buat mereka.
“ hehe..gantian cuuy..panas di dalem” kata Siti setelah selesai menjenguk di rombongan pertama
“ ah norak lu, masa pake AC masih panas” sahut seseorang
“ yeee, coba aje lu masuk rame-rame sono..!”
Jantungku tiba-tiba deg-degan, aku merasa grogi tuk melangkahkan kaki ke dalam, aku khawatir kalau-kalau Alex tiba-tiba mengatakan penyebab sesungguhnya dari kejadian ini ketika aku di dalam.
“ hey…Dam.! Ayo masuk..” panggil Dena dari arah pintu
Aku tak bisa menjawab, aku hanya mengangguk-anggukkan kepala dan terus masuk ke dalam kamar.
Di dalam kamar, mata Alex langsung tertuju padaku, tapi kali ini tidak ada aroma permusuhan atau nafsu yang terpancar dari raut wajahnya, hanya raut kesenduan yang menghiasi wajahnya saat ini.
“ gimana pak kabarnya ? “ tanya salah seorang staff dapur
“ udah mendingan pak..” jawab Alex lemah
“ tapi masih berasa sakit gak tuh pak?” tanya yang lain
“ lumayan, masih nyut-nyutan..”
“ kok bisa begini pak, emangnya siapa yang mukulin ?” tanya yang lain lagi
“ ah gak tau lah pak, waktu malam itu gelap banget, jadinya gak kelihatan mukanya”
“ aah sukur deh, waktu itu memang kondisi resto sudah gelap di area depan kantor, mungkin Alex tak sempat melihat muka mas Sultan waktu di hajar” batinku lega
“ trus bapak mau nuntut tuh orang?”
“ ah enggak lah, biar aja, mungkin emang saya yang salah..lagian mau nuntut gimana, orang kondisinya gelap, gak kelihatan pak..” kata Alex
“ hahaha iya ya, susah juga kalo gitu.”
“ tapi emangnya gak ada saksinya gitu pak ?” tanya yang lain
“ ada siih, tapi…biar aja lah, gak penting,nanti malah jadi panjang urusannya, urusan nikah saya jadi berantakan lagi nanti”
“ oh iya iya…bener…”
Perbincangan mereka berlangsung hanya beberapa menit sementara aku hanya jadi kambing congek saja di belakang mereka. Aku tak mengucapkan sepatahkatapun tadi.
Tak berapa lama kami pamit pada Alex, tapi kemudian Alex memanggilku
“ Dam…tolong kamu di dalam dulu, ada yang mau saya omongin sama kamu..”
“ nah loo, di omelin deh ..makanya jangan resign..” ledek salah seorang staff dapur
“ yee biarin…yang penting hepi” sahutku meledek balik
Setelah semua keluar, kini hanya tinggal aku dan Alex di dalam kama dan dia terus menerus melihatku dengan datar tanpa sepatah katapun yang terucap.
“ kenapa ?” tanyaku memecah keheningan
“ kamu duduk dulu..” sahutnya
Aku pun duduk di sampingnya tapi tetap menjaga jarak ku dengannya. Dia sesekali menatapku sendu dan terlihat malu.
Wajahnya di bekap memar dan perban, tak terlihat lagi wajah tampannya yang dulu sempat ku kagumi, sekarang wajah itu berganti dengan wajah seperti para petinju kelas berat dunia, lebam dan tak berbentuk, memerah dan membiru.
“ maafin aku Dam, …..aku udah berbuat buruk sekali sama kamu…malu sekali saya Dam…” katanya
Aku mau membiarkannya berbicara dulu tuk mengeluarkan segala isi hatinya yang selama ini mungkin dipendamnya..aku mau tau kenapa dia sampe berbuat begitu padaku kemarin.
“ waktu kemarin itu aku khilaf, …kondisiku udah gak terkendali lagi, sebelum berbuat buruk sama kamu, mumpung kamu belum pulang, aku sempet minum minuman alkohol banyak di bar, makanya ….mungkin itu yang menyebabkan aku jadi berkelakuan seperti setan”
“ minum alkohol ? “ tanyaku
“ iya..”
“ pantes kemarin ada bau bau eneg apa gitu..” kataku heran, aku benar-benar tak ingat akan bau alkohol
“ iya itu bau alkohol..”
Lalu kami terdiam satu sama lain beberapa saat
“ kamu mau maafin aku gak Dam?” lanjutnya
Aku tak menjawab, aku tak tahu harus menjawab apa, memaafkan atau tidak memaafkan atas kelakuannya , karena kejadian itu sudah membuatku lumayan trauma akan dirinya.
“ Dam…kamu gak mau maafin aku ya?” tanyanya tuk kedua kali
Aku menarik nafas, “ gak tau Lex, aku gak yakin, kejadiannya udah bikin aku ilfil sama kamu , tuk saat ini rasanya berat tuk maafin kamu, mungkin kalo aku udah lupa kejadiannya nanti, aku bisa mulai memaafkan kamu..”
Dia diam, suasana jadi hening..
“ ya udah….gapapa…aku tunggu maaf dari kamu..sampai kapanpun aku tunggu maaf kamu” katanya sedih
Aku mengangguk mengiyakan..
“ udah ya Lex, aku mau pulang, temen-temen dah tunggu lama di luar..”
“ nanti dulu Dam, katanya kamu udah resign ya?” dia menatapku serius
“ iya…”
“ kenapa kamu resign Dam…apa ini karna aku..? apa aku yang menyebabkan kamu gak betah ?”
Tiba-tiba matanya berkaca-kaca, bibirnya mulai bergetar, sepertinya dia sedih mendengar kabar aku sudah resign.
“ Dam…jawab Dam…apa kamu keluar karna aku? Karna kejadian malam itu ?...kalo begitu alasannya…aku minta maaf bener-bener sama kamu…aku mau ngelakuin apa aja buat kamu…asal kamu gak jauh-jauh dari aku…” air matanya bertambah deras, ia mulai menangis sesenggukkan, tangannya kini memegangiku dengan kuat
“ enggak Lex…enggak, bukan karna kamu…tapi karna hal lain..” jawabku sambil mataku berkaca-kaca juga
“ hal lain apaaaa? apa karna pernikahanku? Jawab Dam…aku rela ngelakuin kalo kamu bilang batalkan saja pernikahan ini..!! , aku rela Daam..”
“ enggak…bukaaan..! aku resign karna memang ada kerjaan yang lebih menarik…lagian aku udah bosen di resto..”
“ BOhong..!! pasti ini semua karna aku atau karna pernikahanku…trus kalo aku gak berbuat bodoh kemarin, mana mungkin kamu keluar dan mau terima kerjaan itu..” tanganku ditarik-tariknya, sepertinya dia ingin mendekapku dan tak ingin melepaskanku pergi
“ aku gak bohong Lex, kerjaan itu penawarannya lebih baik, baik dari segi jabatan ataupun gajinya..”
Kami saling tarik ulur tangan, tapi kemudian Alex terdiam, dia malah menangis sesenggukkan, dia masih kelihatan tidak ikhlas dengan keputusanku ini.
“ kalo begitu keputusan kamu,…. aku mau kita bf an lagi seperti dulu..!” paksanya
“ bf an lagi ? gak bisa lah Lex… trus 3 bf mu yang lain mau dikemanain ? bukannya itu udah cukup banyak Lex?!”
“ enggak Dam,jangan kuatir… nanti aku putusin semuanya demi kamu…aku rela semuanya aku lepas…” kami kembali tarik tarikan tangan
“ aku juga gak tega sama istri kamu, aku gak mau jadi penghalang kebahagiaan anak istri kamu nanti…”
“ enggak Dam..enggak, aku mau kamu…aku mau kamu jadi bf ku lagi.. titik ”
Dia mulai memberontak, tubuhnya yang sedari tadi tiduran, kini mulai bangun dan seperti tak merasa kesakitan sama sekali, dia terus memegangiku dengan kedua tangannya, aku sendiri sudah mulai panik dengan tingkahnya ini. aku masih tak bisa melepaskan genggaman tangannya..
“ haduh…gimana ini…” pikirku mencari-cari cara
Tiba-tiba pintu kamar di buka, aku menoleh ke arahnya dan Siti muncul dengan wajah panik juga melihat Alex yang berontak seperti ini.
“ ini kenape Dam…..Pak Alex kenape???” teriak Siti yang menambahku panik
“ gak kenape-nape…udeh lo bantuin gw lepasin dulu nih tangan die niiih…” sahutku tak sabaran, genggaman tangan Alex membuat pergelangan tanganku sakit dan telapak tanganku sudah mulai kelihatan memutih dan mendingin mungkin darahku sudah tak jalan ke telapak tangan lagi.
“ Sit..tolong bilangin dia Sit, jangan resign…jangan resign…saya sayang dia banget…! Saya mau ngelakuin apa aja buat dia” kata Alex sambil terus merengek tak menghiraukan lagi imejnya sebagai seorang manager
Siti terkejut, matanya terbelalak kaget, seperti orang yang baru saja mendapatkan sebuah berlian di kali, dia malah diam terpana dan membeku, matanya terus memperhatikan kami berdua secara bergantian, mulutnya terus melongo lebar.
“ hah…saaayaang ??? kok…” sahutnya tergagap-gagap
“ udah Sit, lo jangan peduliin omongan dia, tangan gw dah sakit nih…cepeeet lepasin…!!” teriakku
Siti lalu melupakan omongan Alex, dia kemudian berusaha membuka genggaman tangan Alex dengan sekuat tenaga, tapi tetap saja dia tak kuat membukanya..
“ sebentar Dam..” kata Siti sambil berlari ke luar kamar, “ woy cuy, tolongin gw nih…cepet…” lanjutnya
Siti meminta bantuan keluar, para penjenguk ternyata belum pergi meninggalkanku, mereka masuk berbondong-bondong ke dalam kamar.
Melihatku sedang kesulitan, mereka akhirnya membantuku melepaskan tangan dari genggaman Alex, dan dengan mudah mereka memaksa Alex tuk melepaskan genggamannya.
Aku langsung menjauh dari Alex, akan tetapi di hadapan banyak orang, Alex malah diam dan tak menatap kami sama sekali, dia bahkan menyuruh keluar semua orang dari dalam kamar dengan segera.
****
Di luar kamar, teman-temanku tak henti-hentinya melayangkan pertanyaan tentang kejadian tadi, tapi dengan alasan aku pusing, aku pergi mendahului mereka pulang dan Siti bersedia mengantarkanku sampai kosan.
“ Dam…ape gw gak salah denger tadi..Pak Alex bilang sayang sama elo..?!” tanya Siti berusaha mencari tau
Aku semula mau diam saja, tapi Siti terus memaksaku tuk menjawab dengan menatap terus di depan mukaku
“ aaah lo apa-apaan sih…!” kataku jengah
“ habis jawab dooonk, jangan nutup-nutupin kayak gini…apaaaa…lo mau gw sebarin nih berita???” ledeknya
“ AWAS lo ya, berita ini ada yang tau lagi, gw HAJAR lo..!!” ancamku pura-pura kejam
“ yeee sadis amat …”
Siti diam sebentar, tapi bukan SIti namanya kalo dia terus berdiam diri
“ mmmh…lo berdua jadian ya ??” tanya Siti sambil memainkan alis
“ kurang asem lo ye…kampreet !!” sahutku sambil mencubit bibirnya yang lebih itu
“ aduh aduh….sakit nyet.!” protesnya
“ sukurin, biar tambah panjang aje tuh bibir..”
“ udeh sih, jawab aje, jujur sama gw, gw gak akan ember deeeh..”
“ jujur apaan??? Ngaco aje lo..masa gw sama Alex jadian..”
“ lha tadi ada buktinye….gw saksinye…dah deh lo gak usah nyangkal…beneran gak lo berdua saling jatuh cintaaa???”
“ emangnya lo seneng ya punya temen homo ???” kataku tegas sambil menghentikan langkah
“ hehehe gapape, asal temen gw bahagia, why not ??”
“ trus lo mau, kalo gw sama Alex jadian??”
“ ye gapape, asal lo berdua saling suka…mmh…cocok sih kalian berdua, dua-duanya ganteng..xixixi..”
“ kampreeeet..!!” pekikku sambil menutup bibirnya dengan paksa..
Perjalanan kami menuju kosan diselingi berbagai pertanyaan dari Siti yang tak karuan, dia terus berusaha mencari pengetahuan lebih dariku mengenai ucapan Alex tadi, tapi tetap saja aku tak bersedia menceritakan hal itu padanya, biarlah ucapan Alex ini akan jadi misteri di benak SIti, bagiku bukan sebuah hal penting aku harus menceritakan orientasi seksualku padanya, bisa-bisa berita ini bocor dari bibirnya yang lebih.
*******************************************************************
Part 18 episode 2
Kosan
Siti mengantarku sampai ke depan kosanku yang baru, dia bilang bahwa kosanku kali ini kelihatannya lebih besar dari yang sebelumnya, tapi ketika dia akan berniat melihat ke dalam , aku melarangnya, aku katakan bahwa ini adalah kosan khusus laki-laki, perempuan dilarang masuk apalagi melihat-lihat kamarnya.
“ yaah pelit amat lo, gw kan dah dateng jauh-jauh , masa sampe sini lo gak bolehin gw masuk..” katanya tadi
“ yeee ini kan kebijakan ibu kost, bukan gw, ntar kalo lo masuk, gw malah di usir lagi“
Setelah di bilang begitu,Siti akhirnya memaklumi, dia beranjak pulang kembali ke kosan.
Di dalam kosan, ternyata mas Sultan sudah datang juga, dia sedang mengutak-atik laptop di samping ranjang, sementara Pak Luthfi sedang asyik menatap televisi.
“ lagi nonton apa pak ?” tanyaku basa basi
“ ini …acara Indonesian Idol..”
“ heh… Indonesian Idol ?? kayak anak muda aja..” batinku
“ ooh bapak seneng juga sama Indonesian Idol ya?!”
“ hehe iya…habis suaranya bagus-bagus..”
“ ooh gitu…”
Aku menoleh ke mas Sultan, dia kelihatannya sibuk sekali di depan laptop hingga belum mengajakku bicara..
“ ngerjain apa mas?” tanyaku sambil mendekatinya dan melihat layar laptopnya
“ gak ngerjain apa-apa, Cuma lagi download film aja..!” sahutnya sembari matanya terus terpaku ke layar
Tubuhnya masih tercium harum nampaknya dia baru saja mandi
“ ooh di kira lagi kerja…….mmh mas baru mandi ya?!”
“ iya..kenapa emangnya?”
Akhirnya kali ini dia menjawab sambil melihat ke arahku
“ gapapa, harum aja di hidung..”
“ heh..harum ?! ada ada aja kamu….”
“ kamu mandi sana..” suruhnya
“ mandi ? emang kenapa ?” tanyaku heran
“ kecium harumnya ke hidung saya nih…” sahutnya sambil tersenyum
“ harum apa emangnya ? orang saya gak pake parfum kok”
“ harum asem..!” sahutnya sambil tersenyum
“ aah sial…di kira harum apa… ya udah saya mandi deh..”
Disinggung begitu sama mas Sultan, aku tak mau berlama-lama lagi berada di dalam kamar, aku segera beranjak ke kamar mandi agar tak menyebarkan bau-bau aneh di kamar
****
“ tadi kamu dari mana Dam ?” tanya mas Sultan setelah aku kembali lagi ke kamar
“ habis jenguk temen mas..”
“ ooh..”
Aku sengaja tak mau memberitahu dia kalau aku baru saja menjenguk Alex , takut mas Sultan akan marah padaku karna aku masih saja dekat-dekat pada Alex.
“ dia habis jenguk atasannya ” kata Pak Luthfi tiba-tiba membuka suara
“ atasan? Siapa ?” tanya mas Sultan serius
Mas Sultan menatapku dengan penasaran, pasti dia sudah mengira bahwa atasanku itu adalah orang yang sudah dia pukuli kemarin, dia terus menungguku tuk menjawab pertanyaannya.
“ eehh……Pak Alex mas..”
“ Pak Alex?? Yang mana? Yang kemarin malam itu di resto ??” tanyanya serius
“ iya..”
“ ooh…emangnya kamu gak dendam sama dia ?”
“ mmmh..enggak sih..”
Mas Sultan kemudian terdiam, matanya melihat ke arah lain, nampaknya dia sedang berfikir.
“ baguslah…” katanya tiba-tiba sambil manggut-manggut
“ lho…kok bagus, bukannya marah ..” pikirku
“ bagus kenapa mas?”
“ ya baguslah, kamu orang yang baik hati banget ternyata, orang yang udah jahat sama kamu, masih tetap kamu perlakukan seperti temen..” katanya santai sambil melihat kembali ke laptopnya
“ jahat ? jahat gimana nak ?” tanya Pak Luthfi ikut campur
“ yaaa jahat..masa jahat ada kategorinya sih pak..” sahut mas Sultan sekenanya
“ maksudnyaaa …udah berbuat jahat seperti apaa…”
Mas Sultan menghentikan aktifitasnya, dia memejamkan mata sesaat sebelum menjawab pertanyaan bapaknya..
“ jahatnyaaa karnaa dia sering ngomelin Adam di restonya dulu paaak..! juga sering nyuruh-nyuruh gak sopan sama Adam..”
“ ooh gituu …di kira jahatnya kenapa…..ya.. kamu sabar aja ya dek, suatu saat orang yang seperti itu juga akan kena balasannya kalo jahat sama orang, tapi kamu tetep aja harus berbuat baik sama semua orang, tak terkecuali sama orang yang jahat sama kamu” pak Luthfi menasehatiku
“ iya pak, pasti”
Mas Sultan sepertinya tak ingin membeberkan tentang kasus pemukulan itu pada bapaknya, aku tak tahu pasti alasan dia menutup-nutupi hal tersebut, mungkin saja mas Sultan tak ingin ribet harus menjelaskan kronologis kejadiannya.
“ eh Dam, kamu udah makan belum ?” tanya mas Sultan
“belum mas, mang kenapa ?”
“ cari makan yuk di luar..!”
“ mmh boleh…bapak juga ikut kan ?!”
“ gak tau, tanya lah sama dia ..” mas Sultan menyerahkanku tuk bertanya pada pak Luthfi
“ bapak gak ikut ah, takut cape…kalian berdua aja sana” kata Pak Luthfi mendahuluiku tuk berbicara
“ trus bapak mau pesen makan apa?” tanyaku
“ enggaklah, gapapa…di sini udah banyak cemilan..”
“ oh ya udah, tapi nanti kalo bapak mau pesen sesuatu, bapak sms aja ya..” kataku lagi
“ iya dek..makasih..”
****
Sop Ikan
Kami berdua akhirnya memilih warung makan yang menyediakan sop-sop ikan yang lumayan jauh jaraknya dari kosan, lokasinya berada di dekat jalan raya. Dilihat dari depan, sepertinya warung makan ini lumayan favorit karna pembeli yang mengerubunginya cukup ramai, sehingga kami tertarik tuk mendekati warungnya.
Mas Sultan sebelumnya sudah ku tawarkan tuk membeli nasi goreng pinggir jalan saja, tapi dia tak mau, alasannya dia mau makanan yang lebih menyehatkan seperti sop-sop ikan yang ada di warung makan ini.
Setelah menunggu agak lama karna pelayan melayani pembeli yang terlebih dulu datang, akhirnya kami mendapatkan pesanan kami di meja makan. Dua buah mangkuk sup yang lumayan besar, Mas Sultan memesan sop ikan gurame, sementara aku sop ikan kakap.
“ makasih ya mbak…” kata mas Sultan pada pelayannya
“ iya sama-sama maass ” sahut sang pelayan dengan senyuman genit, dia kayaknya sadar bahwa pembelinya orang ganteng.
Kami mulai coba mencicipi sop ikan yang sudah tersaji.. Sepertinya mas Sultan sudah tak tahan lagi tuk melahap sop di hadapannya, dengan antusias mas Sultan menyendok sop ikan pesanannya satu persatu.
“ hemm enak…gimana sop ikan kakapnya Dam, enak juga gak?” tanyanya
“ yaaa lumayan deh mas, cocok lah dengan harganya yang cukup murah..”
“ iya ya lumayan, sop ikan gurame saya juga lumayan enak….kamu mau coba ?”
“ mmmh boleh…”
Aku mengambil sedikit sop ikan gurame milik mas Sultan dan langsung memasukkannya ke mulut.
“ emmm enak mas…enakan gurame ternyata..” kataku xcited
“ masa sih…sini coba punya kamu ..”
Sekarang giliran mas Sultan yang merasakan sop ikan punyaku
“ emm ..ini juga enak lah Dam…gak jauh beda…”
“ iya tapi kayaknya yang gurame lebih berasa gurihnya…”
“ oh kamu suka gurih ya..kalo saya malah lagi ngurangin asin …takut kena darah tinggi “
“ooo… emang orang tua punya riwayat darah tinggi mas ?”
“ ada, almarhum ibu saya..”
Aku tak menjawab, aku hanya manggut-manggut.
Kami berdua menikmati sekali makan malam kali ini, lebih terasa santai dan segar, di selingi perbincangan ringan yang membuatku tertawa dan tersenyum, sampe-sampe terasa sekali keakraban kami berdua.
“ kamu pernah punya pacar gak sih Dam..”
“ mmh pernah mas..” jawabku cepat, aku ingin dia berfikir bahwa aku seorang yang straight
“ oh…pernah ngapain aja selama pacaran?”
“ heh…kok pertanyaannya begitu..?!”
“ hehe yaaa gapapa kan kalo nanya begitu..namanya juga anak muda…kadang bisa aja kebablasan..”
“ enggaklah…saya sih gak pernah begituan..”
“ kalo ciuman ?”
“ pernah..”
“ kalo pegang tangan?”
“ pernahlaaah..”
“ kalo pegang yang lain ?”
“ yee ngaco..emangnya saya cowo apaan..sory ya saya bukan orang yang begituan”
“xixixi sewot amat ditanya begitu..” katanya sambil cekikikan
“ habis pertanyaannya ngelantur gitu..”
“ eh Dam…saya mulai besok gak ngegym lagi lho..”
“ kenapa emangnya ?”
“ yaaa kan mau fokus dulu ke bisnis…”
“ kalo begitu sama donk kayak saya, tapi saya habisnya 2 hari lagi..”
“ ooh baguslah, biar kamu fokus sama kerjaan kamu nantinya..”
“ iya siih…lagian alasan lainnya juga saya gak punya uang tuk ngelanjutin itu..”
“ ah masa…kamu bukannya banyak uang?”
“ uang dari mana ? dari kali? Saya sih gak punya banyak uang mas, kalo ada gaji, langsung saya kirimin ke kampung, buat orang tua sama adik-adik saya yang masih kecil”
Mas Sultan memperhatikan omonganku, dia manggut-manggut tanda dia mengerti dengan kondisiku yang cukup susah.
“ Cuma beberapa ratus ribu aja saya sisihkan buat kosan dan makan, makanya harus berhemat banget biar bisa makan selama sebulan penuh”
“ iya iya…saya ngerti …hidup di perantauan memang serba susah, harus berhemat biar tetep survive”
“ iya bener mas…”
“ apaa kamu mau kasbon dulu buat gaji pertama kamu Dam ?”
“ ah enggak usahlah mas, saya masih ada sedikit tabungan kok, masih cukup tuk sampai akhir bulan nanti..”
“ oh iya Dam, kamu mulai training 3 hari lagi ya, soalnya pembukaan outletnya itu jum’at depan”
“ berarti sekitar seminggu lagi donk..”
“ iya…kamu nanti training bareng anak buah kamu yang baru ya”
“ sip mas, jangan kuatir, saya akan menularkan seluruh kemampuan dan pengetahuan saya pada anak baru tuk memajukan perusahaan baru mas..”
“ hehehe baguslah kalau begitu..saya juga seneng bisa dapet karyawan seperti kamu..smoga berkah ya usaha kita nanti..”
“ amiiiin..”
Kami telah menyelesaikan makan malam kami, sekarang waktunya tuk kembali ke kosan.mas Sultan tak lupa membelikan pak Luthfi sop ikan juga tuk dimakan di kosan. Dia tak tega melihat bapaknya kelaparan nanti malam.
Kalo tadi kami berangkat menumpang ojek, sekarang pulangnya mas Sultan memutuskan berjalan kaki, alasannya dia ingin membakar lemak dan kalori karna besok-besok tidak akan ngegym lagi.
“ aduh mas, cape nih…bentar berhenti dululah..”keluhku saat sudah 10 menit berjalan
“ yaaa payah nih…masih muda kok udah letoy…ayooo semangat doonk..” katanya sambil senyum
“ yah mas…ini kan jauh, lagian kita kan habis makan tadi, jadinya keringetan banyak nih..cape..!”
“ oke..oke..kita duduk dulu..”
Mas Sultan akhirnya mau menepi ke sisi jalan, dia memilih pinggiran pagar yang bisa di duduki. Di sebelah kami ada gerobak bakso yang nampaknya juga lagi laris manis dikerubungi pembeli baik perempuan ataupun laki-laki.
Sambil duduk di pinggiran pagar, aku berusaha mengatur nafas, nafasku tadi sempat tersengal-sengal karna cape. Sedangkan mas Sultan tak kelihatan cape, malahan dia lagi memainkan hapenya yang berlayar cukup besar.
Karena wajah dan penampilan tubuh mas Sultan yang sangat keren dan aduhai, mirip model-model papan atas, membuat beberapa pembeli bakso mencuri-curi pandang ke arahnya, mungkin dibenak mereka ingin sekali menyapa dan berkenalan dengan mas Sultan, apalagi pembeli laki-laki yang beraroma plu yang berkerumun sampai 4 orang di depannya.
Beberapa diantara pembeli yang plu itu salah satunya memutuskan duduk dekat mas Sultan, dia terhitung pede sekali karena jarak duduknya didekat-dekatkan pada mas Sultan, sementara mas Sultan sendiri tidak menyadari bahwa disebelahnya sudah ada predator yang siap memangsanya.
Dari gerak-geriknya, sepertinya plu itu sudah siap menyapa mas Sultan, matanya membelalak nafsu melihat muka dan bodi berotot mas Sultan yang mirip juara L-Men.
“ mas, hapenya Samsung Galaxy ya?” kata plu itu memulai pembicaraan
Mas Sultan menoleh ke samping, dia terdiam, mungkin matanya sedang naik turun memperhatikan penampilan plu disebelahnya yang rada-rada manis dan gay banget.
“ iya..emangnya kenapa ???” jawab mas Sultan mulai meninggi
“ yaaa sama donk kayak punya saya…kalo mas Galaxynya galaxy apa? kalo saya galaxy mini..” lanjutnya, kali ini si plu lebih kelihatan ngondeknya saat bicara.
“ mas, udah yuk jalan lagi…” kataku sambil menarik tangannya yang halus, aku tak ingin mas Sultan tiba-tiba meledak emosinya
“ eeeh ntar dulu dooonk …gw kan masih ngobrol sama temen elo..” kata plu itu dengan suara ngondek yang lebih kentara
“ eh chin…maaf yee, dia udah punya gueh, elu cari laki lain doonk..” bela ku seenaknya sambil berhadapan dengan plu itu
Mas Sultan malah memperhatikanku dengan aneh, dia mengerenyitkan alisnya, mungkin dibenaknya dia berkata “kenapa Adam jadi aneh begini?”
Lalu sambil ku ajak berdiri , mas Sultan masih saja menatapku dengan aneh. Aku bawa dia jauh-jauh dari plu itu..
“ iih rese lu..sirik aja…” kata plu itu kesal.
Setelah jauh, mas Sultan pun bertanya padaku
“kamu banci ya Dam?”
“ yeee enak aja,… saya tuh mau nolong mas tadi..” kataku sewot
“ noloong ? nolong apaan?”
“ nolong mas dari banci tadi, biar mas gak jadi emosi , kan kalo emosi bisa ngamuk-ngamuk deh ntarnya“
“ ooooh gitu…xixixi di kira apaan, sampe kaget saya sama tingkah kamu, tadinya udah mau saya tonjok aja kamu kalo emang beneran homo..”
“ hah tonjok ??...tega bener …”
“ hehehe …tapi akting kamu bagus tadi lho Dam…bener ! saya sampe ngira kamu itu sebenarnya banci ”
“ hahaha makasih mas…mudah-mudahan saya lolos audisi yaa..”
“ xixixi audisi apaan? audisi banci ? hahaha”
“ uuuu rese …” aku mendorong badannya pelan
“ hahaha……!”
Nampaknya mas Sultan sangat senang dengan aktingku tadi, yaaa lumayan lah daripada emosinya yang harus dikeluarkan di depan banyak orang, bisa berabe nantinya…
Tapi aku sangat kuatir dengan masa depanku bersamanya, aku takut suatu saat nanti mas Sultan akan tahu bagaimana sebenarnya aku, bagaimana sebenarnya orientasi seksualku.
Aku takut kalo tiba saatnya nanti, hubungan pertemanan kami yang sudah terjalin sangat baik akan hancur berkeping-keping hanya karena aku seorang plu dan itu mungkin... akan menjadi peristiwa kelam dalam hidupku, dimana dia menghajarku atau mendampratku habis-habisan.
Mudah-mudahan tidak..
Tuuut tuuut tuut …ringtone hape terus menerus berdering, sedari tadi mungkin sudah ada 5 x telepon dari teman-teman restoku, mereka adalah orang-orang yang belum sempat ku sambangi tuk pamit meninggalkan resto , mereka rata-rata adalah karyawan yang tidak masuk shift pagi kemarin.
Namun dari 5 penelpon itu, tak satupun yang berasal dari Alex, ia seperti hilang di telan bumi, tak ada kabar beritanya. Menurut teman-temanku yang masuk kemarin, dia juga tak masuk kerja, padahal kemarin itu jadwalnya dia masuk siang.
Beberapa teman-temanku sempat mengira Alex sedang pergi bersamaku kemarin karna menghilangnya bersamaan, akan tetapi karyawan yang masuk pagi sudah menjelaskan dengan detail perihal ketidakberadaanku dan mereka terkejut dengan resignnya aku dengan tiba-tiba.
Aku sekarang jadi bertanya-tanya tentang Alex, ada apa sebenarnya dengan dia, kenapa dia seperti orang yang kacau begitu, padahal beberapa hari lagi perkawinannya akan berlangsung dan dia di tuntut untuk fokus seratus persen agar pelaksanaannya bisa berjalan lancar.
Tuuut Tuut Tuuut
dering hapenya tak juga berhenti, kulihat pada layar, nomornya juga tak ku kenal, tak ada di daftar phonebookku, aku jadi takut kalau kalau Alex yang menelponku dan mengintimidasiku lagi.
“ah lebih baik ku angkat aja, aku tak mau bunyinya berisik karna pak Luthfi sedang tidur di atas ranjang ” pikirku
KLIK
/ya hallo../
// Adam?!//
/ iya, siapa nie??/
//gw Siti, masa sama suara merdu begini lo gak kenal?!//
/ merdu dari hongkong…ada apa lo telpon, pake nomor siapa lagi lo ?!/
// gw pake telpon adek gw…gw Cuma mo kasih tau kalo Pak Alex masuk rumah sakit..//
/ Hah..Pak Alex masuk rumah sakit ? yang bener lo, kemarin-maren dia sehat-sehat aja../
// enggak, die ternyata kemarin gak masuk karna masuk rumah sakit, gw aje kata calon bininye..die dateng ke resto tadi..//
/ emang sakit apaan ?/
// gak tau belum jelas, kata bininya sih dia bonyok gitu, kayak habis di tonjokin orang//
“ waduh, gawat kalo begitu, ternyata pukulan mas Sultan bener-bener menyebabkan bonyok” pikirku
/ emang siapa yang tonjokin dia?/ kupura-pura tak tau
// mmh kata bininya sih enggak tau, Pak Alex mingkem aje dari kemarin, gak mau bilang siapa pelakunya, Pak Alex Cuma minta kita-kita pada dateng ke rumah sakit tuk jenguk die, terutama elo katanye!//
/ hah kok gw ?! emangnya kenapa ?/
Aku pura-pura innocent, padahal sudah pasti aku yang salah dalam hal ini dan setidaknya harus bertanggung jawab
// ya gak tau lah alesannye ape, ….udeh sih, ayo kita ke rumah sakit bareng-bareng .. entar sore kita berangkat, waktu jam bezuk di buka//
/ yaa Sit, gw gak bisa…gw ada kerjaan/
Aku terpaksa harus berbohong karna aku benar-benar tak ingin menemui Alex lagi
// kerjaan apaan sih, Cuma bentar doank nengok atasan kok gak mau, ntar-ntar kalo lo sakit mau gak di gituin ??!// kata Siti sewot
/ yaaa Sit…gw ../
//udah pokoknya lo harus ikut, kita tunggu lo di resto jam 6 an, gak ada kata gak ikut, lo harus dateng..titik !//
Klik…
Belum sempat aku melanjutkan omonganku, dia sudah memutuskan sambungan secara sepihak
“ kurang asem nih Siti..gak sopan banget..!” gumamku
Aku menoleh ke arah ranjang, ternyata Pak Luthfi sudah bangun, mungkin dia bising mendengar suaraku yang keras hingga akhirnya terbangun.
“ eh bapak, dah bangun pak, di kira masih tidur..” kataku
Dia diam sebentar, lalu dengan dua kakinya menjuntai ke lantai, dia mulai bicara
“ siapa yang sakit dek?” tanyanya dengan suara berat
“ atasan saya pak..”
“ trus kamu di ajak jenguk ?”
“ iya pak, tapi saya jawab gak bisa”
“ kenapa ?”
“ yaaa karna malas aja pak” jawabku sekenanya
“males? Kok males, dia kan atasanmu ,… kan kasian kalo gak di jenguk”
“ yaaa gak enak juga sih pak, saya kemarin-marin pernah ada masalah sama dia..takutnya dia gak mau terima saya di rumah sakit nanti” jawabku sambil nyengir
Pak Luthfi menarik nafas sebentar, dia seperti menyiapkan diri tuk memberiku wejangan
“ begini lho dek, pernah ada masalah atau gak ada masalah, kamu harusnya datang ke sana, siapa tau dengan kedatanganmu, hubungan kalian jadi akrab lagi…karna dia akan melihat betapa besar jiwa kamu karna mau menjenguknya dikala sakit begini…”
Aku mendengarkannya baik baik sembari memberikan anggukan tanda bahwa aku mendengarkannya.
“ mau atasan atau bawahan, kalo kita yang memulai duluan tuk berbuat baik pada musuh kita, pasti kita akan mendapatkan balasan yang baik, kita gak boleh dan gak bisa menjauhkan diri dari musuh, malahan,… harusnya kita terus-menerus berusaha dekat dengan mereka agar hubungan kita sama mereka jadi lebih baik, ….kan enak kalo hidup banyak teman? Iya kan ?!”
“ iya pak…bener..!”
“ jadi…sekarang kamu lebih baik pergi jenguk atasan kamu…jangan di tunda-tunda lagi, siapa tau dia mau minta maaf sama kamu..”
“ ntar aja pak deh pak, bareng-bareng sama temen kerja saya..”
“ oh gitu..ya sudah yang penting kamu jenguk dia yah”
“ iya pak..”
****
Rumah Sakit
Kamar tempat Alex di rawat rupanya berada di kelas 1, sekamar hanya ada dua pasien di dalamnya, tapi saat ini, kamar Alex hanya di tempati sendiri karna di sebelahnya belum ada pasien lain yang menempati.
Akhirnya aku datang ke sini karna bujukan Pak Luthfi yang memberiku wejangan-wejangan khas orang tua. Rasanya aku malu tuk berada di dalam kamar saja karna pak Luthfi sudah memaksaku tuk datang menjenguk Alex walaupun cukup berat kakiku melangkahnya.
Teman-teman yang lainnya tadi sebagian sudah masuk ke dalam kamar, sementara sebagian lain masih menunggu di luar seperti aku. Jumlah penjenguknya cukup banyak, bagi yang belum masuk, hanya bisa melihat kondisi Alex dulu dari jendela kaca yang ada di pintu masuk kamar.
Dari jendela itu, aku bisa melihat dengan jelas kondisi Alex yang nampaknya sudah lebih baik dari terakhir kali ku melihatnya. Beberapa bagian wajahnya ada tempelan perban yang cukup besar dan memar-memar di sekitar perban itu.
Tak berapa lama, akhirnya rombongan pertama bersiap keluar kamar, aku memundurkan badan agar bisa memberikan ruang jalan buat mereka.
“ hehe..gantian cuuy..panas di dalem” kata Siti setelah selesai menjenguk di rombongan pertama
“ ah norak lu, masa pake AC masih panas” sahut seseorang
“ yeee, coba aje lu masuk rame-rame sono..!”
Jantungku tiba-tiba deg-degan, aku merasa grogi tuk melangkahkan kaki ke dalam, aku khawatir kalau-kalau Alex tiba-tiba mengatakan penyebab sesungguhnya dari kejadian ini ketika aku di dalam.
“ hey…Dam.! Ayo masuk..” panggil Dena dari arah pintu
Aku tak bisa menjawab, aku hanya mengangguk-anggukkan kepala dan terus masuk ke dalam kamar.
Di dalam kamar, mata Alex langsung tertuju padaku, tapi kali ini tidak ada aroma permusuhan atau nafsu yang terpancar dari raut wajahnya, hanya raut kesenduan yang menghiasi wajahnya saat ini.
“ gimana pak kabarnya ? “ tanya salah seorang staff dapur
“ udah mendingan pak..” jawab Alex lemah
“ tapi masih berasa sakit gak tuh pak?” tanya yang lain
“ lumayan, masih nyut-nyutan..”
“ kok bisa begini pak, emangnya siapa yang mukulin ?” tanya yang lain lagi
“ ah gak tau lah pak, waktu malam itu gelap banget, jadinya gak kelihatan mukanya”
“ aah sukur deh, waktu itu memang kondisi resto sudah gelap di area depan kantor, mungkin Alex tak sempat melihat muka mas Sultan waktu di hajar” batinku lega
“ trus bapak mau nuntut tuh orang?”
“ ah enggak lah, biar aja, mungkin emang saya yang salah..lagian mau nuntut gimana, orang kondisinya gelap, gak kelihatan pak..” kata Alex
“ hahaha iya ya, susah juga kalo gitu.”
“ tapi emangnya gak ada saksinya gitu pak ?” tanya yang lain
“ ada siih, tapi…biar aja lah, gak penting,nanti malah jadi panjang urusannya, urusan nikah saya jadi berantakan lagi nanti”
“ oh iya iya…bener…”
Perbincangan mereka berlangsung hanya beberapa menit sementara aku hanya jadi kambing congek saja di belakang mereka. Aku tak mengucapkan sepatahkatapun tadi.
Tak berapa lama kami pamit pada Alex, tapi kemudian Alex memanggilku
“ Dam…tolong kamu di dalam dulu, ada yang mau saya omongin sama kamu..”
“ nah loo, di omelin deh ..makanya jangan resign..” ledek salah seorang staff dapur
“ yee biarin…yang penting hepi” sahutku meledek balik
Setelah semua keluar, kini hanya tinggal aku dan Alex di dalam kama dan dia terus menerus melihatku dengan datar tanpa sepatah katapun yang terucap.
“ kenapa ?” tanyaku memecah keheningan
“ kamu duduk dulu..” sahutnya
Aku pun duduk di sampingnya tapi tetap menjaga jarak ku dengannya. Dia sesekali menatapku sendu dan terlihat malu.
Wajahnya di bekap memar dan perban, tak terlihat lagi wajah tampannya yang dulu sempat ku kagumi, sekarang wajah itu berganti dengan wajah seperti para petinju kelas berat dunia, lebam dan tak berbentuk, memerah dan membiru.
“ maafin aku Dam, …..aku udah berbuat buruk sekali sama kamu…malu sekali saya Dam…” katanya
Aku mau membiarkannya berbicara dulu tuk mengeluarkan segala isi hatinya yang selama ini mungkin dipendamnya..aku mau tau kenapa dia sampe berbuat begitu padaku kemarin.
“ waktu kemarin itu aku khilaf, …kondisiku udah gak terkendali lagi, sebelum berbuat buruk sama kamu, mumpung kamu belum pulang, aku sempet minum minuman alkohol banyak di bar, makanya ….mungkin itu yang menyebabkan aku jadi berkelakuan seperti setan”
“ minum alkohol ? “ tanyaku
“ iya..”
“ pantes kemarin ada bau bau eneg apa gitu..” kataku heran, aku benar-benar tak ingat akan bau alkohol
“ iya itu bau alkohol..”
Lalu kami terdiam satu sama lain beberapa saat
“ kamu mau maafin aku gak Dam?” lanjutnya
Aku tak menjawab, aku tak tahu harus menjawab apa, memaafkan atau tidak memaafkan atas kelakuannya , karena kejadian itu sudah membuatku lumayan trauma akan dirinya.
“ Dam…kamu gak mau maafin aku ya?” tanyanya tuk kedua kali
Aku menarik nafas, “ gak tau Lex, aku gak yakin, kejadiannya udah bikin aku ilfil sama kamu , tuk saat ini rasanya berat tuk maafin kamu, mungkin kalo aku udah lupa kejadiannya nanti, aku bisa mulai memaafkan kamu..”
Dia diam, suasana jadi hening..
“ ya udah….gapapa…aku tunggu maaf dari kamu..sampai kapanpun aku tunggu maaf kamu” katanya sedih
Aku mengangguk mengiyakan..
“ udah ya Lex, aku mau pulang, temen-temen dah tunggu lama di luar..”
“ nanti dulu Dam, katanya kamu udah resign ya?” dia menatapku serius
“ iya…”
“ kenapa kamu resign Dam…apa ini karna aku..? apa aku yang menyebabkan kamu gak betah ?”
Tiba-tiba matanya berkaca-kaca, bibirnya mulai bergetar, sepertinya dia sedih mendengar kabar aku sudah resign.
“ Dam…jawab Dam…apa kamu keluar karna aku? Karna kejadian malam itu ?...kalo begitu alasannya…aku minta maaf bener-bener sama kamu…aku mau ngelakuin apa aja buat kamu…asal kamu gak jauh-jauh dari aku…” air matanya bertambah deras, ia mulai menangis sesenggukkan, tangannya kini memegangiku dengan kuat
“ enggak Lex…enggak, bukan karna kamu…tapi karna hal lain..” jawabku sambil mataku berkaca-kaca juga
“ hal lain apaaaa? apa karna pernikahanku? Jawab Dam…aku rela ngelakuin kalo kamu bilang batalkan saja pernikahan ini..!! , aku rela Daam..”
“ enggak…bukaaan..! aku resign karna memang ada kerjaan yang lebih menarik…lagian aku udah bosen di resto..”
“ BOhong..!! pasti ini semua karna aku atau karna pernikahanku…trus kalo aku gak berbuat bodoh kemarin, mana mungkin kamu keluar dan mau terima kerjaan itu..” tanganku ditarik-tariknya, sepertinya dia ingin mendekapku dan tak ingin melepaskanku pergi
“ aku gak bohong Lex, kerjaan itu penawarannya lebih baik, baik dari segi jabatan ataupun gajinya..”
Kami saling tarik ulur tangan, tapi kemudian Alex terdiam, dia malah menangis sesenggukkan, dia masih kelihatan tidak ikhlas dengan keputusanku ini.
“ kalo begitu keputusan kamu,…. aku mau kita bf an lagi seperti dulu..!” paksanya
“ bf an lagi ? gak bisa lah Lex… trus 3 bf mu yang lain mau dikemanain ? bukannya itu udah cukup banyak Lex?!”
“ enggak Dam,jangan kuatir… nanti aku putusin semuanya demi kamu…aku rela semuanya aku lepas…” kami kembali tarik tarikan tangan
“ aku juga gak tega sama istri kamu, aku gak mau jadi penghalang kebahagiaan anak istri kamu nanti…”
“ enggak Dam..enggak, aku mau kamu…aku mau kamu jadi bf ku lagi.. titik ”
Dia mulai memberontak, tubuhnya yang sedari tadi tiduran, kini mulai bangun dan seperti tak merasa kesakitan sama sekali, dia terus memegangiku dengan kedua tangannya, aku sendiri sudah mulai panik dengan tingkahnya ini. aku masih tak bisa melepaskan genggaman tangannya..
“ haduh…gimana ini…” pikirku mencari-cari cara
Tiba-tiba pintu kamar di buka, aku menoleh ke arahnya dan Siti muncul dengan wajah panik juga melihat Alex yang berontak seperti ini.
“ ini kenape Dam…..Pak Alex kenape???” teriak Siti yang menambahku panik
“ gak kenape-nape…udeh lo bantuin gw lepasin dulu nih tangan die niiih…” sahutku tak sabaran, genggaman tangan Alex membuat pergelangan tanganku sakit dan telapak tanganku sudah mulai kelihatan memutih dan mendingin mungkin darahku sudah tak jalan ke telapak tangan lagi.
“ Sit..tolong bilangin dia Sit, jangan resign…jangan resign…saya sayang dia banget…! Saya mau ngelakuin apa aja buat dia” kata Alex sambil terus merengek tak menghiraukan lagi imejnya sebagai seorang manager
Siti terkejut, matanya terbelalak kaget, seperti orang yang baru saja mendapatkan sebuah berlian di kali, dia malah diam terpana dan membeku, matanya terus memperhatikan kami berdua secara bergantian, mulutnya terus melongo lebar.
“ hah…saaayaang ??? kok…” sahutnya tergagap-gagap
“ udah Sit, lo jangan peduliin omongan dia, tangan gw dah sakit nih…cepeeet lepasin…!!” teriakku
Siti lalu melupakan omongan Alex, dia kemudian berusaha membuka genggaman tangan Alex dengan sekuat tenaga, tapi tetap saja dia tak kuat membukanya..
“ sebentar Dam..” kata Siti sambil berlari ke luar kamar, “ woy cuy, tolongin gw nih…cepet…” lanjutnya
Siti meminta bantuan keluar, para penjenguk ternyata belum pergi meninggalkanku, mereka masuk berbondong-bondong ke dalam kamar.
Melihatku sedang kesulitan, mereka akhirnya membantuku melepaskan tangan dari genggaman Alex, dan dengan mudah mereka memaksa Alex tuk melepaskan genggamannya.
Aku langsung menjauh dari Alex, akan tetapi di hadapan banyak orang, Alex malah diam dan tak menatap kami sama sekali, dia bahkan menyuruh keluar semua orang dari dalam kamar dengan segera.
****
Di luar kamar, teman-temanku tak henti-hentinya melayangkan pertanyaan tentang kejadian tadi, tapi dengan alasan aku pusing, aku pergi mendahului mereka pulang dan Siti bersedia mengantarkanku sampai kosan.
“ Dam…ape gw gak salah denger tadi..Pak Alex bilang sayang sama elo..?!” tanya Siti berusaha mencari tau
Aku semula mau diam saja, tapi Siti terus memaksaku tuk menjawab dengan menatap terus di depan mukaku
“ aaah lo apa-apaan sih…!” kataku jengah
“ habis jawab dooonk, jangan nutup-nutupin kayak gini…apaaaa…lo mau gw sebarin nih berita???” ledeknya
“ AWAS lo ya, berita ini ada yang tau lagi, gw HAJAR lo..!!” ancamku pura-pura kejam
“ yeee sadis amat …”
Siti diam sebentar, tapi bukan SIti namanya kalo dia terus berdiam diri
“ mmmh…lo berdua jadian ya ??” tanya Siti sambil memainkan alis
“ kurang asem lo ye…kampreet !!” sahutku sambil mencubit bibirnya yang lebih itu
“ aduh aduh….sakit nyet.!” protesnya
“ sukurin, biar tambah panjang aje tuh bibir..”
“ udeh sih, jawab aje, jujur sama gw, gw gak akan ember deeeh..”
“ jujur apaan??? Ngaco aje lo..masa gw sama Alex jadian..”
“ lha tadi ada buktinye….gw saksinye…dah deh lo gak usah nyangkal…beneran gak lo berdua saling jatuh cintaaa???”
“ emangnya lo seneng ya punya temen homo ???” kataku tegas sambil menghentikan langkah
“ hehehe gapape, asal temen gw bahagia, why not ??”
“ trus lo mau, kalo gw sama Alex jadian??”
“ ye gapape, asal lo berdua saling suka…mmh…cocok sih kalian berdua, dua-duanya ganteng..xixixi..”
“ kampreeeet..!!” pekikku sambil menutup bibirnya dengan paksa..
Perjalanan kami menuju kosan diselingi berbagai pertanyaan dari Siti yang tak karuan, dia terus berusaha mencari pengetahuan lebih dariku mengenai ucapan Alex tadi, tapi tetap saja aku tak bersedia menceritakan hal itu padanya, biarlah ucapan Alex ini akan jadi misteri di benak SIti, bagiku bukan sebuah hal penting aku harus menceritakan orientasi seksualku padanya, bisa-bisa berita ini bocor dari bibirnya yang lebih.
*******************************************************************
Part 18 episode 2
Kosan
Siti mengantarku sampai ke depan kosanku yang baru, dia bilang bahwa kosanku kali ini kelihatannya lebih besar dari yang sebelumnya, tapi ketika dia akan berniat melihat ke dalam , aku melarangnya, aku katakan bahwa ini adalah kosan khusus laki-laki, perempuan dilarang masuk apalagi melihat-lihat kamarnya.
“ yaah pelit amat lo, gw kan dah dateng jauh-jauh , masa sampe sini lo gak bolehin gw masuk..” katanya tadi
“ yeee ini kan kebijakan ibu kost, bukan gw, ntar kalo lo masuk, gw malah di usir lagi“
Setelah di bilang begitu,Siti akhirnya memaklumi, dia beranjak pulang kembali ke kosan.
Di dalam kosan, ternyata mas Sultan sudah datang juga, dia sedang mengutak-atik laptop di samping ranjang, sementara Pak Luthfi sedang asyik menatap televisi.
“ lagi nonton apa pak ?” tanyaku basa basi
“ ini …acara Indonesian Idol..”
“ heh… Indonesian Idol ?? kayak anak muda aja..” batinku
“ ooh bapak seneng juga sama Indonesian Idol ya?!”
“ hehe iya…habis suaranya bagus-bagus..”
“ ooh gitu…”
Aku menoleh ke mas Sultan, dia kelihatannya sibuk sekali di depan laptop hingga belum mengajakku bicara..
“ ngerjain apa mas?” tanyaku sambil mendekatinya dan melihat layar laptopnya
“ gak ngerjain apa-apa, Cuma lagi download film aja..!” sahutnya sembari matanya terus terpaku ke layar
Tubuhnya masih tercium harum nampaknya dia baru saja mandi
“ ooh di kira lagi kerja…….mmh mas baru mandi ya?!”
“ iya..kenapa emangnya?”
Akhirnya kali ini dia menjawab sambil melihat ke arahku
“ gapapa, harum aja di hidung..”
“ heh..harum ?! ada ada aja kamu….”
“ kamu mandi sana..” suruhnya
“ mandi ? emang kenapa ?” tanyaku heran
“ kecium harumnya ke hidung saya nih…” sahutnya sambil tersenyum
“ harum apa emangnya ? orang saya gak pake parfum kok”
“ harum asem..!” sahutnya sambil tersenyum
“ aah sial…di kira harum apa… ya udah saya mandi deh..”
Disinggung begitu sama mas Sultan, aku tak mau berlama-lama lagi berada di dalam kamar, aku segera beranjak ke kamar mandi agar tak menyebarkan bau-bau aneh di kamar
****
“ tadi kamu dari mana Dam ?” tanya mas Sultan setelah aku kembali lagi ke kamar
“ habis jenguk temen mas..”
“ ooh..”
Aku sengaja tak mau memberitahu dia kalau aku baru saja menjenguk Alex , takut mas Sultan akan marah padaku karna aku masih saja dekat-dekat pada Alex.
“ dia habis jenguk atasannya ” kata Pak Luthfi tiba-tiba membuka suara
“ atasan? Siapa ?” tanya mas Sultan serius
Mas Sultan menatapku dengan penasaran, pasti dia sudah mengira bahwa atasanku itu adalah orang yang sudah dia pukuli kemarin, dia terus menungguku tuk menjawab pertanyaannya.
“ eehh……Pak Alex mas..”
“ Pak Alex?? Yang mana? Yang kemarin malam itu di resto ??” tanyanya serius
“ iya..”
“ ooh…emangnya kamu gak dendam sama dia ?”
“ mmmh..enggak sih..”
Mas Sultan kemudian terdiam, matanya melihat ke arah lain, nampaknya dia sedang berfikir.
“ baguslah…” katanya tiba-tiba sambil manggut-manggut
“ lho…kok bagus, bukannya marah ..” pikirku
“ bagus kenapa mas?”
“ ya baguslah, kamu orang yang baik hati banget ternyata, orang yang udah jahat sama kamu, masih tetap kamu perlakukan seperti temen..” katanya santai sambil melihat kembali ke laptopnya
“ jahat ? jahat gimana nak ?” tanya Pak Luthfi ikut campur
“ yaaa jahat..masa jahat ada kategorinya sih pak..” sahut mas Sultan sekenanya
“ maksudnyaaa …udah berbuat jahat seperti apaa…”
Mas Sultan menghentikan aktifitasnya, dia memejamkan mata sesaat sebelum menjawab pertanyaan bapaknya..
“ jahatnyaaa karnaa dia sering ngomelin Adam di restonya dulu paaak..! juga sering nyuruh-nyuruh gak sopan sama Adam..”
“ ooh gituu …di kira jahatnya kenapa…..ya.. kamu sabar aja ya dek, suatu saat orang yang seperti itu juga akan kena balasannya kalo jahat sama orang, tapi kamu tetep aja harus berbuat baik sama semua orang, tak terkecuali sama orang yang jahat sama kamu” pak Luthfi menasehatiku
“ iya pak, pasti”
Mas Sultan sepertinya tak ingin membeberkan tentang kasus pemukulan itu pada bapaknya, aku tak tahu pasti alasan dia menutup-nutupi hal tersebut, mungkin saja mas Sultan tak ingin ribet harus menjelaskan kronologis kejadiannya.
“ eh Dam, kamu udah makan belum ?” tanya mas Sultan
“belum mas, mang kenapa ?”
“ cari makan yuk di luar..!”
“ mmh boleh…bapak juga ikut kan ?!”
“ gak tau, tanya lah sama dia ..” mas Sultan menyerahkanku tuk bertanya pada pak Luthfi
“ bapak gak ikut ah, takut cape…kalian berdua aja sana” kata Pak Luthfi mendahuluiku tuk berbicara
“ trus bapak mau pesen makan apa?” tanyaku
“ enggaklah, gapapa…di sini udah banyak cemilan..”
“ oh ya udah, tapi nanti kalo bapak mau pesen sesuatu, bapak sms aja ya..” kataku lagi
“ iya dek..makasih..”
****
Sop Ikan
Kami berdua akhirnya memilih warung makan yang menyediakan sop-sop ikan yang lumayan jauh jaraknya dari kosan, lokasinya berada di dekat jalan raya. Dilihat dari depan, sepertinya warung makan ini lumayan favorit karna pembeli yang mengerubunginya cukup ramai, sehingga kami tertarik tuk mendekati warungnya.
Mas Sultan sebelumnya sudah ku tawarkan tuk membeli nasi goreng pinggir jalan saja, tapi dia tak mau, alasannya dia mau makanan yang lebih menyehatkan seperti sop-sop ikan yang ada di warung makan ini.
Setelah menunggu agak lama karna pelayan melayani pembeli yang terlebih dulu datang, akhirnya kami mendapatkan pesanan kami di meja makan. Dua buah mangkuk sup yang lumayan besar, Mas Sultan memesan sop ikan gurame, sementara aku sop ikan kakap.
“ makasih ya mbak…” kata mas Sultan pada pelayannya
“ iya sama-sama maass ” sahut sang pelayan dengan senyuman genit, dia kayaknya sadar bahwa pembelinya orang ganteng.
Kami mulai coba mencicipi sop ikan yang sudah tersaji.. Sepertinya mas Sultan sudah tak tahan lagi tuk melahap sop di hadapannya, dengan antusias mas Sultan menyendok sop ikan pesanannya satu persatu.
“ hemm enak…gimana sop ikan kakapnya Dam, enak juga gak?” tanyanya
“ yaaa lumayan deh mas, cocok lah dengan harganya yang cukup murah..”
“ iya ya lumayan, sop ikan gurame saya juga lumayan enak….kamu mau coba ?”
“ mmmh boleh…”
Aku mengambil sedikit sop ikan gurame milik mas Sultan dan langsung memasukkannya ke mulut.
“ emmm enak mas…enakan gurame ternyata..” kataku xcited
“ masa sih…sini coba punya kamu ..”
Sekarang giliran mas Sultan yang merasakan sop ikan punyaku
“ emm ..ini juga enak lah Dam…gak jauh beda…”
“ iya tapi kayaknya yang gurame lebih berasa gurihnya…”
“ oh kamu suka gurih ya..kalo saya malah lagi ngurangin asin …takut kena darah tinggi “
“ooo… emang orang tua punya riwayat darah tinggi mas ?”
“ ada, almarhum ibu saya..”
Aku tak menjawab, aku hanya manggut-manggut.
Kami berdua menikmati sekali makan malam kali ini, lebih terasa santai dan segar, di selingi perbincangan ringan yang membuatku tertawa dan tersenyum, sampe-sampe terasa sekali keakraban kami berdua.
“ kamu pernah punya pacar gak sih Dam..”
“ mmh pernah mas..” jawabku cepat, aku ingin dia berfikir bahwa aku seorang yang straight
“ oh…pernah ngapain aja selama pacaran?”
“ heh…kok pertanyaannya begitu..?!”
“ hehe yaaa gapapa kan kalo nanya begitu..namanya juga anak muda…kadang bisa aja kebablasan..”
“ enggaklah…saya sih gak pernah begituan..”
“ kalo ciuman ?”
“ pernah..”
“ kalo pegang tangan?”
“ pernahlaaah..”
“ kalo pegang yang lain ?”
“ yee ngaco..emangnya saya cowo apaan..sory ya saya bukan orang yang begituan”
“xixixi sewot amat ditanya begitu..” katanya sambil cekikikan
“ habis pertanyaannya ngelantur gitu..”
“ eh Dam…saya mulai besok gak ngegym lagi lho..”
“ kenapa emangnya ?”
“ yaaa kan mau fokus dulu ke bisnis…”
“ kalo begitu sama donk kayak saya, tapi saya habisnya 2 hari lagi..”
“ ooh baguslah, biar kamu fokus sama kerjaan kamu nantinya..”
“ iya siih…lagian alasan lainnya juga saya gak punya uang tuk ngelanjutin itu..”
“ ah masa…kamu bukannya banyak uang?”
“ uang dari mana ? dari kali? Saya sih gak punya banyak uang mas, kalo ada gaji, langsung saya kirimin ke kampung, buat orang tua sama adik-adik saya yang masih kecil”
Mas Sultan memperhatikan omonganku, dia manggut-manggut tanda dia mengerti dengan kondisiku yang cukup susah.
“ Cuma beberapa ratus ribu aja saya sisihkan buat kosan dan makan, makanya harus berhemat banget biar bisa makan selama sebulan penuh”
“ iya iya…saya ngerti …hidup di perantauan memang serba susah, harus berhemat biar tetep survive”
“ iya bener mas…”
“ apaa kamu mau kasbon dulu buat gaji pertama kamu Dam ?”
“ ah enggak usahlah mas, saya masih ada sedikit tabungan kok, masih cukup tuk sampai akhir bulan nanti..”
“ oh iya Dam, kamu mulai training 3 hari lagi ya, soalnya pembukaan outletnya itu jum’at depan”
“ berarti sekitar seminggu lagi donk..”
“ iya…kamu nanti training bareng anak buah kamu yang baru ya”
“ sip mas, jangan kuatir, saya akan menularkan seluruh kemampuan dan pengetahuan saya pada anak baru tuk memajukan perusahaan baru mas..”
“ hehehe baguslah kalau begitu..saya juga seneng bisa dapet karyawan seperti kamu..smoga berkah ya usaha kita nanti..”
“ amiiiin..”
Kami telah menyelesaikan makan malam kami, sekarang waktunya tuk kembali ke kosan.mas Sultan tak lupa membelikan pak Luthfi sop ikan juga tuk dimakan di kosan. Dia tak tega melihat bapaknya kelaparan nanti malam.
Kalo tadi kami berangkat menumpang ojek, sekarang pulangnya mas Sultan memutuskan berjalan kaki, alasannya dia ingin membakar lemak dan kalori karna besok-besok tidak akan ngegym lagi.
“ aduh mas, cape nih…bentar berhenti dululah..”keluhku saat sudah 10 menit berjalan
“ yaaa payah nih…masih muda kok udah letoy…ayooo semangat doonk..” katanya sambil senyum
“ yah mas…ini kan jauh, lagian kita kan habis makan tadi, jadinya keringetan banyak nih..cape..!”
“ oke..oke..kita duduk dulu..”
Mas Sultan akhirnya mau menepi ke sisi jalan, dia memilih pinggiran pagar yang bisa di duduki. Di sebelah kami ada gerobak bakso yang nampaknya juga lagi laris manis dikerubungi pembeli baik perempuan ataupun laki-laki.
Sambil duduk di pinggiran pagar, aku berusaha mengatur nafas, nafasku tadi sempat tersengal-sengal karna cape. Sedangkan mas Sultan tak kelihatan cape, malahan dia lagi memainkan hapenya yang berlayar cukup besar.
Karena wajah dan penampilan tubuh mas Sultan yang sangat keren dan aduhai, mirip model-model papan atas, membuat beberapa pembeli bakso mencuri-curi pandang ke arahnya, mungkin dibenak mereka ingin sekali menyapa dan berkenalan dengan mas Sultan, apalagi pembeli laki-laki yang beraroma plu yang berkerumun sampai 4 orang di depannya.
Beberapa diantara pembeli yang plu itu salah satunya memutuskan duduk dekat mas Sultan, dia terhitung pede sekali karena jarak duduknya didekat-dekatkan pada mas Sultan, sementara mas Sultan sendiri tidak menyadari bahwa disebelahnya sudah ada predator yang siap memangsanya.
Dari gerak-geriknya, sepertinya plu itu sudah siap menyapa mas Sultan, matanya membelalak nafsu melihat muka dan bodi berotot mas Sultan yang mirip juara L-Men.
“ mas, hapenya Samsung Galaxy ya?” kata plu itu memulai pembicaraan
Mas Sultan menoleh ke samping, dia terdiam, mungkin matanya sedang naik turun memperhatikan penampilan plu disebelahnya yang rada-rada manis dan gay banget.
“ iya..emangnya kenapa ???” jawab mas Sultan mulai meninggi
“ yaaa sama donk kayak punya saya…kalo mas Galaxynya galaxy apa? kalo saya galaxy mini..” lanjutnya, kali ini si plu lebih kelihatan ngondeknya saat bicara.
“ mas, udah yuk jalan lagi…” kataku sambil menarik tangannya yang halus, aku tak ingin mas Sultan tiba-tiba meledak emosinya
“ eeeh ntar dulu dooonk …gw kan masih ngobrol sama temen elo..” kata plu itu dengan suara ngondek yang lebih kentara
“ eh chin…maaf yee, dia udah punya gueh, elu cari laki lain doonk..” bela ku seenaknya sambil berhadapan dengan plu itu
Mas Sultan malah memperhatikanku dengan aneh, dia mengerenyitkan alisnya, mungkin dibenaknya dia berkata “kenapa Adam jadi aneh begini?”
Lalu sambil ku ajak berdiri , mas Sultan masih saja menatapku dengan aneh. Aku bawa dia jauh-jauh dari plu itu..
“ iih rese lu..sirik aja…” kata plu itu kesal.
Setelah jauh, mas Sultan pun bertanya padaku
“kamu banci ya Dam?”
“ yeee enak aja,… saya tuh mau nolong mas tadi..” kataku sewot
“ noloong ? nolong apaan?”
“ nolong mas dari banci tadi, biar mas gak jadi emosi , kan kalo emosi bisa ngamuk-ngamuk deh ntarnya“
“ ooooh gitu…xixixi di kira apaan, sampe kaget saya sama tingkah kamu, tadinya udah mau saya tonjok aja kamu kalo emang beneran homo..”
“ hah tonjok ??...tega bener …”
“ hehehe …tapi akting kamu bagus tadi lho Dam…bener ! saya sampe ngira kamu itu sebenarnya banci ”
“ hahaha makasih mas…mudah-mudahan saya lolos audisi yaa..”
“ xixixi audisi apaan? audisi banci ? hahaha”
“ uuuu rese …” aku mendorong badannya pelan
“ hahaha……!”
Nampaknya mas Sultan sangat senang dengan aktingku tadi, yaaa lumayan lah daripada emosinya yang harus dikeluarkan di depan banyak orang, bisa berabe nantinya…
Tapi aku sangat kuatir dengan masa depanku bersamanya, aku takut suatu saat nanti mas Sultan akan tahu bagaimana sebenarnya aku, bagaimana sebenarnya orientasi seksualku.
Aku takut kalo tiba saatnya nanti, hubungan pertemanan kami yang sudah terjalin sangat baik akan hancur berkeping-keping hanya karena aku seorang plu dan itu mungkin... akan menjadi peristiwa kelam dalam hidupku, dimana dia menghajarku atau mendampratku habis-habisan.
Mudah-mudahan tidak..
Galau karena masih mencintaimu (Cerita gay) Part 17 (1&2)
Part 17 Bapak saya jangan di pegang !
Nafasnya tersengal-sengal, dia terbawa amarah yang meradang, mulutnya terus mencaci terus memaki , kakinya berusaha menendang-nendang Alex yang sudah tersungkur di lantai. Tampaknya dendam didadanya terus membuncah keluar membabi buta
Aku jadi agak ngeri dengan kemarahannya ini, mas Sultan tak biasanya bersikap luar biasa seperti ini, biasanya dia manis atau bersikap santai, aku mau mendekatinya juga agak-agak takut, takut kena getah pukulannya.
“ mas…udah mas..jangan di tendang lagi, ntar malah jadi panjang urusannya“ tegurku hati-hati sembari menunggu dia sadar akan keberadaanku
Dia menoleh ke arahku,mata dan wajahnya memerah, rambutnya amburadul,
“ biar aja Dam, saya paling benci sama orang yang kayak gini, gak tau aturan..!!” sahutnya
“ hah…apa maksud nya? Apa dia benci Alex? Apa dia udah kenal Alex sebelumnya?” tanya batinku
Ku coba bertanya lagi dengan hati-hati
“ kenapa ….benci sama Alex mas?, emangnya..mas udah kenal lama ?” tanyaku sambil memegang lengannya tuk menjauh dari Alex
“ bukan sama atasan kamu aja Dam, tapi saya benci sama HOMO !, mereka gak tau aturan !! ” sahutnya keras sambil menendang sekali lagi Alex
“APA…?? Mas Sultan benci sama gay? Trus kenapa dia terima gw di kosan??? Apa dia gak bisa baca tindak tanduk dan sikap gw??” pekikku dalam hati
“ dah Dam, ayo pulang…cari baju ganti dulu sana..” ajaknya sambil menarik tanganku
“ iya mas, sebentar saya ambil di loker”
“ iya, saya tunggu di sini..biar cecurut ini gak kabur..”
Aku beranjak pergi ke loker dan mencari-cari baju para staff yang biasanya bertebaran di loker. Setelah dapat satu aku kembali lagi ke depan, mas Sultan ternyata sedang berbicara keras sama Alex yang masih terbaring.
“ Saya gak akan tinggal diam, saya akan lapor security gedung, biar situ tau rasa.., biar gak ada korban lagi selain Adam!!”
“ Hahaha….lo peduli amat sih sama dia, pacaran lo ya berdua??!!, atauuu…malah lo udah en**t dia …hahaha” balas Alex sambil memegangi perutnya yang sakit
“ Homo Sialan …sembarangan aja lu ngomong…!” sahut mas Sultan sambil menendang Alex
“ maaas..udah yuk, kita pergi..!” ajakku
“ lo tunggu di sini, gw bakal panggil security “ ancam mas Sultan lagi serius
Aku dan mas Sultan pergi berlalu meninggalkan Alex yang masih kesakitan, aku sebenarnya merasa kasihan sekali melihatnya , aku tak tega melihat dia seperti itu, ingin aku menolongnya tapi rasanya aku tak tahu diri jika berbuat itu, mas Sultan sudah baik hati mau membantuku.
aku tau Alex orang baik, orang yang sabar, orang yang menyenangkan, makanya itu aku masih merasa kasihan, apalagi dia pernah jadi orang yang spesial dalam perjalanan hidupku kemarin-kemarin. aku menyesalkan perubahan sifatnya ini, mudah-mudahan dia bisa berubah lagi jadi orang baik.
****
“ mas mau lapor security? “ tanyaku pada mas Sultan saat menuju lobby gedung
“ iya…saya gak mau kasih hati sama orang yang udah kurang ajar begitu..!!’ tegasnya
“ mas….mending gak usah ya??!!” bujukku sambil menghentikan langkahnya
Dia menatapku tajam seakan mencari tahu kenapa aku berkata seperti itu padahal Alex sudah berbuat buruk padaku.
“ lho kok gitu, emangnya kenapa ?” tanyanya heran
“ kasihan mas…nanti dia bisa di pecat..”
“ ya biarin aja…., toh itu konsekuensi nya kalo dia berbuat jelek kayak gitu..” sahutnya sewot sambil melanjutkan lagi langkahnya
Aku menyetop lagi langkahnya, aku memegang lengannya.
“ iya… tapi…dia sebentar lagi mau menikah mas…kasihan kalo dia akhirnya dipecat, dia mau kasih makan apa istrinya ntar..!”
Mas Sultan akhirnya diam, amarahnya sepertinya reda seketika, nampaknya dia mulai berfikir bahwa laporannya itu akan mengakibatkan hal yang fatal pada Alex.
“ tapi dari kamunya gimana Dam, emangnya kamu gak dendam??”
“ insyaAllah enggak mas, saya gak apa-apa..”
Mas Sultan sejenak menatapku
“ oke kalo begitu ….tapi ada syaratnya..” katanya
“ kok pake syarat segala?!”
“ ya kalo gak mau, saya laporin nih..” dia mengancamku dengan melanjutkan lagi langkahnya
“ iya …iya deeh…apa syaratnya??” aku menyerah
Dia menyunggingkan senyum , sepertinya kemenangan kecil ada di tangannya sekarang
“ syaratnya….kamu harus berhenti kerja dari resto itu dan segera pindah kerja ke tempat saya..!” katanya sambil senyum lebih lebar kali ini.
“ huuuu itu sih maunya mas…”
“ ya udah…yuk lapor ..!” ancamnya lagi
“ heh heh…iya iya…saya akan keluar kerja…!”
“ kapan ?”
“ yaaa secepatnya…!” sahutku
“ gak bisa, harus besok..!!” katanya sambil menaikkan dagu tanda kemenangan
“ hah besok ?? kecepetan lah mas, masa mendadak gitu..”
“ besok !!” tegasnya
“ Aaarrgghh ….iya iya saya keluar besok..saya akan bilang ke HRD besok…puas??!!”
“ Puas!! “ sahutnya sambil menyunggingkan senyum kemenangan, “ dah yuk pulang…dikosan dah ada si Zein nunggu dari tadi..”
“ mas Zein? Tumben dia dateng ke kosan..”
“ iya ..dia mau nengok kosan kita yang baru katanya, malah dia pesen makanan..nih makanannya..”
“ apaan emangnya tuh?”
“ mie ayam..”
“ mie ayam yang di depan itu ?”
“ iya…kenapa?”
“ tadi saya baru ke sana beli itu…”
“ oh udah makan nih jadinya kamu ?”
“ belum sih, tadi itu buat atasan saya itu, saya sih gak mesen..”
“ ooh ya udah, kebetulan, ini ada satu buat kamu..”
Kami terus berjalan keluar gedung hingga menuju deretan tukang ojek yang akan kami sewa sampai ke depan kosan. Dalam hati aku senang, akhirnya aku kecipratan mie ayam juga dari mas Sultan, …emang rezeki gak kemana.
***
Mas Zein ternyata sedang terlelap di atas ranjang, dia kelihatan lelah sekali. Aku dan mas Sultan dengan diam-diam masuk kamar dan langsung menyiapkan piring tuk mie ayam, setelah semua beres mas Sultan pun membangunkan mas Zein tuk makan.
Zein terbangun dan sumringah melihat makanannya sudah hadir dan siap makan, tapi sebelum makan dia mencuci muka dan tangan terlebih dulu di kamar mandi.
Selama proses makan, mas Sultan menceritakan tentang peristiwa yang baru saja ku alami, dia menceritakan dengan menggebu-gebu dan kelihatannya sangat senang bisa menghajar Alex.
Mas Zein Cuma manggut manggut mengiyakan apa yang sedang diceritakan mas Sultan, nampaknya dia sudah paham akan kebiasaan mas Sultan yang sering bertindak keras terhadap kaum yang dikategorikan sebagai gay.
“ lagian sih kamu Dam, udah waktunya pulang bukannya cepet keluar malah di dalam aja bareng dia“ kata mas Sultan
“ bukannya begitu mas, saya tadi nemenin dia beli makanan, tadinya saya gak mau tapi berhubung yang lain gak bisa ikut anter jadinya saya yang anter dia deh” sanggahku
“ yaa harusnya kamu tau tindak tanduk dia sebelumnya donk, dia ada niat jahat atau enggak, jangan sampe kalo keadaan sepi kamu jadi korban kayak gitu lagi ” kata mas Sultan lagi
“ enggak maaass….saya gak tau…sebelum itu dia bersikap baik dan biasa aja kok, makanya saya kaget tiba-tiba dia nyergap saya dari belakang”
“ iya…iya gapapa yang penting sekarang udah selamat “ kata mas Zein menengahi
“ iya..untung aja saya ada niat jemput kamu tadi…kalo enggak, udah habis kali kamu di garap sama dia ..” kata mas Sultan
“ iya….makasih banyak ya mas, saya jadi berhutang budi banyak deh nih”
“ aah biasa aja Dam…gak usah kayak gitu banget”
Setelah acara makan-makan selesai maka cerita mas Sultan pun selesai pula, dia sendiri yang membereskan piring-piring dan gelas-gelas kotor ke dapur di luar kosan, di kamar mandi dia sekaligus mencuci gelas dan piring semua.
Aku yang penasaran dengan kepribadian mas Sultan sesungguhnya berusaha mencari tahu dari mas Zein yang sudah kenal lama dengannya.
“ mas..kenapa mas Sultan bisa sebenci itu sama gay sih ?” tanyaku pelan-pelan khawatir mas Sultan akan mendengarnya
Mas Zein menoleh dan menatapku
“ mmmh…saya beritahu kamu, tapi jangan kamu cerita-cerita lagi atau bertanya sama Sultan ya?”
“ oke, saya janji..!”
Mas Zein menarik nafas sebelum melanjutkan omongannya
“ dia punya pengalaman pahit berulang kali sama yang namanya gay, makanya dia gak bisa kalo ngelihat gay apalagi banci-banci lenjeh yang sering lewat di jalan…kamu jangan sampe kelihatan bawa-bawa temen kamu kalo dia banci, bisa-bisa dia ngusir kamu karna nganggep kamu gay juga..!”
“ mmmh gitu..okay…trus, emang pengalaman pahitnya kayak apa ?”
Mas Zein nampak berfikir
“ dia sering kali punya temen yang suka sama dia, gak cewe gak cowo, dia itu risih banget di tempelin sama orang yang agresif kayak gitu, apalagi cowo agresif…pernah beberapa kali dia digoda gay, banci, waria atau apalah namanya itu..…tau sendiri deh kamu, seganteng apa tuh si Sultan, siapa sih yang gak gemez liat mukanya yang keren gitu, apalagi dia punya body yang bagus …ngiler deh tuh homo-homo di sekitarnya..hehe”
“ ooh ….tapi..udah berapa lama dia kayak gitu sih, maksudnya benci kaum gay?”
“ sejak….orang tuanya pisah rumah…dan semakin menjadi-jadi waktu ibunya meninggal ”
“ kok bisa begitu ?”
“ emmh …maaf tuk yang satu ini kamu belum bisa tau…ini rahasia keluarganya, saya gak punya wewenang apapun tuk ceritain ke kamu…kalo kamu tau, kamu bisa tanya ke Sultan sendiri, tapi itu juga harus hati-hati dan melihat sikon”
Tiba-tiba pintu di buka, mas Sultan masuk dengan membawa baskom berisi piring-piring yang sudah di cuci..aku pun menyudahi pembicaraanku dengan mas Zein, rasanya sudah cukup bagiku tahu tentang mas Sultan lebih banyak kali ini.
Mas Sultan sedang sibuk membereskan sampah-sampah plastik bekas mie ayam, aku memperhatikannya dengan diam-diam, dalam hati aku tak menyangka mas Sultan mempunyai sesuatu yang tersembunyi, sesuatu yang dipendamnya selama ini, sesuatu yang misterius yang aku harus menggalinya satu persatu
Nafasnya tersengal-sengal, dia terbawa amarah yang meradang, mulutnya terus mencaci terus memaki , kakinya berusaha menendang-nendang Alex yang sudah tersungkur di lantai. Tampaknya dendam didadanya terus membuncah keluar membabi buta
Aku jadi agak ngeri dengan kemarahannya ini, mas Sultan tak biasanya bersikap luar biasa seperti ini, biasanya dia manis atau bersikap santai, aku mau mendekatinya juga agak-agak takut, takut kena getah pukulannya.
“ mas…udah mas..jangan di tendang lagi, ntar malah jadi panjang urusannya“ tegurku hati-hati sembari menunggu dia sadar akan keberadaanku
Dia menoleh ke arahku,mata dan wajahnya memerah, rambutnya amburadul,
“ biar aja Dam, saya paling benci sama orang yang kayak gini, gak tau aturan..!!” sahutnya
“ hah…apa maksud nya? Apa dia benci Alex? Apa dia udah kenal Alex sebelumnya?” tanya batinku
Ku coba bertanya lagi dengan hati-hati
“ kenapa ….benci sama Alex mas?, emangnya..mas udah kenal lama ?” tanyaku sambil memegang lengannya tuk menjauh dari Alex
“ bukan sama atasan kamu aja Dam, tapi saya benci sama HOMO !, mereka gak tau aturan !! ” sahutnya keras sambil menendang sekali lagi Alex
“APA…?? Mas Sultan benci sama gay? Trus kenapa dia terima gw di kosan??? Apa dia gak bisa baca tindak tanduk dan sikap gw??” pekikku dalam hati
“ dah Dam, ayo pulang…cari baju ganti dulu sana..” ajaknya sambil menarik tanganku
“ iya mas, sebentar saya ambil di loker”
“ iya, saya tunggu di sini..biar cecurut ini gak kabur..”
Aku beranjak pergi ke loker dan mencari-cari baju para staff yang biasanya bertebaran di loker. Setelah dapat satu aku kembali lagi ke depan, mas Sultan ternyata sedang berbicara keras sama Alex yang masih terbaring.
“ Saya gak akan tinggal diam, saya akan lapor security gedung, biar situ tau rasa.., biar gak ada korban lagi selain Adam!!”
“ Hahaha….lo peduli amat sih sama dia, pacaran lo ya berdua??!!, atauuu…malah lo udah en**t dia …hahaha” balas Alex sambil memegangi perutnya yang sakit
“ Homo Sialan …sembarangan aja lu ngomong…!” sahut mas Sultan sambil menendang Alex
“ maaas..udah yuk, kita pergi..!” ajakku
“ lo tunggu di sini, gw bakal panggil security “ ancam mas Sultan lagi serius
Aku dan mas Sultan pergi berlalu meninggalkan Alex yang masih kesakitan, aku sebenarnya merasa kasihan sekali melihatnya , aku tak tega melihat dia seperti itu, ingin aku menolongnya tapi rasanya aku tak tahu diri jika berbuat itu, mas Sultan sudah baik hati mau membantuku.
aku tau Alex orang baik, orang yang sabar, orang yang menyenangkan, makanya itu aku masih merasa kasihan, apalagi dia pernah jadi orang yang spesial dalam perjalanan hidupku kemarin-kemarin. aku menyesalkan perubahan sifatnya ini, mudah-mudahan dia bisa berubah lagi jadi orang baik.
****
“ mas mau lapor security? “ tanyaku pada mas Sultan saat menuju lobby gedung
“ iya…saya gak mau kasih hati sama orang yang udah kurang ajar begitu..!!’ tegasnya
“ mas….mending gak usah ya??!!” bujukku sambil menghentikan langkahnya
Dia menatapku tajam seakan mencari tahu kenapa aku berkata seperti itu padahal Alex sudah berbuat buruk padaku.
“ lho kok gitu, emangnya kenapa ?” tanyanya heran
“ kasihan mas…nanti dia bisa di pecat..”
“ ya biarin aja…., toh itu konsekuensi nya kalo dia berbuat jelek kayak gitu..” sahutnya sewot sambil melanjutkan lagi langkahnya
Aku menyetop lagi langkahnya, aku memegang lengannya.
“ iya… tapi…dia sebentar lagi mau menikah mas…kasihan kalo dia akhirnya dipecat, dia mau kasih makan apa istrinya ntar..!”
Mas Sultan akhirnya diam, amarahnya sepertinya reda seketika, nampaknya dia mulai berfikir bahwa laporannya itu akan mengakibatkan hal yang fatal pada Alex.
“ tapi dari kamunya gimana Dam, emangnya kamu gak dendam??”
“ insyaAllah enggak mas, saya gak apa-apa..”
Mas Sultan sejenak menatapku
“ oke kalo begitu ….tapi ada syaratnya..” katanya
“ kok pake syarat segala?!”
“ ya kalo gak mau, saya laporin nih..” dia mengancamku dengan melanjutkan lagi langkahnya
“ iya …iya deeh…apa syaratnya??” aku menyerah
Dia menyunggingkan senyum , sepertinya kemenangan kecil ada di tangannya sekarang
“ syaratnya….kamu harus berhenti kerja dari resto itu dan segera pindah kerja ke tempat saya..!” katanya sambil senyum lebih lebar kali ini.
“ huuuu itu sih maunya mas…”
“ ya udah…yuk lapor ..!” ancamnya lagi
“ heh heh…iya iya…saya akan keluar kerja…!”
“ kapan ?”
“ yaaa secepatnya…!” sahutku
“ gak bisa, harus besok..!!” katanya sambil menaikkan dagu tanda kemenangan
“ hah besok ?? kecepetan lah mas, masa mendadak gitu..”
“ besok !!” tegasnya
“ Aaarrgghh ….iya iya saya keluar besok..saya akan bilang ke HRD besok…puas??!!”
“ Puas!! “ sahutnya sambil menyunggingkan senyum kemenangan, “ dah yuk pulang…dikosan dah ada si Zein nunggu dari tadi..”
“ mas Zein? Tumben dia dateng ke kosan..”
“ iya ..dia mau nengok kosan kita yang baru katanya, malah dia pesen makanan..nih makanannya..”
“ apaan emangnya tuh?”
“ mie ayam..”
“ mie ayam yang di depan itu ?”
“ iya…kenapa?”
“ tadi saya baru ke sana beli itu…”
“ oh udah makan nih jadinya kamu ?”
“ belum sih, tadi itu buat atasan saya itu, saya sih gak mesen..”
“ ooh ya udah, kebetulan, ini ada satu buat kamu..”
Kami terus berjalan keluar gedung hingga menuju deretan tukang ojek yang akan kami sewa sampai ke depan kosan. Dalam hati aku senang, akhirnya aku kecipratan mie ayam juga dari mas Sultan, …emang rezeki gak kemana.
***
Mas Zein ternyata sedang terlelap di atas ranjang, dia kelihatan lelah sekali. Aku dan mas Sultan dengan diam-diam masuk kamar dan langsung menyiapkan piring tuk mie ayam, setelah semua beres mas Sultan pun membangunkan mas Zein tuk makan.
Zein terbangun dan sumringah melihat makanannya sudah hadir dan siap makan, tapi sebelum makan dia mencuci muka dan tangan terlebih dulu di kamar mandi.
Selama proses makan, mas Sultan menceritakan tentang peristiwa yang baru saja ku alami, dia menceritakan dengan menggebu-gebu dan kelihatannya sangat senang bisa menghajar Alex.
Mas Zein Cuma manggut manggut mengiyakan apa yang sedang diceritakan mas Sultan, nampaknya dia sudah paham akan kebiasaan mas Sultan yang sering bertindak keras terhadap kaum yang dikategorikan sebagai gay.
“ lagian sih kamu Dam, udah waktunya pulang bukannya cepet keluar malah di dalam aja bareng dia“ kata mas Sultan
“ bukannya begitu mas, saya tadi nemenin dia beli makanan, tadinya saya gak mau tapi berhubung yang lain gak bisa ikut anter jadinya saya yang anter dia deh” sanggahku
“ yaa harusnya kamu tau tindak tanduk dia sebelumnya donk, dia ada niat jahat atau enggak, jangan sampe kalo keadaan sepi kamu jadi korban kayak gitu lagi ” kata mas Sultan lagi
“ enggak maaass….saya gak tau…sebelum itu dia bersikap baik dan biasa aja kok, makanya saya kaget tiba-tiba dia nyergap saya dari belakang”
“ iya…iya gapapa yang penting sekarang udah selamat “ kata mas Zein menengahi
“ iya..untung aja saya ada niat jemput kamu tadi…kalo enggak, udah habis kali kamu di garap sama dia ..” kata mas Sultan
“ iya….makasih banyak ya mas, saya jadi berhutang budi banyak deh nih”
“ aah biasa aja Dam…gak usah kayak gitu banget”
Setelah acara makan-makan selesai maka cerita mas Sultan pun selesai pula, dia sendiri yang membereskan piring-piring dan gelas-gelas kotor ke dapur di luar kosan, di kamar mandi dia sekaligus mencuci gelas dan piring semua.
Aku yang penasaran dengan kepribadian mas Sultan sesungguhnya berusaha mencari tahu dari mas Zein yang sudah kenal lama dengannya.
“ mas..kenapa mas Sultan bisa sebenci itu sama gay sih ?” tanyaku pelan-pelan khawatir mas Sultan akan mendengarnya
Mas Zein menoleh dan menatapku
“ mmmh…saya beritahu kamu, tapi jangan kamu cerita-cerita lagi atau bertanya sama Sultan ya?”
“ oke, saya janji..!”
Mas Zein menarik nafas sebelum melanjutkan omongannya
“ dia punya pengalaman pahit berulang kali sama yang namanya gay, makanya dia gak bisa kalo ngelihat gay apalagi banci-banci lenjeh yang sering lewat di jalan…kamu jangan sampe kelihatan bawa-bawa temen kamu kalo dia banci, bisa-bisa dia ngusir kamu karna nganggep kamu gay juga..!”
“ mmmh gitu..okay…trus, emang pengalaman pahitnya kayak apa ?”
Mas Zein nampak berfikir
“ dia sering kali punya temen yang suka sama dia, gak cewe gak cowo, dia itu risih banget di tempelin sama orang yang agresif kayak gitu, apalagi cowo agresif…pernah beberapa kali dia digoda gay, banci, waria atau apalah namanya itu..…tau sendiri deh kamu, seganteng apa tuh si Sultan, siapa sih yang gak gemez liat mukanya yang keren gitu, apalagi dia punya body yang bagus …ngiler deh tuh homo-homo di sekitarnya..hehe”
“ ooh ….tapi..udah berapa lama dia kayak gitu sih, maksudnya benci kaum gay?”
“ sejak….orang tuanya pisah rumah…dan semakin menjadi-jadi waktu ibunya meninggal ”
“ kok bisa begitu ?”
“ emmh …maaf tuk yang satu ini kamu belum bisa tau…ini rahasia keluarganya, saya gak punya wewenang apapun tuk ceritain ke kamu…kalo kamu tau, kamu bisa tanya ke Sultan sendiri, tapi itu juga harus hati-hati dan melihat sikon”
Tiba-tiba pintu di buka, mas Sultan masuk dengan membawa baskom berisi piring-piring yang sudah di cuci..aku pun menyudahi pembicaraanku dengan mas Zein, rasanya sudah cukup bagiku tahu tentang mas Sultan lebih banyak kali ini.
Mas Sultan sedang sibuk membereskan sampah-sampah plastik bekas mie ayam, aku memperhatikannya dengan diam-diam, dalam hati aku tak menyangka mas Sultan mempunyai sesuatu yang tersembunyi, sesuatu yang dipendamnya selama ini, sesuatu yang misterius yang aku harus menggalinya satu persatu
Part 17 episode 2
Pagi
Sesuai dengan janjiku pada mas Sultan, aku pagi-pagi sekali sudah duduk di bangku lobby kantor manajemen resto menunggu Bu Anisa sang kepala HRD datang.
Padahal Jam di dinding kantor sudah menunjukkan pukul 07 lewat 45 tapi Bu Anisa belum juga datang. aku berkali-kali mengumbar senyum pada staff kantor yang berlalu lalang di hadapanku namun batang hidung Bu Anisa tak juga kelihatan di antara mereka.
Kalau saja aku masih masuk kerja di resto hari ini, aku akan masuk shift siang lagi dan akan pulang jam 8 malam lagi, itu artinya mau tak mau aku akan bertemu dengan Alex lagi.
Rasanya sudah mual aku mendapat perlakuan kasar dan aneh dari Alex sedari dulu, mulai dari memaki-makiku di resto, menyuruhku dengan kasar dan tanpa berkata tolong, mengerjai aku di bawah air terjun sampai memperkosaku di ruang kantor. Semuanya ternyata kalo dipikir-pikir adalah sudah jelas bahwa sifat aslinya memang tak menyenangkan seperti itu.
TIba-tiba Bu Anisa datang dengan tergesa-gesa dan melewati tempatku duduk tanpa melihat ke arahku.
“ Bu…bu Anisa..!” panggilku berusaha menghentikannya
Dia menengok ke arahku, “ eh Dam…bentar..bentar Dam…ibu absen dulu ya, udah telat nih”
Beberapa saat kemudian dia pun telah balik lagi ke depan..badannya yang agak gendut membuatnya terlihat lucu ketika jalan, Bu Anisa berkaca mata dan berjilbab, hidung dan pipinya sama-sama membulat..
“ ada apa Dam ?”
“ ada suatu hal yang harus saya sampaikan bu..”
“ penting banget ?”
“ iya..penting banget..”
“ emm ya udah, ayo ngomong di ruangan ibu aja”
Aku berjalan mengikutinya dari belakang menuju ruangannya yang berada di kamar paling ujung. Bu Anisa mempersilahkanku masuk dan duduk.
“ Saya mau resign bu.!” Kataku mantap setelah mengambil nafas
“ HAH…RESIGN ??? kenapaaa?? Kok mendadak ?”
“ gak kenapa-napa bu, saya Cuma mau cari suasana baru aja..”
“ suasana baru ? ya udah gak perlu keluar, kamu pindah ke outlet lain aja, kebetulan ada tuh outlet di Grand Indonesia, baru mau buka”
“ emmm…gak ah bu, saya udah mantap mau resign” tegasku
“ yaaa Adaam…kenapa buru-buru sih ?! nanti siapa yang gantiin posisi kamu di resto?”
“ yaa banyak lah bu, banyak yang pantes kok”
“ kamu ada masalah apa sih di sana.. kalo ibu boleh tau ?” sidiknya
“ enggak…gak ada apa-apa bu..!”
“ ya habisnya kenapa kamu mau keluar, kasih ibu alasan yang bagus doooonk, yang kuat gitu…kalo kamu mau suasana baru, kamu kan bisa pindah ke outlet di mall, kalo kamu bosen kamu bisa cuti dulu…tapi asal jangan karna masalah kenaikan gaji aja nih yaa, ibu gak bisa kasih..”
“ emm sayaaa…mau buka usaha bareng-bareng temen saya bu..”
“ usaha ? usaha apa ?”
“ yaaa fried chicken aja kok..”
“ yaaah Cuma fried chicken , di kira usaha gede…yang fried chicken di gerobak-gerobak gitu kan ?”
“ bukan bu, bukan yang di gerobak-gerobak gitu…tapi yang ini bakal buka outlet kayak KFC gitu “
“ ooh gitu…emang jabatan kamu di sana apa sih sampe kamu rela mau pindah ?”
“ Alhamdulillah akan menjabat sebagai supervisornya”
“ wow, hebat banget sih kamu, masih muda udah dapet tawaran gede kayak gitu…oke oke silahkan kamu lakukan apa mau kamu deeh, kamu mau keluar silahkan …mau tetep di sini malah jauh lebih baik”
“ makasih bu, saya tetep pilih resign”
****
Setelah berbicara panjang lebar pada bu Anisa mengenai rencana resign ku, aku pergi ke resto terlebih dahulu tuk membereskan berbagai macam barang, termasuk mengembalikan baju-baju seragam resto.
Keadaan di resto masih dalam keadaan kosong melompong dari tamu, beberapa anak buahku sedang melakukan tugas sehari-harinya. Pagi ini ada Farah dan Laura yang sedang mengelap-ngelap meja kasir.
“ Pagi Farah..pagi Laura!” sapaku
“ eh pagi kak Adam” sahut Farah sumringah
“ lho bukannya lo masuk malem Dam? “ kata Laura
“ iya…tapiiii… kayaknya kemarin hari terakhir gw masuk kerja deh” sahutku
“ hah…apa maksudnya kak?”
“ gw dah resign tadi sama Bu Anisa Far”
“ RESIGN ???” kata Farah dan Laura bersamaan, “ kenapa kak?”
“ gw dah dapet kerja yang lain, gajiya lebih gede..posisinya lebih tinggi”
“ dimana tuh ?” tanya Laura
“ mmh belum buka sih, masih dalam masa-masa persiapan tuk buka katanya”
“ jangan pindah donk kaaak, ntar jadi sepi deh di sini..”
“ hehe gw dah bosen di sini Far, gw butuh tantangan baru..biar karir terus nanjak”
“ ya elah Dam lo mo kayak wanita karir??!”
“ udah dulu ya, gw mau beres-beresin loker, gw buru buru nih, lagi di tunggu”
Laura nampaknya tak rela dengan kepergianku tapi Farah kelihatannya lebih gak rela lagi kalo harus berpisah tempat kerja dariku, keduanya masih menaruh hati padaku, dan mereka terlihat masih bengong-bengong ketika ku tinggalkan ke loker.
Setelah selesai membereskan macam-macam barang yang ada di loker, aku mengucapkan pamit pada semua orang yang masuk shift pagi hari ini, mereka semua merespon dengan keterkejutan, tak menyangka bahwa aku akan secepat ini keluar kerja.
Ada yang bengong, ada juga yang sampai menitikkan air mata sedih, tak ada respon kesenangan di wajah-wajah mereka, yang ada hanya respon kebimbangan dan kegalauan menyayangkan keputusanku yang mendadak ini.
*****
Pukul 10:00
Aku mendatangi kantor mas Sultan yang telah di tunjukkan sebelumnya oleh dia, kantornya terletak di lantai 7 dan sepertinya ini adalah kantor dari perusahaan yang bonafit, namanya cukup terkenal di telingaku, bahkan sesekali perusahaannya membooking resto tuk keperluan gatheringnya.
Aku melewati sebuah pintu kaca dan seorang petugas security di dalamnya, petugas ini kelihatan cukup keren karena seragamnya lumayan ngepress di badannya yang aduhai bentuknya.
“ selamat pagi pak, ada yang bisa saya bantu ?” sapanya dengan ramah
“ pagi..saya mau ketemu sama pak Sultannya pak”
“ oh pak Sultan, kalo boleh tau darimana bapak?”
“ dari saudaranya , Adam!”
“ oh ya, sebentar saya panggilkan, bapak silahkan duduk di bangku dulu”
“ trima kasih..”
Petugas itu kemudian masuk ke dalam dan secepat kilat membawa mas Sultan ke depan lobby.
“ kita ngobrol di dalam aja Dam..” ajak mas Sultan yang menggiringku sambil memegang bahuku
****
“ gimana,…udah keluar dari resto?” tanyanya antusias sambil mengutak atik mouse komputer
“ udah , tadi pagi sekali..”
“ trus gimana kata HRDnya?”
“ yaa gitu deh, dia tadinya gak rela saya keluar, tapi akhirnya dengan alasan yang jelas dia nyerah juga”
“ good choice…smoga kamu gak salah pilih..”
“ yaaa kan mas yang maksa saya tuk keluar..”
“ oh iya ya…hehehe…tapi bener… mudah-mudahan kamu gak salah pilih, dan bisa sukses bareng-bareng kita nantinya”
“ yaaa smoga sukses aja jualannya nanti, jadi saya terus langgeng kerjanya”
“ jangan kuatir Dam, kita akan sama-sama berusaha menaikkan pamor fried chicken kita, dengan produk yang beda dan terus berinovasi pasti kita akan terus langgeng”
“ amiin..”
“ emm gini Dam, kamu nanti mau pulang kan ?”
“ iya, kenapa ?”
“ kata Zein, di rumahnya udah ada bapak saya yang dateng tadi pagi, kata Zein, bapak saya mau ke kosan kita pagi ini juga, tolong kamu temenin bapak saya dulu ya nanti, tolong beliin makan siang juga buat dia, maafin kalo saya ngerepotin kamu”
“ kok datengnya ke rumah Zein mas ?”
“ ya dia kan belum tau kosan saya yang baru, makanya dia ke Zein dulu,…kalo rumah Zein , bapak saya udah hafal”
“ ooh gitu..oke deh saya pulang duluan”
“ ya udah, saya minta tolong ya Dam, makasih banyak..”
“ iya sama-sama mas..”
****
Pukul 12: 15
Akhirnya pada tengah hari Mas Zein datang ke kosan bersama seorang laki-laki setengah baya, kira-kira umurnya sekitar 50 an tapi wajahnya masih kelihatan segar dan warna kulitnya juga tidak kelihatan kusam sebagaimana orang-orang tua berumur 50an. Rambutnya ikal dan hitam seperti mas Sultan, kalo senyum, bibirnya menyunggingkan senyum maut semaut senyuman mas Sultan.
“ Aaahh anak bapak sama saja gantengnya” batinku
“ silahkan masuk pak!” sambutku di depan pintu
“ iya, makasih” sahut bapak itu
Setelah masuk, bapak mas Sultan sempat-sempatnya memperhatikan kondisi kamar kosanku, dilihatnya sekeliling kamar, diperiksanya dengan detail kondisi peralatannya..
“ kamu tinggal sekamar sama anak saya dek?” tanyanya setelah puas melihat-lihat
“ iya pak, baru aja saya masuk beberapa hari yang lalu..”
“ ooh..ya ya..bagus-bagus..”
Aku bengong memperhatikan bapak mas Sultan yang tak henti-hentinya memperhatikan kamar kami lagi, sementara mas Zein juga kelihatan diam saja dengan kelakuan bapak mas Sultan ini, sepertinya dia sudah faham dengan sifat bapak tua ini.
“bapak mau minum panas atau dingin ?” tanyaku memecah keheningan
“ makasih dek, saya air putih aja juga gapapa”
“ oh ya …mas Zein mau minum apa?”
“ sama aja Dam, air putih aja”
“ sebentar saya ambilkan”
Aku menyiapkan 2 gelas air putih untuk mereka, ternyata permintaan mereka tidak macam-macam, hanya air putih saja.
“ saya mau beli makan siang dulu ya mas ke depan, mas Zein sama bapak mau pesen apa?”
“ enggak Dam, saya gak usah, udah kenyang…tadi sebelum ke sini udah makan kok” kata mas Zein
“ saya juga gak usah dek, tadi udah makan duluan di tempatnya Zein “
“ oh gitu..ya udah deh, nanti sore aja belinya ya, sekalian makan bareng mas Sultan”
****
Sepanjang siang, bapaknya mas Sultan yang ternyata bernama Pak Luthfi ini hanya mengobrol, menonton dan tidur saja, aku maklum dengan keadaannya, mungkin di usianya yang 50an ini hawanya capek melulu, lagipula kegiatan apa lagi yang bisa dilakukannya di kosan yang sesempit ini.
Sementara mas Zein sudah pulang kembali ke rumahnya meninggalkan kami berdua di kosan.
“ Si Sultan kok belum pulang ya dek? Emangnya jam berapa kalo pulang ?”
“ biasanya sampe kosan jam 5 an pak”
“ ooh..”
“ eh dek, kamu bisa mijit gak ? badan bapak pegel-pegel nih..”
“ hah…mijit?? Bapak anak ternyata gak jauh beda, kesukaannya di pijit..” batinku
“ oh bisa pak…sini saya pijitin..” sahutku dengan wajah senang
“ sebentar saya buka baju dulu..”
Pak Luthfi tampak antusias dengan kerelaanku tuk memijitnya, diapun membuka pakaiannya dengan segera….akan tetapi ternyata bukan hanya bajunya saja yang ia buka melainkan seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya, alhasil dia tampil bugil di depanku saat ini.
Tanpa malu-malu dia bertelanjang ria di depanku, sebelum menuju tempat tidur dia sempat-sempatnya menggantungkan pakaiannya di gantungan yang ada di dinding.
Kalo laki-laki yang berumur 50an biasanya mempunyai batang yang sudah melempem, lain lagi dengan Pak Luthfi ini, ternyata batang kemaluannya masih terlihat cukup prima, masih tebal dan menjulur lumayan panjang, aku sedikit malu-malu melihatnya gundal gandul di bawah perutnya yang sedikit buncit, aku berusaha menjaga mataku agar tak ketahuan bahwa aku menyukai batangan juga.
DAG DIG DUG detak jantungku
Pak Luthfi memilih tuk di pijat pada daerah paha depan dulu, kontan saja aku langsung menolak, aku tak kuasa melihat itunya di hadapanku menjulur meledek birahiku yang tiba-tiba saja memuncak.
“ jangan pak, sebaiknya dimulai dari belakang dulu..biar gak salah urat nantinya” kataku mengatakan alasan yang mengada-ada
“ oh gitu ya??! Ya sudah dari belakang saja dulu”
“ hufft..akhirnya dia menurut juga sama gw, kalo enggak,… bisa-bisa gw kelimpungan nyembunyiin“dedek” gw yang bakalan ngembang juga” batinku
****
Pijat memijat berlangsung sudah hampir setengah jam, aku mencoba mengulur-ulur waktu untuk tidak membalikkan badannya ke posisi telentang, karna bisa berabe lagi kalo Pak Luthfi menyajikan batangan yang sedramatis itu di hadapanku.
TOK TOK TOK
Suara pintu diketuk dari luar, sepertinya sih mas Sultan yang mengetuknya karna ini sudah jam pulang kerjanya. Aku turun dari ranjang dan berjalan menuju pintu tuk membukanya.
“ alo mas..dah pulang ya..!” kataku basa basi
“ udah lah , udah ada di sini..eh bapak saya udah ke sini ?”
“ udah, tuh lagi di pijitin dari tadi..”
“ di pijitin???” sahut mas Sultan dengan mimik wajah kaget tak percaya
Lalu ia masuk ke dalam dengan terburu-buru, ia melihat Pak Luthfi sedang tengkurap dan bertelanjang ria.
“ dari kapan kamu mijit bapak Dam ?” tanyanya serius
“ udah hampir setengah jam mas…”
“ Errrghh…” katanya kelihatan kesal, lalu dia mengambil baju Pak Luthfi yang menggantung dan menghampirinya yang kemungkinan sekarang sedang terlelap.
“ Pak…Pak…bangun…!!” kata mas Sultan agak kasar
Lalu Pak Luthfi bangun dan menoleh ke mas Sultan..
“ eh kamu..udah pulang nak..”
“ bapak cepet pake bajunya, nanti masuk angin..”
“ si Adam lagi enak mijitnya kok nak”
“ enggak..! pokoknya bapak cepet pake bajunya…kalo enggak mending bapak pulang aja!!” kata mas Sultan kesal
“ Lho…kok mas Sultan begitu sama bapaknya, kasar banget..” batinku
“ biarin lah mas, tanggung …biar saya selesaiin dulu mijatnya” kataku menengahi
“ gak…biar aja Dam, kalo bapak mau di pijat , biar sama saya aja…kamu gak boleh sama sekali sentuh bapak saya…paham??!” tegasnya
“ ..paham..”kataku lemah
Aku terdiam mendengar kata-katanya yang tegas, tak biasanya dia bersikap begini, sudah 2 kali aku menemukan hal hal aneh dari mas Sultan. Pertama soal amarahnya yang membara kala bertemu dengan makhluk yang berjenis homoseksual, kedua adalah kasus yang ini, dia melarangku memijat bapaknya padahal ini hanya pijat biasa seperti yang biasa aku lakukan padanya., ada apa sebenarnya dengan mas Sultan?
Pagi
Sesuai dengan janjiku pada mas Sultan, aku pagi-pagi sekali sudah duduk di bangku lobby kantor manajemen resto menunggu Bu Anisa sang kepala HRD datang.
Padahal Jam di dinding kantor sudah menunjukkan pukul 07 lewat 45 tapi Bu Anisa belum juga datang. aku berkali-kali mengumbar senyum pada staff kantor yang berlalu lalang di hadapanku namun batang hidung Bu Anisa tak juga kelihatan di antara mereka.
Kalau saja aku masih masuk kerja di resto hari ini, aku akan masuk shift siang lagi dan akan pulang jam 8 malam lagi, itu artinya mau tak mau aku akan bertemu dengan Alex lagi.
Rasanya sudah mual aku mendapat perlakuan kasar dan aneh dari Alex sedari dulu, mulai dari memaki-makiku di resto, menyuruhku dengan kasar dan tanpa berkata tolong, mengerjai aku di bawah air terjun sampai memperkosaku di ruang kantor. Semuanya ternyata kalo dipikir-pikir adalah sudah jelas bahwa sifat aslinya memang tak menyenangkan seperti itu.
TIba-tiba Bu Anisa datang dengan tergesa-gesa dan melewati tempatku duduk tanpa melihat ke arahku.
“ Bu…bu Anisa..!” panggilku berusaha menghentikannya
Dia menengok ke arahku, “ eh Dam…bentar..bentar Dam…ibu absen dulu ya, udah telat nih”
Beberapa saat kemudian dia pun telah balik lagi ke depan..badannya yang agak gendut membuatnya terlihat lucu ketika jalan, Bu Anisa berkaca mata dan berjilbab, hidung dan pipinya sama-sama membulat..
“ ada apa Dam ?”
“ ada suatu hal yang harus saya sampaikan bu..”
“ penting banget ?”
“ iya..penting banget..”
“ emm ya udah, ayo ngomong di ruangan ibu aja”
Aku berjalan mengikutinya dari belakang menuju ruangannya yang berada di kamar paling ujung. Bu Anisa mempersilahkanku masuk dan duduk.
“ Saya mau resign bu.!” Kataku mantap setelah mengambil nafas
“ HAH…RESIGN ??? kenapaaa?? Kok mendadak ?”
“ gak kenapa-napa bu, saya Cuma mau cari suasana baru aja..”
“ suasana baru ? ya udah gak perlu keluar, kamu pindah ke outlet lain aja, kebetulan ada tuh outlet di Grand Indonesia, baru mau buka”
“ emmm…gak ah bu, saya udah mantap mau resign” tegasku
“ yaaa Adaam…kenapa buru-buru sih ?! nanti siapa yang gantiin posisi kamu di resto?”
“ yaa banyak lah bu, banyak yang pantes kok”
“ kamu ada masalah apa sih di sana.. kalo ibu boleh tau ?” sidiknya
“ enggak…gak ada apa-apa bu..!”
“ ya habisnya kenapa kamu mau keluar, kasih ibu alasan yang bagus doooonk, yang kuat gitu…kalo kamu mau suasana baru, kamu kan bisa pindah ke outlet di mall, kalo kamu bosen kamu bisa cuti dulu…tapi asal jangan karna masalah kenaikan gaji aja nih yaa, ibu gak bisa kasih..”
“ emm sayaaa…mau buka usaha bareng-bareng temen saya bu..”
“ usaha ? usaha apa ?”
“ yaaa fried chicken aja kok..”
“ yaaah Cuma fried chicken , di kira usaha gede…yang fried chicken di gerobak-gerobak gitu kan ?”
“ bukan bu, bukan yang di gerobak-gerobak gitu…tapi yang ini bakal buka outlet kayak KFC gitu “
“ ooh gitu…emang jabatan kamu di sana apa sih sampe kamu rela mau pindah ?”
“ Alhamdulillah akan menjabat sebagai supervisornya”
“ wow, hebat banget sih kamu, masih muda udah dapet tawaran gede kayak gitu…oke oke silahkan kamu lakukan apa mau kamu deeh, kamu mau keluar silahkan …mau tetep di sini malah jauh lebih baik”
“ makasih bu, saya tetep pilih resign”
****
Setelah berbicara panjang lebar pada bu Anisa mengenai rencana resign ku, aku pergi ke resto terlebih dahulu tuk membereskan berbagai macam barang, termasuk mengembalikan baju-baju seragam resto.
Keadaan di resto masih dalam keadaan kosong melompong dari tamu, beberapa anak buahku sedang melakukan tugas sehari-harinya. Pagi ini ada Farah dan Laura yang sedang mengelap-ngelap meja kasir.
“ Pagi Farah..pagi Laura!” sapaku
“ eh pagi kak Adam” sahut Farah sumringah
“ lho bukannya lo masuk malem Dam? “ kata Laura
“ iya…tapiiii… kayaknya kemarin hari terakhir gw masuk kerja deh” sahutku
“ hah…apa maksudnya kak?”
“ gw dah resign tadi sama Bu Anisa Far”
“ RESIGN ???” kata Farah dan Laura bersamaan, “ kenapa kak?”
“ gw dah dapet kerja yang lain, gajiya lebih gede..posisinya lebih tinggi”
“ dimana tuh ?” tanya Laura
“ mmh belum buka sih, masih dalam masa-masa persiapan tuk buka katanya”
“ jangan pindah donk kaaak, ntar jadi sepi deh di sini..”
“ hehe gw dah bosen di sini Far, gw butuh tantangan baru..biar karir terus nanjak”
“ ya elah Dam lo mo kayak wanita karir??!”
“ udah dulu ya, gw mau beres-beresin loker, gw buru buru nih, lagi di tunggu”
Laura nampaknya tak rela dengan kepergianku tapi Farah kelihatannya lebih gak rela lagi kalo harus berpisah tempat kerja dariku, keduanya masih menaruh hati padaku, dan mereka terlihat masih bengong-bengong ketika ku tinggalkan ke loker.
Setelah selesai membereskan macam-macam barang yang ada di loker, aku mengucapkan pamit pada semua orang yang masuk shift pagi hari ini, mereka semua merespon dengan keterkejutan, tak menyangka bahwa aku akan secepat ini keluar kerja.
Ada yang bengong, ada juga yang sampai menitikkan air mata sedih, tak ada respon kesenangan di wajah-wajah mereka, yang ada hanya respon kebimbangan dan kegalauan menyayangkan keputusanku yang mendadak ini.
*****
Pukul 10:00
Aku mendatangi kantor mas Sultan yang telah di tunjukkan sebelumnya oleh dia, kantornya terletak di lantai 7 dan sepertinya ini adalah kantor dari perusahaan yang bonafit, namanya cukup terkenal di telingaku, bahkan sesekali perusahaannya membooking resto tuk keperluan gatheringnya.
Aku melewati sebuah pintu kaca dan seorang petugas security di dalamnya, petugas ini kelihatan cukup keren karena seragamnya lumayan ngepress di badannya yang aduhai bentuknya.
“ selamat pagi pak, ada yang bisa saya bantu ?” sapanya dengan ramah
“ pagi..saya mau ketemu sama pak Sultannya pak”
“ oh pak Sultan, kalo boleh tau darimana bapak?”
“ dari saudaranya , Adam!”
“ oh ya, sebentar saya panggilkan, bapak silahkan duduk di bangku dulu”
“ trima kasih..”
Petugas itu kemudian masuk ke dalam dan secepat kilat membawa mas Sultan ke depan lobby.
“ kita ngobrol di dalam aja Dam..” ajak mas Sultan yang menggiringku sambil memegang bahuku
****
“ gimana,…udah keluar dari resto?” tanyanya antusias sambil mengutak atik mouse komputer
“ udah , tadi pagi sekali..”
“ trus gimana kata HRDnya?”
“ yaa gitu deh, dia tadinya gak rela saya keluar, tapi akhirnya dengan alasan yang jelas dia nyerah juga”
“ good choice…smoga kamu gak salah pilih..”
“ yaaa kan mas yang maksa saya tuk keluar..”
“ oh iya ya…hehehe…tapi bener… mudah-mudahan kamu gak salah pilih, dan bisa sukses bareng-bareng kita nantinya”
“ yaaa smoga sukses aja jualannya nanti, jadi saya terus langgeng kerjanya”
“ jangan kuatir Dam, kita akan sama-sama berusaha menaikkan pamor fried chicken kita, dengan produk yang beda dan terus berinovasi pasti kita akan terus langgeng”
“ amiin..”
“ emm gini Dam, kamu nanti mau pulang kan ?”
“ iya, kenapa ?”
“ kata Zein, di rumahnya udah ada bapak saya yang dateng tadi pagi, kata Zein, bapak saya mau ke kosan kita pagi ini juga, tolong kamu temenin bapak saya dulu ya nanti, tolong beliin makan siang juga buat dia, maafin kalo saya ngerepotin kamu”
“ kok datengnya ke rumah Zein mas ?”
“ ya dia kan belum tau kosan saya yang baru, makanya dia ke Zein dulu,…kalo rumah Zein , bapak saya udah hafal”
“ ooh gitu..oke deh saya pulang duluan”
“ ya udah, saya minta tolong ya Dam, makasih banyak..”
“ iya sama-sama mas..”
****
Pukul 12: 15
Akhirnya pada tengah hari Mas Zein datang ke kosan bersama seorang laki-laki setengah baya, kira-kira umurnya sekitar 50 an tapi wajahnya masih kelihatan segar dan warna kulitnya juga tidak kelihatan kusam sebagaimana orang-orang tua berumur 50an. Rambutnya ikal dan hitam seperti mas Sultan, kalo senyum, bibirnya menyunggingkan senyum maut semaut senyuman mas Sultan.
“ Aaahh anak bapak sama saja gantengnya” batinku
“ silahkan masuk pak!” sambutku di depan pintu
“ iya, makasih” sahut bapak itu
Setelah masuk, bapak mas Sultan sempat-sempatnya memperhatikan kondisi kamar kosanku, dilihatnya sekeliling kamar, diperiksanya dengan detail kondisi peralatannya..
“ kamu tinggal sekamar sama anak saya dek?” tanyanya setelah puas melihat-lihat
“ iya pak, baru aja saya masuk beberapa hari yang lalu..”
“ ooh..ya ya..bagus-bagus..”
Aku bengong memperhatikan bapak mas Sultan yang tak henti-hentinya memperhatikan kamar kami lagi, sementara mas Zein juga kelihatan diam saja dengan kelakuan bapak mas Sultan ini, sepertinya dia sudah faham dengan sifat bapak tua ini.
“bapak mau minum panas atau dingin ?” tanyaku memecah keheningan
“ makasih dek, saya air putih aja juga gapapa”
“ oh ya …mas Zein mau minum apa?”
“ sama aja Dam, air putih aja”
“ sebentar saya ambilkan”
Aku menyiapkan 2 gelas air putih untuk mereka, ternyata permintaan mereka tidak macam-macam, hanya air putih saja.
“ saya mau beli makan siang dulu ya mas ke depan, mas Zein sama bapak mau pesen apa?”
“ enggak Dam, saya gak usah, udah kenyang…tadi sebelum ke sini udah makan kok” kata mas Zein
“ saya juga gak usah dek, tadi udah makan duluan di tempatnya Zein “
“ oh gitu..ya udah deh, nanti sore aja belinya ya, sekalian makan bareng mas Sultan”
****
Sepanjang siang, bapaknya mas Sultan yang ternyata bernama Pak Luthfi ini hanya mengobrol, menonton dan tidur saja, aku maklum dengan keadaannya, mungkin di usianya yang 50an ini hawanya capek melulu, lagipula kegiatan apa lagi yang bisa dilakukannya di kosan yang sesempit ini.
Sementara mas Zein sudah pulang kembali ke rumahnya meninggalkan kami berdua di kosan.
“ Si Sultan kok belum pulang ya dek? Emangnya jam berapa kalo pulang ?”
“ biasanya sampe kosan jam 5 an pak”
“ ooh..”
“ eh dek, kamu bisa mijit gak ? badan bapak pegel-pegel nih..”
“ hah…mijit?? Bapak anak ternyata gak jauh beda, kesukaannya di pijit..” batinku
“ oh bisa pak…sini saya pijitin..” sahutku dengan wajah senang
“ sebentar saya buka baju dulu..”
Pak Luthfi tampak antusias dengan kerelaanku tuk memijitnya, diapun membuka pakaiannya dengan segera….akan tetapi ternyata bukan hanya bajunya saja yang ia buka melainkan seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya, alhasil dia tampil bugil di depanku saat ini.
Tanpa malu-malu dia bertelanjang ria di depanku, sebelum menuju tempat tidur dia sempat-sempatnya menggantungkan pakaiannya di gantungan yang ada di dinding.
Kalo laki-laki yang berumur 50an biasanya mempunyai batang yang sudah melempem, lain lagi dengan Pak Luthfi ini, ternyata batang kemaluannya masih terlihat cukup prima, masih tebal dan menjulur lumayan panjang, aku sedikit malu-malu melihatnya gundal gandul di bawah perutnya yang sedikit buncit, aku berusaha menjaga mataku agar tak ketahuan bahwa aku menyukai batangan juga.
DAG DIG DUG detak jantungku
Pak Luthfi memilih tuk di pijat pada daerah paha depan dulu, kontan saja aku langsung menolak, aku tak kuasa melihat itunya di hadapanku menjulur meledek birahiku yang tiba-tiba saja memuncak.
“ jangan pak, sebaiknya dimulai dari belakang dulu..biar gak salah urat nantinya” kataku mengatakan alasan yang mengada-ada
“ oh gitu ya??! Ya sudah dari belakang saja dulu”
“ hufft..akhirnya dia menurut juga sama gw, kalo enggak,… bisa-bisa gw kelimpungan nyembunyiin“dedek” gw yang bakalan ngembang juga” batinku
****
Pijat memijat berlangsung sudah hampir setengah jam, aku mencoba mengulur-ulur waktu untuk tidak membalikkan badannya ke posisi telentang, karna bisa berabe lagi kalo Pak Luthfi menyajikan batangan yang sedramatis itu di hadapanku.
TOK TOK TOK
Suara pintu diketuk dari luar, sepertinya sih mas Sultan yang mengetuknya karna ini sudah jam pulang kerjanya. Aku turun dari ranjang dan berjalan menuju pintu tuk membukanya.
“ alo mas..dah pulang ya..!” kataku basa basi
“ udah lah , udah ada di sini..eh bapak saya udah ke sini ?”
“ udah, tuh lagi di pijitin dari tadi..”
“ di pijitin???” sahut mas Sultan dengan mimik wajah kaget tak percaya
Lalu ia masuk ke dalam dengan terburu-buru, ia melihat Pak Luthfi sedang tengkurap dan bertelanjang ria.
“ dari kapan kamu mijit bapak Dam ?” tanyanya serius
“ udah hampir setengah jam mas…”
“ Errrghh…” katanya kelihatan kesal, lalu dia mengambil baju Pak Luthfi yang menggantung dan menghampirinya yang kemungkinan sekarang sedang terlelap.
“ Pak…Pak…bangun…!!” kata mas Sultan agak kasar
Lalu Pak Luthfi bangun dan menoleh ke mas Sultan..
“ eh kamu..udah pulang nak..”
“ bapak cepet pake bajunya, nanti masuk angin..”
“ si Adam lagi enak mijitnya kok nak”
“ enggak..! pokoknya bapak cepet pake bajunya…kalo enggak mending bapak pulang aja!!” kata mas Sultan kesal
“ Lho…kok mas Sultan begitu sama bapaknya, kasar banget..” batinku
“ biarin lah mas, tanggung …biar saya selesaiin dulu mijatnya” kataku menengahi
“ gak…biar aja Dam, kalo bapak mau di pijat , biar sama saya aja…kamu gak boleh sama sekali sentuh bapak saya…paham??!” tegasnya
“ ..paham..”kataku lemah
Aku terdiam mendengar kata-katanya yang tegas, tak biasanya dia bersikap begini, sudah 2 kali aku menemukan hal hal aneh dari mas Sultan. Pertama soal amarahnya yang membara kala bertemu dengan makhluk yang berjenis homoseksual, kedua adalah kasus yang ini, dia melarangku memijat bapaknya padahal ini hanya pijat biasa seperti yang biasa aku lakukan padanya., ada apa sebenarnya dengan mas Sultan?
Langganan:
Postingan (Atom)